Bagi Napoli kemenangan adalah harga yang tidak bisa ditawar. Itulah mengapa mereka tampil militan saat menghadapi AS Roma pekan lalu. Para pemain Giallorossi haram untuk bisa melewati pertahanan Napoli. Apalagi untuk bisa mencetak gol.
Sebaliknya, Napoli terus menggempur pertahanan anak asuh Jose Mourinho. Gempuran anak asuh Luciano Spalletti membuahkan hasil. Menit 80, striker incaran MU, Victor Osimhen lepas dari tekanan Chris Smalling. Ia melepaskan tendangan voli yang membuat Rui Patricio tak berdaya dan Mourinho memegangi kepalanya.
Skor 1-0 bertahan hingga bubar. Kemenangan ini membuat Napoli nyaman di puncak klasemen Serie A. Partenopei kokoh tak terusik. Si Keledai Kecil membuat Liga Italia semakin menarik.
Daftar Isi
Paradoks Napoli
Kemenangan atas AS Roma menambah daftar panjang catatan positif il Partenopei. Total, Napoli belum terkalahkan dalam 11 pertandingan di Serie A. Itu belum dihitung dengan 4 laga di Liga Champions yang juga tidak terkalahkan. Terlepas dari laga kontra Rangers.
Rekor itu selain hebat juga mengejutkan. Catatan manis Napoli di awal musim ini menjadi paradoks bagi mereka sendiri. Sebelum liga bergulir, klub berjuluk Si Keledai Kecil sudah gembos di sana-sini. Para fans geram karena beberapa pilar lepas.
▪️ Top of Serie A
▪️ Top of their Champions League group
▪️ Unbeaten in all competitionsNapoli are rolling this season 💯 pic.twitter.com/9Mr2kiyLJ7
— B/R Football (@brfootball) October 23, 2022
Dries Mertens, Kalidou Koulibaly, Lorenzo Insigne, sampai Fabian Ruiz semua lepas. Pertanyaan pun muncul, bisa apa Napoli tanpa pemain pilarnya? Putus asa di tubuh Napoli kian menyeruak ketika pelatih mereka, Luciano Spalletti juga tidak yakin pada timnya sendiri.
Jelang musim 2022/23 mulai, Spalletti pesimis pada timnya. Di tengah desakan agar Napoli bisa scudetto di musim yang akan datang, Spalletti membunuh harapan itu. Musim belum mulai, dilansir Football Italia seperti dikutip Voi, Spalletti mengatakan, jangankan scudetto, finis lagi di zona Liga Champions bagi Napoli sangat sulit.
Tidak keliru Spalletti mengatakan itu. Napoli memang compang-camping di awal. Yang begini masa mau scudetto? Tapi di awal musim ini, peluang Napoli untuk meraih scudetto justru terbuka lebar. Apalagi Inter dan Juventus sedang berproses menjadi klub medioker.
Bukan hanya rekor tak terkalahkan, keran gol Napoli juga sulit ditutup. Dari 20 tim di Serie A, Napoli paling produktif dengan 26 gol. Meski jumlah kebobolannya masih lebih banyak dari Atalanta. Napoli kebobolan 9 gol, sedangkan Atalanta 8 gol.
Hadirnya Pilar Baru yang Oke Punya
Jumlah kebobolan bukan masalah bagi Napoli. Terpenting meski kebobolan, tapi masih sanggup untuk menang atau minimal terhindar dari kekalahan. Sebab kalah itu menyakitkan, kalau nggak percaya tanyakan saja pada Liverpool.
Beringasnya Si Keledai Kecil di awal musim ini dipengaruhi oleh Luciano Spalletti. Ia adalah sosok pelatih yang punya reputasi sebagai pelatih yang tepat di waktu yang salah. Dengan hengkangnya para pilar, Spalletti diprediksi akan kembali bernasib serupa.
Untung saja tidak begitu. Spalletti cerdik dalam merekrut pemain. Ia tahu De Laurentiis pelitnya naudzubillah. Ditambah lagi sang presiden ingin Napoli menghemat soal gaji. Spalletti pun mesti bersiasat mencari pemain untuk menambal pilar-pilar yang pergi.
Zambo Anguissa, Giacomo Raspadori, Khvicha Kvaratskhelia, sampai Kim Min-jae merapat. Entah itu dengan cara dipinjam maupun dibeli. Pemain-pemain tadi bisa menjadi jawaban Spalletti. Meski secara nama, para pemain tadi bukan pemain kelas atas.
🇬🇪Khvicha Kvaratskhelia (21)
Height: 1.83m
Position: LWG
Foot: Both
Current club: 🇮🇹Napoli
Contract expires: Jun 30, 2027pic.twitter.com/CrFRsBNeo5— MCFC BLUE FOREVER (@KDB17MCBM) October 20, 2022
Kualitas Strategi Spalletti
Spalletti beruntung mendapat pemain yang tidak mahal tapi tepat. Tepat untuk kebutuhan tim, tepat untuk strateginya. Kita semua tahu, Spalletti, walaupun belum pernah meraih scudetto adalah pelatih yang cerdas. Ia merekrut pemain yang sesuai kebutuhannya dan pemain yang tidak rewel.
Soal taktik, Spalletti adalah pelatih yang sedikit kolot. Taktiknya sangat konservatif. Pun ia lakukan itu pada Napoli musim ini. Namun, meski taktiknya tradisional, bahan-bahan yang dipakai adalah pemain yang masih segar, bukan para pemain reyot.
Setiap bertanding, Spalletti akan memakai skema 4-3-3 atau 4-2-3-1. Paling sering sih yang pertama. Ia selalu menaruh Lobotka, Anguissa, dan Piotr Zielinski di lini tengah. Tiga gelandang itu punya peran yang berbeda. Lobotka sering diminta turun, Zielinski jadi juru gedor dan alternatif, sedangkan Anguissa adalah jenderalnya.
André-Frank Zambo Anguissa (26) 🇨🇲 is in the form of his LIFE! 🎥
First player comp on this account. Show love if you want more!#SerieAScouting #Napoli
— Serie A Scout ⭐️🇮🇹 (@SerieAScout_) October 7, 2022
Zambo Anguissa menjadi gelandang penyeimbang sekaligus jembatan antarlini. Ia bisa turut membantu Lobotka, bek sayap, dan penyerang sayap untuk melakukan tekanan dengan menciptakan situasi overload di sebelah kiri maupun kanan lapangan. Anguissa juga pengumpan yang jitu.
Menurut Fbref, akurasi umpan Anguissa mencapai 88,9%. Dengan total umpan suksesnya mencapai 439. Anguissa rajin melakukan umpan progresif yang berujung tembakan, dengan total 17 umpan. Tak ayal ia jadi aktor Napoli ketika melakukan serangan balik.
Membuat Lawan Selalu Meninggalkan Ruang Kosong
Spalletti sering meminta pemainnya untuk menekan dengan cara menciptakan situasi overload di satu sisi. Menarik semua pemain lawan di sisi tersebut dan membuat ruang di sisi yang lain terbuka. Dilansir Football Italia, Spalletti bahkan bilang tidak ada sistem di permainannya.
“Ini tentang ruang yang ditinggalkan lawan. Anda harus cepat mengenali mereka dan mengetahui waktu yang tepat untuk menyerang,” kata Spalletti.
Sesederhana itu memang strategi si pria botak. Tapi strategi yang sederhana akan terlihat sangat mematikan karena Napoli, sekali lagi punya amunisi yang segar. Spalletti punya para pemain sayap yang bisa mengeksploitasi ruang kosong dengan cepat. Kvaratskhelia dan Hirving Lozano, misalnya.
Kvara baru-baru ini menjadi yang paling sering dibicarakan. Apalagi sejak ia mengobrak-abrik pertahanan Liverpool. Pemuda Georgia itu memiliki kecepatan dan dribel yang mumpuni. Fbref mencatat, Kvara sudah melakukan 28 kali dribel sukses dari 55 percobaan. Kvara juga sudah 53 kali mengirim bola ke pertahanan lawan.
Ketika lini belakang #Liverpool dibuat tak berdaya oleh Khvicha Kvaratskhelia 🔥🔵#UCL pic.twitter.com/QDUumlVwnT
— GOAL Indonesia (@GOAL_ID) September 10, 2022
Lozano juga tak kalah bagus dari Kvara. Pemain Meksiko itu sudah melakukan 11 kali dribel sukses dari 16 percobaan. Ia juga aktif dalam mengirim bola ke jantung pertahanan lawan dengan total 51 kali. Soal penyelesaian, Spalletti masih bisa mengandalkan Osimhen, Raspadori, maupun Giovanni Simeone.
Spalletti menuntut pemainnya agar selalu memenangi perebutan bola, termasuk duel udara. Menurut Who Scored, Partenopei rata-rata melakukan duel udara 14,2 di setiap pertandingan, 16 tekel per game, dan 7 kali intersep per pertandingan di Serie A. Juan Jesus, Anguissa, dan Kim Min-Jae adalah pemain yang paling sering melakukan intersep.
Rencana De Laurentiis Mulai Berhasil
Bagusnya Napoli tentu saja bikin De Laurentiis tersenyum. Ini bukan soal penampilan tim yang apik saja. Melainkan rencana De Laurentiis yang sepertinya akan berhasil. Ia ingin mengurangi beban gaji, tapi kualitas tim tetap terjaga. Laurentiis ingin meniru AC Milan.
Menurut analisis Calcio e Finanza seperti dikutip Forbes, Napoli sudah mengurangi gaji para pemainnya 30%. Tagihan upah Si Keledai Kecil juga menurun. Dari 100 juta euro (Rp1,5 triliun) di musim sebelumnya, menjadi 70 juta euro (Rp1 triliun) pada musim ini.
Dua musim ini, Napoli kembali ke relnya. Partenopei punya segala yang dibutuhkan untuk menjadi penantang gelar, sekaligus bisa berhemat. Laurentiis memang cerdik meski pelit dan kikir. Tapi beruntungnya, Napoli punya Luciano Spalletti. Ia yakin dengan penampilan Napoli sekarang, Diego Maradona pasti bangga.
https://youtu.be/N-yhCuQO1VE
Sumber: BetweenThePosts, Forbes, France24, MilanReports, Voi, TheAthletic


