Marco Verratti telah resmi mengakhiri 11 tahun masa baktinya bersama PSG. Telah diumumkan kalau gelandang Italia tersebut pindah ke klub Qatar, Al-Arabi. Tidak disebutkan berapa biaya transfernya. Tapi berdasarkan website transfermarkt, Al-Arabi membayar uang sejumlah 45 juta euro untuk PSG. Selebihnya, tidak ada informasi resmi soal gaji dan bonus yang akan diterima Verratti.
Tapi membahas kepindahan Verratti ini, sedikit berbeda dengan beberapa pemain yang sudah pindah ke negeri minyak untuk pensiun. Seperti Cristiano Ronaldo, Neymar, Sadio Mane, atau Jordan Henderson. Para pemain itu sudah mencapai masa puncaknya. Sedangkan Verratti, rasanya ia masih punya banyak potensi yang tersimpan dan tersia-siakan selama ini.
Daftar Isi
Verratti Pernah Jadi Pemain Paling Berbakat di Italia
Saat ini Verratti memang sudah berumur 30 tahun. Ia juga sudah mendapatkan banyak gelar bersama PSG. Bahkan dapat gelar Euro bersama Italia. Tapi sepanjang masa karirnya itu, ia jadi pemain yang kurang diperhatikan. Padahal sebelum pindah ke PSG, Verratti adalah pemain berbakat dan paling diminati di Eropa.
Verratti sudah menarik banyak perhatian bahkan sebelum ia bermain di Serie A. Saat itu Verratti masih bermain untuk Pescara di Serie B. Sampai akhirnya, di musim 2011/12 Verratti, yang saat itu masih 20 tahun membawa Pescara menjuarai Serie B.
Saat itu Verratti juga bermain bersama Lorenzo Insigne dan Ciro Immobile. Tapi Verratti lah yang jadi sorotan dan digadang-gadang bakal jadi the next Andrea Pirlo. Dan sejak saat itulah, Verratti langsung dikait-kaitkan dengan banyak klub besar Italia. Dari Juventus, AC Milan, Inter semua berlomba untuk dapatkan jasa Verratti.
Tapi Verratti malah memilih gabung dengan PSG di tahun 2012. Saat itu PSG baru muncul sebagai klub sultan dan memang sedang bergerilya di bursa transfer. Banyak yang menyayangkan langkah itu. Banyak yang menganggap Serie A telah kehilangan bakat terbesarnya.
meskipun begitu, tidak pantas untuk menyebut Verratti gagal di PSG. Ia bisa bertahan sebagai pemain utama selama 11 tahun bersama Les Parisiens. Meskipun selama 11 tahun itu PSG mengalami banyak pergantian pelatih dan strategi. Ia juga memenangkan banyak gelar. Termasuk 9 Liga Prancis, 6 Piala Liga, 6 French Cup, dan 9 Piala Super Prancis. Tapi ia lebih sering jadi pemain yang tidak terlihat di PSG.
Potensi Verratti Yang Tertutup di PSG
Perannya sebagai pemain gelandang memang membuat ia jadi pemain yang jarang disorot di lapangan. Tapi lebih jarang disorot lagi karena PSG punya banyak bintang. Seperti Mbappe dan Neymar. Juga, di Liga mereka lebih sering menghadapi tim yang bermain secara bertahan. Jadi para penyerang lah yang lebih sering dapat sorotan.
Untuk itu, seringnya performa Verratti akan lebih jelas terlihat ketika PSG bermain di Liga Champions. Sayangnya seperti yang sudah kita ketahui, PSG sangat jarang bermain bagus di Liga Champions. Ia juga tampak kewalahan begitu bertemu dengan tim kuat di Eropa.
Contohnya saat PSG dibantai 6-1 lawan Barcelona di tahun 2017. Atau saat ia kalah kualitas dengan para pemain Real Madrid, dan dikalahkan dengan agregat 5-2 di tahun 2018.
Di pertandingan-pertandingan lawan tim besar itu, Verratti tidak bisa mendominasi permainan, atau membantu meringankan tekanan. Ini bisa jadi karena ia tidak terbiasa dengan tekanan-tekanan itu saat bermain di liga.
Verratti Tetap Punya Momen-momen Memukau
Bagaimanapun juga, Verratti bukanlah pemain yang sempurna. Dia tidak pernah menawarkan jaminan gol di setiap pertandingan. Ia juga sering mengalami cedera dan sering absen berlaga. Tapi tidak sedikit juga ketika ia dapat momen bersinar.
Contohnya saat PSG mengalahkan Barca 4-1 di Camp Nou pada tahun 2021. Ia memang tidak mencetak gol di laga itu. Tapi penampilannya mendatangkan pujian dari beberapa legenda. Xavi bahkan berkata kalau Verratti adalah gelandang terbaik dan mirip dengannya.
“Dia adalah salah satu gelandang terbaik dan bermain mirip seperti saya. Umpan pendek dan panjangnya sempurna dan dia bisa mempertahankan bola. Dia benar-benar pemain kelas dunia” Ucapnya dikutip dari the athletic.
Contohnya di laga leg pertama babak 16 besar Liga Champions lawan Real Madrid tahun 2022. Ia tampil perkasa lawan trio Luka Modric, Toni Kroos, dan Casemiro di Parc de Princess. Di laga itu ia mencatatkan 123 sentuhan, 92% akurasi umpan, dan 6 umpan kunci. PSG pun bisa menang 1-0 lewat gol Mbappe.
Setelah laga, Neymar bahkan berkata kalau Verratti adalah gelandang terbaik yang pernah bermain bersamanya. Neymar menempatkan Verratti sejajar dengan Xavi dan Iniesta. Mbappe juga memuji Verratti. Ia tidak menyangka kalau Verratti bisa sehebat itu.
“Saya selalu tahu kalau Verratti adalah pemain yang luar biasa. Tapi saya tidak pernah menyangka ia adalah pemain yang sangat spektakuler.” Ungkapnya dikutip dari Sport Bible
Gaya Hidup Juga Hambat Verratti Berkembang
Beberapa momen itu membuktikan kalau sebenarnya Verratti punya potensi yang belum kita ketahui batasnya. Bahkan ia dapat pujian dari banyak pemain dan legenda. Tapi bermain bersama PSG di liga petani membuatnya terlalu santai. Terlebih lagi, terungkap kalau Verratti mengadopsi gaya hidup berfoya foya selama di Paris.
Jurnalis sepak bola asal Prancis, Julien Laurens pernah mengungkapkan kalau Verratti suka berpesta dan merokok. Gelandang Italia itu juga minuman beralkohol dan hampir keluar setiap malam.
“Verratti tidak pernah 100%. Minggu lalu ia berpesta sampai jam 6 pagi di ulang tahun Neymar. Dia juga merokok, minum, dan hampir keluar setiap malam untuk berpesta. Jika dia punya etos kerja seperti Cristiano Ronaldo, mungkin dia sudah jadi gelandang terhebat di dunia.” Ungkapnya dikutip dari Sportbible.
Ucapan Selamat Tinggal Untuk Verratti
Mungkin pendapat jurnalis itu benar, jika saja Verratti punya etos kerja seperti Ronaldo ia bakal jadi pemain terbaik di dunia. Tapi perlu diingat, Verratti adalah gelandang. Terlebih lagi, bukan gelandang yang mengandalkan kekuatan fisik. Melainkan kecerdasan dalam membaca permainan dan umpan-umpan akuratnya.
Kita sering melihat gelandang yang bertipe serupa masih bisa bermain di level tertinggi Eropa bahkan saat usia mereka lebih dari 30 tahun. Contohnya Pirlo, Xavi,Xabi Alonso, dan Paul Scholes. Verratti bisa dan punya kemampuan untuk jadi seperti para gelandang legendaris itu. Tapi sayangnya ia pergi ke liga Qatar.
Rekan-rekan setimnya pun memberikan ucapan selamat tinggal padanya. Mbappe memberikan pesan kepada Verratti lewat media sosial. Ia masih menganggap Verratti sebagai gelandang terbaik yang pernah ia saksikan.
“Sebuah kebanggan bisa bermain bersama selama ini. Waktumu disini tidak akan pernah terlupakan dan terlewatkan. Salah satu pemain terhebat yang pernah saya lihat. Terima kasih kawan, saya akan merindukanmu.”
Selain itu, mantan rekan setimnya, Messi juga memberikan ucapan perpisahaan. Meskipun Messi juga hanya sebentar bermain dengan Verratti. “Segala yang terbaik di panggung barumu. Kamu sudah tahu saya akan selalu doakan yang terbaik.”
Bakat Yang Tersia-siakan
Bagaimana Verratti bisa menghilang dari sepak bola Eropa memang memilukan. Ini berbeda dengan kasus kepindahan Ronaldo yang memang sudah tua, atau Neymar yang sudah tidak bisa bersaing lagi.
Verratti adalah pemain berbakat yang belum pernah teruji di liga yang lebih kompetitif. Kemampuannya hanya bisa teruji di Liga Champions atau turnamen besar. Kalau saja ia lebih ambisius, kita bisa melihat bagaimana puncak karirnya.
Tapi nyatanya Verratti juga sudah tidak diinginkan banyak klub. Luis Enrique sudah tidak memasukkan Verratti dalam rencananya di PSG. Pelatih baru Italia, Luciano Spalletti juga sudah tidak memanggilnya di jeda Internasional ini. Meskipun ada beberapa rumor Verratti lah yang menolak panggilan timnas itu.


