Hubungan Unik Antara Sepak bola Indonesia, Belanda, dan Suriname

spot_img

PSSI baru saja memunculkan satu nama baru, yakni Nathan Tjoe-A-On sebagai calon pemain baru yang bakal dinaturalisasi. Perlu kalian ketahui, Nathan memang memiliki darah Indonesia, tapi dari garis keturunan yang cukup jauh melalui kakek neneknya yang berasal dari Suriname. Maka dari itu, di situs Transfermarkt, Nathan lebih dikenal sebagai pemain yang memiliki darah Belanda dan Suriname, bukan Indonesia.

Berarti jika demikian, Nathan berhak membela ketiga negara tersebut. Tapi, kenapa kakek Nathan yang asli Suriname punya darah Indonesia ya? Apakah Indonesia, Suriname, dan Belanda memiliki hubungan tertentu? Mari kita bedah hubungan unik antara Indonesia, Belanda, dan Suriname melalui sepak bola.

Awal Mula

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Suriname sebenarnya merupakan negara yang sangat kental dengan budaya, bahasa, bahkan kesukuan Indonesia, terutama Jawa. Saking kentalnya budaya Jawa di sana, Suriname juga kerap disebut sebagai Pulau Jawa yang ada di wilayah Amerika.

Suriname termasuk dalam jajaran negara kecil di dataran Amerika Selatan. Walau kecil penduduk di negara ini sangat beragam secara etnis. Termasuk etnis Jawa yang berasal dari Indonesia. Jadi tak heran apabila Football Lovers berkunjung ke negara ini, ada banyak warlok yang cakap berbahasa Jawa.

Bahkan perawakan dan wajah masyarakat Suriname memiliki banyak kesamaan dengan suku Jawa di Indonesia. Hal ini terjadi karena keturunan orang Jawa atau orang dari pulau Jawa di Indonesia yang sebelumnya merupakan buruh kontrak membentuk hampir sepertujuh dari populasi Suriname.

Momen ini terjadi sejak abad ke-19. Kala itu, sekitar 33.000 orang Jawa bermigrasi ke Suriname dan bekerja sebagai buruh kontrak di perkebunan kopi, pabrik gula, dan semacamnya. Mereka semua bekerja untuk Belanda yang kala itu juga sedang menjajah Suriname. 

Meski ada kesempatan untuk pulang ke Indonesia, sebagian besar imigran dari Jawa memilih untuk menetap di sana. Ada juga yang mencari kehidupan yang lebih layak di Belanda. Terutama setelah diberi izin oleh pemerintah Belanda untuk memiliki kewarganegaraan Belanda melalui Charter for the Kingdom of the Netherlands yang disusun pada 1954.

Mencari Jati Diri Melalui Sepakbola

Nah, dari situ darah Indonesia terus mengalir di setiap generasi baru masyarakat Suriname. Ketika sudah dewasa, generasi baru di sana mulai memilih jalan hidupnya sendiri termasuk menjadi seorang pesepakbola profesional. Sebagian dari mereka yang memiliki kemampuan finansial yang baik memutuskan untuk terbang ke Belanda guna menimba ilmu sepakbola dengan fasilitas kelas wahid.

Para penduduk Suriname yang bermigrasi ke Belanda perlahan mulai banyak dan mampu menciptakan bakat-bakat lapangan hijau yang menjanjikan. Meski beberapa pengamat sepak bola di Belanda mulai memperhitungkan bakat para pemain “kulit hitam” keturunan Suriname, tak mudah bagi mereka untuk diterima di seluruh lapisan penggemar.

Pada awalnya, diskriminasi kepada pemain keturunan Suriname masih sangat tinggi di Belanda. Para penikmat sepak bola Belanda lebih memilih menonton pemain berkulit putih, ketimbang pemain Suriname yang cenderung berkulit gelap. Jadi, pemain keturunan Suriname harus spesial dengan cara memiliki skill olah bola di atas rata-rata pemain lokal dulu baru dapet pengakuan.

Untungnya, kebanyakan pemain keturunan Suriname yang hijrah ke Belanda mampu menunjukan kualitas dan etos kerja tinggi khas nenek moyangnya. Mereka yang berstatus bukan penduduk asli Negeri Kincir Angin mampu bersaing di berbagai kompetisi di Belanda hingga beberapa negara lain di Eropa.

Bagaimana Nasib Sepakbola Suriname?

Terus digembosi oleh Belanda, lantas Suriname kebagian apanya dong? Untuk menjawab itu, mari kita menilik bagaimana kondisi persepakbolaan di sana. Meski talenta terbaiknya selalu diambil oleh negara lain, Suriname tetap memiliki tim nasionalnya sendiri. Terletak di Amerika Selatan, tapi Suriname justru masuk dalam konfederasi Amerika Utara, Tengah, dan Karibia atau CONCACAF.

Selain karena termasuk yang mendirikan CONCACAF pada tahun 1961, di federasi Amerika Selatan, CONMEBOL hanya mengakomodasi negara-negara di Amerika Selatan yang berbahasa Spanyol dan Portugis, sedangkan Suriname memakai bahasa Belanda.

Karena perbedaan sejarah, budaya, dan bahasa itulah Suriname bergabung ke CONCACAF, bersama dengan negara lain yang nasibnya sama dengannya, seperti Guyana dan Guyana Prancis.

Meski bukan unggulan di Benua Amerika, Suriname menempati ranking FIFA sedikit lebih tinggi dari Indonesia. Per Oktober kemarin, Suriname masih berada di urutan ke-144 dunia. Sedangkan Indonesia berada satu tingkat di bawahnya. Ranking ini tentu masih bisa berubah seiring banyaknya agenda internasional yang sudah dilaksanakan.

Biar jarang terdengar, Suriname punya target tersendiri dalam mengembangkan sepak bolanya. Suriname sedang membangun mimpi untuk bisa tampil di Piala Dunia 2026 yang akan dilaksanakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

CONCACAF sendiri bakal mengirimkan enam wakilnya ke kompetisi tersebut. Namun, karena ketiga negara yang sudah disebutkan tadi jadi tuan rumah bersama, maka mereka tak perlu melewati babak kualifikasi. Situasi ini jadi makin sulit bagi Suriname karena kuotanya tinggal tersisa tiga.

Untuk mewujudkan mimpi Suriname untuk tampil di Piala Dunia, negara yang dulu dikenal sebagai Dutch Guiana itu menerapkan kebijakan unik. Mereka memberikan paspor khusus olahraga bagi pemain berdarah Suriname yang bermain di Belanda. Dengan kebijakan itu, Suriname berkesempatan untuk diperkuat pemain-pemain yang bermain di Liga Belanda. Ya, mungkin mirip-mirip sama proses naturalisasi di Indonesia kali ya.

Pemain Suriname di Eropa

Suriname memang dikenal sebagai negara pemasok bakat bagi tim nasional Belanda atau Indonesia pada akhirnya. Namun, mereka juga pernah memiliki beberapa pemain yang terkenal dan pernah berkarir di Eropa. Sebut saja striker Union Berlin yang performanya musim lalu cukup menarik perhatian, Sheraldo Becker.

Pemain berusia 28 tahun itu memang lahir di Amsterdam, tapi memutuskan untuk membela Suriname sejak tahun 2021. Di musim 2022/23, Becker jadi bagian penting dalam tim Union Berlin yang mengejutkan Bundesliga dengan finis di urutan keempat sekaligus mengamankan satu tiket ke Liga Champions.

Selain Becker, masih ada beberapa pemain lain macam Ryan Koolwijk yang pernah membela Almere City dan Excelsior Rotterdam. Atau Sean Klaiber yang pernah membela Ajax dan FC Utrecht. Sean tercatat pernah dua kali menjuarai Eredivisie dan sekali meraih gelar Piala KNVB saat masih berseragam Ajax.

Saling Tukar Pemain

Jadi, Indonesia, Suriname, dan Belanda memiliki hubungan yang cukup unik. Karena mengharapkan talenta keturunan dari satu sama lain. Sama halnya dengan Suriname, Indonesia juga mengharapkan talenta-talenta reject-an dari Belanda yang gagal menembus skuad utama De Oranje.

Maka dari itu, banyak pemain naturalisasi Timnas Indonesia yang sebelumnya menganut kewarganegaraan Belanda. Sebut saja macam Marc Klok, Ezra Walian, Stefano Lilipaly, hingga Sandy Walsh. Sedangkan Belanda berbalik dengan kedua saudara jauhnya itu.

Belanda jadi pihak yang paling diuntungkan. Selain memiliki fasilitas yang jauh lebih baik, latar belakang sepak bola dan prestasi negeri Kincir Angin lebih baik ketimbang dua saudara jauhnya. Jadi, mereka bisa mengambil pemain-pemain keturunan Belanda-Suriname atau Belanda-Indonesia yang memiliki skill olah bola di atas rata-rata. 

Sudah banyak pemain berdarah Suriname yang pada akhirnya lebih memilih membela Belanda ketimbang Suriname. Contohnya Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Edgar Davids, Clarence Seedorf, dan Jimmy Floyd Hasselbaink, Georginio Wijnaldum, hingga Virgil Van Dijk. 

Sementara pemain berdarah Indonesia yang memilih untuk tampil bersama De Oranje ada Giovanni Van Bronckhorst, Nigel De Jong, Robin Van Persie, hingga yang terbaru Tijjani Reijnders. Indonesia dan Suriname yang kekuatan sepak bolanya tidak masuk dalam level elit dunia harus menerima jika pada akhirnya kurang menjadi perhatian bagi pemain-pemain keturunan. 

https://youtu.be/gMkG8EBMT7I

Sumber: Pundit Football, These Football Times, VOA, Libero

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru