Evaluasi Untuk Atalanta Jelang Musim 2022/2023

spot_img

Sejak ditukangi Gian Piero Gasperini, Atalanta secara perlahan mengubah imejnya dari tim medioker menjadi tim yang bertarung di papan atas klasemen Serie A. Sejak musim 2017/2018, La Dea bahkan sudah rutin berpartisipasi di kompetisi Eropa.

Gasperini dan anak asuhnya sukses membuat sensasi besar di musim 2019/2020. Lolos ke fase grup Liga Champions, Atalanta secara mengejutkan berhasil finish sebagai runner-up grup C meski di 3 laga pertamanya selalu menelan kekalahan.

Kejutan kembali mereka torehkan di fase gugur. La Dea sukses menundukkan Valencia di babak 16 besar dengan skor agregat 8-4. Perjalanan mereka baru terhenti di babak perempat final usia kalah dramatis dari PSG.

Ciri khas Gasperini di Atalanta adalah taktik menyerang dengan formasi 3-5-2 atau 3-4-2-1. Agresivitas, high pressing, dan pergerakan dinamis pemain di kedua sisi sayap jadi gaya bermain yang sangat enak ditonton sekaligus membuat lawan kelabakan.

Statistik jadi buktinya. Di bawah asuhan Gasperini, Atalanta keluar sebagai salah satu klub tersubur di Eropa. Di periode 2018 hingga 2021, anak asuh Gasperini berhasil menghasilkan 265 gol. Selama periode itu pula, La Dea secara beruntun finish sebagai peringkat ketiga di Serie A dan 2 kali mencapai final Coppa Italia.

Finish di Peringkat 8, Atalanta Gagal Lolos ke Kompetisi Eropa

Sayangnya, kisah indah itu tak bertahan lama. Momentum Atalanta terhenti di musim lalu. Setelah 5 musim beruntun tak pernah absen dari pentas Eropa, La Dea untuk pertama kalinya gagal lolos ke kompetisi antarklub Eropa.

Hasil tersebut didapat setelah mereka hanya sanggup finish di peringkat kedelapan. Capaian tersebut jadi yang terendah bagi Gian Piero Gasperini sejak dirinya melatih Atalanta di musim 2016/2017.

Musim lalu memang jadi musim buruk bagi La Dea. Di paruh musim pertama, Rafael Toloi dan kolega terlalu banyak menelan hasil imbang. Sementara di paruh kedua, penampilan Atalanta makin inkonsisten. Hanya memetik 4 kemenangan dan menelan 7 kekalahan dalam 15 pertandingan terakhirnya membuat posisi Atalanta terus merosot.

Penurunan performa Atalanta juga terlihat di jumlah gol yang mereka cetak. Setelah 2 musim beruntun mampu menembus 90 gol, musim lalu, agresivitas yang jadi ciri khas La Dea seolah sirna. Luis Muriel dan kolega hanya mampu mencetak 65 gol dalam semusim.

Penampilan Atalanta di pentas Eropa juga tak bagus-bagus amat. Terlempar ke Liga Europa, laju mereka terhenti di babak perempat final.

Sebab-Sebab Menurunnya Performa Atalanta

Melihat dari sepak terjang mereka dalam beberapa musim terakhir, mudah untuk mengatakan kalau penyebab menurunnya performa Atalanta adalah karena lini depan mereka yang tak setajam dulu. Di 3 musim sebelumnya, Duvan Zapata, Josip Ilicic, dan Luis Muriel berhasil menghasilkan lebih dari 20 gol dalam semusim.

Akan tetapi, di musim lalu, top skor Atalanta yakni Luis Muriel dan Mario Pasalic hanya menghasilkan 14 gol. Ini jadi rekor terburuk penyerang La Dea sejak mereka ditangani Gasperini.

Namun, permasalahan utama Atalanta bukanlah sekadar ketajaman lini serang saja. Lebih daripada itu, Gasperini harus mulai menyadari bahwa taktiknya tak lagi manjur seperti sedia kala.

Di musim 2020 dan 2021, Atalanta masih memuncaki daftar tim dengan nilai Expected Goals (xG) dan Shot-Creating Actions (SCA). Namun, di musim lalu, capaian mereka menurun. La Dea hanya mencatat nilai xG sebesar 66,2 dan nilai SCA sebesar 958. Nilai tersebut hanya menempatkan mereka di posisi kedua di bawah Inter yang jadi tim paling agresif di Serie A musim lalu.

Masalahnya, meski nilai xG dan SCA yang mereka catat masih cukup tinggi, tetapi tingkat konversi peluang Atalanta tergolong rendah. Dari 597 tembakan, hanya 168 tembakan saja yang mengarah tepat sasaran alias hanya 28,1% saja yang mampu mengancam gawang lawan. Catatan tersebut bahkan hanya lebih baik dari Cagliari dan Genoa yang terdegradasi di akhir musim.

Ini jadi indikasi kuat tumpulnya lini serang La Dea. Namun, tak hanya itu. Dari nilai konversi yang rendah, kita juga bisa berasumsi bahwa taktik menyerang yang diusung Gasperini tak lagi ampuh dan mulai terbaca oleh lawan.

Selain itu, ada indikasi keretakan di manajemen Atalanta. Direktur teknis La Dea, Giovanni Sartori hengkang di bulan Mei lalu setelah hubungannya dengan Gasperini dikabarkan runtuh. Aktivitas transfer Atalanta dalam beberapa musim terakhir sepertinya jadi penyebab renggangnya hubungan di antara keduanya.

Ini bukan kali pertama Gasperini terlibat cekcok. Sebelumnya, ia pernah terlibat perseteruan dengan pemain senior sekaligus kapten tim, Papu Gomez. Gasperini menganggap mantan anak asuhnya indisipliner, sementara Gomez mengaku hampir dipukul mantan pelatihnya.

Apa yang Harus Dilakukan Atalanta Jelang Musim 2022/2023?

Gasperini sendiri sepertinya sadar akan posisinya saat ini. Penurunan prestasi dan kegagalan menembus kompetisi Eropa membuatnya siap angkat kaki dari Gewiss Stadium pada bulan Mei lalu. Namun, keputusan itu batal setelah ia bertemu empat mata dengan presiden Atalanta, Antonio Percassi.

“Dengan Percassi ada hubungan harga diri dan rasa terima kasih. Saya mengatakan kepadanya, ‘mungkin saya yang harus pergi’, tetapi dia sama sekali tidak menginginkannya,” kata Gaseperini dikutip dari Sportsmax.

Kepada La Gazzetta dello Sport, Gasperini juga mengeluhkan lini depan timnya dan aktivitas transfer yang berjalan statis. Gasperini bilang kalau beberapa permintaan transfernya tidak terpenuhi.

Sudah bukan rahasia lagi jika tiap musimnya bintang-bintang Atalanta laku terjual mahal. Meski begitu, scouting mereka masih sukses menambalnya dengan profil yang tak kalah hebat.

Seperti Juan Musso yang menggantikan Pierluigi Gollini. Merih Demiral yang mengisi pos yang ditinggalkan Christian Romero, atau Teun Koopmeiners dan Mario Pasalic yang jadi bintang baru La Dea.

Sayangnya, kisah yang sama tak terjadi di lini depan. Sudah lama Atalanta tak punya figur sebagai ujung tombak. Semenjak performa Josip Ilicic menurun pasca depresi pada 2020 silam, Gasperini praktis hanya bisa mengandalkan Duvan Zapata dan Luis Muriel.

Pada awalnya, Zapata dan Muriel sukses mencetak banyak gol. Namun, di musim lalu, jumlah gol mereka menurun. Zapata hanya mencetak 13 gol, sementara Muriel hanya mencetak 14 gol.

Sebenarnya, Atalanta sudah mencoba meregenerasi penyerangnya dengan mendatangkan Sam Lammers di musim panas 2021. Namun, striker asal Belanda itu hanya mampu mencetak 2 gol di sepanjang musim 2020/2021 sebelum akhirnya dipinjamkan ke Eintracht Frankfurt di musim lalu.

Selain lini depan, Gasperini juga mengakui bahwa kepergian Robin Gosens meninggalkan lubang yang cukup dalam. Zappacosta atau Joakim Maehle yang jadi penggantinya jelas memiliki gaya bermain yang berbeda dibanding Gosens yang kerap mencetak gol dan asis.

Siap Merombak Tim! Atalanta Menuju Masa Transisi

Untuk itulah, jelang musim baru 2022/2023, Gasperini dan Atalanta mesti membenahi diri. Sejauh ini mereka baru membeli gelandang asal Brasil, Ederson dari Salernitana dengan cara tukar tambah. La Dea dilaporkan membayar 15 juta euro plus menyertakan Matteo Lovato secara permanen dan meminjamkan Caleb Okoli.

Selain itu, La Dea juga mempermanenkan Jeremie Boga dan Merih Demiral yang secara total menelan biaya hingga 42 juta euro. Dari aktivitas transfer yang sudah tercatat, lagi-lagi, belum ada penyerang baru yang datang ke Bergamo.

Akan tetapi, ada sebuah kabar baik para para penggemar Atalanta. Menurut Calciomercato, Gasperini sudah berencana untuk merombak lini serangnya jelang musim baru 2022/2023.

Tak tanggung-tanggung, Luis Muriel yang sudah jadi andalan selama 3 musim terakhir siap dilego ke AS Roma. Roma dirumorkan menjadikan Muriel target incaran mereka setelah gagal mendaratkan Federico Bernardeschi.

Seiring berjalannya waktu, rumor tersebut memanas dan kedua tim dikabarkan tengah menjajaki pertukaran pemain. Selain Muriel, Roma coba meminta Mario Pasalic. Sebagai gantinya, Atalanta akan mendapat Stefan El Shaarawy dan Carles Perez.

Di luar rumor tersebut, Atalanta juga dikabarkan tengah secara intens bernegosiasi dengan Inter Milan untuk mendapat jasa Andrea Pinamonti. Striker 23 tahun itu menjalani masa peminjaman yang bagus bersama Empoli dengan mencetak 13 gol di Serie A musim lalu.

Sayangnya, meski memimpin perburuan Pinamonti, Atalanta belum menemui kesepakatan dengan pihak Inter yang ingin memasukkan opsi pembelian kembali. Namun, La Dea yang kabarnya sudah mengantongi kesepakatan personal dengan Pinamonti hingga 2027 tak menyerah dan mencoba mendapat incarannya dengan metode peminjaman plus kewajiban beli.

Apa yang kini tengah terjadi di dalam tubuh Atalanta adalah bukti bahwa klub kebanggan Kota Bergamo itu kini tengah menuju masa transisi. Selain hasil buruk di musim lalu, beberapa pilar utama Gasperini dalam beberapa musim terakhir juga mulai menua sehingga perlu dilakukan peremajaan skuad. Kepada La Gazzetta dello Sports, Gian Piero Gasperini sendiri menjanjikan Atalanta akan jadi tim yang muda dan kuat di musim depan.

“Atalanta akan muda dan kuat. Saya bertahan untuk rakyat. Ada keinginan untuk balas dendam. Kami tidak besar, kami bekerja untuk menjadi besar. Sementara itu, kami akan berjuang, kami akan bersenang-senang.”

Kita nanti saja akan seperti apa Atalanta di musim depan. Target minimalis seperti lolos ke kompetisi Liga Europa atau Conference League sepertinya cukup masuk akal untuk skuad Atalanta saat ini. Namun, jika mereka kembali gagal lolos, sepertinya ini memang jadi akhir kisah dongeng Gian Piero Gasperini bersama La Dea.

https://youtu.be/cQIilmhK_F8
***
Referensi: FBref, SempreInter, Football Italia, Goal, Cult of calcio, Football Italia, Sportsmax.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru