Kehadiran Erik ten Hag ke Manchester United membuat persaingan Liga Inggris musim mendatang bakal panas. Ten Hag mengikuti jejak para pelatih top lainnya datang ke liga yang paling sengit persaingannya di Eropa. Liga yang banyak menuntut.
Tapi, tunggu sebentar, apa Erik ten Hag itu benar-benar pelatih top? Ya, anggap saja demikian. Anggaplah Erik ten Hag sama seperti Pep Guardiola, Jurgen Klopp, Thomas Tuchel, sampai Antonio Conte dan Mikel Arteta. Eh, Arteta?
Ah, sudahlah. Kita sepakati saja manajer-manajer yang melatih komplotan “Big Six” adalah manajer yang hebat dan top. Minimal mereka punya trofi yang bisa dibanggakan. Paling tidak kehadiran manajer gundul asal Belanda itu akan membuat lantai dansa persaingan Premier League lebih licin.
Daftar Isi
Kedatangan Klopp dan Tuchel
Keenam manajer yang kini melatih para Big Six itu awalnya datang di kondisi yang berbeda-beda. Jurgen Klopp yang datang ketika publik Anfield telah lama berpuasa gelar Liga Inggris. Ia datang pada musim 2015-16.
Namun, Klopp tidak langsung membawa Liverpool juara Liga Inggris. Butuh waktu dan itu tidak sebentar. Bahkan Klopp harus menghabiskan 424 juta poundsterling (sekitar Rp7,5 triliun) sampai akhirnya membawa Liverpool juara Liga Inggris. Sementara Thomas Tuchel, manajer Chelsea itu lain lagi ceritanya.
Thomas Tuchel has given some insight into how the Chelsea squad welcomed him to the club after being parachuted in after Frank Lampard’s dismissal. pic.twitter.com/DBZRwB7xSO
— Booster99 (@betBooster99) March 5, 2021
Ia datang ke Chelsea dengan mewarisi skuad muda yang dibangun Frank Lampard. Mantan manajer Borussia Dortmund itu diangkat menjadi manajer Chelsea pada Januari 2021. Ia menggantikan Frank Lampard yang dipecat.
Tuchel datang ketika Lampard sudah membuat lubang di sana-sini. Chelsea arahan Lampard hanya bisa finish di posisi sembilan klasemen Liga Inggris. Tuchel pun diminta untuk mendongkrak performa itu dan ia berhasil membawa Chelsea ke arah positif.
Kedatangan Arteta, Conte, Ten Hag, dan Pep Guardiola
Di London yang lain, Mikel Arteta menjadi manajer Arsenal pada tahun 2019. Arteta menggantikan Freddie Ljungberg, manajer interim yang sebelumnya menggantikan Unai Emery. Waktu Arteta datang, mantan klubnya itu sedang tidak dalam kondisi baik.
Diasuh Ljungberg, Arsenal hanya meraih 6 poin di 6 laga. Hal itu menjadi beban yang lumayan berat untuk Arteta. Namun, ia meyakinkan para penggemar agar percaya pada proses. Saudaranya Arsenal, Tottenham Hotspur mendatangkan Conte pada November 2021.
Antonio Conte is set to become the next Tottenham Hotspur manager, with the Italian now 1/20 with some bookmakers to join. pic.twitter.com/ii12PCsNPG
— COYS.com (@COYS_com) June 3, 2021
Conte menggantikan Nuno Espirito Santo yang membawa Tottenham Hotspur tampil buruk. Pelatih keras kepala itu awalnya dirumorkan bakal menjadi manajer Manchester United, namun ia justru merapat ke Tottenham. Sementara MU sendiri makin acak-acakan.
Rangnick yang masuk menggantikan Ole Gunnar Solskjaer ternyata hanya bapak-bapak tua yang bisa melatih. Seni gegenpressing yang diagung-agungkan itu ternyata onani euforia pelatih baru semata. Terbukti pada akhirnya Rangnick justru memilih bekerja di Timnas Austria.
Erik ten Hag has already won a trophy with Manchester United 😅 pic.twitter.com/G3G1SAmS6T
— GOAL India (@Goal_India) July 12, 2022
Sedangkan Manchester United kedatangan Erik ten Hag. Untung saja Ten Hag mau melatih MU. Dan untung yang kedua, Ten Hag memberi kesan positif dengan kemenangan besar atas Liverpool di ajang Bangkok Century Cup. Sementara Pep datang ke Manchester City ketika kondisi sudah cukup baik.
Manuel Pellegrini sebelumnya turut membangun skuad City dan meraih gelar Liga Inggris. Guardiola datang pada Juli 2016 dengan membawa gaya main yang berbeda. Berkat filosofi bermainnya, Pep turut mengubah budaya yang ada di Manchester City, atau bahkan Liga Inggris.
Gaya Bermain Klopp, Pep, Tuchel, dan Ten Hag
Dari segi gaya bermain, setidaknya ada empat pelatih yang memiliki gaya main yang hampir mirip. Jurgen Klopp, Pep Guardiola, Thomas Tuchel, dan Erik ten Hag. Keempatnya sama-sama pengagum gegenpressing. Pep Guardiola, misalnya. Ia menyukai permainan dengan intensitas menekan tinggi.
Pola permainan dengan jarak antar pemain dan lini yang rapat jadi andalan Pep. Mengingat ia menyukai umpan-umpan pendek yang progresif. Guardiola lebih menyukai pola serangan dari bawah, maka terkadang ia memilih kiper yang piawai dalam membangun serangan.
Sementara Klopp, meski secara prinsip sama, tapi memiliki idiom taktik sendiri. Taktiknya dikenal dengan “heavy metal”. Filosofi Klopp adalah sepakbola yang intens dan bergerak cepat. Intinya dalam taktik Klopp, seluruh tim membutuhkan kecepatan, organisasi, konsentrasi, dan bakat yang luar biasa.
On this day in 2015, Liverpool hired Jurgen Klopp.
A Premier League and #UCL title later, heavy metal football has Anfield rocking 🤘 pic.twitter.com/68JLTtSnlT
— CBS Sports Golazo ⚽️ (@CBSSportsGolazo) October 8, 2021
Baik Pep maupun Klopp, keduanya kerap menggunakan skema 4-3-3. Sementara, Thomas Tuchel berbeda. Meski tetap menggunakan gegenpressing, pendekatan yang dilakukan Tuchel ini lain. Ia menggunakan tiga bek dalam format 3-4-3 atau 3-4-2-1.
Intensitas tekanan dari strategi Tuchel juga tinggi. Tujuannya untuk mempertahankan bola selama mungkin. Namun, dalam melakukan serangan, beberapa kali Tuchel memanfaatkan sisi wing back mereka untuk mengeksploitasi sisi full back lawan. Maka dari itu, nama wing back seperti Ben Chilwell dan Reece James berkembang pesat di tangan Tuchel.
Selain itu Tuchel juga adaptif. Ia rela meninggalkan pakem tiga beknya ketika ketersediaan pemain tidak mendukung. Tuchel tercatat pernah bermain dengan skema 4-4-2, 4-1-4-1, atau 4-2-2-2. Yang terakhir ini juga pernah digunakan Ralf Rangnick.
Sedangkan Erik ten Hag lebih menyukai pola 4-2-3-1. Ten Hag lebih senang menggunakan pemain nomor 10. Tipikal permainannya adalah pragmatis dan berkembang yang paten, serta intensitas tekanan yang tinggi.
Gaya Bermain Conte dan Arteta
Selain Thomas Tuchel, Antonio Conte juga berpegang teguh pada pattern tiga bek. Ia biasanya menggunakan formasi 3-5-2 atau 3-4-3. Dengan formasi itu ia bisa membawa Inter meraih scudetto.
Conte lebih menyukai permainan efektif tapi tetap indah ketika ditonton. Di Spurs, Conte menggunakan skema 3-4-2-1 yang selama ini sukses. Dalam fase menyerang, Conte biasanya akan mengandalkan sektor sayap.
Antonio Conte beruntung karena Spurs mempunyai Son Heung-min dan Lucas Moura yang memiliki kecepatan di sektor sayap. Belum lagi, skema Conte yang mengandalkan sisi wing back juga didukung dengan ketersediaan pemain seperti Erik Dier, Reguilon, sampai Emerson.
Conte juga sepertinya tak perlu khawatir karena ia sudah mendatangkan Ivan Perisic. Pemain yang ia buat sebagai wing back berbahaya ketika di Inter. Sementara, Mikel Arteta di Arsenal masih belum menunjukkan progres yang signifikan.
Kendati secara permainan, Arteta menginginkan pola permainan dari bawah. Menunjukkan bahwa ia murid Pep Guardiola yang taat. Maka dari itu, ia sering mengandalkan sektor full back dan sayap. Melalui skema 4-2-3-1, Arteta memiliki Kieran Tierney dan Tomiyasu yang bisa turut membantu serangan.
Dua pivot Arteta: Xhaka dan Partey memberikan keseimbangan di lini tengah. Sedangkan pemain sayap mereka didukung kualitas seorang Smith Rowe dan Bukayo Saka. Arteta lebih suka mengandalkan pemain muda dalam skuadnya.
Happy birthday to Mikel Arteta Amatriain (mini Arsene). You brought us beautiful football , “Arsenal style of play“😎…we now hope for Champions league Football after such a long time and more trophies (EPL, Champions League and Club World Cup😎)🔴⚪️ “Trust the Process”🥳🎂⚽️ pic.twitter.com/YaKpszhySu
— MR BACON_🧠_MAPS_RIEPS_92 (@Maps_Welsh) March 26, 2022
Prospek
Dengan gaya bermain yang meski sama tapi berbeda-beda itu membuat persaingan Big Six kemungkinan akan kembali memanas pada musim depan. Apalagi beberapa manajer sudah menunjukkan prospeknya yang hebat.
Klopp dengan trofi Liga Champions plus Liga Inggris. Tuchel yang juga dengan catatan trofi Liga Champions dan Piala Super Eropa untuk Chelsea. Conte yang mengembalikan martabat Tottenham ke Liga Champions.
Pep Guardiola yang membuat Liga Inggris menjadi liga petani lantaran berhasil bikin City jadi penguasa. Arteta dengan piala chiki yang tentu saja harus ikutan kita hitung. Dan Ten Hag dengan trofi pra musim yang bagaimanapun tetaplah berbentuk trofi.
Masing-masing juga sudah mendapatkan amunisi baru. Ten Hag yang meski gagal datangkan De Jong, tapi memperoleh Eriksen dan Tyrell Malacia. Manchester City dan Liverpool yang kini punya dua striker tangguh, Erling Haaland dan Darwin Nunez.
Who will Bang in PL ?
Darwin Nuñez vs Erling Haaland
Both players are similarly built , they both possess pace and power and they both still very young with a lot to still learn pic.twitter.com/j2PxNAOon0
— Leonard Onochie (@leonardnoch) June 26, 2022
Chelsea yang mendaratkan bekas City dan Liverpool, Raheem Sterling. Antonio Conte yang juga aktif di bursa transfer dengan memboyong Yves Bissouma, Ivan Perisic, Richarlison, sampai Clement Lenglet.
Sementara, rekrutan baru Arsenal, Gabriel Jesus sudah menggebrak di laga pra musim. Dengan begitu Premier League musim depan akan semakin menarik. Para pelatih top sudah berkumpul dan menciptakan persaingan yang sangat sengit. Pertanyaannya, siapa yang bakal tersenyum di akhir?
https://youtu.be/UBz0g45Q5Cw
Sumber: BR, CoachesVoice, FourFourTwo, ManUtd, Goal, PremierLeague, Goal, TheFootballAnalysis, TheMasterMindSite, Football London
