Apakah Era Kejayaan Sepakbola Jerman Sudah Berakhir?

spot_img

Ganti pelatih sudah, ganti materi pemain sudah, rombak formasi pun sudah. Tapi Timnas Jerman tetap kesulitan menemukan jati dirinya lagi. Mereka bahkan terlihat seperti tim yang lupa caranya menang. Terakhir, skuad asuhan Julian Nagelsmann dipermalukan oleh tim sekelas Austria dengan skor 2-0 di ajang uji coba.

Dengan buruknya performa Jerman akhir-akhir ini, beberapa pengamat sepakbola meyakini kalau era kejayaan Timnas Jerman sudah lewat. Namun, apabila ditelusuri lebih dalam, yang mengalami penurunan bukan hanya tim nasionalnya saja, melainkan juga kualitas klub dan pelatih asal Jerman di kompetisi Eropa maupun internasional. Lantas, apa yang salah dengan persepakbolaan Jerman? 

Flashback Kejayaan Sepakbola Jerman

Sudah menjadi rahasia umum kalau persepakbolaan Jerman pernah menapaki kejayaan pada era 2010 hingga 2020. Diawali dengan Bayern Munchen yang back to back mencapai final Liga Champions pada musim 2011/12 dan 2012/13. Yang mana pada kesempatan kedua The Bavarian berhasil membawa pulang si kuping besar.

Setahun kemudian giliran tim nasionalnya yang berjaya. Kala masih ditangani oleh sang legenda garuk-garuk, Joachim Low, Jerman berjaya di tengah tim-tim hebat lainnya macam Perancis, Inggris, Argentina, dan Spanyol. Perjalanan Der Panzer menuju tangga juara pun terbilang mulus. Setelah menjuarai Grup G, Jerman tak terhentikan di fase gugur.

Puncaknya, ketika menantang Argentina. Menghadapi nama besar La Pulga, Jerman tak gentar karena mereka memiliki si bocah ajaib, Mario Gotze. Masuk sebagai pemain pengganti, pemain yang kini bermain untuk Eintracht Frankfurt itu mencetak satu-satunya gol di laga tersebut. Itu sudah cukup untuk mengukuhkan Jerman sebagai juara dunia tahun 2014.

Tak cuma soal klub dan tim nasional. Dalam kurun sedekade itu pula bermunculan pelatih-pelatih muda berbakat yang mendobrak ideologi-ideologi usang di sepakbola Eropa. Sebut saja Jurgen Klopp yang mengandalkan sepakbola heavy metal-nya untuk memenangkan Liga Inggris musim 2019/20 dan Liga Champions 2018/19 bersama Liverpool.

Masih kurang? Masih ada Hansi Flick yang meraih sextuple bersama Bayern Munchen. Ada juga Thomas Tuchel yang juga menjuarai Liga Champions bersama Chelsea.

Pasca Pemecatan Joachim Low

Usai merengkuh gelar juara Piala Dunia 2014, Timnas Jerman tercatat belum bisa berprestasi lagi. Kegagalan di Euro 2016 dan Piala Dunia 2018 seakan wajar-wajar saja karena beberapa penikmat sepakbola merasa kalau ini hanyalah kutukan juara dunia yang memang sudah menjadi cerita rakyat yang melegenda.

Namun tidak bagi federasi sepakbola Jerman. Mereka merasa kalau ini sebuah kemunduran yang signifikan. Ketika kesabaran sudah mencapai batas, pada tahun 2021 DFB mengambil langkah berani dengan memecat Low yang sudah menangani Jerman sejak tahun 2006. Pelatih ikonik itu digantikan Hansi Flick yang dinilai sukses besar bersama Bayern Munchen.

Awalnya keputusan ini diharapkan agar sepakbola Jerman jadi lebih baik dengan perubahan yang dibawa Flick. Namun, semenjak ditangani Flick tim nasional Jerman malah makin nggak karuan. Di delapan pertandingan awal, Jerman memang tak terkalahkan. Tapi, setelah itu Jerman mengalami inkonsistensi performa.

Jerman gagal total di Piala Dunia 2022. Tergabung dengan Jepang, Kosta Rika, dan Spanyol di Grup E, Jerman hanya mampu menang sekali lawan Kosta Rika. Skuad racikan Hansi Flick bahkan kalah memalukan dengan skor 2-1 dari tim Samurai Biru. Performa buruk Jerman tak sampai di situ. 

Sepanjang tahun 2023, Jerman baru menang tiga kali dalam 11 pertandingan uji coba. Padahal mereka tengah bersiap untuk jadi tim tuan rumah Piala Eropa 2024. Oleh karena itu, Hansi Flick akhirnya dipecat juga. Pelatih yang lebih muda dan memiliki pemikiran visioner macam Julian Nagelsmann pun masuk menggantikannya.

Klub dan Pelatih Jerman Sulit Berjaya di Eropa

Tak jauh berbeda dengan tim nasionalnya, klub dan pelatih asal Jerman juga jadi sulit berprestasi. Setelah Bayern Munchen menjuarai Liga Champions tahun 2020, belum ada lagi klub Jerman yang menjuarai kompetisi tersebut. Bahkan untuk menembus semifinal aja kesulitan. 

Sedangkan pelatih banyak yang bermasalah. Hansi Flick masih nganggur, Julian Nagelsmann dipecat Bayern Munchen dan akhirnya melatih Timnas Jerman, Thomas Tuchel dipecat Chelsea dan hampir gagal total di Bayern Munchen musim 2022/23. Bahkan Jurgen Klopp yang pernah membawa Liverpool berjaya di kancah Eropa sempat terancam dipecat karena Liverpool terseok-seok musim lalu.

Regenerasi Pemain

Jerman seperti terlena oleh prestasi pada tahun 2014. Pada tahun 2000-an, Jerman melakukan perubahan secara struktural dengan menciptakan program pengembangan usia muda yang terstruktur, sehingga menciptakan pemain yang berbakat secara teknis dan cerdas secara taktik. Hasilnya dipetik pada tahun 2014. Namun, Jerman bermasalah dengan keberlanjutannya. 

Ketika tim-tim lain berusaha beradaptasi dan meningkatkan kualitas para pemain secara teknis dan non teknis, Jerman masih di situ-situ saja. Memanfaatkan talenta yang ada tanpa memikirkan regenerasi yang memiliki kualitas sama dengan generasi 2014. Demikian seperti yang dilaporkan media Jerman, Deutsche Welle.

Regenerasi pada pemain Jerman yang buruk dibuktikan dengan sulitnya Jerman menemukan goal getter baru setelah pensiunnya Miroslav Klose. Nicklas Fullkrug mungkin sudah berusaha keras untuk membuktikan diri. Namun, dirinya belum pernah mencapai level yang diinginkan. Sedangkan di sektor bertahan, tampaknya hanya Antonio Rudiger dan Joshua Kimmich yang kualitasnya menyamai level pemain-pemain generasi 2014.

Pola Permainan yang Sudah Ketebak

Lantas, apa yang terjadi pada pelatih-pelatih Jerman yang belum meraih prestasi lagi? Gaya bermain dari pelatih-pelatih Jerman yang kebanyakan mengandalkan gegenpressing tampaknya sudah mulai terbaca. Karena kita semua tahu, sepakbola merupakan olahraga yang berkembang dan berevolusi setiap tahunnya.

Dalam beberapa musim terakhir, tim lain mulai menemukan kelemahan dari gaya bermain pelatih Jerman dan berhasil mengeksploitasi celah tersebut. Pelatih Jerman yang kerap mengandalkan garis pertahanan tinggi kini mudah terbaca. Beberapa kali pemain lawan bisa lolos dari jebakan offside yang menjadi strategi andalan mereka.

Para pelatih asal negeri sejuta beer itu memerlukan sistem baru. Karena bermain tanpa bisa ditebak oleh lawan adalah suatu hal yang penting di sepakbola modern. Evolusi dan penerapan taktik baru harus terus dilakukan oleh mereka. Jika tidak, maka performa tim yang dilatih akan kalah dengan tim lain yang mau beradaptasi. Sama halnya dengan skema Catenaccio yang mulai punah karena tak berevolusi secara berkala.

Politik?

Penurunan kualitas persepakbolaan Jerman juga disadari oleh banyak pihak salah satunya mantan pelatih Arsenal, Arsene Wenger. Dilansir CNN, pria yang kini menjabat direktur pengembangan FIFA itu mengatakan, salah satu penyebab menurunnya kualitas Jerman adalah mencampuradukan sepakbola dengan politik.

Selain sentimen terhadap Turki yang sudah dipupuk sejak lama, aksi tutup mulut di Piala Dunia 2022 juga jadi sorotan. Ketika penggunaan ban kapten One Love dilarang FIFA dan diancam sanksi, Jerman menentang keras sampai mengancam tidak lagi mendukung Gianni Infantino sebagai presiden FIFA periode berikutnya.

Makin parah, aksi itu justru menimbulkan sindiran dan ejekan. Terutama setelah Der Panzer keok dari Jepang. Timnas Jerman dianggap tidak fokus pada turnamen karena kerap protes soal hal-hal di luar sepakbola. Well, apa pun masalahnya, sebetulnya ini hanya perkara waktu saja sampai Jerman kembali menemukan titik balik dalam sepakbola. Itu kalau mereka mampu melakukannya.

Sumber: DW, CNN, The Sun, Football 365

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru