Bundesliga Jerman, seringkali disebut sebagai kompetisi bermukimnya para pemain muda berbakat. Satu klub yang sering disebut sebagai tempat ternyaman bagi bakat-bakat hebat di seluruh dunia adalah Borussia Dortmund. Tidak seperti FC Bayern yang tak jarang hanya menuai hasil dari kerja keras tim lain, klub yang bermarkas di Signal Iduna Park justru sebaliknya. Mereka mencari bibit ke seluruh pelosok dunia, sampai menemukan dan menumbuhkannya menjadi seorang pemain jempolan.
Salah satu contoh dari kejelian Dortmund dalam melirik bakat muda adalah ketika mereka berhasil memenangi persaingan dalam perebutan penyerang asal Polandia, Robert Lewandowski. Awalnya banyak yang menyebut bila Lewandowski tak benar-benar bisa menjadi penyerang tajam. Dia bahkan sempat dianggap terlalu kurus untuk menjadi seorang pemain bola.
Namun ketika berada di Lech Poznan, sang pemain sukses menunjukkan bakatnya. Dari situ, Dortmund melihat ada sesuatu yang istimewa dari Robert Lewandowski. Tanpa pikir panjang, meski penyerang yang kini membela FC Bayern itu sempat akan terbang ke Blackburn, dirinya lalu menapaki destinasinya di Signal Iduna Park.
Manajemen Dortmund merasa serasi dengan potensi yang dimiliki Lewandowski. Meski bukan menjadi perjalanan yang ringan bagi Lewandowski, setelah ia kalah bersaing dengan striker asal Uruguay Lucas Barrios, Jurgen Klopp yang tertarik menempatkan sang pemain sebagai striker utama langsung mendapatkan sesuatu yang begitu menggelegar.
Biaya senilai 4,5 juta pounds berbuah sangat manis. Lewandowski mampu berkembang menjadi seorang penembak jitu, sekaligus monster bagi para tim lawan. Bahkan meski kini sudah dijual ke FC Bayern, nilai jualnya mencapai 60 juta euro atau setara lebih dari 1 triliun rupiah.
Dalam beberapa tahun belakangan, Borussia Dortmund juga masih gencar mengumpulkan para pemain-pemain muda yang tersebar di seluruh dunia. Malah, uniknya, klub tersebut juga tak sampai harus mengeluarkan effort lebih untuk bisa mendapatkan seorang pemain muda potensial. Tak jarang, sang pemain sendiri lah yang memang berniat meniti karir di Dortmund.
Contoh nyata dari ungkapan tersebut adalah Erling Haaland. Sebelum resmi mendarat di klub berjuluk Die Borussen, Erling Haaland banyak diburu oleh klub-klub besar Eropa, dari mulai Manchester United sampai dengan Real Madrid. Akan tetapi, secara terang-terangan dia menolak dan mengatakan bila tujuannya adalah memang Borussia Dortmund.
Haaland mengungkapkan bila ia senang dengan pendekatan yang dilakukan Dortmund. Selain itu, dia juga merasa bahwa Dortmund adalah tim yang tepat baginya untuk berkembang. Ia merasa nyaman dan begitu percaya diri ketika Dortmund melayangkan tawaran sebesar 17 juta pounds atau setara dengan 326 miliar rupiah.
“Aku suka bagaimana mereka berbicara kepadaku. Aku juga merasa bahwa hanya Dortmund yang bisa menjadi pilihan yang tepat,” ujar Haaland (via FourFourTwo)
Sebelum Haaland, ada nama Ousmane Dembele yang begitu sukses di Dortmund dan dibeli dengan harga selangit oleh FC Barcelona. Kemudian, Pierre Emerick Aubameyang yang kini menjadi andalan di lini depan Arsenal. Yang tak kalah tenar adalah pembelian Christian Pulisic yang pada akhirnya ditebus oleh Chelsea dengan harga mahal.
Kemudian yang terbaru adalah nama Achraf Hakimi. Hakimi memang hanya menjadi pemain pinjaman dari Real Madrid. Namun ketika bakat sang pemain tidak mampu dimanfaatkan dengan baik oleh raksasa Spanyol, Dortmund seolah menjadi tempat terbaik untuk memulai ulang segalanya.
Hakimi menjadi pemain yang begitu diandalkan di sisi lapangan dan sukses menarik minat banyak klub besar. Situasi Real Madrid yang tampak tidak terlalu serius menangkap kembali bakat Hakimi pun dimanfaatkan oleh Inter Milan yang berani mengeluarkan dana senilai 40 juta euro atau setara 684 miliar rupiah, untuk menebus pemain yang berhasil mencetak 9 gol dan 10 assist untuk Die Borussen.
Pada saat ini, selain Erling Haaland yang menjadi pemain muda potensial yang dimiliki Dortmund, masih ada nama Jadon Sancho yang begitu melambung tinggi dan diburu oleh kebanyakan klub besar Eropa. Dia ditampung oleh Dortmund ketika dianggap tidak terlalu baik oleh Manchester City. Namun nyatanya, pemain asal Inggris itu justru menjadi pemain paling diburu saat ini.
Lalu sekarang pertanyaannya adalah, bagaimana Borussia Dortmund bisa mengumpulkan bakat-bakat muda di seluruh dunia, dan menciptakan suasana nyaman bagi para bintang mudanya?
Salah satu alasan kesuksesan Borussia Dortmund mengumpulkan bakat-bakat besar adalah berkat peran Michael Zorc.
Michael Zorc, seperti yang kita tahu, merupakan salah satu legenda terbaik yang dimiliki Dortmund. Dia, yang setelah pensiun sebagai pemain langsung menjabat sebagai direktur olahraga Dortmund. Ada banyak pengalaman yang dirasakan Zorc. Dari mulai menjadi saksi kesuksesan tim kuning dalam menjungkalkan dominasi Bayern, dibawah asuhan Jurgen Klopp, sampai yang masih dibahas saat ini, yaitu mendatangkan banyak sekali pemain muda berbakat.
Zorc merupakan sang negosiator handal. Dia adalah orang dibalik kesuksesan transfer Marco Reus, Mario Goetze, Mats Hummels, Pierre-Emerick Aubameyang, Robert Lewandowski, Shinji Kagawa, Jadon Sancho, sampai Erling Haaland.
Melalui pendekatan yang luar biasa, Dortmund bahkan disebut sebagai klub yang tidak hanya mampu mengembangkan bakat pemain muda, namun juga memberi kesempatan bagi mereka untuk mendapat menit bermain. Dari situlah, banyak pemain muda yang tertarik dan merasa nyaman dengan kepercayaan yang diberikan Dortmund.
Sudah banyak contoh dari kasus ini. Mereka yang sempat terbuang di tim lama, malah mampu berkembang dan menjadi andalan di Borussia Dortmund.
Dalam membentuk pemain muda menjadi seorang pemain jempolan, Dortmund memiliki caranya sendiri, yang tentu saja tetap membuat semua pemain merasa nyaman.
Direktur akademi muda Dortmund, Lars Ricken, terus menanamkan kepada seluruh anak didiknya bahwa mereka harus memiliki mental pemenang. Mereka diminta untuk terus disiplin namun dalam porsi yang menyenangkan.
“Akademi Borussia Dortmund bukanlah taman hiburan yang besar. Kami tidak ingin memanjakan para pemain. Tapi, kami akan selalu memberi rasa nyaman dengan menemani mereka selama 70 sampai 80 jam per minggu,” (via situs resmi bundesliga)
Lebih dari itu, Ricken menekankan bahwa para pemain juga selalu dibekali nilai-nilai diluar pelatihan teknik sepakbola, seperti misalnya kerjasama, rasa hormat, dan hal serupa lainnya. Dengan begitu, mereka benar-benar belajar untuk berkembang. Meski tidak semua menjadi yang terbaik, namun setidaknya mereka akan menjadi pemain yang akan saling membantu dan saling hormat.
Segala pendekatan dan perlakuan yang dilakukan oleh seluruh manajemen klub nyatanya memang berbuah manis. Dari mulai perekrutan sampai dengan langkah-langkah yang bakal dilewati sang pemain, semua berjalan sesuai dengan rencana.
Maka dari itu, sekali lagi, wajar bila Borussia Dortmund dianggap sebagai habitat terbaik bagi para bibit muda berbakat yang tersebar di seluruh dunia.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=ukiu9a-Fq8w[/embedyt]
Sumber referensi: Bundesliga, Offpitchtalks, FourFourTwo, Bundesliga


