Jack Wilshere Tetap Setia pada Arsenal Meski Pernah Dibuang

spot_img

Selama karirnya, Jack Wilshere sangat akrab dengan hal-hal buruk di sepakbola Inggris. Dari badai cedera, mabuk-mabukan hingga terlibat perkelahian di club malam. Saat Wilshere masih muda, bakatnya dicap sebagai harapan masa depan Arsenal dan sepakbola Inggris. Namun, karena bakatnya itu terlalu dibesar-besarkan, ia tak mampu menanggung tekanan publik yang begitu besar di usia yang masih muda. 

Jack Wilshere sempat membangun kisah manis bersama Arsenal. Tapi kini ia terbuang dan memutuskan pensiun di usia 30 tahun. Usia yang terbilang masih produktif sebagai pesepakbola profesional. 

Namun, kecintaannya terhadap Arsenal membuat Wilshere kembali ke London sebagai pelatih tim U-18. Meski sempat diasingkan, nyatanya Wilshere mampu mengajarkan kita apa makna sebenarnya dari sebuah cinta dan kesetiaan. Wilshere tahu bahwa Arsenal adalah rumah untuk ia pulang.

Berawal dari Arsenal

Tumbuh sebagai pesepakbola berbakat, awal karir Jack Wilshere di Arsenal berjalan mulus. Arsene Wenger selaku pelatih The Gunners kala itu mengetahui potensi besar Wilshere, sehingga mempromosikannya ke tim utama. Debutnya di Liga Inggris terjadi ketika Arsenal menghadapi Blackburn Rovers di Ewood Park, pada September 2008. 

Menembus skuad utama Arsenal di usia 16 tahun membuat Jack Wilshere jadi sorotan publik Inggris. Bisa apa bocah 16 tahun di skuad asuhan Arsene Wenger yang berisikan Samir Nasri, Cesc Fabregas, Tomas Rosicky, Theo Walcott hingga Andrey Arshavin? 

Tentu jika ditanya soal berapa gol yang bakal dicetak, itu merupakan pertanyaan yang kurang tepat. Karena Wilshere merupakan gelandang tengah yang cenderung lebih bertahan, namun mampu memainkan peran sebagai gelandang pengangkut air.

Supaya kemampuannya semakin terasah, Arsenal meminjamkan Wilshere ke Bolton Wanderers, pada 2010. Selama berseragam klub tersebut ia membuat 14 penampilan dan mencetak satu gol.

Pertanyaan di masa lalu mulai terjawab ketika memasuki musim 2010/2011. Wilshere yang baru dipulangkan dari masa peminjaman dari Bolton mulai jadi pilihan utama Arsene Wenger di lini tengah.

Entah Alex Song atau Abou Diaby yang dipasang sebagai gelandang bertahan, Jack Wilshere selalu jadi tandem mereka. Memainkan peran sebagai double pivot, Wilshere terampil dalam memberikan operan dan liukannya membawa bola membuat pertahanan lawan kelimpungan menghentikannya. 

Rollercoaster

Di akhir musim 2010/2011, Super Jack dianugerahi penghargaan pemain muda terbaik Liga Inggris, setelah melakoni musim yang luar biasa, di mana Jack Wilshere memainkan 35 pertandingan liga sebagai pemain berusia 19 tahun dan tampil memukau para penggemar dengan teknik dan kemampuan passing-nya yang ciamik.

Namun, sejumlah cedera lainnya mulai berdatangan dan mengganggu performa Wilshere. Dari cedera lutut, pergelangan kaki hingga betis menyebabkan ia harus sering absen dari lapangan hijau. Namun, Arsenal dan Wilshere tetap saling percaya dan menunggu sang pemain kembali ke bentuk permainan terbaiknya. 

Performa Jack Wilshere lagi-lagi membaik saat kompetisi Liga Inggris memasuki musim 2013/2014. Wilshere kembali menjadi pilihan utama Arsene Wenger di lini tengah Arsenal. Super Jack mencatatkan 35 pertandingan di semua kompetisi musim itu.

Statistik golnya sebagai gelandang juga cukup oke, Wilshere mencetak 5 gol dan 5 assist dan itu jadi catatan terbaik selama berseragam The Gunners. Hebatnya lagi, salah satu golnya ke gawang Norwich jadi gol terbaik Liga Inggris musim 2013/2014.

Kombinasi sempurna antara dirinya, Santi Cazorla, dan Olivier Giroud menciptakan gol yang sangat indah. Di tengah lautan pemain Norwich, Wilshere menyelinap dan melakukan kombinasi umpan pendek dengan Giroud yang akhirnya berhasil menempatkan bola ke sudut yang tak terjangkau.

Gol yang ikonik ini menggambarkan gaya permainan Wenger yang menyerang dan mengandalkan kekreatifan pemain. Gol Wilshere ini dianggap sebagai salah satu gol terbaik Arsenal di Liga Inggris.

Wilshere dan Permasalahannya

Tampil konsisten tanpa diganggu cedera tampaknya sudah jadi hal yang sulit bagi Wilshere. Ditambah dengan menumpuknya stok gelandang setelah Arsenal mendatangkan Mathieu Flamini, Francis Coquelin, dan Mesut Ozil. Wilshere mau tak mau menyesuaikan dengan kondisi skuad.

Setelah Wilshere kembali dari cedera lutut, Wenger justru kerap memainkan Wilshere sebagai pemain nomor “10”. Wilshere pun kesulitan dengan peran tersebut, ia lebih nyaman bermain agak ke dalam dan mengatur tempo permainan. Namun, Wilshere menuruti apa kata Wenger, apa pun akan ia lakukan demi tetap bisa bermain untuk Arsenal. 

Sialnya, ia kembali mengalami cedera patah tulang betis yang membuatnya absen sepanjang musim 2015/2016. Setelah pulih, masalah lain justru kembali menimpa Wilshere. 

Dilansir Dailymail, saat ia baru kembali berlatih pasca cedera, Wilshere justru terlibat perkelahian di suatu club malam di Inggris. Tak ada penangkapan namun, peristiwa ini menimbulkan tanggapan negatif dari Wenger.

Terlebih ini bukan kali pertama Wilshere membuat ulah di luar lapangan. Sebelumnya, ia juga pernah ketahuan merokok dan menghisap shisha sehingga mendapat peringatan keras dari Arsene Wenger. Dan benar saja, akhirnya Wilshere tersisih dan dipinjamkan ke Bournemouth.

Berakhir di Arsenal

Kesabaran Arsenal mulai habis. Menjalani masa peminjaman di Bournemouth tak membuat Wilshere menemukan sentuhan terbaiknya. Wilshere yang dirasa sudah tak mampu mencapai top performa akhirnya dilepas secara gratis ke West Ham, pada musim 2018/2019.

Selama tiga musim membela West Ham, Wilshere lebih sering digunakan sebagai penghangat bangku cadangan. Ia hanya melakoni 18 pertandingan tanpa membuat satu gol pun untuk The Hammers.

Buruknya kontribusi yang diberikan Wilshere, membuat West Ham memutus kontraknya pada Oktober 2020. Setelah itu, ia sempat mendapat tawaran dari Tottenham, namun kesetiaannya terhadap Arsenal membuat Wilshere lebih memilih menganggur daripada bergabung ke Spurs. 

Awal tahun 2021, Wilshere sempat kembali berseragam Bournemouth dan bermain di Championship. Namun, ia kembali nganggur setelah klub tak memperpanjang kontraknya. Sadar, tak ada lagi klub yang mau menampungnya, Wilshere berinisiatif untuk mengambil kursus kepelatihan sambil menjaga kebugaran dengan berlatih bersama klub Serie B Italia, Como.   

Setelah tujuh bulan tanpa klub, pada awal 2022 Wilshere akhirnya dikontrak oleh klub asal Liga Denmark, AGF Aarhus. Namun, Wilshere hanya bermain selama 5 bulan dan memutuskan untuk pensiun di akhir musim. 

Tak lama setelah gantung sepatu, Wilshere langsung ditawari untuk menangani tim Arsenal U-18. Tanpa pikir panjang, Wilshere langsung mengambil kesempatan tersebut. Tidak heran jika ia mau mengambil tanggung jawab tersebut, sebab Wilshere sendiri juga lulusan akademi Arsenal.

Jack Wilshere berharap keputusannya menjadi seorang pelatih dapat memberikannya pengalaman baru. Wilshere yakin ia bisa sukses di perjalanan baru dalam karirnya bermodalkan pengalaman yang di dapat ketika bermain di level tertinggi Eropa. Toh dengan cara seperti ini Wilshere bisa membalas jasa-jasa Arsenal selama ini.

Sumber Referensi: Planetfootball, Thesefootballtimes, Goal, BRfootball

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru