Jika menurut Ali bin Abi Thalib berharap kepada manusia adalah hal terpahit di dunia ini, maka menurut fans sepakbola beda lagi. Hal paling pahit di dunia ini adalah berharap pada Timnas Inggris asuhan Gareth Southgate. Bertabur pemain bintang berbandrol mahal, Inggris tampil sangat buruk.
Saking buruknya, aura negatifnya sampai mempengaruhi kontestan lain yang tergabung dalam Grup C, grup yang sama dengan The Three Lions. Serbia, Slovenia, hingga Denmark yang berstatus tim kuda hitam di edisi kemarin tiba-tiba menjelma jadi tim yang seperti tak paham caranya bermain sepakbola.
Hal ini membuat beberapa media dan pengamat sepakbola menyebut Grup C sebagai grup terburuk di EURO 2024. Lantas apa yang membuat Grup C layak disebut demikian? Sebelum kita cari tahu jawabannya, kalian bisa subscribe dan nyalakan lonceng terlebih dahulu agar tak ketinggalan konten terbaru dari Starting Eleven.
Daftar Isi
Diprediksi Bakal Hujan Gol
Setelah drawing dilakukan, Grup C berisikan tim-tim yang menarik secara materi pemain dan peta kekuatan. Di situ ada Timnas Inggris, Denmark, Slovenia, dan Serbia. Dari keempat tim itu, materi pemain Slovenia jadi yang paling lemah. Karena Denmark dan Serbia memiliki materi pemain yang tak kalah bagus dari Inggris.
— dušan vlahović pics (@dailyvlahovic) June 25, 2024
Grup C juga berhiaskan penyerang-penyerang papan atas yang menjadi pendulang gol di klubnya masing-masing. Seperti yang sudah pernah dibahas oleh Starting Eleven Story, maka hujan gol di setiap laga bakal jadi angan-angan semua fans yang menonton.
Di pasukan Gareth Southgate ada banyak pemain yang memiliki jumlah gol fantastis di klub. Ada Cole Palmer, Phil Foden, dan Jude Bellingham. Tapi tak ada yang lebih spesial dari Harry Kane. Dirinya kembali menjadi top skor liga bersama Bayern Munchen. Setelah tiga kali menjadi top skor Liga Inggris, Kane melanjutkan ketajamannya di Bundesliga dengan mencetak 36 gol. Ini jadi gelar top skor kedelapan dalam karirnya.
Sementara di Serbia, ada sosok Dusan Vlahovic yang mulai moncer bersama La Vecchia Signora. Mantan pemain Fiorentina itu mengemas 18 gol di semua kompetisi musim ini. 16 diantaranya dicetak di Serie A. Itu jumlah gol yang jauh lebih baik dari Victor Osimhen dan striker tim juara Inter Milan, Marcus Thuram.
Lantas bagaimana dengan Denmark dan Slovenia? Denmark memiliki Rasmus Hojlund dan Jonas Wind. Keduanya sama-sama mencatatkan dua digit gol musim 2023/24. Hojlund bahkan jadi pencetak gol terbanyak Manchester United dengan torehan 16 gol di semua kompetisi. Slovenia punya Benjamin Sesko. Di usianya yang baru 21 tahun, Sesko sudah mengemas 18 gol di semua kompetisi musim lalu bersama RB Leipzig.
Timnas Inggris dan Segala Dramanya
Sayangnya, ekspektasi fans yang berharap adanya hujan gol ternyata terlalu ketinggian. Semua prediksi dan harapan yang dikemukakan baik di media sosial atau platform mana pun telah terbantahkan. Grup C justru jadi grup terburuk di EURO 2024 dan Inggris jadi yang paling mengecewakan.
Has a manager ever been sacked at halftime? pic.twitter.com/GHoPiOZ6sY
— ERIK (@utdpathletic) June 25, 2024
Melalui teknologi Supercomputer-nya, Opta sebetulnya memprediksi bahwa Timnas Inggris yang akan mengangkat trofi EURO tahun ini. Bahkan persentasenya lumayan tinggi, yakni 19,9%. Tetapi, Opta sepertinya harus mengevaluasi kinerja supercomputer-nya lagi. Karena Inggris justru tampil di luar prediksi dan dianggap gagal memanfaatkan materi pemain yang ada.
Alih-alih seperti tim yang pantas meraih gelar, Inggris asuhan Gareth Southgate justru bermain layaknya tim debutan. Udah lini depan tumpul, lini bertahan biasa aja, lini tengah apalagi. Pemain sekelas Jude Bellingham tiba-tiba menjelma jadi Danny Drinkwater. Southgate kayaknya harus ngambil dua sks dulu nih sama Professor Ancelotti.
Yang makin bikin kesel, disaat memiliki gelandang bertahan seperti Kobbie Mainoo dan Adam Wharton, Southgate maksa buat mainin Trent Alexander-Arnold sebagai pemain nomor enam. Pas hasilnya kurang maksimal, malah bawa-bawa Kalvin Phillips segala lagi. Hey, Southgate anda itu bukan Jurgen Klopp. Jangan ngadi-ngadi deh.
Hanya Ada 1 Kemenangan
Seburuk-buruknya Inggris, tapi mereka jadi satu-satunya tim yang bisa meraih kemenangan di babak penyisihan Grup C. Ya, dari enam pertandingan yang digelar, hanya ada satu kemenangan yang tercipta. Itu kala Inggris mengalahkan Serbia di laga pembuka. Lantas, apakah ini sebuah pencapaian yang patut dibanggakan?
Tidak juga. Karena Inggris hanya menang 1-0 atas Serbia. Setelah laga itu, praktis tak ada lagi kemenangan yang tercipta di pertandingan Grup C. Lima laga lainnya berakhir imbang. Iritnya jumlah kemenangan jadi salah satu faktor yang membuat Grup C layak menyandang status sebagai grup terburuk di EURO 2024.
Dengan hasil yang minimalis itu, Inggris berhak memuncaki klasemen Grup C dengan torehan lima poin. Diikuti Denmark dan Slovenia yang masing-masing mengumpulkan tiga poin berkat tiga hasil imbang di tiga laga. Unik juga ya, Denmark otomatis lolos ke fase gugur dengan status tak terkalahkan. Tapi juga jadi yang tak pernah menang.
Banyak Laga yang Membosankan
Nah, karena terlalu banyak laga yang berakhir imbang, maka Grup C ini sangat membosankan. Bahkan, di matchday ke-3 Grup C, dua pertandingan terakhir ditutup dengan skor kacamata. Itu tandanya, dari 44 pemain yang bertanding di lapangan nggak ada satu pun yang bisa mencetak gol. Kalo kata Code Blu, “Kek manaaaa?!”
Di dua laga itu, kebanyakan ball possesion tapi nggak tahu arahnya ke mana. Di laga Denmark melawan Serbia misalnya. Menurut Fotmob, penguasaan bola kedua tim cukup berimbang. Denmark dengan 53% dan Serbia 47%. Tapi bolanya cuma berputar-putar di area tengah lapangan.
Baik Denmark maupun Serbia, jarang melepaskan tembakan. Serbia tercatat cuma melepaskan satu tembakan on target. Sementara Denmark cuma tiga tembakan on target. Terus, ngapain aja selama 90 menit? Ya kucing-kucingan doang. 877 operan tercipta di laga tersebut.
Euro 2024 goals by group:
▪️ Group A: 17
▪️ Group B: 14
▪️ Group C: 7 😴
▪️ Group D: 15
▪️ Group E (two games): 9
▪️ Group F (two games): 12 pic.twitter.com/TBqKXui2i0— B/R Football (@brfootball) June 25, 2024
Di laga lainnya yang mempertemukan Inggris dan Slovenia malah lebih parah. Performa Inggris ditandai dengan penguasaan bola yang mencengangkan, mencapai 74%. Inggris boleh menguasai jalannya laga, tapi bolanya nggak tahu mau diarahkan ke mana.
The Three Lions terlalu sering melepaskan umpan menyamping dan ke area pertahanan sendiri ketimbang melayangkan umpan membelah pertahanan lawan. Saking jarangnya mengumpan ke depan, Harry Kane sampai makan gaji buta karena cuma melepaskan tiga tembakan dari dalam kotak penalti.
Jarang aja gitu dapet momen yang membuat kalian beranjak dari tempat duduk karena melihat peluang emas di mulut gawang. Saking membosankannya, sampai ada salah satu fans Inggris yang tertidur di bangku penonton. Foto itu pun viral lantaran diposting oleh salah satu media terkenal, BRFootball.
Grup Terburuk Dalam Sejarah?
Masih kurang? Ada satu fakta memalukan lagi. Dibandingkan dengan grup-grup lain, Grup C resmi jadi grup paling mandul di antara yang lain. Total hanya ada 7 gol dalam 6 laga. Bahkan, tidak ada pertandingan yang menghasilkan lebih dari dua gol. Setiap negara hanya bisa mencetak maksimal satu gol dalam 90 menit.
Sementara itu, dalam jumlah laga yang lebih sedikit, Grup F sudah bisa menghasilkan 12 gol. Statistik buruk ini menyamai catatan Grup C di EURO 2016 yang sama-sama menghasilkan tujuh gol. Tapi, yang membedakan adalah, grup tersebut cuma berisi tim-tim macam Ukraina, Irlandia Utara, dan Polandia. Tercatat cuma Jerman tim raksasanya.
Sementara di Grup C EURO 2024 lan lain cerita. Grup ini berisikan tim-tim besar dengan penyerang papan atasnya. Maka dari itu, Grup C EURO 2024 layak menyandang predikat sebagai grup terburuk dalam sejarah kompetisi Eropa.
Sumber: Fox Sport, The Athletic, The Analyst, TNT Sport, Bola


