Kawasan Asia Tenggara termasuk salah satu wilayah yang cukup tertinggal perkembangan sepak bolanya. Bahkan di wilayah Asia secara keseluruhan, negara yang tergabung dalam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara atau ASEAN barangkali menjadi yang paling tertinggal.
Sudahlah negaranya sedikit, sepak bolanya tertinggal pula. Hanya Australia yang kadang-kadang diakui oleh negara ASEAN sendiri wakil yang membanggakan. Padahal Australia bukan asli dari wilayah ASEAN. Ia datang dari Benua Australia yang oleh karena tak punya konfederasi, akhirnya ngikut konfederasi sepak bola ASEAN alias AFF.
Meskipun di Piala AFF terutama di level senior, Australia tidak pernah ambil bagian. Mereka tercatat hanya beberapa kali mengikuti Piala AFF level kelompok umur. Australia memang tampil apik, pernah juga ikut Piala Dunia, tapi bagaimana dengan negara lainnya?
Daftar Isi
Negara Asia Tenggara Tak Pernah Ikut di Piala Dunia
Faktanya, dari 11 anggota AFF yang asli tidak ada satu pun yang pernah tampil di Piala Dunia. Lho, kan, ada Hindia Belanda? Bukankah pada waktu itu Hindia Belanda atau sekarang Indonesia pernah ikut Piala Dunia? Tidak salah. Memang, Timnas Hindia Belanda pernah mengikuti Piala Dunia, tepatnya pada edisi 1938.
Namun, Hindia Belanda bukanlah negara yang berdaulat. Ia koloni Eropa yang berada di bawah Imperium Belanda. Jadi, pada waktu itu, Indonesia belum terbentuk. Bahkan ide melahirkan organisasi sepak bola di Asia Tenggara saja belum muncul. Lagi pula pada waktu itu Hindia Belanda lolos karena keberuntungan.
Hindia-Belanda in world cup 1938, France. The first tim from Asia. pic.twitter.com/5aaoCqm7ys
— syahru saragih (@syahrusaragih) July 1, 2018
Hindia Belanda pada waktu itu sejatinya tidak bisa langsung lolos ke Piala Dunia. Mereka harus melewati babak kualifikasi menghadapi Jepang. Namun, karena Jepang memilih mundur, sebenarnya Amerika akan menggantikan sebagai lawan Hindia Belanda. Namun, Amerika juga tidak menampakkan batang hidungnya, sehingga memberi tiket otomatis Hindia Belanda ke Piala Dunia di Prancis itu.
Tim yang berisi pemain pribumi dan Belanda itu kemudian kalah di putaran pertama oleh Hungaria 6-0. Banyak yang tidak mengakui Hindia Belanda sebagai wakil dari Asia Tenggara. Namun mirisnya, sampai saat ini masih saja ada yang bangga kalau Indonesia saat bernama Hindia Belanda pernah tampil di Piala Dunia.
Kan aneh, pada waktu itu Indonesia masih berstatus tanah jajahan. Masa penduduk Indonesia sekarang membanggakan prestasi ketika masih menjadi bangsa terjajah?
Pertandingan Piala Dunia 1938 antara Hindia Belanda Vs Hungaria#Flashback pic.twitter.com/4Yhql8r2WO
— AbahDeon #freefromstupidity (@AbahDeon) November 20, 2022
Buruk di Piala Asia
Bukan hanya di level Piala Dunia, di kancah Asia saja, negara-negara di Asia Tenggara masih jauh tertinggal. Negara-negara di kawasan ASEAN sangat jarang melaju jauh di turnamen Piala Asia. Sepanjang sejarahnya, sampai tahun 2023, hanya Thailand dan Republik Khmer atau sekarang kita menyebutnya Kamboja yang pernah sampai ke semifinal.
Itu terjadi di Piala Asia 1972 (edisi sebelumnya tidak memakai format grup dan gugur). Dan dua tim tersebut bertemu untuk memperebutkan tempat ketiga. Timnas Gajah Perang keluar sebagai juara. Di pemeringkatan FIFA zona AFC, tidak satu pun negara dari Asia Tenggara yang duduk di peringkat 12 besar. Paling bagus hanya Vietnam yang mendekam di peringkat 15 AFC atau 95 FIFA.
Di Level Klub Juga Buruk
Disamping level tim nasional yang buruk, di kancah klub, negara-negara di Asia Tenggara juga buruk. Dari peringkat kompetisi level klub pada tahun 2022, tidak ada negara Asia Tenggara yang menduduki posisi 10 besar. Kompetisi klub di Malaysia menjadi yang terbaik di kawasan Asia Tenggara dengan menduduki peringkat 13 tahun 2022 se-Asia.
Kompetisi level klub di Indonesia sendiri menempati peringkat 26 di Asia pada tahun yang sama. Itu baru soal kompetisinya. Klub-klub di Asia Tenggara juga masih jauh ketinggalan di kawasan Asia. Mengutip Football Alphabet, tidak ada klub di Asia Tenggara yang menempati 30 besar.
Tahniah Johor Darul Ta'zim
— FA Malaysia (@FAM_Malaysia) April 30, 2022
Layak ke Pusingan 16 Terbaik, Liga Juara-Juara AFC 2022!
—
Congratulations Johor Darul Ta'zim
Qualified for the Round of 16, AFC Champions League 2022!#FAM #HarimauMalaya #ACL2022 pic.twitter.com/CmjSFljFgl
Satu-satunya klub terbaik dari Asia Tenggara hanyalah raksasa Liga Super Malaysia, Johor Darul Ta’zim yang duduk di posisi 33 se-Asia dan peringkat 261 di dunia per 15 September 2023. Meski begitu Johor Darul Ta’zim masih mengungguli klub yang tahun ini mendatangkan pemain seperti Roberto Firmino, Al-Ahli. Klub Arab Saudi itu berada di peringkat 44 AFC.
Klub-klub dari Asia Tenggara sangat jarang lolos ke putaran final Liga Champions Asia. Apalagi sampai ke puncak. Tanpa menghitung klub dari Australia, hanya Selangor FC dan Police Tero yang pernah mencapai final. Tim Malaysia melakukannya pada tahun 1967, sedangkan tim dari Thailand itu melakukannya di musim 2002/23. Keduanya kalah.
Padahal….
Sepak bola Asia Tenggara yang buruk, bukan hanya di level dunia tapi juga Asia menjadi ironis. Sebab konfederasi sepak bola Asia atau AFC itu sendiri didirikan di kawasan Asia Tenggara. Konfederasi yang mengatur urusan sepak bola di kawasan Asia itu berdiri pada 7 Mei 1954 di Manila, Filipina.
Bukan hanya didirikan di kawasan Asia Tenggara, AFC juga diprakarsai oleh negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Burma atau Myanmar, Singapura, Filipina, Vietnam Selatan, sampai Indonesia tercatat sebagai pendiri AFC. Markas besar organisasi yang membawahi 47 anggota itu juga berada di Kuala Lumpur, Malaysia.
Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, bersama wakilnya, Iwan Budianto dan Cucu Somantri, serta Sekjen PSSI, Ratu Tisha, berkunjung ke Markas AFC di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (12/11). Jajaran pengurus PSSI disambut langsung oleh Sekjen AFC Dato Windsor. #PSSINow pic.twitter.com/I9YjB9jIKm
— PSSI (@PSSI) November 12, 2019
Bagaimana? Benar-benar ironis bukan? AFC didirikan di Asia Tenggara, markasnya juga di Asia Tenggara, namun negara Asia Tenggara menjadi yang sangat tertinggal. Ya memang sih, bukan cuma Asia Tenggara saja yang tertinggal di kawasan Asia. Asia Tengah dan Asia Selatan juga menghadapi tantangan serupa dengan Asia Tenggara.
Namun, Asia Tengah sekarang tampaknya lebih baik dari Asia Selatan dan Asia Tenggara. Negara-negara yang tergabung dalam Asosiasi Sepak bola Asia Tengah, CAFA, seperti Iran, Kyrgyzstan, Tajikistan, sampai Uzbekistan menjadi salah satu kekuatan Asia. Bahkan Iran yang baru bergabung ke CAFA pernah menjadi juara di Piala Asia.
Mengapa Asia Tenggara Tertinggal?
Ada beberapa faktor mengapa sepak bola di Asia Tenggara tertinggal. Salah satunya adalah kultural dan sosial. Negara-negara di Asia Tenggara masih menganggap sepak bola akan mengganggu kegiatan belajar formal. Yang mana soal karier di dunia akademik ini, Asia Tenggara menjadi salah satu yang cukup terpandang.
David Hutt dalam tulisannya di The Diplomat menyebut, sepak bola di Asia Tenggara tertinggal lantaran investasi dalam sepak bola di negara-negara ASEAN masih kurang. Selain itu, menurutnya, korupsi dan politik juga menghambat sepak bola di Asia Tenggara. Ingat bagaimana FIFA membekukan sepak bola Indonesia karena campur tangan pemerintah yang berkepanjangan?
“Kurangnya profesionalisme di liga domestik adalah masalah besar yang menghambat negara-negara di Asia Tenggara,” kata jurnalis di Bangkok, Gian Chansrichawla dikutip The Diplomat.
Standar latihan, organisasi sepak bola yang tidak tertata, dan perilaku pemain di luar lapangan melahirkan standar yang tidak tinggi pada sepak bola di Asia Tenggara. Ajitpal Singh dari Straits Times juga menulis, bahwa tertinggalnya sepak bola Asia Tenggara juga karena maraknya pengaturan pertandingan atau match fixing.
Dalam tulisannya itu, Singh menyebut bahwa di kompetisi usia muda saja sudah banyak praktik pengaturan pertandingan. Selain itu juga ada permasalahan gaji yang relatif rendah. Piala AFF, menurut Singh, juga menjadi kompetisi yang berstandar rendah.
Apa Solusinya?
AFC sebagai konfederasi yang membawahi federasi-federasi Asia tak lebih hanya menjembatani hubungan dengan FIFA. Meski begitu, sudah banyak terobosan yang dilakukan untuk mengangkat marwah sepak bola Asia Tenggara. Salah satunya yang terbaru adalah peluncuran FIFA Football for Schools.
FIFA bekerja sama dengan UNESCO program ini bertujuan untuk berkontribusi pada pendidikan, pengembangan, dan pemberdayaan anak-anak di kawasan Asia Tenggara. Dalam hal ini, FIFA mencoba untuk mendekatkan sepak bola pada anak-anak di Asia Tenggara.
Negara-negara di kawasan Asia Tenggara juga sudah mulai membangun iklim sepak bolanya sendiri. Menata organisasi, menyusun cetak biru, melakukan pembinaan, sampai membuat kompetisi berjenjang dan sehat. Meski sayangnya, tidak semua ketua umum federasi sepak bola di Asia Tenggara tulus melakukan itu untuk perkembangan sepak bola.
Sumber: Sportycius, TheDiplomat, TheGuardian, FIFA, StraitsTimes, FootballAlphabet, FIFA, FIFA


