Beban Berat Nagelsmann Agar Bayern Munchen Kembali Kuasai Eropa

spot_img

Raksasa Bundesliga, Bayern Munchen kini kembali mendapat sorotan setelah bereksperimen dengan pelatih barunya yang muda dan gaul itu, tak lebih baik dari para pendahulunya terutama di kancah Eropa. Karena soal domestik, itu nggak usah dibahas lagi. Target The Bavarian tiap musimnya, jelas Liga Champions.

Oleh sebab itu, keberadaan Julian Nagelsmann yang gagal, dipertanyakan. Bayern Munchen di era Nagelsmann mengalami perubahan yang signifikan. Ia punya cara sendiri untuk membangun Die Roten.

Munchen Gaya Baru

Munchen era Nagelsmann berbeda dengan era sebelumnya. Meskipun kurang lebih secara pemain memiliki kesamaan. Bedanya, Munchen era Nagelsmann ini mempunyai ciri khas. Nagelsmann yang berstatus pelatih menaruh gaya fleksibel khas anak muda, yang taktiknya dipadukan dengan gaya bermain khas Jerman. Hal itu menghadirkan nuansa baru di Bayern Munchen.

Selain itu, Nagelsmann dianggap cocok membangun Munchen dalam jangka panjang. Direktur olahraga The Bavarians, Hasan Salihamidzic berterus terang mengenai Nagelsmann. Ia yakin bahwa ide Nagelsmann sangat penting bagi klub. Apalagi ia telah menunjukkannya saat melatih RB Leipzig.

Kehadiran Nagelsmann di Munchen sangat diharapkan untuk mengulangi kesuksesan Hansi Flick ketika meraih sextuple di musim 2019/20. Bersama Flick, Munchen mampu tampil dominan dengan para pemain matang macam Thiago, Alaba, Perisic, Coutinho, maupun Boateng. Kini pemain-pemain tadi telah pergi, dan Nagelsmann lebih percaya pada pemain muda.

Kalau diingat, polanya Nagelsmann hampir menyerupai Niko Kovac, pelatih Munchen musim 2018/19. Meskipun secara taktik dan pola permainan berbeda jauh, kesamaan Nagelsmann dan Kovac ada pada segi investasi kepada para pemuda.

Hal itu seperti apa yang telah Nagelsmann lakukan di klub-klub sebelumnya. Ia yang merupakan bekas murid dari Tuchel maupun Rangnick juga tak sedikit membawa pengaruh taktiknya di Munchen sekarang.

Nagelsmann dalam beberapa kesempatan sering mengubah pola pakem ala Munchen dengan 4-2-3-1 menjadi 3-4-1-2 atau 3-4-3. Dengan memanfaatkan kapasitas attacking bek sayapnya, yaitu Davies dan Pavard untuk jadi wing back.

Gaya baru Nagelsmann secara permainan pun cenderung taktis dengan intensitas tekanan ala gegenpressing. Namun, taktik yang begitu kadang menuai cibiran. Apalagi jika Munchen mendapat hasil minor.

Musim Pertama Yang Overthinking Dan Arogan

Dengan gaya baru yang dibawa Nagelsmann banyak menuai pertentangan di kalangan fans. Para penggemar mengatakan bahwa Nagelsmann seharusnya tidak menyamakan Munchen dengan klub yang pernah ia latih. Namun, Nagelsmann tak bergeming dan terus jalan dengan apa yang diyakininya. Ia tak jarang bersikap kepedean dan sedikit arogan dalam menerapkan gaya barunya ini.

Publik sepak bola Jerman juga acap kali menilai Nagelsmann sebagai sosok yang memikirkan sesuatu secara berlebihan. Nagelsmann adalah sosok yang terkadang overthinking, terutama dalam hal taktik. Hal itu tercermin pada duel leg kedua melawan Villarreal. Nagelsmann memakai formasi 3-2-4-1. Formasi ini berbeda dengan yang dipakai Bayern pada empat laga sebelumnya, yang selalu memakai 4-2-3-1.

Nagelsmann sangat sering mengubah formasi Bayern. Bukan hanya itu, Nagelsmann juga sering mengubah peran pemain. Jamal Musiala adalah contoh paling signifikan. Dia sempat dimainkan sebagai pivot, padahal bakat besarnya adalah bermain lebih menyerang.

Sah-sah saja sih dalam sepakbola, seorang Pep pun juga sering melakukannya. Namun Nagelsmann harus tahu resikonya. Ketika sistem yang diubahnya itu tak berjalan, artinya ia harus siap untuk dihakimi. Publik pun sudah kadung kecewa ketika Munchen menuai kegagalan di Liga Champions.

Penampilan Munchen era Nagelsmann di liga domestik juga terbilang buruk atau mengalami penurunan dari pendahulunya. Dari segi poin maksimal, Nagelsmann hanya mencapai 77 poin. Padahal sebelumnya, Flick pernah mencapai 78 poin begitu juga Kovac. Bahkan Pep pernah mencapai 90 poin, Heynckes 91 poin, serta Ancelotti yang pernah mencapai 84 poin. Artinya ini adalah total perolehan pon terminim klub dalam 10 tahun terakhir.

Dan ini adalah PR sekaligus alarm bagi Nagelsmann. Dari segi prestasi ia masih dianggap gagal. Munchen hanya dibawanya sampai perempat final Liga Champions dan hasil di Bundesliga yang kurang mengesankan. Ditambah sikapnya yang memberontak secara taktik dan sikap, membuat dirinya mungkin akan dihakimi manajemen musim depan kalau tidak ada perubahan berarti.

Mane, Mazraoui, Gravenberch Siapa Lagi?

Nagelsmann tak berdiam diri. Dia tau apa yang dicapainya musim ini masih kurang dari sempurna. Ia bergerak cepat untuk memperbaiki skuad musim depan dengan beberapa evaluasinya. Manajemen pun masih memberinya kesempatan untuk membuktikan musim depan.

Nagelsmann ini sepertinya benar-benar ingin membawa gaya baru dengan pemain-pemain yang hanya diinginkannya. Ia lebih suka membawa pemain yang sudah dikenal seperti Upamecano dan Sabitzer dari Leipzig. Dia ingin Munchen menjadi rasa Nagelsmann. Bahkan kabarnya para pemain lama Munchen, seperti Lewandowski maupun Muller kurang suka dengan gaya melatih Nagelsmann yang seperti ini.

Kini ia harus sadar dengan caranya yang seperti itu, ia kurang berhasil dan ia harus bergerak dengan cara lain. Akhirnya ia pun bergerak cepat dengan mendatangkan dua pemain Ajax sekaligus, dan lagi-lagi itu adalah gaun muda. Bek kanan Mazroui dan gelandang Ryan Gravenberch. Kemudian ia akhirnya mendatangkan saga transfer Sadio Mane dari Liverpool. Tak berhenti sampai di Sadio Mane, Nagelsmann kini kembali diperkirakan akan membawa mantan pemainnya dari Leipzig, yaitu Konrad Laimer.

Lalu apa yang dilihat dari pembelian para pemain ini? Di bek kanan, kedatangan Mazroui menjadi jawaban. Atau juga Mazroui bersama Davies lebih difungsikan untuk menyerang sebagai wing back dengan format 3 bek.

Kemudian kedatangan Gravenberch menjadi penguat lini tengah bersama Kimmich dan Goretzka setelah kehilangan Marc Roca dan Tolisso. Nah, bagaimana dengan Mane? Ya, sepertinya hampir pasti Nagelsmann sudah tak mau lagi bermain dengan striker number 9 seperti Lewandowski. Ia mungkin akan membuat varian penyerangan baru melalui false nine dengan Muller, Sane, Gnabry, Musiala, Koman, dan Mane.

Namun, dari semua itu sepertinya Nagelsmann melupakan sosok bek tengah. Ia hampir kehabisan amunisi, karena kehilangan Niklas Sule. Yang tersisa hanya Dayot Upamecano yang bisa jadi andalan, sedangkan pemain lain seperti Bouna Sarr, Stanisic, maupun Nianzou masih meragukan lantaran masih muda dan minim pengalaman.

Walau sebetulnya Nagelsmann masih memiliki Lucas Hernandez dan Benjamin Pavard yang bisa jadi alternatif. Keduanya bisa ditempatkan di sisi bek tengah. Tapi apa mungkin cukup dengan itu? Tentu saja tidak. Demi kedalaman skuad, menambah bek tengah tidak ada salahnya bagi Munchen.

Sekarang dengan segala pembaharuan yang didukung manajemen, tak ada alasan lagi Munchen tak berprestasi lebih di musim depan. Mau itu dengan cara Nagelsmann atau yang lain, terpenting Munchen mendapat hasil yang lebih dari musim ini terutama di Liga Champions. Karena kalau hanya Bundesliga, pelatih medioker sekelas Arteta pun bisa.

Sumber Referensi : uk.sports, sportingnews, bundesliga

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru