BERANI Potong Generasi! Cara Shin Tae-yong Bangun Timnas Indonesia

spot_img

Berkembangnya timnas di era Shin Tae-yong tak luput dari cara yang telah ia lakukan selama ini. Banyak cara yang sudah dilakukan mantan pelatih Korea Selatan tersebut. Tak terkecuali soal regenerasi pemain timnas. Tak dipungkiri Coach Shin berani dan tanpa ragu memotong satu generasi timnas demi mendapatkan generasi timnas yang baru dan unggul.

Timnas Era Alfred Riedl

Munculnya pemain muda sangat jarang kita temui di era pelatih timnas terdahulu. Misal Alfred Riedl. Masih ingat ketika timnas kita heboh masuk Final Piala AFF 2010? Skuad timnas kala itu didominasi kaum tua seperti Firman Utina, M. Ridwan, Zulkifli Syukur, Ahmad Bustomi, Hamka Hamzah, maupun Cristian Gonzales.

Begitupun ketika pelatih Austria tersebut menukangi timnas untuk periode keduanya pada tahun 2013 hingga 2014. Di Piala AFF 2014, para pemain tua masih dipertahankan, seperti Zulkifli Syukur, M. Ridwan, Firman Utina, maupun Cristian Gonzales. Padahal ketika itu muncul beberapa punggawa Timnas U-19 asuhan Indra Sjafri seperti I Putu Gede, Muchlis Hadi Ning, Hargianto, Zulfiandi, dan masih banyak lagi.

Angin Segar Luis Milla

Angin segar pemanggilan pemain muda ke timnas senior sebenarnya diharapkan ketika mantan pelatih Spanyol U-21, Luis Milla ditunjuk sebagai pelatih Timnas Garuda pada tahun 2017. Luis Milla ikut membantu PSSI untuk meluruskan filosofi yang sudah mereka punyai, yakni Filanesia atau kurikulum sepakbola yang diterapkan di beberapa sekolah sepakbola (SSB) seluruh Indonesia.

Milla kemudian membuktikan kapabilitasnya sebagai pelatih, namun bukan di kompetisi selevel AFF. Namun, Milla turun menangani Timnas Indonesia U-23 di ajang Asian Games. Pada saat itulah, ia memunculkan nama-nama baru di kancah sepak bola tanah air. Bagas Adi, Ricky Fajrin, Septian David, Saddil Ramdani, maupun Febri Haryadi ikut dalam rombongan skuad tersebut.

Nama-nama tadi, yang kebanyakan usianya masih cukup muda kemudian menjadi pilar Timnas Indonesia senior. Sayangnya, Milla tidak menemani mereka di Piala AFF 2018, karena keburu dipecat. Sang asisten, Bima Sakti kemudian melanjutkan kiprahnya sekaligus tanggung jawab untuk mengembangkan bakat muda.

Awal Kehadiran Shin Tae Yong

Ironisnya, pengembangan bakat muda semacam itu mandek di era Simon McMenemy. Sampai akhirnya datang pelatih dari Korea Selatan, Shin Tae-yong pada tahun 2020. Dilansir CNN, sejak awal kedatangannya, Coach Shin langsung membicarakan sebuah regenerasi pemain.

Perkataan Shin Tae-yong dibuktikan di Piala AFF 2020. Timnas dihuni oleh banyak muka baru yang belum pernah tampil di ajang Piala AFF sebelumnya. Seperti Pratama Arhan, Nadeo, Asnawi, Syahrian, Dewangga, Rahmat Irianto, maupun Ramai Rumakiek. Bahkan dilansir Bola.net, rataan usia pemain timnas di Piala AFF 2020 adalah 23,8 tahun. Itu merupakan rataan skuad termuda di antara para peserta Piala AFF 2020.

Meski hasilnya kurang maksimal karena belum juara, namun setidaknya proses yang dilakukan Shin Tae-yong di awal kepemimpinannya patut untuk diapresiasi. Buktinya beberapa pemain yang dipanggilnya itu lambat laun menjadi embrio bagi generasi baru Timnas Indonesia hingga sekarang.

Memotong Satu Generasi Pemain Timnas

Banyak yang menyebut cara memotong satu generasi timnas itu sebagai sebuah hal yang terlalu berani diambil Shin Tae-yong. Awalnya, banyak yang mengkritik kebijakan Shin Tae-yong tersebut. Namun Shin Tae-yong bergeming. Ia maju terus dan percaya cara yang ia yakini itu adalah cara yang tepat.

Selain nama-nama bintang seperti Beto, Andritany, Boaz, Ferdinand Sinaga, maupun Zulham Zamrun, pemain muda di era pelatih sebelumnya seperti Febri Haryadi, Hansamu Yama, Ricky Fajrin, Septian David, maupun Putu Gede juga jadi korban pemutusan satu generasi timnas oleh Coach Shin.

Tapi mengapa Coach Shin dengan mudah melakukan regenerasi dengan memotong satu generasi timnas? Jawabannya adalah karena Coach Shin ketika itu merangkap jabatan sebagai pelatih U-19 dan U-23 timnas. Jadi, ia bisa tiap hari memantau para pemain muda potensial Timnas Indonesia yang dirasa cocok dalam sistem permainannya.

Alasan Shin Tae Yong Potong Generasi

Ada banyak alasan yang mendasari Coach Shin melakukan potong generasi timnas. Dilansir Goal, Coach Shin mempertimbangkan kondisi fisik pemain, motivasi, dan kecocokan dengan sistem permainan. Itulah kenapa kita bisa banyak melihat wajah baru pemain timnas Indonesia di era kepelatihannya.

Menurut Coach Shin, keberadaan pemain muda memudahkannya dalam mengatur dan didoktrin dengan sistem yang akan ia terapkan. Ketimbang para pemain yang sudah matang dan berumur. Selain itu faktor fisik yang masih prima dan motivasi bermain yang masih tinggi juga menjadi pertimbangan oleh Coach Shin.

Tren Anak Muda Dan Prestasi

Kebijakan berani dari Shin Tae-yong tersebut ternyata mampu berbuah hasil. Pemain muda baru mulai disegani, sebut saja Pratama Arhan, Asnawi, Marselino Ferdinan, maupun Ramadhan Sananta.

Tak hanya tren munculnya para pemain muda saja, namun hal itu juga sejalan dengan capaian prestasi yang didapat oleh timnas. Keberhasilan Shin Tae-yong mencapai Piala Asia U-23 dan senior, serta masih bertarung di fase Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia adalah sederet prestasi nyata yang telah diraih dari hasil pemotongan satu generasi timnas. Itu belum terhitung dengan ranking Timnas Indonesia yang meroket.

Tercatat oleh Bola.com, di babak Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Brunei pada Oktober 2023, rataan usia pemain yang dipanggil Coach Shin adalah 23,7 tahun. Termasuk salah satu yang termuda sejak timnas mengukir rekor rataan usia termuda pemain timnas ketika melawan Curacao pada September 2023, dengan 21,9 tahun.

Cara Baru Pemilihan Pemain Naturalisasi

Tak hanya soal pemain lokal saja yang dipotong satu generasinya. Pemain naturalisasi pun bernasib sama. Dulu pemain naturalisasi Indonesia kebanyakan dihuni pemain yang lama bermain di Indonesia. Sebut saja Cristian Gonzales, Beto, maupun Spasojevic.

Namun di bawah Shin Tae-yong kebijakannya berubah. Coach Shin dalam memilih pemain naturalisasinya memang tak sembarangan. Segi kualitas, usia, fisik, pengalaman di Eropa, serta kecocokan dalam sistem permainan menjadi bahan pertimbangan mantan pelatih Seongnam Ilhwa itu. Pemain seperti Marc Klok meski sudah di atas 30 tahun masih dipercaya Coach Shin hingga sekarang karena dirasa cocok dalam sistem permainannya.

Program pemilihan pemain naturalisasi ini juga didukung penuh oleh Ketua Umum PSSI yang baru, Erick Thohir. Beruntung timnas punya mantan pemilik Inter Milan yang punya banyak link di sepakbola eropa itu untuk mengurus sepakbola di Indonesia. Hasilnya terbukti, para pemain naturalisasi berkualitas berbondong-bondong mulai berseragam timnas.

Well, sekarang terbukti bahwa berkembangnya timnas di bawah Coach Shin salah satunya disebabkan oleh cara dia dalam memotong satu generasi timnas. Apalagi dukungan penuh dari PSSI dalam mendatangkan pemain naturalisasi berkualitas. Itulah kenapa Timnas Indonesia bisa jadi ngeri seperti sekarang ini.

Sumber Referensi : bola.com, bola.okezone, goal.com, bolasport, kompasiana, cnn, sportnsindonews, bola.com

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru