Jejak Lika Liku Pep Guardiola Membangun Manchester City

spot_img

Kesuksesan klub kaya baru Manchester City dalam membangun skuad tidak hanya dengan uang melainkan masterplan jangka panjang yang terarah. Taipan Uni Emirat Arab tidak bodoh dalam mengelola uangnya di sepakbola.

Penunjukan Pep Guardiola adalah suatu bentuk penanaman modal yang ciamik sekaligus tepat dari pelatih-pelatih sebelumnya yang juga sudah menuai sukses. Pekerjaan mengelola skuad citizen tidaklah mudah. Tanggung jawab atas kucuran dana besar menjadi beban sendiri bagi para pelatih termasuk Pep. Disamping itu tuntutan hasil harus juga diberikan secepat mungkin.

Pep Di Musim Pertamanya Di City

Menggantikan Manuel Pellegrini yang hanya finish di posisi 4 liga dan hanya menjuarai Piala Liga di musim 2015/16, Pep ditunjuk pada musim baru 2016/17 oleh City guna memperbaiki posisi City dan diharapkan membangun permainan baru di skuad.

Dengan CV mentereng di klub sebelumnya, baik Barcelona maupun Munchen, manajemen menaruh harapan tinggi akan kedatangan Pep. Harapan itu tentu adalah mendominasi kembali Liga Inggris dan mendapatkan gelar Liga Champions.

Pep yang belum mempunyai pengalaman melatih di klub Inggris, dalam perjalanannya makin terasa bahwa atmosfer Liga Inggris berbeda dengan liga lain. Persaingan di Liga Inggris sangatlah ketat. Namun, perlahan Pep dianggap mampu merubah permainan City dengan gayanya sendiri dan bergerak ke arah proses yang positif.

Transfer Dan Strategi Awal Pep Di Manchester City

Pep yang datang di Etihad pada musim 2016/17 langsung bekerja cepat menyelaraskan skuad yang ada, dan menambal beberapa punggawa yang diinginkan. Pep beroperasi di bursa transfer dengan mendapatkan banyak pemain macam Bravo, Stones, Gundogan, Leroy Sane, Nolito, sampai Gabriel Jesus.

Pep mulai menerapkan filosofi berbeda terhadap pelatih-pelatih sebelumnya. Sentuhan tiki-taka modern ala Pep mewarnai Liga Inggris ketika itu. Possesion Football dengan permainan sirkulasi bola cepat serta kombinasi umpan-umpan pendek yang mengincar ruang kosong menjadi pondasi Pep dalam membangun kerangka bermain City.

Tak jarang Pep memilih pemain yang hanya bisa nyetel dalam sistemnya. Seperti contoh, Pep akan memilih kiper yang bisa membangun serangan dan jago passing. Begitupun center back, Pep suka dengan tipe bek yang bisa aktif membangun serangan ketika dibutuhkan juga dengan umpan yang akurat.

Maka dari itu, Pep banyak juga membuang pemain-pemain yang dianggap kurang sesuai dengan kemauannya seperti Joe Hart, Yaya Toure, Mangala, bahkan Edin Dzeko.

Semusim berlalu bersama Pep, City hanya berhasil dibawanya finis di posisi ketiga dengan 78 poin. Kalah dari Tottenham Hotspur dan Chelsea yang berhasil menjadi juara Premier League musim tersebut. Namun, perubahan permainan City mulai terlihat jelas, baik dari segi taktikal maupun mentalitas pemain. Guardiola pun berani memandang musim keduanya dengan optimistis dan penuh janji.

Pep Menepati Janjinya

Guardiola menepati janjinya. Memasuki musim keduanya melatih City di 2017/18, Guardiola sepertinya sudah banyak belajar dari kekurangan musim sebelumnya. Kembali dia mendaratkan beberapa pemain baru seperti Bernardo Silva, Ederson, Walker, maupun Aymeric Laporte.

Memperoleh pemain-pemain yang sesuai keinginannya, Guardiola kian bebas mengaplikasikan taktiknya di Manchester City. Bahkan sejak musim pertamanya, dia sudah merombak dan membangun ulang seluruh sistem City mulai dari dasar.

Akhirnya, janji itu dibayar tuntas oleh Pep di musim keduanya. Ia berhasil mempersembahkan kembali trofi Liga Inggris ke Etihad, beserta Piala Liga. City finish sebagai pemuncak klasemen dengan rekor 100 poin. Gelar pertama yang menunjukan awal era kesuksesan Pep bersama Citizens.

Treble Winner Di Musim Ketiga

Pep dalam perjalanan di musim ketiganya dibebani sebagai juara bertahan Liga Inggris sekaligus PR di Liga Champions. Kali ini di musim 2018/19 Pep tidak banyak mendatangkan pemain lagi. Pep hanya mendatangkan pemain seperti Riyad Mahrez dari Leicester City untuk menambah daya gedor City lewat sayap sebagai pelapis Sterling dan Sane.

Mengawali musim ketiganya, Pep langsung merebut 2 gelar pertama di Community Shield setelah mengalahkan Chelsea 2-0, serta gelar Piala Liga setelah di final kembali mengalahkan Chelsea lewat drama adu penalti dengan skor 4-3.

Pep di Liga Inggris ketika itu sedang mempunyai pesaing ketat yakni Liverpool-nya Klopp. Musim yang tidak mudah bagi Pep dan sangat ketat ketika itu. Karena hingga akhir liga, belum bisa ditentukan siapa juaranya.

Dengan kemenangan away atas Brighton 1-4 di partai pamungkas, membuat kemenangan Liverpool di tempat lain sia-sia. Pep akhirnya back to back menjadi kampiun Liga Inggris dengan raihan 98 poin, terpaut satu poin saja dari Liverpool.

Raihan trofi City bersama Pep di musim ketiganya ini disempurnakan oleh gelar piala FA. Di final pasukan Pep mencukur Watford dengan skor 6-0. Ini merupakan treble winner pertama buat Pep di City.

Meskipun treble winner itu terasa belum sempurna karena bukan gelar Liga Champions yang didapat. Pasukan Pep di musim itu kembali gagal di Champions League, kali ini ia gagal setelah tersingkir di babak perempat final oleh sesama wakil Inggris, Tottenham Hotspurs. Hal ini akan tetap menjadi PR dan tagihan besar manajemen kepada Pep di musim-musim selanjutnya.

Buruk di 2019/20

Beban demi beban yang ditancapkan kepada Pep di City tampaknya berakibat buruk bagi performa timnya di musim 2019/20. Disamping mempertahankan 2 gelar beruntun, target utama manajemen nomor 1 yakni juara Liga Champions.

Pep kembali memoles tim dengan mendatangkan beberapa pemain seperti Angelino, Rodri, maupun Joao Cancelo. Pada awal musim 2019/20, Pep kembali mendapatkan 2 gelar sekaligus yakni Community Shield setelah mengalahkan Liverpool dengan adu penalti 5-4. Serta Piala Liga setelah mengalahkan Aston Villa 2-1.

Namun, di liga mereka tertatih dalam pertarungan untuk mempertahankan gelar back to back. Di akhir musim mereka takluk oleh dominasi Liverpool. City finish menjadi runner up dengan selisih jauh 18 poin atas Liverpool. Ini menjadi musim terburuk City bersama Pep di liga sejak ia mengambil alih.

Begitupun di Liga Champions, Pep kembali gagal mewujudkan ambisi manajemen setelah tersingkir di perempat final oleh Lyon. Dari situ sempat muncul beberapa keraguan akankah masa depan Pep akan diputus oleh manajemen?

Hampir Terwujud Di 2020/21

Memulai musim dengan dendam untuk merebut gelar dari Liverpool pasukan Pep berbenah dengan kembali menambal beberapa pos dengan mendatangkan pemain seperti Ake, Ruben Dias, maupun Ferran Torres.

Hasilnya cukup berhasil. Kondisi pertahanan City mulai membaik sejak kedatangan Dias. Kokohnya tembok City berkorelasi terhadap hasil yang dicapai, mereka di awal musim 2020/21 langsung mendapat 1 trofi yakni Piala Liga dengan mengalahkan Spurs 1-0 di final.

Kekonsistenan City pada pertahanan mampu mengantarkannya merebut gelar liga Inggrisnya kembali dari Liverpool yang terseok musim itu. City finish dengan 86 poin selisih 12 poin dari runner up, MU.

Namun, yang perlu diingat setelah mendapatkan kembali gelar liga, PR bagi Pep masih ada yakni Liga Champions. Kali ini Pep bayar dengan harapan besar yakni mampu menembus final. Tetapi naas bagi Pep ia kandas oleh Chelsea 1-0 di final itu dan kembali memupuskan harapan dan ambisi City.

Mencoba peruntungan kembali pada musim berikutnya adalah hal wajib bagi City di Liga Champions. Sekarang City sudah mencapai semifinal. Di liga mereka mengulangi persaingan sengit seperti di musim 2018/19 dengan Liverpool ketika mereka hanya terpaut 1 poin.

Kini, pep tinggal menyempurnakan gelar bagi City lewat Liga Champions. Ketika itu ia dapatkan, paripurna sudah. Pep yang membangun City sejak 2016/17 memiliki perjalanan yang tidak mulus-mulus amat, tetapi trademark City di bawah Pep tidak bohong adalah jawaban atas kerja kerasnya membangun dengan proses yang tidak instan selama kurang lebih 6 tahun.

https://youtu.be/3UdWiVPaXIs

Sumber Referensi : fourfourtwo, sportingnews, transfermarket

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru