Beranda blog Halaman 282

Dimensi Gaya Baru Para Punggawa Anyar Manchester City

0

Sepakbola pasti berkembang, maka butuh adaptasi yang baik agar tak ketinggalan tren. Evaluasi performa juga diperlukan untuk mencari titik lemah. Begitu pula inovasi dari segi permainan, diperlukan agar tak monoton dan tak mudah ditebak lawan.

Hal-hal itulah yang kini diaplikasikan oleh Manchester City. Sang peraih Treble Winner musim lalu. Ibaratnya nih, tim yang sudah kuat dan raih banyak trofi saja, masih gemar melakukan perubahan. Bagaimana dengan yang masih begitu-begitu saja?

Kerumitan Transfer City

Musim ini City dihadapkan pada perpindahan beberapa pemain pilarnya. Apa boleh buat, Pep dan tim manajemen harus bergerak cepat mencari jawaban akan dibawa ke mana City musim ini setelah ditinggal beberapa pemain pilarnya.

Meski secara uang tak kekurangan, namun situasi dan kondisi pasar yang terjadi di bursa transfer musim panas ini membuat manajemen City bekerja agak lebih rumit. Mereka dikejar waktu harus menambal beberapa pos yang ditinggalkan Mahrez, Gundogan, maupun Laporte. Ditambah isu keluarnya Kyle Walker maupun Bernardo Silva, yang untungnya tak jadi pergi.

Biasanya nih, beberapa musim terakhir ini City termasuk tim yang santai di bursa transfer. Mereka biasanya tak sampai hari-hari terakhir untuk panik cari pemain. Tapi toh, kenyataannya musim ini berbeda. Mereka di hari-hari terakhir masih saja sibuk cari pemain. Hal itu dikarenakan sikap kehati-hatian Pep dan manajemen dalam memilih pemain. Bisa-bisa kalau asal dapat saja bisa masalah.

Inovasi Pep Guardiola

Berbagai evaluasi dan antisipasi pun sudah dilakukan Pep dan tim kepelatihan. Dilansir The Athletic, Pep sempat mengemukakan apa rencananya musim ini dengan beberapa pemain pilar yang hijrah. Pep menyebut tengah menyiapkan inovasi baru lagi di sistem permainannya.

Hal itu juga diamini oleh asistennya Juanma Lillo. Bahkan Lillo langsung memberikan kisi-kisi bahwa Pep akan melakukan inovasi dalam aspek membawa bola dan kecepatan. Menurut Lillo, spesifiknya akan terlihat pada pembelian pemain City musim ini. Pep ternyata fokus untuk mencari pemain yang memiliki gaya bermain berbeda dengan pilar terdahulu yang cabut.

Disebutkan pula oleh Lillo, tujuan dari dua metode perubahan yang ingin ditingkatkan Pep. Yang pertama adalah aspek kecepatan. Pep menduga akan ada banyak musuhnya musim ini yang akan bermain bertahan dengan low block. Pep juga mengantisipasi kalau lawannya menggunakan taktik penjagaan ketat (Man To Man Marking) pada setiap pemain pilarnya. Atas dasar itulah, menurut Pep aspek kecepatan akan menjadi penting.

Mahrez Digantikan Doku

Aspek kecepatan di sini dicontohkan dengan pembelian pemain seperti Jeremy Doku. Secara posisi, Doku dapat mengisi pos yang ditinggalkan Riyad Mahrez di sisi winger.

Kita tahu tipe Doku adalah sprinter. Saking cepatnya, ia bahkan sempat dijuluki The Belgian Flash. Sudah lama sejak kepergian pemain seperti Sterling maupun Sane, tak ada lagi sayap cepat dan lincah di City. Grealish, Bernardo Silva, maupun Mahrez, cenderung lebih bertipe stylish.

Nah dengan adanya Doku, diharapkan serangan City akan lebih bervariasi musim ini. Secara statistik pun tak bohong. Doku di tim sebelumnya Rennes, termasuk dalam kategori tipe sayap cepat dengan kelebihan melewati lawan (Successful Take Ons). Sebanyak 96 Successful Take Ons yang dihasilkan Doku musim lalu. Hanya kalah dari Vinicius Junior (112) dan Lionel Messi (102).

Gundogan Digantikan Nunes Dan Kovacic

Di lini tengah, Pep mendapatkan dua pemain sekaligus ketika ditinggal Ilkay Gundogan. Mereka adalah Mateo Kovacic dan Matheus Nunes. Dua pemain yang bertipe sangat berbeda dengan Gundogan. Gundogan adalah tipe gelandang box-to-box yang juga rajin merangsek ke lini belakang lawan. Produktivitas golnya pun dapat diandalkan.

Berbeda dengan Kovacic yang tak rajin merangsek sisi pertahanan lawan meski ia juga gelandang bertipe box-to-box. Jangan harap ia akan banyak ciptakan gol seperti Gundogan. Namun begitu Kovacic punya kemampuan yang bagus dalam menjemput bola dari belakang. Pep sudah pasti akan mengandalkan umpan progresifnya terutama dalam mengalirkan bola di situasi transisi dari bertahan ke menyerang.

Selain itu, Kovacic juga pemain yang tepat untuk mewujudkan rencana Pep yang mengedepankan kecepatan dan bagaimana pemain harus keluar dari tekanan lawan. Di Chelsea, Kovacic termasuk gelandang yang aktif melakukan dribble sukses dan melewati lawan (Successful Take Ons). Musim lalu nilai Successful Take Ons-nya 1,2. Beda jauh dengan Gundogan yang hanya 0,7.

Matheus Nunes yang didatangkan pun demikian. Meski posturnya mirip Rodri, namun selama Wolves, Nunes bukanlah gelandang bertahan murni. Ia lebih sering menjadi box-to-box bersama Ruben Neves. Menariknya, angka statistik Nunes dalam aspek kecepatan dan melewati lawan (Successful Take Ons) ternyata sangat tinggi.

Menurut data Squawka, Matheus Nunes telah menyelesaikan Successful Take Ons terbanyak di Liga Inggris musim lalu dengan jumlah 11. Selain itu, tidak ada gelandang di Liga Inggris yang memenangkan duel (Duels Won) lebih banyak darinya, yakni sebanyak 23 kali. Bahkan, ia mencatatkan kecepatan tertinggi dibandingkan gelandang tengah manapun di Liga Inggris. Kecepatannya tercatat mencapai 36,32 km/jam.

Laporte Digantikan Gvardiol

Lalu di posisi bek Pep juga mendapatkan amunisi baru musim ini. Tak tanggung-tanggung City berani merogoh kocek mahal untuk dapatkan Josko Gvardiol. Keberadaan Gvardiol musim ini ditujukan untuk menambal stok lini belakang City yang ditinggalkan Aymeric Laporte.

Gvardiol dan Laporte kebetulan punya banyak kesamaan. Baik itu dari penggunaan sisi kaki kirinya, maupun kebiasaan menempati dua posisi sekaligus, yakni bek kiri maupun bek tengah (LCB). Namun yang perlu dicatat, dari segi gaya permainannya dua pemain ini ternyata berbeda.

Fbref mencatat bahwa selama di Leipzig, Gvardiol adalah pemain yang sering melakukan dribble dan membawa bola untuk melewati lawan. Nilai Successful Take Ons-nya cukup baik yakni 88 % atau 0,54. Jauh dibanding Laporte musim lalu yang nilainya hanya 38 % atau 0,14. Kemampuannya itu jelas sesuai dengan rencana Guardiola.

Tak Mudah Ditebak Lawan?

Nah, artinya dengan keberadaan pemain baru seperti Doku, Kovacic, Nunes maupun Gvardiol, secara diatas kertas sudah tepat sesuai Inovasi yang digariskan oleh Pep, yakni kecepatan dan melewati lawan.

Dua aspek itulah yang diharapkan jadi modal City di musim ini. Para rekrutan baru The Citizens dapat dikatakan menawarkan bentuk yang berbeda dalam cara bermain City musim ini. Dimensi penyerangan City musim ini juga akan sedikit berbeda seperti musim sebelum-sebelumnya.

Pertanyaannya, akankah dengan dua inovasi Pep, yakni kecepatan dan melewati lawan tersebut membuat permainan City akan susah ditebak para musuh-musuhnya? Jika berhasil bukan tidak mungkin Treble Winner akan kembali diraih.

https://youtu.be/7aZqsWUio9E

Sumber Referensi : theathletic, theathletic, fbref, squawka, theanalyst

Mengapa Sepak bola ASEAN Tertinggal Padahal Markas AFC Ada di Asia Tenggara?

0

Kawasan Asia Tenggara termasuk salah satu wilayah yang cukup tertinggal perkembangan sepak bolanya. Bahkan di wilayah Asia secara keseluruhan, negara yang tergabung dalam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara atau ASEAN barangkali menjadi yang paling tertinggal.

Sudahlah negaranya sedikit, sepak bolanya tertinggal pula. Hanya Australia yang kadang-kadang diakui oleh negara ASEAN sendiri wakil yang membanggakan. Padahal Australia bukan asli dari wilayah ASEAN. Ia datang dari Benua Australia yang oleh karena tak punya konfederasi, akhirnya ngikut konfederasi sepak bola ASEAN alias AFF.

Meskipun di Piala AFF terutama di level senior, Australia tidak pernah ambil bagian. Mereka tercatat hanya beberapa kali mengikuti Piala AFF level kelompok umur. Australia memang tampil apik, pernah juga ikut Piala Dunia, tapi bagaimana dengan negara lainnya?

Negara Asia Tenggara Tak Pernah Ikut di Piala Dunia

Faktanya, dari 11 anggota AFF yang asli tidak ada satu pun yang pernah tampil di Piala Dunia. Lho, kan, ada Hindia Belanda? Bukankah pada waktu itu Hindia Belanda atau sekarang Indonesia pernah ikut Piala Dunia? Tidak salah. Memang, Timnas Hindia Belanda pernah mengikuti Piala Dunia, tepatnya pada edisi 1938.

Namun, Hindia Belanda bukanlah negara yang berdaulat. Ia koloni Eropa yang berada di bawah Imperium Belanda. Jadi, pada waktu itu, Indonesia belum terbentuk. Bahkan ide melahirkan organisasi sepak bola di Asia Tenggara saja belum muncul. Lagi pula pada waktu itu Hindia Belanda lolos karena keberuntungan.

Hindia Belanda pada waktu itu sejatinya tidak bisa langsung lolos ke Piala Dunia. Mereka harus melewati babak kualifikasi menghadapi Jepang. Namun, karena Jepang memilih mundur, sebenarnya Amerika akan menggantikan sebagai lawan Hindia Belanda. Namun, Amerika juga tidak menampakkan batang hidungnya, sehingga memberi tiket otomatis Hindia Belanda ke Piala Dunia di Prancis itu.

Tim yang berisi pemain pribumi dan Belanda itu kemudian kalah di putaran pertama oleh Hungaria 6-0. Banyak yang tidak mengakui Hindia Belanda sebagai wakil dari Asia Tenggara. Namun mirisnya, sampai saat ini masih saja ada yang bangga kalau Indonesia saat bernama Hindia Belanda pernah tampil di Piala Dunia.

Kan aneh, pada waktu itu Indonesia masih berstatus tanah jajahan. Masa penduduk Indonesia sekarang membanggakan prestasi ketika masih menjadi bangsa terjajah?

Buruk di Piala Asia

Bukan hanya di level Piala Dunia, di kancah Asia saja, negara-negara di Asia Tenggara masih jauh tertinggal. Negara-negara di kawasan ASEAN sangat jarang melaju jauh di turnamen Piala Asia. Sepanjang sejarahnya, sampai tahun 2023, hanya Thailand dan Republik Khmer atau sekarang kita menyebutnya Kamboja yang pernah sampai ke semifinal.

Itu terjadi di Piala Asia 1972 (edisi sebelumnya tidak memakai format grup dan gugur). Dan dua tim tersebut bertemu untuk memperebutkan tempat ketiga. Timnas Gajah Perang keluar sebagai juara. Di pemeringkatan FIFA zona AFC, tidak satu pun negara dari Asia Tenggara yang duduk di peringkat 12 besar. Paling bagus hanya Vietnam yang mendekam di peringkat 15 AFC atau 95 FIFA.

Di Level Klub Juga Buruk

Disamping level tim nasional yang buruk, di kancah klub, negara-negara di Asia Tenggara juga buruk. Dari peringkat kompetisi level klub pada tahun 2022, tidak ada negara Asia Tenggara yang menduduki posisi 10 besar. Kompetisi klub di Malaysia menjadi yang terbaik di kawasan Asia Tenggara dengan menduduki peringkat 13 tahun 2022 se-Asia.

Kompetisi level klub di Indonesia sendiri menempati peringkat 26 di Asia pada tahun yang sama. Itu baru soal kompetisinya. Klub-klub di Asia Tenggara juga masih jauh ketinggalan di kawasan Asia. Mengutip Football Alphabet, tidak ada klub di Asia Tenggara yang menempati 30 besar.

Satu-satunya klub terbaik dari Asia Tenggara hanyalah raksasa Liga Super Malaysia, Johor Darul Ta’zim yang duduk di posisi 33 se-Asia dan peringkat 261 di dunia per 15 September 2023. Meski begitu Johor Darul Ta’zim masih mengungguli klub yang tahun ini mendatangkan pemain seperti Roberto Firmino, Al-Ahli. Klub Arab Saudi itu berada di peringkat 44 AFC.

Klub-klub dari Asia Tenggara sangat jarang lolos ke putaran final Liga Champions Asia. Apalagi sampai ke puncak. Tanpa menghitung klub dari Australia, hanya Selangor FC dan Police Tero yang pernah mencapai final. Tim Malaysia melakukannya pada tahun 1967, sedangkan tim dari Thailand itu melakukannya di musim 2002/23. Keduanya kalah.

Padahal….

Sepak bola Asia Tenggara yang buruk, bukan hanya di level dunia tapi juga Asia menjadi ironis. Sebab konfederasi sepak bola Asia atau AFC itu sendiri didirikan di kawasan Asia Tenggara. Konfederasi yang mengatur urusan sepak bola di kawasan Asia itu berdiri pada 7 Mei 1954 di Manila, Filipina.

Bukan hanya didirikan di kawasan Asia Tenggara, AFC juga diprakarsai oleh negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Burma atau Myanmar, Singapura, Filipina, Vietnam Selatan, sampai Indonesia tercatat sebagai pendiri AFC. Markas besar organisasi yang membawahi 47 anggota itu juga berada di Kuala Lumpur, Malaysia.

Bagaimana? Benar-benar ironis bukan? AFC didirikan di Asia Tenggara, markasnya juga di Asia Tenggara, namun negara Asia Tenggara menjadi yang sangat tertinggal. Ya memang sih, bukan cuma Asia Tenggara saja yang tertinggal di kawasan Asia. Asia Tengah dan Asia Selatan juga menghadapi tantangan serupa dengan Asia Tenggara.

Namun, Asia Tengah sekarang tampaknya lebih baik dari Asia Selatan dan Asia Tenggara. Negara-negara yang tergabung dalam Asosiasi Sepak bola Asia Tengah, CAFA, seperti Iran, Kyrgyzstan, Tajikistan, sampai Uzbekistan menjadi salah satu kekuatan Asia. Bahkan Iran yang baru bergabung ke CAFA pernah menjadi juara di Piala Asia.

Mengapa Asia Tenggara Tertinggal?

Ada beberapa faktor mengapa sepak bola di Asia Tenggara tertinggal. Salah satunya adalah kultural dan sosial. Negara-negara di Asia Tenggara masih menganggap sepak bola akan mengganggu kegiatan belajar formal. Yang mana soal karier di dunia akademik ini, Asia Tenggara menjadi salah satu yang cukup terpandang.

David Hutt dalam tulisannya di The Diplomat menyebut, sepak bola di Asia Tenggara tertinggal lantaran investasi dalam sepak bola di negara-negara ASEAN masih kurang. Selain itu, menurutnya, korupsi dan politik juga menghambat sepak bola di Asia Tenggara. Ingat bagaimana FIFA membekukan sepak bola Indonesia karena campur tangan pemerintah yang berkepanjangan?

“Kurangnya profesionalisme di liga domestik adalah masalah besar yang menghambat negara-negara di Asia Tenggara,” kata jurnalis di Bangkok, Gian Chansrichawla dikutip The Diplomat.

Standar latihan, organisasi sepak bola yang tidak tertata, dan perilaku pemain di luar lapangan melahirkan standar yang tidak tinggi pada sepak bola di Asia Tenggara. Ajitpal Singh dari Straits Times juga menulis, bahwa tertinggalnya sepak bola Asia Tenggara juga karena maraknya pengaturan pertandingan atau match fixing.

Dalam tulisannya itu, Singh menyebut bahwa di kompetisi usia muda saja sudah banyak praktik pengaturan pertandingan. Selain itu juga ada permasalahan gaji yang relatif rendah. Piala AFF, menurut Singh, juga menjadi kompetisi yang berstandar rendah.

Apa Solusinya?

AFC sebagai konfederasi yang membawahi federasi-federasi Asia tak lebih hanya menjembatani hubungan dengan FIFA. Meski begitu, sudah banyak terobosan yang dilakukan untuk mengangkat marwah sepak bola Asia Tenggara. Salah satunya yang terbaru adalah peluncuran FIFA Football for Schools.

FIFA bekerja sama dengan UNESCO program ini bertujuan untuk berkontribusi pada pendidikan, pengembangan, dan pemberdayaan anak-anak di kawasan Asia Tenggara. Dalam hal ini, FIFA mencoba untuk mendekatkan sepak bola pada anak-anak di Asia Tenggara.

Negara-negara di kawasan Asia Tenggara juga sudah mulai membangun iklim sepak bolanya sendiri. Menata organisasi, menyusun cetak biru, melakukan pembinaan, sampai membuat kompetisi berjenjang dan sehat. Meski sayangnya, tidak semua ketua umum federasi sepak bola di Asia Tenggara tulus melakukan itu untuk perkembangan sepak bola.

Sumber: Sportycius, TheDiplomat, TheGuardian, FIFA, StraitsTimes, FootballAlphabet, FIFA, FIFA

Overrated! Lulusan Akademi Manchester United yang Gagal Total

0

“Class of 92 yang berisikan Paul Scholes, Gary Neville, hingga David Beckham jadi bukti kalau akademi Manchester United kerap menghasilkan talenta-talenta terbaik. Tapi hingga saat ini kualitas alumni akademi MU belum ada yang menyamai mereka. Jebolan akademi United selanjutnya terbilang mengalami penurunan kualitas.

Banyak dari mereka yang tak bisa menembus skuad utama Setan Merah. Dalam beberapa tahun terakhir, tercatat hanya Marcus Rashford lah satu-satunya lulusan akademi yang performanya stabil. Sisanya? Lenyap bak ditelan bumi. Dari sekian banyak nama, berikut adalah lulusan akademi yang digadang-gadang bakal sukses, tapi malah gagal total.

Jesse Lingard

Nama pertama tentu saja Jesse Lingard. Pemain yang kerap menunjukan selebrasi unik itu sempat jadi harapan di awal kemunculannya bersama Manchester United. Lingard bahkan sesekali menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam mencetak gol solo run

Pada musim 2014/15, pemain berpaspor Inggris itu jadi salah satu pemain akademi yang diberikan kesempatan debut di tim utama oleh Louis Van Gaal. Mendapat kesempatan tak membuat dirinya langsung mengamankan satu tempat di skuad utama. Lingard terus berjuang bahkan hanya untuk masuk ke daftar pemain cadangan.

Namun, inkonsistensi performa sudah jadi penyakit menahun Lingard. Performa angin-anginan membuatnya dihujat oleh fans. Lingard bahkan sempat depresi menghadapi tekanan dari fans. Lingard sampai beralih ke minuman keras untuk menghilangkan tekanan besar tersebut. Setelah tersisih dari skuad dan gagal mengembalikan performa terbaiknya bersama Nottingham Forest, kini Lingard berstatus tanpa klub.

Federico Macheda

Selanjutnya ada Federico Macheda. Pemain yang satu ini tak memiliki banyak kisah di Manchester United. Satu-satunya momen yang paling diingat dari Macheda adalah gol spektakuler di laga debut melawan Aston Villa musim 2008/09. Dengan usianya yang baru menginjak 17 tahun, ia jadi pemain termuda yang mencetak gol untuk United di Liga Inggris.

Macheda sendiri sudah bergabung dengan MU sejak usia enam tahun. Dan setelah gol bersejarah itu, Macheda langsung digadang-gadang bakal menjadi penyerang masa depan Manchester United. Namun, anggapan sebagian besar fans pun salah. Karirnya redup setelah mengabaikan saran Sir Alex Ferguson. 

Usianya yang masih muda membuat Fergie mempertimbangkan untuk meminjamkan Macheda ke klub Inggris. Selain agar mendapat menit bermain yang cukup, meminjamkannya ke tim Inggris akan memudahkan Fergie untuk memantaunya. Namun, sang pemain dengan beraninya menolak saran Fergie. Macheda justru meminta untuk dipinjamkan ke Sampdoria, klub dari tanah kelahirannya. 

Kepindahannya ke Sampdoria justru jadi awal kemerosotan karir sang pemain. Sampdoria memberikan terlalu banyak beban kepada Macheda. Bukannya belajar, ia justru terbebani akan tanggung jawab. Alhasil, ia gagal membuktikan diri ketika kembali ke Manchester. Sebagian besar karirnya di MU dihabiskan sebagai pemain pinjaman saja.

Ravel Morrison

Siapa yang tak kenal Ravel Morrison? Lulusan akademi Manchester United yang dianggap bakal jadi gelandang masa depan MU itu merupakan talenta berbakat yang tak pernah mencapai puncak performa. Wayne Rooney bahkan sempat memujinya sebagai pemain yang memiliki kemampuan komplit. Morrison dinilai memiliki segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menjadi gelandang terbaik di Eropa.

Beberapa media Inggris bahkan meyakini kalau talentanya lebih berharga ketimbang Paul Pogba yang satu angkatan dengannya di akademi. Namun, Morrison tak bisa menahan diri dari gaya hidup tak sehat dan lingkungan yang buruk. Itu disebabkan karena sang pemain dibesarkan di daerah pinggiran Kota Manchester.

Dua tahun setelah promosi ke tim utama tanpa pernah bermain, Morrison dilepas United ke West Ham. Sempat melanglang buana bersama Cardiff City, Lazio, Atlas, Ostersund, dan ADO Den Haag, kini Morrison masih bermain di DC United, tim yang dilatih Wayne Rooney.

James Wilson

Berikutnya ada James Wilson. Masih ingat dengan penyerang cepat ini? Ya, dia pernah mengejutkan Inggris ketika mencetak brace di laga kontra Hull City di ajang Liga Inggris musim 2013/14. Ia bisa menembus skuad utama Manchester United setelah mencetak lima gol dari enam pertandingan di ajang UEFA Youth League.

Namun, setelah mencetak brace itu namanya tak pernah terdengar lagi. Sempat diharapkan bisa jadi penerus Robin Van Persie dan Wayne Rooney yang sudah mulai termakan usia, Wilson justru menjadi pemain pinjaman abadi. Ia dipinjamkan sebanyak empat kali sebelum akhirnya dilepas secara gratis ke klub Skotlandia, Aberdeen tahun 2019.

Gangguan cedera jadi salah satu penyebab Wilson gagal mencapai potensi maksimalnya. Setelah gagal mencetak satu gol pun untuk Aberdeen dalam 16 percobaan pada 2019/20, Wilson menandatangani kontrak berdurasi 18 bulan dengan tim League Two, Salford City. Tapi karena masih saja tak bisa memperbaiki performa, kini sang pemain terdampar di divisi ketiga Inggris bersama Port Vale

Adnan Januzaj

Bernasib sama dengan James Wilson, Adnan Januzaj juga termasuk dalam lulusan akademi Manchester United yang terlalu dieluh-eluhkan tapi pada akhirnya tak meninggalkan jejak apapun. Kemunculannya di skuad utama United membuat beberapa pengamat sepakbola memprediksi kalau dirinya akan mewarisi nomor tujuh di masa depan. Tapi nyatanya tidak.

Mendapat kesempatan debut dari David Moyes di musim 2013/14, Januzaj dinilai sebagai salah satu pemain potensial yang diwariskan oleh Sir Alex Ferguson. Dua golnya ke gawang Sunderland tak akan pernah bisa dilupakan oleh sebagian besar fans United. Sayangnya, kemampuan Januzaj tak pernah cukup. Inkonsistensi jadi salah satu penyebabnya. Itu bahkan masih jadi permasalahan Januzaj hingga sekarang.

Sama halnya dengan pemain-pemain seangkatannya, Januzaj yang sempat jadi andalan pun akhirnya hanya bernasib sebagai pemain pinjaman. Dari mulai Borussia Dortmund hingga Sunderland, semuanya pernah ia jajal. Tapi performanya tak kunjung membaik. Akhirnya ia dilepas secara permanen ke Real Sociedad tahun 2017.

Angel Gomes

Selanjutnya ada Angel Gomes. Pemain sayap mungil namun gesit ini juga sempat memberi harapan untuk masa depan Manchester United. Bagaimana tidak? Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, ia sudah mencatatkan debut di skuad utama United. Ia juga jadi kapten di Timnas Inggris U-17 saat mereka menjuarai Piala Dunia U-17 tahun 2017.

Namun, nasibnya kini tak lebih baik dari rekan seangkatannya di Timnas U-17, Phil Foden. Gomes justru kesulitan menembus skuad utama United. Menit bermainnya sangat terbatas di era kepelatihan Jose Mourinho. Pelatih asal Portugal itu lebih mempercayai pemain-pemain matang siap pakai. 

Alhasil, Gomes hanya membuat 10 penampilan di semua kompetisi dalam dua tahun lebih berseragam Manchester United. Kurangnya waktu bermain membuat Gomes enggan menandatangani perpanjangan kontrak dan memilih bergabung dengan klub Prancis, Lille tahun 2020.

Timothy Fosu-Mensah

Talenta terakhir yang gagal membuktikan diri di skuad utama Manchester United adalah Timothy Fosu-Mensah. Sempat menunjukan potensi dengan kecepatan dan kepiawaiannya membantu serangan, Fosu-Mensah pun dirasa layak untuk menembus skuad utama Manchester United musim 2016/17.

Sayangnya, pemain asal Belanda itu bermasalah dengan cedera. Ia lebih sering berada di ruang perawatan ketimbang tampil di lapangan. ACL nya pecah saat menjalani masa peminjaman ke Fulham. Cederanya memang pulih, tapi cedera tersebut sangat mempengaruhi performanya.

Di era Ole Gunnar Solskjaer, United sebetulnya masih ingin memberi kesempatan kepada Fosu-Mensah dengan menawarkan perpanjangan kontrak. Tapi, ia paham kalau klub tidak bisa menjamin menit bermainnya. Akhirnya, ia memilih hengkang ke Bayer Leverkusen tahun 2021.

Sumber: Sportskeeda, Mirror, 90min, Express

Ketika Transfer Ronaldinho ke Barcelona Mengubah Sepakbola

0

Transfer pemain sering memberikan dampak besar bagi klub. Kita semua tahu bagaimana transfer Erling Haaland sangat berpengaruh dalam kesuksesan Manchester City mencatatkan treble winner atau bergabungnya Neymar ke PSG yang mampu merusak harga pasaran pemain top Eropa. 

Namun, beberapa transfer nyatanya memiliki dampak yang lebih besar dari biasanya. Bahkan kesepakatan itu dapat mengubah tatanan sepakbola. Salah satu contoh yang begitu berdampak pada persepakbolaan dunia adalah transfernya Ronaldinho ke Barcelona tahun 2003 silam. 

Mengapa demikian? Karena keputusan sang pemain untuk mengabaikan ketertarikan Manchester United demi bergabung La Blaugrana telah menciptakan efek domino yang melahirkan banyak sejarah baru di masa depan. Lantas, bagaimana bisa seorang pemain mempunyai dampak sebesar itu? 

Ronaldinho Menyita Perhatian

Pamor Ronaldinho mampu melintasi banyak generasi. Lahir dan besar di negara yang menganggap sepakbola sebuah agama seperti, Ronaldinho tumbuh dengan DNA sepakbola. Ia tak perlu bekerja keras sampai datang ke gym setiap hari untuk membuktikan kalau dirinya jago bermain bola.

Paris Saint-Germain jadi klub Eropa pertama baginya. Meski baru pertama kali, Ronaldinho tak canggung. Karena niatnya tulus hanya untuk memainkan sepakbola yang amat ia sukai. Bergabung pada tahun 2000, Ronaldinho yang masih berusia 21 tahun telah menarik perhatian. 

Layaknya silat yang mempertontonkan keindahan dalam beladiri, Ronaldinho menunjukan kalau sepakbola bukan hanya olahraga fisik. Melainkan ada cara lain untuk menonjolkan sisi keindahannya. Ia menari-nari seperti tak mempedulikan statistik gol maupun assist. Ronaldinho bermain untuk menghibur penonton dan dirinya sendiri.

Puncaknya pada tahun 2002 ketika Ronaldinho dipanggil ke skuad Timnas Brazil yang akan berlaga di Piala Dunia 2002. Dengan mengejutkan, Ronaldinho masuk dalam skuad utama asuhan Luiz Felipe Scolari. Ia membentuk trio bersama Ronaldo Il Fenomeno dan Rivaldo di lini depan. memainkan lima laga, Gaucho mencatatkan dua gol dan tiga assist untuk mengantarkan Selecao meraih gelar juara dunia.

Batal Bergabung Manchester United

Penampilannya bersama Timnas Brazil berhasil menyita perhatian. Ronaldinho langsung jadi komoditas panas di bursa transfer musim panas tahun 2003. Banyak klub top Eropa yang mengantri untuk mendapatkan tanda tangan Ronaldinho. Namun hanya ada dua klub yang begitu serius menginginkannya. Mereka adalah Manchester United dan Barcelona. 

Dengan dilatih Sir Alex Ferguson dan peluang meraih gelar yang lebih besar, United jadi opsi paling menarik saat itu. Karena Barca masih berusaha bangkit dari keterpurukan. Mereka sudah lama tak menjuarai La Liga. Akhirnya, Ronaldinho pun membuka negosiasi dengan pihak Manchester United terlebih dahulu.

Singkat cerita, kesepakatan pribadi dengan sang pemain dan biaya transfer ke PSG sudah disepakati. United tampak sudah memenangkan perlombaan untuk mendapatkan salah satu talenta terbaik dari Brazil itu. Namun, langkah itu tiba-tiba digagalkan oleh Barcelona yang datang di menit-menit akhir.

Wakil Presiden Barcelona yang baru, Sandro Rosell langsung menelpon Ronaldinho. Ia melakukan negosiasi yang cepat untuk menikung kesepakatan dengan United. Di sisa waktu yang ada, Ronaldinho memberi tahu Fergie kalau dirinya lebih memilih Barca. Selain karena bujukan Rosell, Ronaldinho meyakini kalau warga Brazil lebih mencintai Barcelona. 

Menurutnya, pemain Brazil punya sejarah baik di Barca. Jadi, selaku pemain yang juga berasal dari Negeri Samba, ia sangat senang apabila mendapat kesempatan untuk bermain di Barcelona. Nah, perubahan pilihan hati Ronaldinho lah yang menciptakan efek domino. Tak disangka, keputusannya itu berdampak besar pada dinamika sepakbola dunia.

Kemunculan Cristiano Ronaldo dan Terjebaknya Kleberson

Salah satunya adalah terjebaknya rekan satu tim Ronaldinho, yakni Kleberson di Manchester United. Ternyata Ronaldinho bukan satu-satunya alumni juara Piala Dunia 2002 yang diincar Manchester United. Teman senegaranya itu juga jadi target United untuk menjadi pelapis Roy Keane. Kleberson yang mengetahui Ronaldinho akan segera bergabung MU pun segera menghubunginya.

Ronaldinho membenarkan rumor tersebut. Ia bahkan sempat membujuk Kleberson untuk ikut bersamanya ke Manchester. “Kita akan ke Manchester bersama-sama,” ujarnya. Mendengar itu, Kleberson pun makin semangat. Ia menyetujui kesepakatan itu agar bisa bermain bersama Ronaldinho di Old Trafford.

Hanya saja, pada kenyataannya Kleberson merasa tertipu dengan bujukan koleganya itu. Di akhir jendela transfer, Ronaldinho justru bergabung dengan Barcelona. Makin sialnya lagi, Kleberson sulit beradaptasi di Manchester. Ia terkendala bahasa karena tak cakap berbahasa Inggris. Kleberson mengiyakan pinangan MU karena pikirnya ada Ronaldinho yang akan membantunya. Ternyata ia kena gocek temennya sendiri.

Di sisi lain, karena MU gagal mendapatkan Ronaldinho, Sir Alex pun berusaha mencari penggantinya. Pemain yang dipilih adalah bocah berusia 18 tahun dari Lisbon, Cristiano Ronaldo. Bersama United, ia membangun reputasi sebagai salah satu pemain sayap terbaik di Eropa. Jika Ronaldinho jadi bergabung dengan MU, mungkin Ronaldo tak akan pernah jadi legenda Manchester United.

Jadi Kebangkitan Barcelona

Ketika Kleberson tak bernasib mujur di Manchester United, Ronaldinho justru sebaliknya. Setelah bergabung dengan Barcelona, namanya kian mendunia. Ia jadi bagian penting di skuad asuhan Frank Rijkaard. Bersama Andres Iniesta, Xavi Hernandez, dan Carles Puyol, Ronaldinho membantu Barcelona untuk bangkit.

Didatangkan dengan biaya sekitar 30 juta euro (Rp494 miliar), Ronaldinho memberikan dampak yang signifikan di lini serang. Sebelum kedatangannya, musim 2002/03 La Blaugrana hanya finis di urutan keenam dan gagal mengamankan satu tiket ke Liga Champions. Namun, setelah ada Ronaldinho, Barca langsung melesat ke peringkat kedua musim 2003/04. Hanya kalah dari tim kejutan Valencia.

https://www.youtube.com/watch?v=Uf-6aRJk8q0&pp=ygUjYmFyY2Vsb25hIHdpbiBjaGFtcGlvbnMgbGVhZ3VlIDIwMDY%3D

Menurut rekannya di Barca, yakni Edmilson, ia bak seorang dewa yang mengubah nasib Barcelona. Sebelumnya, El Barca hanyalah klub yang tak memiliki motivasi lebih. Mereka bahkan dianggap bukan sebagai penantang gelar La Liga. Trofi Liga Spanyol terakhirnya didapat pada tahun 1998/99. Namun Ronaldinho merevitalisasi cara bermain Barca.

Barcelona kembali tampil apik di musim kedua setelah kedatangan Ronaldinho. Barca bahkan mampu mengamankan gelar La Liga dua musim berturut-turut yakni musim 2004/05 dan 2005/06. Tak hanya itu, Ronaldinho juga membantu Barcelona menjuarai Liga Champions musim 2005/06. Bisa dibilang, Ronaldinho adalah pondasi identitas Barcelona di era modern.

Kemunculan Lionel Messi

Bahkan jika ditelusuri lebih dalam Ronaldinho lah yang berperan penting dalam kemunculan Lionel Messi di skuad utama Barcelona. Ronaldinho bahkan dikisahkan amat mengayomi Messi. Hubungan hangat tersebut menjalar ke lapangan. Ronaldinho adalah kreator gol pertama Messi di skuad senior Barcelona.

Sebelumnya, tidak ada yang menyangka akan tercipta ratusan gol dan puluhan trofi untuk Barcelona dari pemain bertubuh mungil itu. Bayangkan, jika di pertandingan tersebut Ronaldinho tak memberikan umpan ke Messi. Mungkin pelatih tak akan memberikan kepercayaan lebih kepada Messi dan akhirnya kita tak akan pernah terhibur oleh skill-skill yang disajikan olehnya baik di level klub maupun tim nasional.

Dan yang paling mengerikan adala  ketika semua itu tak dilakukan oleh Ronaldinho bisa saja persepakbolaan dunia akan bernasib beda. Itu berarti kita tak akan pernah melihat persaingan paling seru sepanjang abad 21 antara dua pemain terbaik di dunia yakni Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

https://youtu.be/e_Zw6ifsRdY

Sumber: Talksport, The Sun, Planet Football, FIFA

Berita Bola Terbaru 14 September 2023 – Starting Eleven News

BERITA BOLA TERBARU DAN TERKINI

RESMI MARCO VERRATTI GABUNG AL ARABI

Marco Verratti telah meninggalkan Paris Saint-Germain. Dia resmi bergabung dengan klub Qatar, Al-Arabi. Verratti sudah berada di Qatar dalam beberapa hari terakhir. Dia menjalani rangkaian tes untuk merampungkan transfer. Gelandang timnas Italia ini menandatangani kontrak berjangka tiga tahun bersama Al Arabi.

DECO PERTIMBANGKAN PULANGKAN MESSI

Mantan gelandang Barcelona, Deco resmi diumumkan sebagai direktur olahraga baru juara La Liga tersebut, menggantikan Jordi Cruyff dan Mateu Alemany yang telah pergi. Usai pidato awalnya, Deco kemudian melakukan sesi tanya jawab dengan awak media, membahas fase transisi Barca, target mereka musim ini, khususnya di Liga Champions, terobosan Yamine Lamal, dan potensi kembalinya Lionel Messi. “Ketika saya memikirkan Leo, saya memikirkan pemain terbaik dalam sejarah olahraga ini. Dia tampak bahagia dan menikmati dirinya sendiri,” ujarnya.

MESSI TIDAK MASUK SKUAD ARGENTINA, KOK ADA DI BENCH?

Lionel Messi tidak masuk ke skuad saat Argentina melakoni laga melawan Bolivia, Rabu (13/9). Namun, La Pulga tetap duduk di bangku cadangan. Menurut laporan TNT Sport, Messi rupanya bukan didaftarkan sebagai pemain di laga Bolivia vs Argentina. Eks mega bintang Barcelona itu didaftarkan sebagai asisten pelatih Lionel Scaloni dan anggota staf timnas Argentina. Hal itu juga yang menjadi alasan Messi tidak memakai pakaian seperti rekan-rekan setimnya. Messi memakai kostum seperti yang dikenakan oleh staf pelatih.

HARRY MAGUIRE DIHINA, SOUTHGATE MARAH

Pelatih Timnas Inggris Inggris Gareth Southgate tak terima Harry Maguire diperlakukan secara buruk, meski ia memang mencetak gol bunuh diri kontra Skotlandia. Meski menyebabkan gol bunuh diri, Maguire dibela habis-habisan oleh bos Inggris tersebut. Southgate juga mengecam kritik berlebihan terhadap bek Manchester United yang dalam beberapa tahun terakhir memang sedang mengalami kesulitan tersebut.

RICHARLISON KENA MENTAL, MINTA BANTUAN PSIKOLOG

Richarlison diterpa masalah di luar lapangan yang berdampak pada kesehatan mentalnya. Striker Timnas Brasil itu mengalami masa sulit selama lima bulan terakhir, salah satunya pecah kongsi dengan agennya, Renato Velasco, yang sudah menemaninya sejak awal karier. Richarlison rencananya ingin segera kembali ke klubnya, Tottenham Hotspur, dan menemui psikolog untuk menyelesaikan masalahnya. Dia berharap bisa segera menampilkan performa terbaik untuk The Lilywhites.

JURGEN KLOPP TAK TERTARIK LATIH TIMNAS JERMAN

Agen Jurgen Klopp telah kembali menggarisbawahi bahwa kliennya tidak akan meninggalkan Liverpool sebelum tahun 2026. Meskipun muncul spekulasi mengaitkannya dengan posisi pelatih timnas Jerman untuk menggantikan Hansi Flick. Agen Klopp, Kosicke, menyampaikan kepada media Jerman, Sportschau: “Jurgen memiliki kontrak jangka panjang dengan Liverpool dan tidak tersedia untuk posisi pelatih timnas.”

CHELSEA LUNCURKAN JERSEY KETIGA

Klub yang berbasis di London, Chelsea akhirnya meluncurkan seragam ketiga mereka untuk musim 2023/24. Ini terinspirasi oleh warna jersey pertama klub London yang dikenakan lebih dari 118 tahun lalu. Berarti ketiga seragam resmi Chelsea untuk musim ini hadir dalam berbagai warna biru. Namun, banyak yang kurang suka dengan desain jersey ketiga ini karena terlalu sederhana.

FABIO GROSSO PELATIH BARU LYON

Klub Prancis, Lyon, bakal segera mengumumkan pelatih baru untuk menggantikan Laurent Blanc yang dipecat. Sosok tersebut adalah mantan bek Italia dan salah satu pahlawan Gli Azzurri saat memenangkan Piala Dunia 2006, Fabio Grosso. Menurut jurnalis sekaligus pakar transfer Fabrizio Romano, kedua pihak sudah mencapai kata sepakat. Setelah dokumen-dokumen dan formalitas-formalitasnya ditandatangani, mantan pelatih Frosinone itu akan resmi jadi pelatih Lyon.

MANTAN CEO JUVENTUS SEDIH POGBA TERSANDUNG KASUS DOPING

Beppe Marotta, mantan CEO Juventus, sedih Paul Pogba terjerat kasus doping. Marotta adalah sosok yang berperan membawa nama Pogba melejit. Ia memboyong Pogba secara gratis dari Manchester United ke Bianconeri. Pogba kemudian tampil menawan di Juventus hingga kemudian dibeli lagi oleh MU senilai 100 juta euro. Marotta mengenal Pogba sebagai sosok yang begitu profesional. Meski demikian, ia enggan berkomentar banyak terkait kasus yang menjerat Pogba. Marotta cuma berharap kasus ini bisa diselesaikan Pogba dengan baik.

JUVENTUS DILAPORKAN BEKUKAN GAJI POGBA

Juventus menskorsing Pogba yang berdampak kepada pembekuan gaji. Si Nyonya Tua dilaporkan membekukan gaji Pogba karena terbukti bersalah setelah gagal tes doping pada 20 Agustus 2023 lalu. Menurut laporan Football Italia, Rabu (13/9), pembekuan gaji ini dapat menghemat pengeluaran sekitar 30 juta euro atau Rp 490 miliar. Dalam Pasal 5.5 Perjanjian Kolektif dengan Asosiasi Pesepakbola Italia memperbolehkan klub menghentikan pembayaran gaji jika seorang pesepakbola diskors, bahkan untuk berjaga-jaga, menyusul kegagalan tes doping.

BOJAN KRKIC KEMBALI KE BARCELONA

Mantan pemain Barcelona yang gagal bersinar, Bojan Krkic, kembali ke klub yang pernah diperkuatnya saat muda. Bukan sebagai pemain, tapi sebagai mentor buat para pemain muda Barca. Hal itu diungkapkan oleh Presiden Klub Barcelona, Joan Laporta. Bojan Krkic akan bekerja dalam timnya Deco yang merupakan Direktur Olahraga klub. Bojan sendiri telah gantung sepatu di akhir Maret 2023 kemarin, pada usia 32 tahun.

KRISIS FINANSIAL BARCELONA MAKIN PARAH

Dikutip dari Goal, setelah setuju untuk mengakuisisi 9,8 persen saham Barca Vision bulan lalu, perusahaan keuangan sepakbola yang terdaftar di Frankfurt, Libero, gagal menghasilkan dana yang dibutuhkan untuk menyelesaikan penjualan tersebut. Situasi ini membuat presiden Blaugrana, Laporta, berada dalam situasi sulit, setelah memberikan jaminan pribadi kepada La Liga sebesar 20 juta euro dari perjanjian yang sangat penting dalam mengamankan lisensi liga Barca untuk musim ini.

BARCELONA DATANGKAN ERLING HAALAND DI TAHUN 2025?

Dikutip 90min, sebuah rencana besar dicanangkan Barcelona di tahun 2025. Juara bertahan La Liga itu ingin memboyong Erling Haaland ke Camp Nou. Laporan tersebut mengklaim bahwa Barcelona akan bersabar selama dua tahun ke depan untuk merekrut Haaland. Ini disebabkan sang striker bakal sulit diangkut di tahun 2024 nanti. Karena Manchester City tidak mau melepaskan Haaland saat ia baru dua tahun membela panji The Citizen. El  Barca menunggu hingga tahun 2025 karena kans mereka mendapatkan striker Norwegia itu lebih terbuka. Selain itu mereka perlu mengumpulkan biaya karena transfer Haaland ini akan memakan biaya ratusan juta Euro.

MU RESMI GANTI SPONSOR MULAI MUSIM DEPAN

Raksasa Premier League, Manchester United pada Rabu (13/9) mengumumkan keputusan mereka untuk berganti sponsor utama dari TeamViewer ke Qualcomm Snapdragon mulai musim 2024/25 mendatang. Setan Merah tak secara gamblang menyebutkan berapa durasi kontrak dari kerja sama ini serta berapa nominal biaya yang dikeluarkan Snapdragon untuk nampang di dada jersey MU. Namun, Sportico menyebut bahwa kerja sama Klub Setan Merah dengan Snapdragon menjadi deal termahal di dunia sepak bola, mengalahkan deal Real Madrid dengan Emirates.

DIAJAK RONALDO LATIHAN KERAS, PEMAIN MU KOMPAK MENOLAK

Sebuah kisah menarik diceritakan mantan asisten manajer Manchester United, Mike Phelan saat Cristiano Ronaldo kembali memperkuat Setan Merah pada 2021 lalu. Phelan mengaku kagum dengan sosok Ronaldo yang tetap memiliki ambisi besar untuk menjadi seorang juara meski diumurnya yang tidak lagi muda. Sayangnya, standar tinggi Ronaldo tak lantas bisa mendongkrak prestasi klub kebanggaan publik Old trafford tersebut. Phelan bahkan mengatakan tak sedikit pemain yang justru melihat sinis kepada Cristiano Ronaldo karena sikap ambiusnya itu.

RONALDO JADI AWAL MASALAH SANCHO DI MU

Menurut kabar The Sun, Cristiano Ronaldo ditengarai jadi salah satu penyebab Jadon Sancho tidak tampil maksimal di Manchester United. Semua berawal sejak 2021. Ketika ditebus MU dari Borussia Dortmund pada 2021, Sancho diberi janji surga oleh manajemen MU. Ia akan diberi nomor punggung tujuh di skuat Iblis Merah. Namun janji itu harus dibatalkan MU karena di deadline day mereka mendatangkan Ronaldo. Nomor punggung tersebut akhirnya diberikan ke Ronaldo dan itu membuat Sancho kecewa. Laporan itu juga menuding bahwa MU tidak memberikan layanan konseling yang baik bagi Sancho.

RUBIALES MUNDUR DEMI SPANYOL YANG MAU JADI HOST PILDUN 2030

Presiden RFEF, Luis Rubiales mundur setelah aksi nyosornya menjadi kontroversi. Pengunduran diri dilakukan Rubiales demi kebaikan sepakbola Spanyol. Sebab, Spanyol bersama Portugal, Ukraina, dan Maroko sedang berupaya mengajukan diri jadi tuan rumah Piala Dunia 2030. Apabila Rubiales bersikeras bertahan, maka dikhawatirkan akan menggagalkan misi itu. Apalagi para pesaingnya terbilang berat yakni Uruguay, Argentina, Chile, dan Paraguay.

NGERINYA JEPANG, CALON LAWAN INDONESIA DI PIALA ASIA 2023

Timnas Jepang sedang on fire dan kembali meraih kemenangan. Usai membungkam Jerman 4-1 beberapa hari lalu, kali ini Jepang kembali raih kemenangan besar 4-2 saat bertanding melawan Timnas Turki, Selasa (12/9). Kemenangan tersebut adalah kemenangan keempat Timnas Jepang. Jepang terakhir kali kalah pada 28 Maret 2023 lalu. Saat itu mereka ditumbangkan oleh Kolombia 2-1. Jepang sendiri nanti akan menjadi lawan Timnas Indonesia di pentas Piala Asia 2023 di Qatar. Duel tersebut akan tersaji pada matchday ketiga Grup D pada 24 Januari 2024.

FANS RUMANIA PASANG SPANDUK INI, PEMAIN KOSOVO NGAMBEK

Pertandingan Rumania vs Kosovo sempat diwarnai insiden memalukan. Laga tersebut dihentikan setelah 10 menit berjalan setelah tribun yang berisi ultras Rumania meneriakkan lagu “Kosovo itu Serbia” serta membentangkan spanduk yang kurang lebih sama. Laga berhenti setelah para pemain Kosovo yang merasa tersinggung oleh lagu-lagu dan spanduk penghinaan, memilih meninggalkan lapangan. Kedua tim kemudian mundur ke kamar ganti stadion di Arena Nationala di ibukota Bucharest, sebelum kemudian dapat melanjutkan laga.

DUH, FELIX TERIMA GAJI KECIL DI BARCELONA

Pemain pinjaman Barcelona, Joao Felix, mendapat gaji murah di Barcelona. Upah semusimnya bisa dibilang kecil untuk ukuran pesepakbola papan atas dunia. Media-media Spanyol menyebut pemain sayap 23 tahun itu mesti rela mendapat bayaran yakni 400 ribu euro (Rp 6,6 miliar) selama semusim. Jumlah yang diterima Felix di Blaugrana jauh lebih kecil ketimbang saat dirinya dipinjam ke Chelsea musim lalu. The Blues kabarnya membayar Felix 7 juta euro (Rp 115 miliar) per musim.

GRIEZMANN TAK MINAT KE SAUDI, MLS MASIH PRIORITAS

Bintang Atletico Madrid Antoine Griezmann mengatakan kepada penggemarnya, cepat atau lambat dirinya akan melanjutkan karir di Amerika Serikat. Griezmann tak minat bermain di Arab Saudi meski negara itu menawarkan jumlah uang yang banyak. Griezmann merupakan penggemar NBA dan sering menghabiskan liburan musim panas di AS. Griezmann menikmati budaya di sana. Oleh karena itu sepak bola Amerika tidak akan asing baginya.

BOS GENOA AMBIL ALIH EVERTON

Pemilik klub Italia, Genoa, 777 Partners dilaporkan hampir mencapai kesepakatan untuk mengambil alih klub Liga Inggris,  Everton. Sky Sports, melaporkan perusahaan yang berbasis di Miami, Amerika Serikat itu hampir pasti mengakuisisi saham mayoritas di Everton. Pembicaraan dengan pemegang saham mayoritas, Farhad Moshiri terus dilakukan dan berjalan lancar. Ini bukan pertama kalinya 777 Partners dirumorkan membeli Everton, tapi sejak April lalu.

PEP COMEBACK SAAT MAN CITY HADAPI WEST HAM

Pep Guardiola telah kembali ke Inggris pada hari Rabu guna membantu persiapan Manchester City untuk menghadapi pertandingan kontra West Ham United. Sebelumnya, Guardiola absen saat The Citizens merengkuh kemenangan atas Sheffield United dan Fulham di Premier League setelah menjalani operasi untuk masalah punggung pada bulan Agustus. Guardiola kini sudah pulih dan akan dampingi City tandang ke markas West Ham United di hari Sabtu.

BERNARDO DAN OLMO KOMPAK BUKA PINTU MERAPAT KE BARCELONA?

Barcelona adalah klub yang masih aktif mengincar beberapa pemain, termasuk  Bernardo Silva dan Dani Olmo, meski bursa transfer musim panas ini telah ditutup.  Kendati demikian, Barcelona tidak mampu mendatangkan Bernardo dan Olmo karena situasi keuangan yang belum stabil. Meskipun begitu, Bernardo dan Olmo dilaporkan bakal kompak untuk membuka peluang untuk bergabung dengan Barcelona. Dilansir dari Fichajes, Bernardo Silva telah menolak klausul pelepasan yang tinggi dari nilai patokan Manchester City. Di sisi lain, Dani Olmo juga melakukan hal yang sama walaupun menerima perpanjangan kontrak dari RB Leipzig.

JADWAL TIMNAS INDONESIA DI ASIAN GAMES 2022

Babak grup Asian Games tahun ini digelar di China mulai 19 September 2023 sampai 24 September 2023 nanti. Timnas Indonesia U24 tergabung di Grup F. Anak asuh Indra Sjafri mulai akan bermain pada Selasa 19 September 2023 mendatang pukul 18.00 WIB. Lawan yang dihadapi pertama kali adalah Kirgizstan. Lawan lain yang menanti adalah China Taipei pada Kamis (21/9) pukul 14.30 WIB dan Korea Utara pada Minggu (24/9) pukul 14.30 WIB.

Kronologi Bakat Marco Verratti Yang Disia-siakan PSG dan Terbuang di Klub Qatar

Marco Verratti telah resmi mengakhiri 11 tahun masa baktinya bersama PSG. Telah diumumkan kalau gelandang Italia tersebut pindah ke klub Qatar, Al-Arabi. Tidak disebutkan berapa biaya transfernya. Tapi berdasarkan website transfermarkt, Al-Arabi membayar uang sejumlah 45 juta euro untuk PSG. Selebihnya, tidak ada informasi resmi soal gaji dan bonus yang akan diterima Verratti.

Tapi membahas kepindahan Verratti ini, sedikit berbeda dengan beberapa pemain yang sudah pindah ke negeri minyak untuk pensiun. Seperti Cristiano Ronaldo, Neymar, Sadio Mane, atau Jordan Henderson. Para pemain itu sudah mencapai masa puncaknya. Sedangkan Verratti, rasanya ia masih punya banyak potensi yang tersimpan dan tersia-siakan selama ini.

Verratti Pernah Jadi Pemain Paling Berbakat di Italia

Saat ini Verratti memang sudah berumur 30 tahun. Ia juga sudah mendapatkan banyak gelar bersama PSG. Bahkan dapat gelar Euro bersama Italia. Tapi sepanjang masa karirnya itu, ia jadi pemain yang kurang diperhatikan. Padahal sebelum pindah ke PSG, Verratti adalah pemain berbakat dan paling diminati di Eropa.

Verratti sudah menarik banyak perhatian bahkan sebelum ia bermain di Serie A. Saat itu Verratti masih bermain untuk Pescara di Serie B. Sampai akhirnya, di musim 2011/12 Verratti, yang saat itu masih 20 tahun membawa Pescara menjuarai Serie B.

Saat itu Verratti juga bermain bersama Lorenzo Insigne dan Ciro Immobile. Tapi Verratti lah yang jadi sorotan dan digadang-gadang bakal jadi the next Andrea Pirlo. Dan sejak saat itulah, Verratti langsung dikait-kaitkan dengan banyak klub besar Italia. Dari Juventus, AC Milan, Inter semua berlomba untuk dapatkan jasa Verratti.

Tapi Verratti malah memilih gabung dengan PSG di tahun 2012. Saat itu PSG baru muncul sebagai klub sultan dan memang sedang bergerilya di bursa transfer. Banyak yang menyayangkan langkah itu. Banyak yang menganggap Serie A telah kehilangan bakat terbesarnya.

meskipun begitu, tidak pantas untuk menyebut Verratti gagal di PSG. Ia bisa bertahan sebagai pemain utama selama 11 tahun bersama Les Parisiens. Meskipun selama 11 tahun itu PSG mengalami banyak pergantian pelatih dan strategi. Ia juga memenangkan banyak gelar. Termasuk 9 Liga Prancis, 6 Piala Liga, 6 French Cup, dan 9 Piala Super Prancis. Tapi ia lebih sering jadi pemain yang tidak terlihat di PSG.

Potensi Verratti Yang Tertutup di PSG

Perannya sebagai pemain gelandang memang membuat ia jadi pemain yang jarang disorot di lapangan. Tapi lebih jarang disorot lagi karena PSG punya banyak bintang. Seperti Mbappe dan Neymar. Juga, di Liga mereka lebih sering menghadapi tim yang bermain secara bertahan. Jadi para penyerang lah yang lebih sering dapat sorotan.

Untuk itu, seringnya performa Verratti akan lebih jelas terlihat ketika PSG bermain di Liga Champions. Sayangnya seperti yang sudah kita ketahui, PSG sangat jarang bermain bagus di Liga Champions. Ia juga tampak kewalahan begitu bertemu dengan tim kuat di Eropa.

Contohnya saat PSG dibantai 6-1 lawan Barcelona di tahun 2017. Atau saat ia kalah kualitas dengan para pemain Real Madrid, dan dikalahkan dengan agregat 5-2 di tahun 2018.

Di pertandingan-pertandingan lawan tim besar itu, Verratti tidak bisa mendominasi permainan, atau membantu meringankan tekanan. Ini bisa jadi karena ia tidak terbiasa dengan tekanan-tekanan itu saat bermain di liga.

Verratti Tetap Punya Momen-momen Memukau

Bagaimanapun juga, Verratti bukanlah pemain yang sempurna. Dia tidak pernah menawarkan jaminan gol di setiap pertandingan. Ia juga sering mengalami cedera dan sering absen berlaga. Tapi tidak sedikit juga ketika ia dapat momen bersinar.

Contohnya saat PSG mengalahkan Barca 4-1 di Camp Nou pada tahun 2021. Ia memang tidak mencetak gol di laga itu. Tapi penampilannya mendatangkan pujian dari beberapa legenda. Xavi bahkan berkata kalau Verratti adalah gelandang terbaik dan mirip dengannya.

“Dia adalah salah satu gelandang terbaik dan bermain mirip seperti saya. Umpan pendek dan panjangnya sempurna dan dia bisa mempertahankan bola. Dia benar-benar pemain kelas dunia” Ucapnya dikutip dari the athletic.

Contohnya di laga leg pertama babak 16 besar Liga Champions lawan Real Madrid tahun 2022. Ia tampil perkasa lawan trio Luka Modric, Toni Kroos, dan Casemiro di Parc de Princess. Di laga itu ia mencatatkan 123 sentuhan, 92% akurasi umpan, dan 6 umpan kunci. PSG pun bisa menang 1-0 lewat gol Mbappe.

Setelah laga, Neymar bahkan berkata kalau Verratti adalah gelandang terbaik yang pernah bermain bersamanya. Neymar menempatkan Verratti sejajar dengan Xavi dan Iniesta. Mbappe juga memuji Verratti. Ia tidak menyangka kalau Verratti bisa sehebat itu.

“Saya selalu tahu kalau Verratti adalah pemain yang luar biasa. Tapi saya tidak pernah menyangka ia adalah pemain yang sangat spektakuler.” Ungkapnya dikutip dari Sport Bible

Gaya Hidup Juga Hambat Verratti Berkembang

Beberapa momen itu membuktikan kalau sebenarnya Verratti punya potensi yang belum kita ketahui batasnya. Bahkan ia dapat pujian dari banyak pemain dan legenda. Tapi bermain bersama PSG di liga petani membuatnya terlalu santai. Terlebih lagi, terungkap kalau Verratti mengadopsi gaya hidup berfoya foya selama di Paris.

Jurnalis sepak bola asal Prancis, Julien Laurens pernah mengungkapkan kalau Verratti suka berpesta dan merokok. Gelandang Italia itu juga minuman beralkohol dan hampir keluar setiap malam.

“Verratti tidak pernah 100%. Minggu lalu ia berpesta sampai jam 6 pagi di ulang tahun Neymar. Dia juga merokok, minum, dan hampir keluar setiap malam untuk berpesta. Jika dia punya etos kerja seperti Cristiano Ronaldo, mungkin dia sudah jadi gelandang terhebat di dunia.” Ungkapnya dikutip dari Sportbible.

Ucapan Selamat Tinggal Untuk Verratti

Mungkin pendapat jurnalis itu benar, jika saja Verratti punya etos kerja seperti Ronaldo ia bakal jadi pemain terbaik di dunia. Tapi perlu diingat, Verratti adalah gelandang. Terlebih lagi, bukan gelandang yang mengandalkan kekuatan fisik. Melainkan kecerdasan dalam membaca permainan dan umpan-umpan akuratnya.

Kita sering melihat gelandang yang bertipe serupa masih bisa bermain di level tertinggi Eropa bahkan saat usia mereka lebih dari 30 tahun. Contohnya Pirlo, Xavi,Xabi Alonso, dan Paul Scholes. Verratti bisa dan punya kemampuan untuk jadi seperti para gelandang legendaris itu. Tapi sayangnya ia pergi ke liga Qatar.

Rekan-rekan setimnya pun memberikan ucapan selamat tinggal padanya. Mbappe memberikan pesan kepada Verratti lewat media sosial. Ia masih menganggap Verratti sebagai gelandang terbaik yang pernah ia saksikan.

“Sebuah kebanggan bisa bermain bersama selama ini. Waktumu disini tidak akan pernah terlupakan dan terlewatkan. Salah satu pemain terhebat yang pernah saya lihat. Terima kasih kawan, saya akan merindukanmu.”

Selain itu, mantan rekan setimnya, Messi juga memberikan ucapan perpisahaan. Meskipun Messi juga hanya sebentar bermain dengan Verratti. “Segala yang terbaik di panggung barumu. Kamu sudah tahu saya akan selalu doakan yang terbaik.”

Bakat Yang Tersia-siakan

Bagaimana Verratti bisa menghilang dari sepak bola Eropa memang memilukan. Ini berbeda dengan kasus kepindahan Ronaldo yang memang sudah tua, atau Neymar yang sudah tidak bisa bersaing lagi.

Verratti adalah pemain berbakat yang belum pernah teruji di liga yang lebih kompetitif. Kemampuannya hanya bisa teruji di Liga Champions atau turnamen besar. Kalau saja ia lebih ambisius, kita bisa melihat bagaimana puncak karirnya.

Tapi nyatanya Verratti juga sudah tidak diinginkan banyak klub. Luis Enrique sudah tidak memasukkan Verratti dalam rencananya di PSG. Pelatih baru Italia, Luciano Spalletti juga sudah tidak memanggilnya di jeda Internasional ini. Meskipun ada beberapa rumor Verratti lah yang menolak panggilan timnas itu.

Angkernya Stadion Bolivia yang Bikin Lawan Menderita

0

Selamat datang di negara terpencil di Amerika Selatan, Bolivia. Salah satu penghasil timah terbesar di dunia ini, sebagian besar wilayahnya terletak di dataran tinggi Pegunungan Andes. Nah dalam kaitannya dengan sepakbola, tim berjuluk Le Verde ini punya markas kebanggaan yang letaknya juga di daerah ketinggian.

Bermain sepakbola di daerah ketinggian dengan oksigen yang terbatas, serta ditambah dengan hawanya yang dingin, pasti akan menjadi kendala berarti bagi yang tak terbiasa. Banyak juga lho yang sudah dibuat menderita ketika bermain di stadion ini. Bahkan banyak juga yang menganggap stadion yang terletak di Kota La Paz itu, bagaikan “Lapas” atau penjara bagi setiap musuh.

Stadion Tertinggi Di Dunia

Kota La Paz disebut-sebut sebagai ibukota tertinggi di dunia. Kota di atas awan, begitulah banyak orang menyebutnya. Nah, stadion yang dimaksud adalah Estadio Hernando Siles, markas Timnas Bolivia yang berada di ketinggian hampir 3637 mdpl. Main bola di sana ibarat main bola di puncak Gunung Semeru (3676 mdpl).

Estadio Hernando Siles berdiri sejak tahun 1930. Stadion ini berdiri sebagai bagian dari simbol persatuan rakyat Bolivia. Dengan kapasitas sebesar 41 ribuan penonton, stadion ini awalnya dibangun untuk memberi penghormatan kepada presiden Bolivia ke-31, Hernando Siles Reyes.

Negara Hebat Terjungkal

Dengan letaknya yang tak biasa, stadion ini beberapa kali menjadi kuburan bagi para musuh. Tak jarang tim-tim besar yang bertandang di stadion “atas awan” ini terjungkal. FYI aja, dulu tim berjuluk Le Verde meraih gelar satu-satunya Copa America di tahun 1963 adalah kala menjadi tuan rumah di stadion ini.

Di pertengahan 90-an stadion ini pernah memakan korban timnas bertabur bintang, Brazil. Tim Samba keok di laga bertajuk Kualifikasi Piala Dunia 1994 Zona Conmebol. Anak asuh Carlos Alberto Parreira kandas 2-0. Kemenangan itu bahkan menjadi saksi sejarah bagi Le Verde bisa menang atas Brazil untuk pertama kalinya sejak 40 tahun terakhir.

Di tahun 2009, pada laga bertajuk Kualifikasi Piala Dunia 2010, dua kali Le Verde mampu membuat tim raksasa seperti Argentina maupun Brazil tunduk. Di bulan April 2009, Argentina asuhan Diego Armando Maradona hancur lebur digasak 6-1. Tim Tango yang dibanjiri bintang macam Carlos Tevez, Javier Zanetti, maupun Angel Di Maria tak berdaya bermain di Hernando Siles. Kemenangan telak itu pun jadi saksi sejarah kemenangan kembali Bolivia atas La Albiceleste sejak tahun 1997.

Kemudian di bulan Oktober 2009, masih di laga bertajuk Kualifikasi Piala Dunia 2010 Zona Conmebol, Le Verde kembali bisa menggulingkan Brazil di Hernando Siles. Kali ini tim Samba asuhan Carlos Dunga harus menderita kekalahan 2-1

Tapi ternyata, tak sampai di situ saja. Pada tahun 2017 di laga bertajuk Kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Conmebol, Tim Tango dan Tim Samba juga tak bisa menang atas La Verde di Hernando Siles. Argentina takluk 2-0, sedangkan Brazil hanya bermain imbang 0-0.

Neymar Hingga Messi Menderita

Tak hanya timnya yang menderita kekalahan, pemainnya pun dibuat menderita secara fisik. Kekurangan oksigen, adaptasi cuaca yang begitu dingin, ibarat membuat para pemain hebat seketika berkurang kemampuan bermain sepak bolanya.

Namun justru yang unik, ternyata kelebihan stadion “atas awan” ini dimanfaatkan betul oleh sang tuan rumah. Dilansir Theculturetrip, salah satu kiper kawakan Bolivia, Carlos Lampe bercerita bahwa mereka dengan sengaja membuat lawan lelah terlebih dahulu dengan cara menekannya sejak awal laga. Bagi lawan yang tak terbiasa bermain di ketinggian, kata Lampe, itu akan berpengaruh secara fisik.

Tak dipungkiri, sebagian lawan yang terjungkal di stadion ini kebanyakan menderita kelelahan fisik. Lihat saja mega bintang Lionel Messi maupun Angel Di Maria ketika dihajar 6-1. La Pulga bahkan terlihat muntah-muntah di lapangan. Di Maria juga terciduk menggunakan alat bantu pernafasan di pinggir lapangan.

Begitupun ketika Brazil bermain imbang 0-0 di Kualifikasi Piala Dunia 2018. Di dalam laga tersebut, bintang Brazil, Neymar kelelahan dan seperti kekurangan nafas di tengah laga, Neymar terlihat beristirahat dengan cara tiduran di tengah lapangan.

Dalam akun instagramnya, Neymar kemudian memposting para punggawa skuad Samba seperti Allison, Casemiro maupun Gabriel Jesus di ruang ganti dengan memakai alat bantu pernafasan seperti tabung oksigen di sebelahnya. Neymar tak lupa menyuarakan bahwa Stadion Hernando Siles tersebut tidak manusiawi bagi siapa saja tamu yang bermain. Menurut Neymar itu sebuah kecurangan dari tim tuan rumah.

Sempat Dievaluasi FIFA

Ketidaknyamanan stadion “atas awan” ini sebenarnya pernah dievaluasi oleh FIFA pada tahun 2007. Usut punya usut, awalnya FIFA melakukan evaluasi tersebut karena adanya laporan atau keluhan bermain di ketinggian dari Brazil.

Lewat konfederasi sepak bolanya, Brazil melayangkan protes ke FIFA dan menganggap Stadion Hernando Siles tak layak lagi digunakan. Laporan itu berawal dari nasib yang dialami klub Brazil, Flamengo ketika menderita kekurangan oksigen saat melawan klub Bolivia Real Potosi di Copa Libertadores 2007.

Namun evaluasi FIFA terhadap stadion ini dianggap tidak adil oleh sebagian besar negara yang punya kondisi geografis mirip dengan Bolivia. Bahkan mereka mendukung dan membela Bolivia. Diego Maradona bersama presiden Bolivia ketika itu Evo Morales, mengkampanyekan ketidakadilan evaluasi penggunaan Stadion Hernando Siles tersebut ke seluruh dunia.

Tak luput pula negara anggota Conmebol minus Brazil, menandatangani mosi pencabutan evaluasi FIFA tersebut. Alhasil, perjuangan mereka didengar dan akhirnya FIFA setuju melakukan pengecualian kepada Bolivia untuk bisa terus memakai Stadion Hernando Siles.

Sudah Tak Angker Lagi?

Ya, catatan keangkeran Stadion Hernando Siles ini telah lama terbukti. Bagaimanapun musuh harus bersiasat ketika bermain di markas Bolivia ini. Paling tidak mencoba sesekali bermain sepakbola di daerah ketinggian seperti di La Paz. Atau paling tidak hadir lebih lama sebelum bertandang ke stadion ini untuk adaptasi.

Hal itulah yang kemudian banyak diterapkan oleh beberapa musuh Bolivia. Termasuk Argentina maupun Brazil. Mereka tampaknya telah terbiasa dan perlahan bisa keluar dari masa sulit bermain di ketinggian.

Brazil dan Argentina tak lagi menganggap Stadion Hernando Siles sebagai kuburan mereka. Buktinya bulan Oktober 2020 Argentina akhirnya bisa menang 1-2. Begitupun Brazil yang akhirnya bisa mencukur Bolivia 0-4 di bulan Maret 2022. Terakhir, Argentina yang bertandang ke Hernando Siles pada bulan September 2023 juga bisa menang 3-0.

Meski dianggap tak lagi angker, para musuh yang akan datang ke stadion ini mau tidak mau harus menyiapkan treatment khusus seperti yang diperlihatkan Timnas Argentina di kualifikasi Piala Dunia 2026.

Ya, penggunaan alat bantu pernapasan atau tabung oksigen akan membuat musuh ketar-ketir duluan ketika sampai ke Hernando Siles. Apalagi bagi mereka yang belum pernah mencoba bermain di ketinggian, siap-siap saja jadi korban selanjutnya.

Sumber Referensi : thesun, nytimes, sportsbrief, theguardian, theculturetrip, independent

Kesuksesan Marcello Lippi Melatih Klub dan Timnas, Walau Gagal Total Sebagai Pemain

0

Saat melatih Real Madrid pada Januari 2016, Zinedine Zidane meraih tiga gelar Liga Champions berturut-turut: tahun 2016, 2017, dan 2018. Antonio Conte menyabet empat scudetto di Italia: tiga bersama Juventus dan satu kala melatih Inter. Conte juga memberikan satu gelar Premier League untuk Chelsea.

Di Rusia, Didier Deschamps yang pernah sukses menukangi Marseille membawa Timnas Prancis juara di Piala Dunia 2018. Sementara itu di Rusia, Massimo Carrera menyumbang dua gelar bagi Spartak Moscow. Zidane, Conte, Deschamps, dan Carrera terhubung dengan satu orang yang sama. Orang itu adalah Marcello Lippi.

Kesuksesan Lippi saat menjadi pelatih tak terbantahkan. Di klub jelas ia sukses. Saat menukangi tim nasional, oh ya ampun, siapa yang tidak ingat ketika Italia juara Piala Dunia 2006? Sebagai pelatih, Lippi tidak hanya berhasil menyumbangkan gelar, tapi juga menciptakan warisan.

Orang-orang yang disebutkan tadi contohnya. Namun, siapa mengira kalau Marcello Lippi yang berhasil menjadi pelatih itu pernah mengalami masa suram saat menjadi pemain, bahkan bisa disebut gagal total?

Karier Pemain

Lippi lahir di Viareggio, letaknya di pesisir Laut Tyrrhenian. Lokasi yang juga menjadi tempat kelahiran wasit Pierluigi Collina dan sutradara film Mario Monicelli. Lippi mengawali karier profesionalnya sebagai seorang bek di klub Sampdoria pada tahun 1969.

Lippi menghabiskan sebagian besar kariernya di Sampdoria tahun 1969-1979. Meski satu musim ia pernah dipinjamkan ke Savona musim 1969/70. Saat menjadi pesepakbola, Lippi menghabiskan seluruh kariernya sebagai bek penyapu. Tugasnya, ya mengamankan bola saja.

Selama berseragam Sampdoria, Lippi mencatatkan 274 kaps. Namun, ia tak mendapat penghargaan apa-apa di sana. Kemampuan Lippi sebagai seorang bek memang bagus, namun kariernya tak membuat klub-klub besar kepincut. Apalagi Sampdoria termasuk tim papan bawah.

Alih-alih pindah ke tim besar, Lippi justru hanya memperkuat tim-tim di divisi bawah seperti US Pistoiese yang sekarang berada di Serie D dan AS Lucchese yang sekarang berada di Serie C. Tahun 1982, Lippi memutuskan gantung sepatu. Pada waktu itu, usianya baru 34 tahun dan ia bertekad untuk berkarier sebagai pelatih.

Salah satu mimpinya adalah menukangi tim nasional Italia. Namun, pada saat itu, hasratnya terasa mustahil. Lippi belum pernah sekali pun mendapat kesempatan bermain untuk Timnas Italia di level senior. Satu-satunya modal yang ia bawa adalah bermain di skuad utama Sampdoria.

Berawal dari Tim Kecil

Lippi membulatkan tekadnya untuk menjadi pelatih. Satu-satunya jalan yang harus ia lalui adalah memulainya dari titik yang paling bawah, yakni dengan menukangi tim muda Sampdoria. Sebagai mantan pemain, rasanya tak sulit baginya untuk membujuk agar Sampdoria mau memberinya kesempatan melatih.

Tiga tahun penuh mengabdikan diri di tim muda Sampdoria, Lippi memilih jalan yang lebih sulit untuk melatih tim kecil lainnya. Alih-alih melatih tim utama Sampdoria, yang waktu itu masih nyaman dilatih Vujadin Boskov, Lippi merambah tim-tim kecil seperti Siena, Pistoiese, Carrarese, Cesena, Lucchese, sampai Atalanta. 

Saat melatih tim-tim kecil itu nama Lippi tak dikenal. Filosofi permainannya belum terbentuk. Baru ketika menukangi Napoli pada 1993, Lippi mulai memperlihatkan kekuatannya dalam melatih. Namun, Napoli pada waktu itu sedang mengalami kekacauan finansial luar biasa pasca Diego Maradona.

Lippi kemudian menunjukkan kemampuannya dalam mengatasi krisis itu. Ia melindungi para pemainnya agar tak usah mengurusi apa yang terjadi di lapangan. Dorongan untuk selalu fokus ke lapangan, fokus ke kekuatan tim secara kohesif selalu ditekankan Lippi. Ia melihat tim seperti mobil, semua bagian harus berfungsi agar mobil itu bisa berguna.

Ia memulai pendekatan individu per individu yang luar biasa. Hingga akhirnya, ia menggiring Partenopei keluar dari kondisi suram. Membimbing Napoli ke kualifikasi Piala UEFA 1993/94. Tak ada trofi yang dipersembahkannya untuk Napoli. Tapi itu menjadi gerbang menuju hal-hal yang lebih besar lainnya.

Kesuksesan Hebat Bersama Juventus

Hanya semusim Lippi melatih Napoli, sebuah tawaran dari Juventus masuk. Presiden Bianconeri kala itu, Vittorio Chiusano terkesan melihat Napoli di bawah asuhan Lippi saat tim itu bersua Juventus. Secara pribadi Chiusano menyukai Lippi. Ia pun menunjuknya sebagai suksesor Giovanni Trapattoni.

Ini misi yang sulit bagi Lippi. Menggantikan seorang pelatih yang telah memberikan trofi tak pernah menjadi urusan yang mudah. Namun, seperti digambarkan These Football Times, bahwa kedatangan Lippi ke Juventus ibarat Christopher Nolan ketika mengambil pekerjaan di franchise Batman. Seorang pria yang sama sekali tidak takut untuk mengubah keadaan.

Saat Lippi tiba di Juventus, ia tidak takut untuk menemui para petinggi. Ia berani menuntut tim agar sesuai dengan keinginannya. Di bawah Lippi, Juventus tak memerlukan transisi. Lippi datang, melakukan pekerjaannya, dan memberi gelar. 

Musim pertama di Juventus, gelar Coppa Italia dan Serie A diraih. Ajib bukan? Seorang pelatih dari klub sangat-sangat semenjana, tiba-tiba menjuarai dua trofi di musim pertamanya melatih Juventus.

Juventus dan Pujian Fergie

Dua trofi itu nyatanya menjadi permulaan kisah Juventus mendominasi Italia. Gelar demi gelar diraih Lippi selama menukangi Juventus. Ia membawa tim itu meraih lima gelar Serie A, satu Liga Champions, satu Piala Super Eropa, satu Coppa Italia, empat kali Piala Super Italia.

Selama di Juventus ia juga meraih dua kali penghargaan pelatih klub terbaik di dunia. Tak sampai di situ, Lippi menemukan playmaker berbakat Zinedine Zidane dan striker penghancur Christian Vieri. Gaya melatih Lippi sangat tegas. Ia tidak akan mempertahankan mati-matian seorang pemain, sekalipun seorang bintang.

Lihatlah bagaimana Lippi sangat berani melepas Roberto Baggio ke AC Milan, rival Juventus. Lippi meyakini bahwa Pemain terbaik, tidak selalu menjadi tim terbaik. Keyakinan itulah yang kemudian diamini oleh Sir Alex Ferguson. Fergie sangat menggemari pelatih asal Italia itu. Gaya dan filosofi Lippi menginspirasi Fergie dalam melatih, terutama ketika menukangi Manchester United.

“Lippi sosok yang mengesankan. Menatap matanya sudah cukup memberi tahu bahwa anda sedang berhadapan dengan seseorang yang menguasai dirinya sendiri dan profesionalismenya,” tulis Fergie dalam bukunya Managing My Life.

Tidak banyak pelatih yang dikagumi Fergie, tapi jelas Lippi adalah salah satunya. Bagi Fergie, Lippi punya kewibawaan seperti Ottmar Hitzfeld. Lippi juga manajer gaya Eropa yang sangat berbakat. Pada pertengahan 1990-an, orang seperti Ottmar dan Lippi memang menjadi trendsetter ahli taktik pemula, tak terkecuali Fergie.

Timnas Italia dan Guangzhou

Harapan untuk melatih Timnas Italia akhirnya terwujud pada tahun 2004. Sekali lagi, Lippi masuk untuk menggantikan Giovanni Trapattoni. Penampilan Italia di EURO 2004 selama ditukangi Trapattoni mengecewakan. Besar harapan setelah digantikan Lippi, Italia bisa bangkit.

Seperti saat melatih Juve, di Timnas Italia Lippi tak mau taat dengan sistem yang ada. Ia merotasi beberapa pemain. Lippi juga mengadopsi lebih dari satu taktik demi memainkan dua playmaker bintangnya sekaligus: Andrea Pirlo dan Francesco Totti.

Lippi membawa Gli Azzurri ke putaran final Piala Dunia 2006 dengan mudah. Meski di bawah pengawasan karena kasus Calciopoli, lantaran ikatannya dengan Juventus, tapi apa yang dilakukan Lippi di Timnas Italia mendulang pujian. Puncaknya, Lippi membawa Italia juara di Piala Dunia 2006.

Di final, Lippi memasukkan Pirlo dan Totti bersamaan. Pirlo ditaruh sebagai gelandang tengah berdampingan dengan Gennaro Gattuso. Lalu, Totti berada di belakang Luca Toni sebagai penyerang lubang. Simone Perrotta dan Camoranesi diplot pemain sayap. Materazzi, Cannavaro, Zambrotta, dan Grosso dijadikan tembok untuk meringankan kerja Buffon.

Sayangnya, kesuksesan di edisi 2006 tak diulangi di tahun 2010. Meski membawa Italia ke perempat final EURO 2008, kegagalan di tahun 2010 membuatnya mundur. Namun, apakah kisah kegemilangannya selesai? Tidak. Ia kembali melatih klub sepak bola dengan melancong ke China.

Lippi melanjutkan kejayaannya bersama Guangzhou Evergrande. Di tim yang sekarang bangkrut itu, Lippi meraih tiga trofi Liga Super China dan satu trofi Piala China. Dan…. Lippi juga mengantarkan Guangzhou Evergrande juara Liga Champions Asia musim 2012/13.

Dengan trofi itu, Lippi sah menyandang satu-satunya pelatih yang pernah meraih gelar Liga Champions Eropa dan Liga Champions Asia. Begitulah Lippi. Lewat cerutunya, gelar, penghargaan, warisan, dan bahkan pelatih-pelatih top lahir. Walaupun sekali lagi, ia gagal sebagai pemain. Grazie, Lippi!

https://youtu.be/cJ5B3kVSctE

Sumber: TheseFootballTimes, Independent, Sportskeeda, PanditFootball, IrishTimes