Mengenal Palestina dan Kirgistan, Dua Tim yang Pertama Kali ke Putaran Ketiga Kualifikasi Piala Dunia Selain Indonesia

spot_img

Timnas Palestina lolos ke putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Hampir bersamaan dengan itu, serangan udara tentara zionis Israel menghantam kamp pengungsian Nuseirat di wilayah Gaza Tengah. Wali Kota Nuseirat, Iyad al-Maghari menjadi korban.

Miris. Tapi kelolosan Palestina ke putaran ketiga tetap layak dirayakan. Apalagi ini untuk pertama kalinya Palestina lolos ke putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia zona Asia. Di putaran ketiga nanti, selain Palestina, Indonesia dan Kirgistan juga pendatang baru.

Namun, karena Starting Eleven sudah sering membahas Indonesia, untuk kali ini kita mengenal lebih dekat dua tim lainnya. Palestina lolos di tengah agresi Israel, sedangkan Kirgistan lolos di tengah keterbatasan dana. Hm, bagaimana keduanya melakukan itu?

Timnas Palestina dan Prestasinya

Mari memulainya dari Timnas Palestina. Sekali lagi, di Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, ini adalah untuk kali pertama Palestina lolos ke putaran ketiga. Sebelumnya tim berjuluk Lions of Canaan itu selalu terhenti di putaran kedua. Bahkan di beberapa edisi, termasuk Piala Dunia 2002 dan 2010, Palestina hanya sampai di putaran pertama.

Soal prestasi, Palestina belum banyak. Di Piala Asia, mereka bahkan baru empat kali lolos, yaitu tahun 2015, 2019, 2023, dan 2027 mendatang. Namun, di salah satu dari tiga kali kelolosan ke Piala Asia, Palestina pernah lolos ke 16 besar, yaitu di edisi 2023.

Betul sekali. Saat Indonesia pertama kali lolos ke fase gugur Piala Asia, saat itulah Palestina juga melakukan hal yang sama. Selain berkiprah di Piala Asia, Palestina juga mengikuti kompetisi AFC Challenge Cup.

Itu adalah kompetisi di Asia yang diperuntukkan bagi negara-negara berkembang. Sekarang AFC Challenge Cup tidak lagi bergulir. Namun, Palestina pernah juara sekali, yakni di tahun 2014 atau edisi terakhir. Selebihnya, Palestina bermain di kompetisi-kompetisi yang melibatkan negara-negara Arab, seperti Arab Games dan FIFA Arab Cup.

Jika Indonesia bermain di ASEAN Championship atau AFF, Palestina bermain di WAFF Championship. Lions of Canaan belum pernah juara WAFF, setidaknya sampai edisi 2019.

Palestina Diakui FIFA dan AFC

Federasi Sepak Bola Palestina atau PFA sendiri berdiri pada tahun 1928. Tidak hanya orang Arab, kaum Yahudi juga turut membantu pendirian PFA. Nah, PFA lalu diakui FIFA pada 1929.

Namun, karena gesekan, konflik, dan keserakahan, tentu kita tahu siapa yang serakah, maka PFA yang mewakili Palestina baru mendapat pengakuan dari FIFA pada tahun 1998, atau tiga tahun setelah PFA diakui oleh AFC di tahun 1995.

Bagi rakyat Palestina, pengakuan atas AFC dan FIFA begitu penting. Olahraga menjadi bagian dari perlawanan. Ketua PFA, Jibril Rajoub dikutip dari laman Al-Jazeera, mengatakan, bahwa ia percaya olahraga dapat menjadi alat untuk mengungkapkan penderitaan rakyat Palestina.

Selain itu, lanjut Rajoub, Timnas Palestina bisa menjadi lokomotif yang membawa tekad, motivasi, dan komitmen masyarakat Palestina untuk mencapai tujuan dan cita-cita mereka.

Timnas Palestina pun makin berprestasi saat di sana mayat bergelimpangan, darah menggenang, dan sedu sedan tangis terdengar. Lihat saja di tabel peringkat FIFA. Sejak 2020, Palestina tidak pernah terlempar dari ranking 100 besar.

Kelolosan mereka ke fase gugur di Piala Asia lalu dan putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia kian memantik harapan masyarakat Palestina di tengah penderitaan yang mereka alami.

Venue Palestina dan Jungkir Balik Liga

Sampai sini barangkali ada yang penasaran, sementara Palestina dihujani rudal IDF, kalau menggelar laga kandang, mereka akan bermain di mana? Biasanya Palestina memilih bermain di Yordania maupun Qatar. Soal pemain, Timnas Palestina diperkuat oleh pemain yang bermain di klub-klub Palestina.

Selain itu, mereka juga dipenuhi pemain yang abroad di Swiss, Belgia, Chile, Thailand, dan Indonesia. Tentu kamu mengenal Mohammed Rashid dan Jonathan Cantillana bukan? Nah, dua pemain yang pernah atau sedang bermain di Indonesia itu masuk skuad Lions of Canaan.

Palestina sendiri memiliki dua liga domestik. Pertama, West Bank League atau Liga Tepi Barat. Liga yang diikuti 12 tim ini mulai dihelat pada musim 1976/77 usai Israel ditendang dari AFC. Kedua, Gaza Strip Premier League. Mengutip PanditFootball, liga ini mulai bergulir pada musim 1984/85. Namun, ia tidak banyak dipilih daripada Liga Tepi Barat.

Bergulirnya liga di Palestina juga tak mudah. Agresi Israel terkadang mengakibatkan penundaan laga. Jika di Indonesia masih malas memerhatikan pembinaan usia dini, PFA semangat melakukan itu. Namun, masalahnya, bocah yang mau dibina acap kali sudah sampai ke surga.

Prestasi Kirgistan

Syahdan, kita masuk ke Kirgistan. Selama ini, Kirgistan tak pernah qualified ke Piala Dunia. Perjalanan mereka paling jauh adalah di putaran kedua Kualifikasi Piala Dunia zona Asia. Nah, di edisi 2026, Kirgistan lolos ke putaran ketiga setelah menahan imbang Oman di laga pamungkas Grup D.

Mereka mengoleksi 11 poin, yang tidak bisa dikejar oleh, ehm, Malaysia. Sementara, di Piala Asia, Kirgistan baru tiga kali lolos, yaitu di tahun 2019, 2023, dan 2027 mendatang. Kirgistan pernah ke 16 besar Piala Asia, yakni di edisi 2019.

Kirgistan memang jarang berkompetisi. Di CAFA Nations Cup, kompetisi sepak bola negara-negara Asia Tengah, Kirgistan juga baru sekali ambil bagian, yakni 2023. Namun, berhasil finis di peringkat keempat.

Diakui AFC dan FIFA

Kirgistan salah satu dari 15 negara pecahan Uni Soviet. Republik Kirgistan baru mendeklarasikan kemerdekaan pada 31 Agustus 1991. Namun, cikal bakal negara Kirgistan sudah berdiri pada awal 1990-an dengan nama RSS Kirghiz.

Nah, enam bulan setelah deklarasi kemerdekaan, pada Februari 1992, Federasi Sepak Bola Kirgistan berdiri. Dua tahun berikutnya Federasi Sepak Bola Kirgistan bergabung dengan FIFA dan AFC. Baru pada tahun 2020, Federasi Sepak Bola Kirgistan mulai dikenal dengan nama Kyrgyz Football Union.

Masalah Dana

Ada yang bilang liga yang baik menghasilkan timnas yang baik. Padahal ada juga negaranya yang liganya amburadul, tapi timnasnya baik. Karena kadang-kadang liga domestik tak berguna menaikkan citra politik. Namun, Kyrgyz Premier League atau Liga Kirgistan tidak demikian.

Liga Kirgistan terurus. Hanya saja perkembangannya terhambat. Bukan, bukan karena kebijakan yang katrok, melainkan pendanaan yang mengkis dua. KFU hanya mendapatkan dana dari FIFA sekitar 250 ribu dolar (Rp4,1 miliar) per tahun. KFU sendiri tidak mendapatkan dana dari publik, atau kalaupun ada, dananya tak banyak.

Tidak mengejutkan, karena Kirgistan sendiri negara keenam termiskin di Asia. PDB per kapita mereka hanya 1.173 US Dolar (Rp19,2 juta). Sebanyak 32% dari 6,7 juta lebih penduduk Kirgistan (per 2023) hidup di bawah garis kemiskinan.

Lalu, Bagaimana Timnasnya Bagus?

Dengan dana cekak dan keterbatasan bakat, KFU mencari bantuan ke luar negeri. Belakangan ini mereka sering merekrut pelatih dari Rusia, terutama sejak 2012. Sergey Dvoryankov, Aleksandr Krestinin, Stefan Tarkovic, hingga yang sekarang Maksim Lisitsyn.

Selain itu, Timnas Kirgistan mengandalkan pemain keturunan. Lihat saja di skuad mereka ada Joel Kojo, pria yang lahir di Accra, Ghana. Selain Kojo, Kai Merk juga bukan pemain yang lahir di Kirgistan, tapi Dahn, sebuah distrik di Hutan Palatinate, Jerman.

Akhirul kalam, pencapaian Timnas Palestina dan Kirgistan di Kualifikasi Piala Dunia 2026 membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi.

Sumber: ESPN, AlJazeera, CNNIndonesia, PanditFootball, Kirguistan, Novastan, Kompasid, Voi

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru