Terkadang pada setiap turnamen, sang juara lahir dari sebuah proses yang tak mulus. Sebuah tim untuk menuju kesuksesan dalam turnamen yang singkat itu, biasanya diraih dengan cobaan yang terbilang amat sangat berat.
Termasuk apa yang sering terjadi di gelaran Piala Dunia tiap edisinya. Ada banyak contoh yang bisa kita petik dari beberapa sang juara. Nah, berikut adalah beberapa tips yang bisa dipetik dari perjalanan para jawara tiap edisinya.
Six lessons from the last six World Cup winners. Including: you don’t need to be good in the group, or to have a prolific No9, or to know your best formation from the outset.https://t.co/rSB5UK98I1
— Michael Cox (@Zonal_Marking) November 10, 2022
Daftar Isi
Tak Perlu Terlalu Mengesankan di Fase Grup
Terkadang di babak penyisihan grup yang hanya memainkan tiga pertandingan untuk menentukan kelolosan ke babak berikutnya, dibutuhkan konsistensi. Namun, kalau melihat kasus para juara dunia, terkadang mereka memakai fase ini untuk menaikan mental. Jarang lahir para juara yang terlalu “ngegas” dengan skor fantastis maupun rekor mentereng di fase ini.
Timnas Italia di 2006 misalnya. Mereka hanya mengumpulkan tujuh poin di fase grup. Permainannya tidak terlalu mengesankan sebagai calon juara. Malah di partai kedua sempat imbang dengan AS. Sehingga Italia pun di partai terakhir dituntut untuk menang agar bisa lolos.
Di 2010 pun sama. Meskipun Spanyol superior dan datang sebagai juara bertahan Euro 2008, mereka harus menerima pil pahit kekalahan di partai pertama melawan Swiss. Kelolosan mereka di fase grup pun tertatih dan hanya mengumpulkan enam poin. Golnya pun hanya empat.
On this day in 2010, Switzerland secured a 1-0 victory over Spain in the FIFA World Cup.
The Spanish team rose from that defeat and went ahead to win the World Cup 🏆.#GetSporty #BetSporty
— SportyBet (@SportyBet) June 16, 2020
Jerman juga sama di 2014. Membantai Portugal 4-0 di partai pertama bukan jaminan bagi mereka untuk mulus melaju. Pasalnya, di partai kedua mereka melempem dan tak bisa menang atas Ghana. Alhasil mereka dituntut menang untuk lolos di partai terakhir melawan AS. Secara permainan pun tak terlalu superior. Mereka pun hanya bisa menang tipis 1-0 atas AS.
Prancis di edisi Piala Dunia terakhir 2018 pun sama. Bahkan Les Bleus ini hanya membuat tiga gol saja di fase grup. Mereka hanya mengumpulkan tujuh poin. Dan dilihat dari permainannya, juga tak menunjukkan gelagat sebagai calon juara.
38 games have been played at the 2018 World Cup
Denmark vs. France is the first and only match to finish 0-0 in that time; ending a record 37-game start to the tournament without a single goalless draw. pic.twitter.com/iVY2Aql2PM
— Squawka (@Squawka) June 26, 2018
Percaya Akan Pilihan Pelatih
Yang kedua adalah percaya akan pilihan pelatih. Para fans terkadang protes, kenapa pemain yang lagi “On Form” di level klub tak dibawa ke Piala Dunia.
Namun parameter pelatih yang punya hak mutlak menentukan pemain, kadang berbeda. Terkadang pelatih hanya memilih pemain kepercayaannya yang sudah terbukti membuatnya nyaman dalam bekerja sama. Walaupun itu rentan cedera maupun tak tampil reguler di klub.
Di 2002, siapa yang menyangka striker Brazil, Ronaldo Nazario akan gacor? Pasalnya ia jelang Piala Dunia hanya mampu mencetak 10 gol dalam dua musim terakhirnya bersama Inter. Maklum ia banyak dilanda cedera panjang. Namun, ketika dipercaya penuh oleh Luis Felipe Scolari, ia mampu menjawabnya.
“Everyone was talking about my leg injury, so I cut my hair like that so everyone focused on that…” – Ronaldo Nazário on the 2002 World Cup
He scored 8 goals at the tournament ⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽
RT🔃 if you remember that hair cut! pic.twitter.com/qm51lTaPY7
— Bet9ja (@Bet9jaOfficial) January 18, 2019
Italia di 2006 juga sama. Marcelo Lippi percaya untuk memanggil Francesco Totti. Walaupun ia di klub sudah lama cedera. Totti dikatakan baru sembuh dan diragukan oleh banyak publik jika dibawa ke Piala Dunia. Namun kepercayaan Lippi itu dijawab oleh Totti. Totti memberikan peran penting bagi permainan Italia ketika itu sebagai second striker.
Di 2010, Del Bosque juga punya kasus yang serupa. Kiper inti mereka, Iker Casillas punya musim yang tak terlalu bagus pada musim 2009/10 bersama klubnya. Sedangkan kiper pelapisnya, baik Valdes maupun Reina sedang gacor-gacornya. Namun keteguhan hati Del Bosque tetap menempatkan Iker Casillas sebagai starter terbukti.
Iker Casillas’ 2010 World Cup:
• Goals scored by his team: 8
• Saves by Iker: 17
• Goals conceded: 2 (0 in KO games)
• Clean sheets: 5/7
• Penalty save in the 1-0 win against Paraguay in QF.
• Game saving save in the Final.Without him, they don’t win the World Cup. 👑🐐 pic.twitter.com/bi0YC0uT3P
— 9. (@GreatWhiteNueve) May 20, 2021
Di 2014, ada kasus Bastian Schweinsteiger di Jerman. Ia setelah juara Liga Champions bersama Munchen di 2012/13 penampilannya menurun drastis seiring usianya semakin menua. Namun itu tak membuat Joachim Loew tidak memanggilnya. Dan terbukti, komandonya di lini tengah Jerman mampu memberikan kekuatan serta mental yang akhirnya mampu membawa Jerman juara.
Di 2018 ada kasus Paul Pogba. Ia di musim keduanya bersama United pada 2017/18, performanya justru menurun. Pogba pun kerap kontroversial. Akan tetapi, kepercayaan Deschamps yang memanggilnya sebagai pemain inti di lini tengah Prancis, mampu dibayar lunas oleh Pogba.
Paul Pogba – 2018 World Cup pic.twitter.com/sKzx6dIvas
— 🫵🏽 (@idoxvi) November 11, 2022
Perlu Perubahan di Tengah Kompetisi
Yang ketiga adalah kepandaian pelatih dalam mengubah sistem di tengah kompetisi. Artinya, pembelajaran dan evaluasi menjadi kunci bagi progres sebuah tim untuk menuju juara. Dan biasanya, tim juara melakukan itu.
Di 2002, komposisi pemain tengah Brasil berubah. Di empat pertandingan pertama, mereka memakai satu gelandang bertahan yakni Gilberto Silva dan satu gelandang serang, Juninho. Kemudian komposisi itu diubah Scolari dengan mengganti Juninho dengan Kleberson yang lebih bertipe bertahan hingga final. Hasilnya, Brazil mampu lebih seimbang dan solid.
🗓️ When 2002 began Kleberson had never played for Brazil. Six months later he had performed magnificently against England, Turkey and Germany to help them win the #WorldCup 🏆
🎁 Happy birthday to a man who was a revelation in the Far East 🥳@Kleberson_8 | @CBF_Futebol pic.twitter.com/G7pNDCZfyI
— FIFA World Cup (@FIFAWorldCup) June 19, 2021
Di 2006, Lippi awalnya memakai formasi 4-3-1-2. Ia mengandalkan dua striker sekaligus. Di tengah kompetisi, tepatnya di match ketiga melawan Ceko, ia mencoba memakai satu striker saja dengan formasi 4-4-1-1. Penambahan personel di lini tengah membuat keseimbangan tim lebih terjaga. Dan itu membuat Italia lebih solid dan konsisten hingga babak akhir.
Pada 2010, Del Bosque menolak menggunakan pola 4-3-3 ala Barcelona. Ia lebih memilih menggunakan pola 4-2-3-1 dengan double pivot Alonso dan Busquets. Di babak semifinal dan final, Del Bosque juga mengubah sisi penyerangannya. Ia menarik David Villa dari sisi kiri, ke pos striker menggantikan Torres. Ia juga menyuruh Iniesta lebih bergerak dari sisi kiri yang ditinggalkan Villa.
4k | Andres Iniesta ♥️
World Cup 2010 🇪🇸🏆#Spain #Wallpapers pic.twitter.com/QFPfJJ7zjZ— خالدز (@5aledz_) November 15, 2022
Di 2014, Jerman juga banyak melakukan perubahan. Philipp Lahm di empat pertandingan pertama menempati posisi gelandang. Ia akhirnya ditarik kembali sebagai bek kanan di perempat final. Di komposisi penyerangan, Loew juga mulai mengubah trionya sejak perempat final. Dari Gotze, Muller, Ozil, akhirnya ia mulai berani memainkan senior mereka Miroslav Klose hingga final.
Di edisi 2018 yang lalu, Deschamps juga melakukan perubahan signifikan. Awalnya Prancis memulai babak grup dengan format 4-3-3 dengan trio penyerang Griezmann, Mbappe dan Dembele.
Namun pada match kedua hingga final, pola pakemnya berubah menjadi 4-2-3-1. Di mana Giroud dipercaya sebagai “Nomor 9″. dan Blaise Matuidi di plot sebagai gelandang kiri untuk menambah keseimbangan. Hasilnya sempurna, Prancis pun berhasil dengan pola baru itu.
One of the most underrated coaching decision if not the most of all time.
Matuidi playing as a winger at World Cup 2018
This man right here 👇 does not get enough credit pic.twitter.com/ocCw00xYZ1
— Gasipo (@gasipo_opinions) July 16, 2020
Terkadang Pemain “Nomor 9” Tak Perlukan Cetak Banyak Gol
Yang keempat adalah terkadang pemain no 9 dari sang juara tak terlalu produktif dalam mencetak gol. Di Italia 2006, Toni dan Gilardino yang sering dipakai menjadi “Nomor 9” hanya mengemas total 3 gol saja.
Kemudian di 2010, top skor Spanyol adalah David Villa. Pemain yang ditempatkan di sisi kiri penyerangan. Bukannya Torres yang ditempatkan sebagai “Nomor 9”.
🏆 What a contribution 🤩
🇪🇸 David Villa scored or assisted 75% of Spain’s goals at South Africa 2010 – a record for a #WorldCup-winning team, topping Diego Maradona’s 71% at Mexico 1986 🥇
🎂 Happy 40th birthday, ‘El Guaje’ 🎉@Guaje7Villa | @SeFutbolpic.twitter.com/FgMv9ZFwGi
— FIFA World Cup (@FIFAWorldCup) December 3, 2021
Di 2014, top skor Jerman adalah Thomas Muller. Muller adalah seorang False Nine dalam pola permainan Loew. Miroslav Klose yang diplot sebagai “Nomor 9” di tengah kompetisi, hanya mampu menciptakan 1 gol.
Di 2018 juga sama. Kita tahu Giroud yang dipasang sebagai “Nomor 9” di Prancis jumlah golnya adalah 0. Top skor mereka malah datang dari lini kedua yakni Griezmann dengan 4 gol.
Olivier Giroud ends the 2018 World Cup with 13 shots, 0 shots on target and 0 goals.
His side are on the verge of lifting the trophy. 🙃 pic.twitter.com/ofg79aPVFI
— Squawka (@Squawka) July 15, 2018
https://youtu.be/6jsN0yQ64vA
Sumber Referensi : theathletic, skysports,


