Tepat pada tahun 2004 lalu, secara mengejutkan FC Porto yang sama sekali tidak menjadi unggulan di kompetisi Liga Champions Eropa sukses keluar sebagai juara. Perjalanan yang amat menakjubkan juga berhasil mereka ciptakan.
Di partai final, Porto yang dilatih oleh Jose Mourinho berhasil menyabet gelar juara setelah menumbangkan perlawanan AS Monaco. Duel final musim itu memang penuh kejutan. Porto harus menghadapi AS Monaco, dua tim yang sama kuda hitam, bukan favorit tapi mengejutkan dengan kekuatan mereka.
Meski diprediksi laga bakal berjalan seru, nyatanya Porto malah berhasil menghajar Monaco dengan skor telak 3-0. Komposisi skuad Mourinho tidak terlalu mentereng, tapi pas sesuai porsinya. Para pemain memainkan perannya dengan baik, dimana salah satunya ada nama Maniche Ribeiro..
Maniche sendiri bukan nama asing bagi penggemar sepakbola, khususnya di awal milenium baru. Maniche adalah sosok gelandang tangguh yang berasal dari Portugal. Tepat pada November lalu, pemain yang gemar memakai bandana itu baru saja merayakan ulang tahunnya ke 43. Tak terasa sudah sekian lama dia berhenti dari dunia sepakbola.
Meski aksinya sudah tak dapat kita saksikan lagi, setidaknya, deretan prestasi sekaligus momen-momen tentang dirinya tak akan pernah terlupakan.
Kisah luar biasa Maniche sendiri berawal dari tim junior Benfica, ketika ia memulainya pada musim 1995/96. Sempat dipinjamkan ke FC Alverca selama tiga musim, pemain yang mengawali kariernya sebagai winger itu kemudian kembali ke klub induknya pada musim 1999/00.
Menjelma sebagai bintang tiga musim lamanya di Estadio Da Luz, pemain bernama asli Nuno Ricardo de Oliveira Ribeiro, kemudian dijuluki Maniche. Julukan itu merujuk pada permainannya yang mirip legenda As Aguias di periode 1980-an, Michael Manniche. Pada akhirnya julukan itu terus melekat dan jadi nama panggungnya di dunia sepakbola.
Di klub tersebut, Maniche tampil sangat mengesankan. Perkembangannya ketika itu pun tak luput dari sosok luar biasa bernama Jose Mourinho. Dari situ hubungan Maniche sebagai penggawa kesayangan Mourinho mulai terjalin. Saling menguntungkan satu sama lain, kedua pesohor lapangan hijau itu mampu tunjukkan kombinasi hebat. Maniche pun tanpa ragu mengatakan bila Mourinho memang sosok luar biasa, bahkan sejak dirinya berusia muda.
Maniche mengenang masa-masa saat menjadi pemain asuhan Jose Mourinho. Meski hal itu sudah berlalu 20 tahun silam sejak Maniche pertama kali bermain untuk Mourinho di Benfica.
Dia mengungkapkan, para pemain Benfica kala itu mendapat pengalaman pertama dilatih sosok yang sangat memahami manajemen manusia. Menurutnya, kharisma Mourinho sudah terbangun sejak awal karirnya sebagai pelatih.
“Cara kerja dan komunikasi Mourinho merupakan hal baru dan luar biasa. Kepercayaan dirinya yang ditransmisikan begitu kuat. Sehingga kami yakin kami semua pemain luar biasa,” kata Maniche
Salah satu momen yang dia kenang adalah ketika salah satu rekan setimnya, Karel Poborsky, punya keinginan besar kepada Mourinho. Dan Mourinho pun menunjukkan reaksi yang sangat luar biasa terhadap Poborsky yang merupakan mantan pemain Manchester United.
Diceritakan, ketika klub bakal menghadapi Boavista, Poborsky meminta secara langsung kepada Mourinho posisi nomor 10. Tanpa pikir panjang, Mourinho langsung memanggil Poborsky ke ruang ganti untuk menjelaskan mengapa dia menginginkan hal itu.
Menurut Maniche, dari salah satu contoh tersebut, sikap Mourinho tidak seperti pelatih lainnya. Dia akan benar-benar mendengarkan pemain dan memberi pemahaman tentang apa yang harus dilakukan di lapangan.
Maniche begitu menghormati Mourinho. Bahkan, hal itu dibuktikan dengan buku biografi Maniche yang mana kata pengantarnya ditulis langsung oleh sang manajer.
“Bukan kebetulan dia (Mourinho) menulis kata pengantar untuk buku biografi ku. Kata-katanya sangat kuat dan mencerminkan siapa aku. Dia sosok pelatih yang membawa seorang pemain dan memberikan jaminan,” ujar Maniche.
Setelah tampil bersama Benfica, perjalanan karir Maniche lalu mencapai puncaknya pada saat dia mulai bergabung dengan FC Porto. Dia mulai membela klub tersebut pada musim 200/03, dimana pelatih Jose Mourinho juga baru saja menandatangani kontraknya dengan klub yang bermarkas di Stadion do Dragão.
Di FC Porto, Jose Mourinho kemudian menggeser posisinya sebagai winger menjadi seorang gelandang tengah. Hasilnya pun sangat brilian. Di musim pertamanya bersama Porto, perkembangan Maniche di lini tengah langsung melejit. Kontribusinya tak hanya mentok di liga domestik saja, namun juga di level Eropa.
Di musim perdananya, Maniche berhasil sumbangkan empat gelar sekaligus, yang meliputi Piala Super Portugal, Piala Portugal, Liga Portugal, dan Piala UEFA.
Yang paling menggelar tentu seperti yang sudah dijelaskan yaitu ketika Maniche yang beroperasi di lini tengah berhasil membantu Porto meraih gelar Liga Champions Eropa untuk kali kedua sepanjang sejarah.
Dalam hal ini, Mourinho yang tak pernah ragu atas kualitas Maniche mengatakan,
“Aku selalu yakin Maniche punya mental pemenang,” kata Mou.
Malah, saking dekatnya hubungan pemain-pelatih ini, Maniche di ruang ganti selalu disebut sebagai ‘Godfather Maniche’, karena dirinya tak tersentuh dan selalu mendapat kepercayaan Jose Mourinho.
Setelah berhasil membawa Porto meraih gelar juara Eropa, Maniche yang kemudian tampil di Piala Eropa bersama timnas Portugal juga tak kalah luar biasa. Meski pada akhirnya gagal meraih gelar juara, dia sukses mengantar tim samba Eropa sampai ke partai final.
Di turnamen tersebut, dia berhasil mencetak dua gol, dan gol-nya dalam kemenangan 2-0 atas Belanda di babak semifinal, terpilih sebagai gol terbaik turnamen.
Tak sampai disitu saja, ketika Portugal turut berpartisipasi di turnamen Piala Dunia 2006, Maniche juga berhasil membawa negaranya melaju hingga ke partai semifinal. Kesuksesannya bersama timnas maupun klub pun akan selalu dikenang sebagai salah satu yang terhebat.
Uniknya, perjalanan karir Maniche setelah itu masih diliputi dengan nama Mourinho. Ketika sang pelatih ditunjuk sebagai pelatih Chelsea, Maniche juga turut dibawanya ke London. Namun sayang, setelah itu, karirnya tak lagi bersinar. Dia kerap berpindah klub, termasuk Internazionale Milano, sebelum akhirnya pensiun di Sporting Lisbon pada 6 Juli 2011, karena cedera yang tak kunjung sembuh.
Selepas gantung sepatu, Maniche tampak terinspirasi untuk mengikuti jejak Mourinho. Ia pun mulai meniti karir sebagai asisten pelatih di beberapa klub Portugal.
Petualangan pertamanya sebagai pelatih datang saat menerima tawaran sebagai asisten pelatih Pacos Ferreira pada tahun 2013 lalu, kemudian pindah ke Academica di 2016 silam juga masih sebagai asisten pelatih, meski kini ia belum lagi terlihat memiliki klub untuk ditangani.
Selain serius meniti karir sebagai seorang pelatih, Maniche juga aktif menggeluti pekerjaan sebagai seorang komentator di salah satu televisi Portugal.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=zE2A67Z0u7A[/embedyt]
Sumber referensi: planetfootball, wikipedia


