Akhir-akhir ini, permainan Manchester United makin lama makin menghibur. Sayangnya, permainan Harry Maguire dkk tidak memberi hiburan kepada para fansnya sendiri. Gaya main Manchester United musim ini justru begitu menghibur bagi para pendukung tim lain, khususnya bagi mereka yang gemar menertawakan MU.
Maklum, di awal bulan Februari 2022 ini, klub yang menjuluki dirinya The Red Devils itu terus gagal meraih hasil positif. Kalau tidak kalah ya seri. Setidaknya, itulah yang diraih klub yang bermarkas di Old Trafford itu dalam 3 pertandingan terakhirnya.
Manchester United’s last three games:
▪️ Knocked out of the FA Cup by Middlesbrough
▪️ Draw against last-place Burnley
▪️ Draw against 10th-place Southampton🤷♂️ pic.twitter.com/97VIB7KjNB
— B/R Football (@brfootball) February 12, 2022
Februari Kelabu Manchester United
Bulan Februari seharusnya menjadi bulan penuh cinta. Namun, bagi Manchester United, Februari tahun ini adalah bulan kelabu yang membuat mereka dihujani bullyan. Penyebabnya, banyak dari pendukung Setan Merah yang sepertinya sudah jengah melihat penampilan Cristiano Ronaldo dkk di atas lapangan.
Manchester United langsung membuka bulan Februari dengan menelan kekalahan memalukan dari klub divisi Championship, Middlesbrough di babak keempat Piala FA. Tampil di Old Trafford, MU ditahan imbang 1-1 oleh Middlesbrough hingga 2 kali babak tambahan waktu sebelum kalah di babak adu penalti.
Di laga tersebut CR7 gagal mengeksekusi penalti. Selain itu, Bruno Fernandes juga gagal mengkonversi sebuah peluang emas di depan gawang yang lowong. Andai eksekusi penalti Ronaldo dan sepakan Bruno menemui sasaran, mungkin hasil laga tersebut akan sedikit berbeda.
Usai tersingkir dari Piala FA, Manchester United mendapat jadwal mudah kala bertandang ke markas tim juru kunci Premier League musim ini, Burnley. Namun, bukannya tampil menawan, permainan MU di laga tersebut justru terlihat loyo.
Gol Paul Pogba di menit ke-18 sukses membawa Setan Merah unggul di babak pertama. Lucunya, di babak kedua, permainan Manchester United justru kendor. Intensitas mereka turun drastis dan akibatnya mereka kebobolan di menit ke-47.
Ditahan imbang oleh Burnley tentu merupakan sebuah hasil yang sangat mengecewakan. Menyusul hasil tersebut, David De Gea mengeluarkan sebuah pernyataan lucu. Ia menduga performa buruk timnya adalah imbas dari kutukan.
“Saya pikir seseorang telah mengutuk kami atau semacamnya. Yang benar adalah saya tidak tahu apa yang terjadi, saya benar-benar tidak tahu. Kami seharusnya bersaing untuk lebih banyak trofi, gelar yang lebih besar, tetapi saya tidak tahu mengapa tim ini tidak berfungsi.” tutur De Gea kepada El Pais, dikutip dari Goal.
David de Gea: “I think someone has put a curse on us or something. The truth is I don’t know what’s going on, I really don’t. People always ask me and we talk about it as team-mates and we just say ‘we don’t know what’s happening” pic.twitter.com/qM0fcET8JJ
— SPORTbible (@sportbible) February 11, 2022
Namun, sabar dulu. Ini bukan puncak dari performa bapuk Manchester United di bulan Februari yang kelabu. Terbaru, The Red Devils kembali gagal memetik poin kala menjamu Southampton di kandangnya sendiri. Unggul terlebih dahulu lewat gol Jadon Sancho di menit ke-21, Manchester United kembali gagal memetik poin penuh usai gawang De Gea dibobol Che Adams di menit ke-48.
Sebab-Sebab MU Tampil Bapuk
Jika dianalisis, ada 3 kesamaan yang terjadi di 3 laga terakhir Manchester United. Pertama, MU selalu unggul penguasaan bola. Kedua, MU juga lebih banyak menghasilkan peluang, tetapi hanya sedikit yang mengancam dan berbuah gol. Dalam 3 pertandingan terakhirnya, Setan Merah hanya mampu mencetak 3 gol.
Ketiga, MU selalu mampu unggul terlebih dahulu di babak pertama. Namun, mereka selalu kebobolan di babak kedua. Penyakitnya masih sama, intensitas pressing pemain MU menurun drastis selepas turun minum. Selain itu, di babak kedua, pemain MU makin malas turun membantu pertahanan sehingga pertahanan mereka mudah ditembus.
Kini, posisi Manchester United di papan klasemen Premier League kembali turun ke peringkat 5 dengan koleksi 40 poin dari 24 pertandingan. Meski masih menyimpan satu laga sisa, tetapi posisi Setan Merah masih sangat rawan digusur.
Secara teori, peluang MU untuk memperebutkan gelar juara Premier League musim ini sangat sulit dan sangat tidak realistis. Usai tersingkir dari Piala FA, satu-satunya peluang yang masih terbuka bagi MU untuk meraih trofi berasal dari Liga Champions, itu pun peluang mereka juga setipis sutra.
Hasil yang dituai Manchester United sejauh ini tentu di luar ekspektasi mengingat mereka juga telah berganti pelatih dari Ole Gunnar Solskjaer ke Ralf Rangnick. Rangnick yang dikenal sebagai gurunya ‘gegenpressing’ nyatanya belum mampu mengubah nasib Setan Merah.
Lalu, apakah ini salah Ralf Rangnick sehingga sudah waktunya meneriakkan #RangnickOut?
Sebelum hasil buruk di bulan Februari ini, ada rumor yang menyebut bahwa para penggawa Manchester United tak senang dengan metode latihan Ralf Rangnick yang dianggapnya kuno.
Ini bukan kali pertama pemain MU dirumorkan frustrasi dengan metode latihan yang mereka dapat. Sejak era Sir Alex Ferguson berakhir, rumor serupa sudah berkali-kali mencuat. Dari David Moyes, Louis van Gaal, Jose Mourinho, hingga Ole Gunnar Solskjaer pernah mendapat keluhan serupa. Ini jadi indikasi bahwa para penggawa MU memang bermasalah.
Players are frustrated with David Moyes’ methods.
Players are frustrated with Louis van Gaal’s methods.
Players are frustrated with José Mourinho’s methods.
Players are frustrated with Ole G. Solskjaer’s methods.
Players are frustrated with Ralf Rangnick’s methods. https://t.co/4f7Y47h5Uo— Kristof Terreur (@HLNinEngeland) February 11, 2022
Fakta di atas lapangan juga berbicara demikian. Performa Manchester United bersama Ralf Rangnick sebetulnya menunjukkan perbaikan. Analisis dari FotMob juga menunjukkan bahwa tak ada yang salah dengan taktik Rangnick.
Rangnick berhasil memperbaiki keroposnya lini belakang Setan Merah yang begitu rapuh di masa Ole Gunnar Solskjaer. Di bawah asuhan Ole, gawang MU kebobolan 30 gol musim ini. Sementara di tangan pelatih asal Jerman itu, gawang De Gea hanya bobol 10 gol dalam 13 pertandingan.
Statistik juga menunjukkan bahwa lini depan Setan Merah jadi lebih agresif. Di 3 pertandingan terakhirnya, MU mampu melepas 30 tembakan saat melawan Middlesbrough, 22 tembakan saat melawan Burnley, dan 12 tembakan saat melawan Southampton.
Sejak ditangani Rangnick, Manchester United telah mencatat nilai Expected Goals (xG) atau angka harapan gol sebesar 23,3. Di periode tersebut, hanya Tottenham Hotspur (24,7), Manchester City (25,9), Liverpool (28,7) dan Chelsea (31,4) yang punya nilai xG lebih besar.
Sayangnya, seperti yang juga diakui Rangnick, konversi peluang para penyerang MU rendah. Dengan peluang yang begitu banyak dan angka harapan gol yang tinggi, Manchester United hanya mampu menghasilkan 17 gol sejak Rangnick menjabat sebagai pelatih.
Hasilnya, meski MU hanya kalah sekali di waktu normal dalam 13 pertandingan terakhirnya, mereka hanya sanggup menang 6 kali. Sementara itu, 6 laga lainnya selalu berakhir imbang dengan 5 di antaranya didapat setelah mereka mampu unggul terlebih dahulu.
Atas performa buruk yang ditampilkan, para pemain MU menuai banyak kritikan. Salah satu kritik tajam dilontarkan Paul Scholes yang justru merasa kasihan kepada Rangnick dan menilai pemain MU tidak bekerja keras di atas lapangan.
“Dari apa yang saya lihat, para pemain tidak cukup bekerja keras. Banyak sekali talenta di tim ini, banyak sekali pemain bagus di dalam tim dan Anda pasti bisa menyebutkannya satu persatu. Tapi, tentu bekerja keras juga harus! Saya merasa kasihan pada manajer. Dia pastinya mencoba yang terbaik untuk menyusun tim ini sesuai dengan tipe lawan yang dihadapi, dan entah apa mereka tidak mendengarkan, tidak bisa melakukannya, atau bahkan tidak mau melakukannya,” ujar Scholes, dikutip dari Goal.
Memang, jika dianalisis lebih lanjut, hanya ada beberapa pemain MU yang tampil menonjol. Salah satunya David De Gea yang sudah membuat 89 saves musim ini, terbanyak di antara kiper Premier League lainnya. Sayangnya, di depan dia berdiri Harry Maguire, sang kapten yang makin hari makin lucu performanya dan makin mudah dilewati.
Di lini depan, performa Bruno Fernandes dan Cristiano Ronaldo juga tengah menurun. Ronaldo misalnya, ia sudah mandul sejak terakhir kali mencetak gol pada 30 Desember tahun lalu. Sementara Bruno kini lebih banyak merengek di atas lapangan hingga disebut sebagai pemain manja oleh Gary Neville.
Cristiano Ronaldo hasn’t scored or assisted in 2022 yet 😳 pic.twitter.com/wd5ROl8NKD
— ESPN FC (@ESPNFC) February 12, 2022
Karma Manchester United
Jadi, pernyataan De Gea yang menyebut penyebab bapuknya performa Manchester United adalah karena terkena kutukan rasanya berlebihan. Lebih tepatnya, perfoma bapuk yang sekarang dituai MU adalah karena sikap manja para penggawa Setan Merah itu sendiri.
Bukannya menjalankan instruksi pelatih dengan baik, penggawa Setan Merah justru terlalu banyak merengek dan kurang bekerja keras. Lebih jauh lagi, nasib buruk yang sekarang dirasakan Setan Merah adalah buah dari kejumawaan dan sikap takabur yang terus mereka pelihara.
Dulu, para pendukung MU mengkritik Chelsea yang hobi belanja pemain. Kini, dalam sedekade terakhir, jumlah trofi UCL The Blues lebih banyak dari The Red Devils. Dulu, pendukung MU juga nyinyir dengan apa yang dilakukan sang tetangga, Manchester City. Kini, dalam sedekade terakhir, The Citizens lebih banyak mengoleksi trofi Premier League ketimbang MU.
Akhir-akhir ini, pendukung Setan Merah juga kerap mengejek penampilan Arsenal. Kini, semua yang dulu dirasakan Arsenal ada pada tubuh MU.
BREAKING: Harry Maguire has invented no-look defending. pic.twitter.com/edByOG5FoA
— FootballFunnys (@FootballFunnnys) February 12, 2022
Mungkin, ada baiknya mulai sekarang MU fokus dulu untuk jadi tim penghibur saja. Sepertinya, itu juga sudah jadi bakat mereka. Lagipula, Setan Merah jadi tidak terbebani target yang nyatanya terus gagal diraih.
Toh dengan menjadi tim hiburan seperti saat ini, nama Manchester United sebagai sebuah brands tetap laku. Bahkan tiap akhir pekan, nama mereka dan para penggawanya dijamin masuk trending topic. Sebuah hal yang xsangat positif bagi engangement Setan Merah di mata sponsor bukan?
Yang pasti, musim ini The Red Devils dapat dipastikan akan segera kembali puasa gelar. Jadi, bagaimana pendukung Manchester United? Siap kan untuk kembali puasa gelar dan melihat tim kesayangannya jadi bahan lawakan?


