Perjalanan karier mantan gelandang berwatak keras AC Milan, Gennaro Gattuso akhirnya sampai pula ke Spanyol. Pada 9 Juni 2022 lalu, Gattuso diumumkan sebagai pelatih anyar salah satu tim raksasa Liga Spanyol, Valencia Club de Futbol. Ia akan melatih di Mestalla hingga Juni 2024.
Gattuso menggantikan Jose Bordalas yang dipecat dari kursi pelatih. Penunjukkan ini tentu membuat Gonçalo Guedes dan kolega harus siap dengan metode latihan Gattuso. Pria yang pernah mengantongi satu medali juara Piala Dunia 2006 itu, di hari pertama melatih saja sudah melakukan tindakan yang kontroversial.
Gatusso con un pod en el entrenamiento del Valencia 😂
PADRE GENNARO pic.twitter.com/Mtrl49e5SV
— Juan López (@Juanlopezf10) July 6, 2022
Saat memimpin anak asuhnya latihan, dengan santainya Gattuso mengisap rokok elektrik. Tentu saja video yang dipublikasikan di laman Football Italia tersebut akan memantik rasa kesal. Meskipun ya, itu adalah Gattuso. Mau kesal kok itu Gattuso.
Daftar Isi
Profil Gattuso
Pria bermata tajam itu lahir di Italia Selatan. Ia memulai bermain sepakbola di Perugia sampai pernah mencicipi nuansa sepakbola Skotlandia dengan bergabung ke Rangers. Namun, masa-masa emas Gattuso tentu saja ketika berseragam AC Milan.
Gattuso merajut kisah manisnya bersama Rossoneri selama kurang lebih 13 tahun, sejak kali pertama bergabung pada tahun 1999. Dua trofi Liga Champions Eropa ia genggam bersama il Diavolo Rosso. Namun, perjalanan Gattuso di AC Milan harus berakhir tahun 2012.
Just a photo of Lafferty and Gattuso playing for FC Sion pic.twitter.com/VrjvK6rym0
— Midfield Jack (@MidfieldJack) June 15, 2021
Ia lantas melancong ke Swiss. Bergabung ke FC Sion, Gattuso pada akhirnya menghabiskan masa bermainnya di sana. Usai tak menjadi pemain, Gattuso melatih klub Swiss tersebut pada musim 2012-13.
Mulai Belajar Melatih
Ketika menukangi FC Sion, Gattuso mulai belajar bagaimana caranya melatih. Ia pada akhirnya menjelma dari yang semula sosok yang dirangkul di ruang ganti, menjadi sosok yang merangkul para pemain di ruang istirahat.
Pelan-pelan Gattuso menapaki jalan menuju puncak karier kepelatihannya. Ia kembali ke Italia dan melatih Palermo tahun 2013. Tapi ia hanya sebentar di sana. Setelah melakoni 8 pertandingan, Gattuso melancong ke Yunani.
Klub OFI Crete jadi pelabuhan berikutnya. Kisahnya di Yunani juga berlangsung singkat. Hanya 17 pertandingan, dan ia kembali lagi ke Italia. Si Badak bekerja sebagai pelatih klub Serie B, Pisa Sporting Club. Beruntung, nasibnya di Pisa tak sebentar. Cukup lama Gattuso bertahan dan melatih di sana dari tahun 2015 hingga 2017.
Pada tahun 2017, Gattuso memilih bekerja di akademi muda Rossoneri. Pekerjaannya di sana sangat mulus dan terbilang sangat baik. Gattuso pada akhirnya diangkat menjadi pelatih kepala AC Milan, ketika rival Inter itu memecat Vincenzo Montella tahun 2017.
Ia bertahan di AC Milan hingga musim panas 2019. Kendati ia hanya bisa membawa Rossoneri finish di peringkat enam pada musim 2017-18. Setelah tak lagi berseragam AC Milan, ia pindah ke Napoli tahun 2019. Si Badak menjalani musim 2019-20 yang menakjubkan bersama il Partenopei dengan meraih gelar Coppa Italia.
AC Milan take on Juventus tonight for the trophy. Gattuso: “How valuable is the Coppa Italia to us? For us it’s worth a World Cup.” pic.twitter.com/rCixKUCIHW
— SPORTbible (@sportbible) May 9, 2018
Pengalaman Pertama di Spanyol
Semusim ia menganggur setelah Napoli menyingkirkannya pada tahun 2021. Gattuso akhirnya mendapat pelabuhan baru di Spanyol. Valencia yang tak betah dengan prestasi Bordalas yang gitu-gitu saja, memilih memecatnya dan mendatangkan Si Badak.
Dengan harapan meraih gelar, Gattuso pun dengan mantap merapat ke Valencia. Sayangnya, penunjukkan Gattuso sebagai pelatih justru ditentang oleh sebagian besar basis penggemar Valencia. Sebelum ia resmi jadi pelatih, para fans sudah menaikkan #NoToGattuso.
Para fans sama sekali tidak menginginkan Si Badak melatih tim kesayangan. Apalagi Gattuso adalah makhluk yang penuh kontroversi. Hal itu juga berkaitan dengan beberapa komentarnya. Tahun 2008, Gattuso pernah mengatakan hubungan sesama jenis itu aneh. Ia menekankan bahwa pernikahan itu adalah pria dan wanita.
Lalu, pada 2013 Gattuso pernah dikritik keras lantaran komentarnya yang merendahkan perempuan. Itu tepat ketika AC Milan menunjuk Barbara Berlusconi sebagai CEO. Gattuso bilang, ia tidak bisa melihat perempuan dalam sepakbola. Barangkali nurani Gattuso terganggu karena itu.
Namun, Gattuso sendiri telah menanggapi hal tersebut. Ia menegaskan bahwa dirinya tak sekeras itu. Melalui media Italia, Corriere della Sera, Gattuso mengatakan komentar-komentar sinis pendukung Valencia hanya berdasarkan sifatnya di tahun-tahun yang sudah lewat.
OFFICIAL: Gennaro Gattuso has signed as Valencia’s new head coach 🇪🇸✍️
It will be a 2 year deal for Rino. pic.twitter.com/FtQZ95QINB
— Italian Football TV (@IFTVofficial) June 8, 2022
“Saya harap untuk melakukan pekerjaan yang saya cintai dalam damai. Saya boleh dihakimi untuk itu (pekerjaan pelatih) saja. Sesuai dengan siapa saya sebenarnya,” kata Gattuso dikutip SI.
Terlepas dari itu, di sisi lain ini adalah kali pertama Gattuso menginjakkan kaki di Spanyol. Sebelumnya, Si Badak tidak memiliki pengalaman apa-apa di sepakbola Negeri Matador. Ia belum pernah jadi pemain di klub sekelas Cadiz sekalipun. Soal melatih, baru Valencia, klub La Liga yang sudi menerimanya jadi pelatih.
Ulet dan Keras
Ada dua hal yang bisa menggambarkan bagaimana Gattuso nanti ketika melatih. Pertama, ulet dan yang kedua, keras. Gattuso telah membangun reputasinya sebagai pelatih yang bisa menyusun pemain-pemain yang ulet dan pekerja keras.
Di Napoli, prestasinya itu sangat kelihatan. Dalam skemanya, Gattuso memang bukan tipe pelatih yang meminta pemain terus mengejar bola, melakukan tekanan yang sangat tinggi, atau menerapkan gegenpressing. Sebaliknya, ia justru lebih menyukai bentuk pertahanan yang solid.
Namun, Gattuso semestinya juga harus adaptif dalam sepakbola Spanyol. Apalagi identitas sepakbola La Liga adalah penguasaan bola. Gattuso dengan keuletannya, selain membuat bentuk pertahanan yang solid, juga semestinya berusaha membuat pemain Valencia lama dalam menguasai bola.
🎙 Valencia coach Gennaro Gattuso:
“Everyone was convinced I was going to Spurs. I didn’t go to work at Spurs because of false accusations”
“Just think if that had happened here. If the president had fallen for it the same way Spurs’ board did”
👨💻 @DiMarzio #THFC || #COYS pic.twitter.com/Ko1O13ycRY
— Inside Spurs (@InsideSpurs1) July 21, 2022
Terlebih pada musim lalu, ball possesion Valencia berada di peringkat empat terbawah di La Liga. Menurut Total Football Analysis, angkanya hanya 44,7 persen. Los Che hanya unggul dari klub semenjana seperti Deportivo, Cadiz, dan Getafe, di mana penguasaan bola ketiganya di bawah 42 persen.
Ketika di Napoli, Gattuso lebih sering membangun serangan dari bawah. Seorang penjaga gawang seperti Ospina sering dilibatkan untuk menarik lawan. Dan itu menciptakan celah dalam formasi musuh, yang kemudian bisa dimanfaatkan untuk melakukan serangan balik secara vertikal.
#Gattuso v #Conte build-up
(433 v 532)– Napoli creating 2vs1 superiority with double #6 inside penalty area
– Deep FBs of #Napoli 4-2 structure, creates longer distance and worse access for #Inter WBs to press
– Wide wingers drags #Inter CBs to wide areas & 1v1 situations pic.twitter.com/1xo5Y6KD0x— Albin Sheqiri (@albinsheqiri) February 12, 2020
Secara prinsipil, taktik yang diterapkan Gattuso seperti itu. Ia sering mempertahankan penguasaan bola di sepertiga pertahanan sendiri. Namun, strategi semacam ini riskan ketika menghadapi lawan dengan kualitas tekanan yang bagus di La Liga, seperti Barcelona (31,9%) dan Celta Vigo (31,2%).
Terkenal Keras dalam Melatih
Dengan sifatnya yang keras, Valencia juga harus siap dengan metode latihan keras ala Gattuso, Dalam sebuah video, kelihatan bahwa beberapa pemain bertumbangan ketika dilatih Si Badak. Ketika pemain sudah mulai tumbang, Gattuso tetap memaksa pemainnya latihan.
Ya, Gattuso memang terkenal keras dalam latihan. Ia bahkan tak segan untuk memukul para pemainnya jika tak sesuai arahan. Meski begitu, gaya melatih Gattuso mulai menunjukkan sisi positif, kendati baru satu pertandingan. Valencia berhasil mengalahkan Dortmund 3-1 di laga uji coba belum lama ini.
https://youtu.be/NJAxmRganvk
Sumber: ESPN, FootballEspana, ValenciaCF, Viva, Fbref
