Mari kita memulai dengan sebuah premis. Piala Eropa alias EURO lebih sulit daripada Piala Dunia. Tahan dulu perdebatannya. Barangkali ada yang tidak sepakat dengan itu. Kebanyakan orang mungkin akan menganggap Piala Dunia harusnya jauh lebih sulit daripada EURO.
Apalagi yang namanya Piala Eropa itu lingkupnya hanya satu konfederasi saja. Ia seperti Piala Asia, Copa America, maupun Piala Afrika. Namun pada kenyataannya, tak sedikit pesepakbola, terutama yang bermain di EURO dan Piala Dunia meyakini bahwa Piala Eropa jauh lebih sulit ketimbang Piala Dunia.
Siapa pesepakbola yang bilang begitu? Dan benarkah EURO lebih sulit daripada Piala Dunia? Mari kita mengulasnya.
Daftar Isi
Mereka yang Bilang EURO Lebih Sulit
Belum lama ini, pemain yang diboyong Real Madrid dan salah satu pemain penting di Timnas Prancis, Kylian Mbappe mengeluarkan pernyataan yang menciptakan geger gedhen. Jelang dimulainya EURO 2024, pemain 25 tahun itu bilang, Kejuaraan Eropa lebih sulit daripada Piala Dunia FIFA.
“EURO itu rumit. Bagi saya lebih rumit daripada Piala Dunia,” tegas Kylian Mbappe.
Kylian Mbappe said Euro is more difficult to win than the World Cup because he hasn’t won it
In 5 years, he’ll say the UCL is more difficult to win at Real Madrid
He’s bringing that ‘it’s difficult mentality’ to Real Madrid 😂✍️ pic.twitter.com/ydMV5LfN6s
— Elias (@FCB_Elias1) June 4, 2024
Kendati Mbappe tidak menutup mata bahwa ada banyak tekanan ketika tampil di Piala Dunia. Namun, hal itu tak lantas membuat Piala Dunia menjadi ajang yang rumit. Piala Eropa atau EURO, menurut Mbappe, lebih sulit karena semua tim saling mengenal.
Para pemain juga sudah melawan satu sama lain sepanjang waktu. Dari segi taktik pun, katanya, banyak sekali kemiripan. Alasan Mbappe ini cukup masuk akal. Karena hanya mempertemukan para pemain Eropa, tentu dari gaya bermain, taktik, kualitas, semuanya hampir sama.
Alhasil setiap tim permainannya kebaca. Dan itu yang mungkin menurut Mbappe, membuat EURO lebih sulit. Pemain yang pernah mengantarkan Spanyol juara back to back, Xavi Hernandez segendang sepenarian dengan Mbappe.
Mengutip Sky Sports, menurut bekas pelatih Al-Sadd itu, memenangkan EURO jauh lebih sulit daripada Piala Dunia. Bermain di EURO, menurut Xavi, adalah ujian yang berat. Lagi-lagi alasannya adalah kekuatan yang setara.
In 2012 Xavi Hernandez was asked which is more difficult between winning the Euro or the World Cup, and he chose the Euro.
The Euro is always more valuable than a World Cup; especially one rigged on penalties. https://t.co/NalbivRg5E pic.twitter.com/liPMwIVm5X
— 𝗡𝗮𝗵𝘂𝗲𝗹 🇦🇷 𝕏 𓃵 (@RealGOA7) January 13, 2024
“Di Piala Dunia, mohon maaf, anda bisa menghadapi Honduras atau Arab Saudi. Di Piala Eropa siapa saja bisa mengalahkan anda,” katanya.
Wesley Sneijder jelang EURO 2012 silam juga mengatakan, EURO lebih sulit daripada Piala Dunia. Dikutip Reuters, menurut Sneijder, itu karena di Piala Eropa tidak ada tim-tim dari Afrika.
Mereka yang Tidak Sepakat
Pendapat kontra pun bermunculan. Terutama datang dari para pemain Timnas Argentina. Tak main-main, yang angkat bicara untuk menentang perkataan Mbappe adalah Lionel Messi.
La Pulga memulainya dengan pernyataan menohok. Bahwa EURO memang kompetisi yang penting, tapi di sana tidak ada Argentina yang juara dunia tiga kali, Brasil yang juara dunia lima kali, dan Uruguay yang juara dunia dua kali. Banyak para juara dunia di luaran sana, kata Messi, mengatakan bahwa Piala Dunia yang tersulit.
🚨🗣️ – Lionel Messi responds to Kylian Mbappé:
“Mbappe said that that the EURO’s are more difficult than the World Cup? He also said that the South American teams didn’t have the same high competition as the Europeans. Everyone values what they play.
The EURO’s is very… pic.twitter.com/R1CfltWCjA
— 𝐀𝐅𝐂 𝐀𝐉𝐀𝐗 💎 (@TheEuropeanLad) June 12, 2024
Punggawa Albiceleste lainnya, Emiliano Martinez dan Leandro Paredes juga tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan kalau EURO lebih sulit dari Piala Dunia. Sementara itu warrior kidal Setan Merah, Lisandro Martinez memberi komentar yang lebih bijak.
“Aku tidak mau meremehkan atau berasumsi apa pun. Semua kompetisi itu sangat sulit dimenangi,” kata Lisandro dikutip Clarin.
Tidak Ada yang Menjuarai EURO 4 Kali atau Lebih
Tidak akan selesai jika hanya menyuguhkan pendapat yang pro dan kontra. Kita juga perlu melihat faktanya. Pertama-tama harus diakui bahwa tidak ada satu pun negara yang sanggup menjuarai Piala Eropa empat kali atau lebih.
Bahkan gelar Eropa terbanyak pun cuma tiga, diraih oleh Spanyol dan Jerman. Tim Matador menjuarainya pada tahun 1964, 2008, dan 2012. Sedangkan Tim Panzer tahun 1972, 1980, dan 1996.
#OTD in 2008:
Spain beat Germany 1-0 in the final of Euro 2008. Fernando Torres scores the winning goal, while Xabi Alonso, Alvaro Arbeloa and Pepe Reina all pick up winners medals #lfc #onthisday #15yearsago pic.twitter.com/DVIyywo0Kb— Liverpool On This Day (@OnThisDayReds) June 29, 2023
Nah, jika di Piala Eropa negara yang paling banyak meraih gelar hanya tiga kali, di Piala Dunia bahkan satu negara bisa meraih gelar itu lima kali. Benar, Timnas Brasil sudah lima kali menggamit Coupe de Monde. Sementara Jerman dan Italia masing-masing mengoleksi empat gelar.
Namun, mesti ingat, Piala Dunia lebih dulu ada. Kompetisi sepak bola seluruh dunia itu ada sejak 1930. Sementara Piala Eropa baru dimulai 30 tahun berikutnya, yakni tahun 1960.
Hanya Satu Negara yang Bisa Back to Back Juara EURO
Sejak 1960 sampai tahun 2012, Kejuaraan Eropa hampir tidak menghasilkan satu pun negara yang bisa juara dalam dua edisi beruntun alias back to back. Namun, di 2012 muncul Spanyol asuhan Vicente del Bosque yang memecah kutukan tersebut.
Spain in 2008. Spain again in 2012 🏆🏆
They won back-to-back EURO titles with a World Cup win in between.
Pure dominance.#EURO2024 pic.twitter.com/iSNV85765O
— Optus Sport (@OptusSport) May 28, 2024
Itu adalah terakhir kalinya EURO melahirkan juara back to back. Sampai dimulainya edisi 2024, sang juara bertahan Piala Eropa masih gagal untuk menjuarainya lagi. Portugal yang juara edisi 2016, gagal di edisi 2020. Italia? Mereka belum terbukti di edisi 2024.
Sementara EURO cuma menghasilkan satu, di Piala Dunia sudah ada dua juara back to back. Ia adalah Italia yang juara 1934 lalu juara lagi pada tahun 1938. Lalu Brasil yang mengangkat trofi pada tahun 1958 dan 1962.
EURO Sering Menghadirkan Juara Baru
Sejak tahun 1960 juga tidak ada final yang terulang di Piala Eropa. 16 edisi, 16 final yang berbeda. Kalau di Piala Dunia, final yang sama kerap terulang. Final 1970 mempertemukan Brasil dan Italia. Lalu pada tahun 1994, Brasil kembali bertemu Italia di final.
Di Meksiko 1986, Argentina bertemu Jerman Barat di final. Diego Maradona CS keluar sebagai juara. Empat tahun setelahnya, kedua negara bertemu lagi di final. Kali ini Franz Beckenbauer sukses membalas kekalahan atas Carlos Bilardo.
Selain tidak pernah menghasilkan final yang sama, Piala Eropa sering menghadirkan juara baru. Belanda sanggup juara tahun 1988, padahal sebelumnya masuk final saja belum pernah. Denmark yang juara tahun 1992 juga sama.
🇩🇰🆚🇩🇪 #OTD in EURO 1992 final…
Goals from John Jensen (below) and Kim Vilfort completed the fairy tale for last-minute entrants Denmark 🏆@dbulandshold | #EURO2020 pic.twitter.com/wKdURuqZCd
— UEFA EURO 2024 (@EURO2024) June 26, 2021
Tim Dinamit belum pernah mencapai final di edisi sebelumnya. Bahkan lolosnya Denmark ke EURO ‘92 merupakan keberuntungan. Apalagi? Portugal? Ya, Portugal yang juara 2016 itu pun juara baru. Sebelumnya mereka baru sekali masuk final. Nah, final pertama Portugal di EURO itu pun melahirkan juara baru. Yunani yang juara tahun 2004 bahkan tak lolos di lima edisi sebelumnya.
Sementara, Piala Dunia jarang menghadirkan juara baru. Dalam tiga edisi terakhir saja yang juara semuanya mantan juara.
Lolos ke EURO Tidak Mudah
Lolos ke EURO juga tidak mudah. Negara-negara Eropa yang langganan ke Piala Dunia belum tentu sering lolos EURO. Lihat saja, Serbia bahkan baru mau merasakan EURO tahun ini. Padahal di Piala Dunia, tiga kali lolos dengan nama Serbia.
Negaranya Haaland, Norwegia juga setali tiga uang. Sejarang-jarangnya Norwegia ke Piala Dunia, setidaknya mereka sudah tampil tiga kali. Sementara di EURO, negara Nordik ini baru sekali berpartisipasi, yaitu tahun 2000.
Swiss yang sering mondar-mandir ke Piala Dunia itu pun baru enam kali tampil di Piala Eropa. Salah satunya ketika menjadi tuan rumah tahun 2008.
🇷🇸✅ 𝐎𝐅𝐅𝐈𝐂𝐈𝐀𝐋 | Serbia have qualified for EURO 2024! pic.twitter.com/A5TwiE7OLj
— EuroFoot (@eurofootcom) November 19, 2023
Keberagaman Tim
Benar kata Mbappe, EURO mempertemukan negara-negara dengan gaya sepak bola yang sama. Sehingga kekuatan tim-tim di EURO tidak beragam. Eropa adalah kiblat sepak bola. Hampir semua negara di Eropa menjadi kiblat sepak bola.
Coba bayangkan, negara-negara yang sepak bolanya maju saling bertemu? Tentu akan menyulitkan. Di EURO juga tidak menutup kemungkinan tim-tim elit berada dalam satu grup. Contoh saja di EURO 2024.
Persaingan sesengit apa yang akan terjadi ketika Spanyol yang juara back to back, Italia yang dua kali juara, dan Kroasia yang dua kali ke semifinal Piala Dunia berada dalam satu grup?
Tak ayal dari fase grup saja, Piala Eropa sudah sulit. Tim-tim elit kecil kemungkinan bertemu tim yang lebih mudah. Sekalipun mudah, tim yang akan dihadapi sesama Eropa yang kultur sepak bola sama. Sementara di Piala Dunia, tim-tim elit, khususnya di Eropa setidaknya bisa satu grup dengan tim dari Asia, Afrika, maupun Amerika Utara.
Hal itu memudahkan tim-tim Eropa lolos ke babak gugur. Namun, keberagaman tim ini, di satu titik membuat Piala Dunia tetaplah sulit. Karena pasti negara dari beda benua dengan budaya dan kemampuan yang juga berbeda akan bertemu.
Membaca gaya dan permainan lawan dari lintas benua tidak pernah mudah. Jadi, football lovers, mana nih yang lebih sulit, Piala Dunia atau Piala Eropa?
Sumber: BolaVIP, TheFinancialExpress, Goallegacy, Reuters, SkySports, Detik, TribunNews


