Sepakbola Qatar dan Martabat Tuan Rumah Piala Dunia 2022

0
898
Sepakbola Qatar dan Martabat Tuan Rumah Piala Dunia 2022
Sepakbola Qatar dan Martabat Tuan Rumah Piala Dunia 2022

Selalu ada yang menarik untuk dibahas dari tim yang menjadi tuan rumah turnamen sebesar Piala Dunia. Kali ini Qatar yang menjadi sorotan. Tim yang diperkirakan akan mendapat dukungan sekaligus tekanan yang paling besar itu akan berjuang mati-matian di hadapan publik sendiri.

Sejak Qatar diumumkan sebagai negara tuan rumah, begitu banyak perselisihan dan kontroversi seputar Piala Dunia 2022. Entah tentang negara itu sendiri atau kesesuaian negara Timur Tengah itu untuk menjadi tuan rumah turnamen sepakbola terbesar itu.

Di tengah kontroversi yang ada, muncul pertanyaan sinis, memang Qatar bisa bermain sepakbola? Jawabannya ya, tentu bisa. Meski Qatar bukanlah negara sepakbola macam Inggris atau Brazil, negara kaya raya ini sangat memperhatikan sistem pengembangan sepakbola. Lantas bagaimana sih perkembangan sepakbola Qatar menuju Piala Dunia 2022?

Perkembangan Sepakbola Qatar

Jika Qatar tak menjadi ladang minyak, mungkin sampai saat ini mereka hanya akan mengenal olahraga tradisional macam balapan unta. Pasalnya, pada sekitar tahun 1948, para ekspatriat Inggris dan India yang bekerja di pertambangan minyak itulah yang memperkenalkan sepakbola kepada masyarakat Qatar.

Sepakbola Qatar awalnya digelar secara sederhana. Dimainkan di lahan berpasir dengan menggunakan karung-karung berisi pasir yang digunakan menjadi gawang. Namun, semakin pesatnya perkembangan teknologi dan sumber daya manusia di Qatar, klub-klub serta fasilitas untuk pengembangan sepakbola usia dini pun mulai bermunculan.

Capaian yang mentereng di bidang ekonomi membuat pemerintah Qatar melakukan banyak investasi dan pembangunan di segala bidang. Tak terkecuali bidang olahraga sepakbola. Pemerintah Qatar membangun sebuah akademi olahraga yang bernama Aspire Academy yang berlokasi di Aspire Zone, distrik Al Waab, Qatar.

Meski banyak cabang olahraga yang dinaungi oleh akademi Aspire, sepakbola tetap menjadi cabang olahraga yang diutamakan. Pemerintah Qatar bahkan mengeluarkan sekitar 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp15 triliun demi proyek ambisius yang sudah beroperasi sejak 2004 ini. 

Terdapat sebuah kesepakatan antara Akademi Aspire dengan Federasi Sepakbola Qatar dan Liga Bintang Qatar (QSL) yang memungkinkan pemain lulusan Akademi Aspire agar bisa bermain di kompetisi tingkat tertinggi, yakni QSL ataupun abroad. 

Selain itu, Aspire juga menjalin kerjasama dengan beberapa klub top Eropa macam Leeds United di Inggris dan Kas Eupen di Belgia. Khusus Kas Eupen, mantan klub Jordi Amat itu bahkan sudah diakuisisi oleh Aspire.

Hal-hal tersebut dilakukan sebagai bentuk keseriusan dari Akademi Aspire untuk bisa menelurkan pemain yang berkualitas bagi Tim Nasional, dan khususnya agar mampu bersaing secara maksimal di Piala Dunia 2022. 

Hasilnya? Memuaskan

Tentu kurang afdol apabila kita tak membicarakan soal hasil dari proyek triliunan rupiah ini.  Di bidang sepakbola, Tim Nasional U-19 Qatar berhasil meraih gelar juara pada kompetisi AFC U-19 di Myanmar pada tahun 2014. Hebatnya, seluruh pemain Qatar U-19 saat itu berasal dari Aspire Academy. Sementara itu, Timnas senior mereka juga menjadi juara Piala Asia 2019 di Uni Emirat Arab.

Sebelum bisa membentuk tim yang menjuarai AFC, Qatar melakukan pencarian bakat ke seluruh dunia. Mereka dibantu mantan pemain-pemain ternama yang pernah main di Qatar seperti Pep Guardiola, Ronald De Boer, dan Frank Leboeuf. Talenta-talenta muda yang memiliki darah Qatar pun mendarat di Doha. Salah satu dari pemain itu adalah pemuda kelahiran Lhokseumawe, Aceh, Andri Syahputra.

Al-Annabi menjadi tim kejutan di Piala Asia 2019. Mereka datang tidak sebagai unggulan. Status tuan rumah Piala Dunia 2022 awalnya dianggap hanya jadi beban tersendiri bagi anak-anak asuh Felix Sanchez.

Namun, beban tersebut diubah Sanchez menjadi motivasi. Sejak awal, mata Qatar sudah tertuju pada gelar juara. “Semuanya ingin menjadi juara Piala Asia. Begitu juga Qatar,” kata Sanchez. Hasilnya, mereka mampu membuktikan diri bahwa Qatar bisa menjadi kekuatan baru sepakbola Asia yang layak tampil di Piala Dunia. 

Peran Felix Sanchez

Sosok Felix Sanchez memang memiliki peran penting dalam perkembangan sepakbola Qatar. Ia sudah berkecimpung di sepakbola Qatar selama 16 tahun. Usai jadi pelatih tim muda Barcelona selama 10 tahun lamanya, Felix langsung bergabung dengan Akademi Aspire tahun 2006 sebagai pelatih tim junior. Jadi, Felix ini sudah ngelotok dengan dinamika sepakbola Qatar. 

Pada tahun 2013, pelatih berusia 46 tahun itu ditunjuk sebagai pelatih Qatar U-19 dan memenangkan kejuaraan AFC U-19 setahun berselang. Prestasinya itu membuat federasi kesemsem, dan akhirnya mempromosikan Sanchez untuk menukangi dua tim sekaligus, yakni timnas U-23 dan senior. Bersama timnas U-23, Sanchez hanya mampu finis di urutan ketiga AFC Cup 2018.

Sedangkan bersama tim senior Qatar, ia meraih trofi di Piala Asia 2019, setelah mengalahkan Jepang dengan skor 3-1 di partai final yang dimainkan di Zayed Sports City, Uni Emirat Arab. Felix selalu terlibat dalam perkembangan sepakbola Qatar yang terintegrasi itu.

Peluang di Piala Dunia 2022

Tim yang sudah dibangun selama bertahun-tahun itu akan menghadapi ujian sesungguhnya di Piala Dunia 2022 kali ini. Meski lolos sebagai tuan rumah, Qatar menyambut para tamu bukan tanpa persiapan. Meski tak memainkan babak kualifikasi, Qatar tetap mengantongi laga uji coba yang cukup.

Selama lima tahun menukangi timnas senior Qatar, Sánchez sering menggunakan skema 3-5-2. Menurut The Analyst, sejauh ini ia telah memimpin 88 pertandingan, dengan menorehkan 47 kali kemenangan, 16 kali seri dan 25 kali kekalahan. Pelatih asal Spanyol itu mampu mengumpulkan rata-rata 1,73 poin per laga.

Al-Annabi setidaknya telah memainkan 25 pertandingan pada tahun 2021 dan 13 pertandingan lain pada tahun 2022. Ya, meskipun level kekuatan lawan yang mereka hadapi tidak setara dengan tim-tim langganan Piala Dunia macam Brazil atau Inggris, itu dirasa cukup. 

Qatar juga mencapai semifinal di Gold Cup 2021, namun takluk dari Timnas Amerika Serikat. Pemain Qatar yang menarik perhatian dalam turnamen ini adalah Almoez Ali. Ia jadi top skor turnamen tersebut dengan torehan empat gol dari enam pertandingan.

Qatar diperkirakan akan bermain bertahan di ajang Piala Dunia. Di final Piala Asia 2019 melawan Jepang dan semifinal Piala Emas 2021 melawan Amerika Serikat , tim asuhan Sanchez kerap melakukan high press ketika lawan melakukan tendangan gawang.

Sedangkan ketika menguasai bola, Qatar bermain layaknya tim yang dilatih oleh pelatih asal Spanyol. Al-Annabi mengalirkan bola dari kaki ke kaki dan menyerang dengan kombinasi passing yang apik. Aliran bola yang cepat dan tepat akan dikonversi menjadi gol oleh top skorer sepanjang masa mereka, Almoez Ali.

Marwah Tim Tuan Rumah

Berada di grup yang sama dengan Belanda, Senegal, dan Ekuador, Almoez Ali dan Akram Afifi diperkirakan bakal menjadi senjata pamungkas untuk membongkar pertahanan lawan. Meski demikian, banyak yang menganggap kalau Qatar hanya akan menjadi tim penggembira di Grup A.

Namun, apabila dilihat dari track record tim tuan rumah di ajang Piala Dunia, hampir 90% tim tuan rumah mampu lolos ke babak 16 besar. Bahkan sekelas Jepang dan Korea Selatan saja mampu lolos ke fase gugur ketika mereka ditunjuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002. Tercatat hanya Afrika Selatan, tuan rumah Piala Dunia 2010 yang gagal melaju ke fase gugur.

Sumber: The Analyst, The Athletic, Panditfootball, LigaLaga

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini