Grup D EURO 2024: Negara Unggulan Bertabur Pemain Keturunan Diadu!

spot_img

Prancis dan Belanda berjodoh. Kemarin satu grup di babak kualifikasi, kedua negara yang pernah mengangkat trofi Piala Eropa itu kembali dipertemukan di putaran final EURO 2024. Keduanya bergabung di Grup D.

Jodoh memang nggak akan ke mana, tapi persaingan ada di mana-mana. Meski mantan juara, hampir bisa dipastikan perjalanan Belanda dan Prancis menuju babak gugur tidaklah mudah. Kedua tim mesti melewati hadangan dua negara lainnya yang, tentu saja tidak bisa dipandang sebelah mata.

Polandia dan Austria bisa saja merepotkan. Apalagi dua negara yang kebetulan hanya punya warna merah dan putih di benderanya itu, punya segudang amunisi dan rencana untuk tidak hanya berebut posisi tiga terbaik. Namun, bisa jadi juara grup atau tempat kedua. Bagaimana kekuatan tim di Grup D EURO 2024?

Dipenuhi Pemain Keturunan

Di grup ini keempat tim memiliki kekuatan yang nyaris sama. Tidak ada yang lemah. Bahkan Prancis, Belanda, Polandia, maupun Austria tidak ada yang bisa dijadikan lumbung gol. Ini berbeda dengan Grup B. Di mana Albania yang mungkin saja menjadi tim terlemah di grup itu.

Selain tidak ada yang bisa jadi lumbung gol, Grup D juga mempertemukan negara-negara yang mengandalkan para pemain keturunan, kecuali Polandia. Sejak pertama kali berkiprah di Piala Eropa tahun 2008, Polandia tidak pernah diperkuat pemain keturunan di skuad utama.

Hal itu berbeda dengan Prancis, Belanda, dan Austria. Saat ini, pemain yang mengisi skuad Les Bleus hampir semuanya imigran. Brice Samba, kiper cadangan yang lahir di Congo.

Alphonse Areola, kiper keturunan Filipina. Ferland Mendy keturunan Senegal dan Guinea-Bissau. Eduardo Camavinga kelahiran Angola. Bahkan Kylian Mbappe itu pun keturunan Aljazair.

Belanda juga sama. Dari lini belakang, tengah, dan depan, Timnas Bunga Tulip dipenuhi para pemain keturunan. Sebut saja Virgil van Dijk dan Gio Wijnaldum yang keturunan Suriname, Cody Gakpo yang keturunan Togo, hingga para pemain yang bernasab Indonesia, seperti Tijjani Reijnders dan Ian Maatsen.

Selain dihuni Marko Arnautovic yang keturunan Serbia, di kubu Austria juga terdapat pemain yang berasal dari Benua Afrika. Ia adalah Kevin Danso, pemain keturunan Ghana. Sayangnya di EURO nanti, Austria tidak akan diperkuat David Alaba. Pemain keturunan Filipina itu mengalami cedera ACL.

Prancis dan Belanda Unggulan

Prancis dan Belanda difavoritkan lolos ke 16 besar. Rekam jejak dan sejarah keduanya tidak bisa dianggap remeh, terutama Prancis. Les Bleus dua kali menjuarai EURO. Namun, terakhir kali mereka juara sudah lebih dari dua dekade silam, yakni tahun 2000.

Ketika itu Prancis yang diperkuat Thierry Henry, Djorkaeff, Lilian Thuram, Dugarry, Zidane, hingga sang pelatih saat ini, Didier Deschamps mengalahkan Italia di final melalui gol emas David Trezeguet.

Setelah itu Prancis tak lagi juara. Bahkan ketika menjadi tuan rumah di edisi ke-15. Les Bleus yang dijagokan juara malah bertekuk lutut di hadapan Portugal. Sementara Belanda baru sekali menjuarai Piala Eropa. Ya, sekali!

Itu terjadi pada tahun 1988 di Jerman. Belanda yang melaju ke final menumpas perlawanan Uni Soviet. Waktu itu De Oranje dilatih leluhurnya total voetbal, Rinus Michels. Pelatih Belanda sekarang, Ronald Koeman juga terlibat dalam kemenangan itu. Well, menurut Opta, Prancis punya persentase lolos 92,9% dari grup ini, sedangkan Netherland 76,2%.

Prancis Tidak Sehebat Itu

Walaupun memiliki persentase tinggi buat lolos ke babak gugur, bukan berarti Prancis adalah tim yang digdaya. Les Bleus nggak sehebat itu kok. Okelah. Sebagai tim yang dua kali berturut-turut mencapai final Piala Dunia dengan salah satu memenangkannya, Prancis memang layak menjuarai Piala Eropa.

Namun, lihatlah kondisi mereka belakangan ini. Dalam lima laga terakhir jelang EURO, pasukan Didier Deschamps cuma memenangkan dua laga saja. Dan itu cukup mengkhawatirkan. Apalagi kemenangan Prancis diraih atas tim-tim yang kualitasnya di bawah mereka, seperti Luksemburg dan Chile.

Menghadapi Yunani, mereka gagal menang. Terakhir, pada uji coba 9 Juni lalu, Prancis tidak kuasa mengalahkan Kanada. Kanada yang bermain dengan intensitas tinggi menyulitkan pasukan Deschamps. Dan ini bukan kali pertama Les Bleus kepayahan menghadapi tim dengan tekanan tinggi. Menghadapi Jerman, mereka dihajar 2-0.

Austria Siap Menyikat Prancis

Jika menghadapi Kanada saja Prancis tak bisa mencetak gol, apalagi menghadapi Austria? Austria adalah tim dengan identitas permainan yang tak jauh-jauh dari Jerman. Terlebih pelatih mereka Ralf Rangnick, si bapak gegenpressing. Rangnick mengintegrasikan skuad Austria dengan taktiknya yang penuh tekanan dan energi tinggi.

Tidak sulit baginya membuat Austria menjadi tim yang diinginkannya. Sebagian besar pemain yang memperkuat timnya saat ini adalah mantan pemain yang pernah atau sedang memperkuat tim berbendera Red Bull. Seperti Marcel Sabitzer, Baumgartner, Seiwald, Laimer, hingga Flavius Daniliuc. Para pemain tadi sudah paham bagaimana filosofi Rangnick.

Eks pelatih MU itu pernah menjadi direktur olahraga tim-tim Red Bull. Tak ayal kalau setelah ditunjuk, Rangnick langsung menggebrak dengan membawa Austria mengalahkan Kroasia 3-0 di laga pertamanya. Di laga-laga berikutnya Austria lebih sering menang daripada kalah.

Total 22 match dilakoni Rangnick bersama Austria. Dari sana hanya lima kali menelan kekalahan. Kekalahan terakhir yang diterima Austria-nya Rangnick terjadi lebih dari tujuh bulan yang lalu, kala Austria dibekuk Belgia 3-2 pada 13 Oktober 2023 di kualifikasi EURO 2024.

Austria memang kalah 13 kali atas Prancis, tapi setidaknya mereka punya tabungan 9 kemenangan melawan Les Bleus. Lagi pula dalam tiga pertemuan terakhir, Prancis selalu gagal mengalahkan Austria. Mungkinkah Austria akan menjegal Prancis?

Belanda yang Meragukan

Barangkali ada yang berpikir kalau pertanyaan itu terkesan meragukan Prancis. Tidak hanya meragukan Prancis, tapi juga meremehkan Belanda. Harusnya kalaupun ada tim yang bisa mengalahkan Prancis di grup ini, tim itu adalah Belanda. Memang benar, Belanda adalah tim terkuat kedua. Oleh karena itu, mereka bisa memberi kekalahan buat Mbappe CS.

Namun, di babak kualifikasi, Belanda sendiri yang justru dihajar Prancis dua kali. Memang, Belanda adalah tim kuat, namun selalu ada sisi yang membuat kita ragu kalau mereka bisa jauh melaju.

Skuadnya saja dipenuhi muka-muka baru. Bahkan ketiga kiper yang dibawa Koeman: Verbruggen, Bijlow, dan Flekken belum pernah bermain di EURO. Lini depan De Oranje juga dipenuhi muka baru. Xavi Simons, Brian Brobbey, dan Bergwijn yang dipanggil tidak terlibat di EURO edisi sebelumnya.

Belanda juga tak diperkuat Frankie de Jong. Barcelona yang tetap memaksa memainkan De Jong meski cedera, membuatnya tak bisa bermain karena cederanya cukup parah. Hal itu membuat Koeman marah. Kemarahan Koeman beralasan. Selama ini De Jong menjadi pusat permainan Belanda. Tanpanya bisa apa Belanda?

Koeman mengantisipasinya dengan memanggil Tijjani Reijnders buat mengisi kekosongan ruang dan peran yang ditinggalkan De Jong. Dengan amunisi bek sayap seperti Denzel Dumfries, Koeman bakal mengkhianati idenya sendiri.

Pelatih yang identik dengan 4-3-3 itu akan pindah haluan memakai format tiga bek demi mengakomodasi Dumfries. Barangkali ia melihat Inter bisa scudetto dengan itu. Tapi sukses di klub, belum tentu sukses di kancah internasional. Fyi aja, dengan format tiga bek, Belanda justru kalah atas Jerman.

Bisa Apa Polandia?

Pola tiga bek Michal Probierz di Polandia justru terlihat lebih menjanjikan. Sejak dilatih Probierz, tim berjuluk Si Elang itu belum pernah sekali pun kalah. Probierz sendiri baru ditunjuk September 2023 lalu. Sebelum itu, pria berkepala licin ini menukangi Polandia U-21. Sementara tim utama dilatih Fernando Santos.

Namun, mantan pelatih Portugal itu hanya sanggup membawa Polandia ke lembah jahanam. Ditukangi Santos, mereka bahkan dikalahkan Albania dua gol tanpa balas. Nah, di tangan Pobierz Polandia akhirnya lolos ke EURO 2024 setelah mengalahkan Wales di babak play-off.

Kendati begitu, penunjukkan Probierz sempat menjadi polemik. Sang pelatih dituding memanfaatkan koneksi orang dalam untuk menduduki kursi pelatih. Ia digadang-gadang punya kedekatan dengan Presiden FA Polandia, Czeslaw Michniewicz.

Probierz juga sosok yang blak-blakan. Ia pernah mengkritik Xavi karena tidak becus memakai Lewandowski. Terlepas dari kontroversinya, Pobierz menjalani misi tak mudah, yakni melakukan transisi di Timnas Polandia.

Ia mengelaborasikan pemain muda dan bangkotan di skuad Polandia. Oleh karena itu, selain mengandalkan Lewy di lini depan, ia juga memanggil Karol Swiderski dan Piatek yang usianya lebih muda. 

Polandia memang sering kesulitan jika menghadapi Prancis maupun Belanda. Mereka sudah kalah 9 kali melawan Belanda maupun Prancis. Namun, tenang, setidaknya Polandia pernah menang tiga kali atas kedua negara itu. Sayangnya, persentase kelolosan Polandia ke 16 besar hanya 45%. Kalah dari Austria (51,1%).

 

Sumber: TheAnalyst, Meer, TheGuardian, TheAthletic, TheAthletic, TheAthletic

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru