Apa Yang Membuat Lewandowski Selalu Loyo Ketika Membela Polandia?

  • Whatsapp
Apa yang membuatt lewandowski selalu loyo ketika membela polandia
Apa yang membuatt lewandowski selalu loyo ketika membela polandia

Robert Lewandowski disebut-sebut sebagai pemain terbaik dunia saat ini. Pada tahun 2020 lalu, bila saja penghargaan Ballon D’or tetap diberlakukan, tidak mengejutkan bila bintang milik FC Bayern itu terpilih sebagai pemenangnya. Wajar saja, di tahun tersebut Lewandowski sukses antarkan Bayern meraih tiga titel dalam satu musim kompetisi. Selain itu, dalam total 47 penampilannya bersama The Bavaria, Lewandowski juga sukses sarangkan 55 gol.

Tak berhenti sampai disitu saja, pada musim 2020/21, dia menjadi pemain yang masih terus sarangkan bola ke gawang lawan. Berhasil pecahkan rekor Gerd Muller dengan torehan 41 gol di ajang Bundesliga, Lewandowski mampu sarangkan total 48 gol dalam 40 penampilan musim lalu.

Meski gagal pertahankan gelar Liga Champions Eropa, trofi Bundesliga tetap mampir ke lemari piala.

Di usia 32 tahun seperti sekarang ini, tidak berlebihan bila menyebut Lewandowski tengah berada di puncak karirnya. Dia mencetak banyak gol dan sumbangkan banyak trofi. Bahkan, prestasi apiknya yang diukir bersama raksasa Jerman sukses membuat banyak tim terbaik Eropa lainnya tertarik untuk dapatkan jasanya.

Bicara tentang Robert Lewandowski di level klub memang akan membuat semua terpana. Namun ketika bicara tentang kiprahnya di level Internasional, sosok Lewandowski langsung terlihat seperti pemain biasa.

Di ajang Piala Eropa 2020 ini, Lewa memang berhasil mencetak tiga gol. Namun di puncak performanya, pria 185 senti justru gagal membawa Polandia melaju lebih jauh. Kekalahan 3-2 melawan Swedia beberapa waktu lalu menjadi tanda bahwa perjalanan Polandia memang harus berakhir.

Dalam pertandingan tersebut, Lewa memang berhasil mencetak dua gol sekaligus membawa timnya menyamakan kedudukan setelah tertinggal dua gol di babak kedua. Tapi aksi Viktor Claesson di menit-menit membuat asa Polandia tenggelam.

Pada turnamen Euro edisi kali ini, Lewa memiliki perjalanan yang terbilang sulit. Di laga melawan Slovakia, dia gagal mencetak gol. Bahkan untuk menciptakan peluang pun, hal tersebut tampak sulit untuk dilakukan. Sontak, beragam kritik langsung menghampirinya. Beruntung, di pertandingan kedua grup E melawan Spanyol, dia berhasil menyelamatkan Polandia dari kekalahan setelah mampu lesatkan satu gol lewat tandukan kepala.

Dia membuat Polandia mampu menahan Spanyol dan memastikan harapan mereka untuk lolos tetap terbuka.

Tapi sekali lagi, dua golnya di pertandingan terakhir fase grup tetap gagal membawa Polandia bertahan.

Di tengah kekecewaan yang didapat, Lewa tetap membuat pelatih Swedia, Jan Andersson, terkesan.

“Dia adalah pemain kelas dunia yang menunjukkan kecemerlangannya melawan kami, dan aku sangat senang ketika Swedia berhasil menangani kesulitan yang dibuatnya dan masih berhasil meraih kemenangan.”

Meski sempat membungkam segala kritik, pertandingan tersebut juga memunculkan nama Lewandowski sebagai pemain yang jadi penyebab gagalnya Polandia menang melawan Swedia.

Di laga melawan Swedia, Lewandowski gagal mengeksekusi peluang meski sudah berada di depan gawang. Seperti diketahui, Lewa gagal mencetak gol ketika sundulannya yang berasal dari sepak pojok malah membentur mistar gawang lawan. Saat itu Polandia masih tertinggal 1-0 dari Swedia.

Pantulan bola yang sebelumnya membentur tiang gawang sejatinya kembali mengarah ke bomber FC Bayern tersebut. Nahas, dia kembali gagal mencetak gol setelah lagi-lagi bola hasil tandukannya mengenai tiang gawang.

Gagalnya Polandia tidak hanya membuat kecewa Robert Lewandowski dan penggawa lainnya, namun juga seluruh penggemar sepakbola, mengingat sang pemain masih berada dalam puncak performa dan menjadi yang paling layak disaksikan aksi nya di ajang sebesar Euro.

Akan tetapi sekali lagi, dia gagal membawa Polandia melangkah lebih jauh dimana negara yang beribukota di Warsawa itu tampak hanya mengandalkan kemampuan sang penyerang yang kesulitan untuk menciptakan peluang. Ya, seperti yang sudah disinggung di awal, Lewandowski memang kerap gagal membawa Polandia tampil bersinar di level Internasional.

Tidak hanya di turnamen Piala Eropa 2020, ketika menjelang turnamen Piala Eropa 2016, Robert Lewandowski juga disebut sebagai salah satu pemangsa sejati yang diprediksi bakal tampil gahar di ajang tersebut. Namun begitu, dia hanya mencetak satu gol selama turnamen di Prancis ketika Polandia kalah dari Portugal melalui adu penalti di perempat final.

Di turnamen besar selanjutnya, yaitu Piala Dunia 2018, Polandia malah tampil lebih mengecewakan dimana mereka hanya duduk sebagai juru kunci di grup H. Dalam gelaran akbar yang digelar di Rusia, Lewandowski yang sejatinya masih menyandang status sebagai salah satu striker terganas malah sama sekali gagal menciptakan gol untuk Polandia.

Dalam tiga pertandingan melawan Senegal, Kolombia, dan juga Jepang, dia sama sekali tak berkutik.

Lantas apa yang menjadi penyebab itu semua?

Satu hal yang menjadi kesulitan Robert Lewandowski untuk mencetak banyak gol di timnas Polandia tentu tak lepas dari kualitas rekan satu timnya disana. Timnas Polandia tidak memiliki penyokong dengan kualitas seperti Thomas Muller, Leroy Sane, Joshua Kimmich, hingga Serge Gnabry, rekan-rekannya yang berada di FC Bayern.

Namun sejatinya hal ini juga tidak lantas bisa dijadikan sebagai satu-satunya alasan. Pasalnya, strategi pelatih bisa dibilang sebagai penentu dari tampil maksimalnya seorang pemain.

Surat kabar Polandia, The Przeglad Sportowy, menyalahkan pelatih mereka, Paulo Sousa, sebagai pihak yang tidak dapat memaksimalkan bakat Lewandowski. Surat kabar tersebut menyindir dengan menghapus huruf U dan A dari nama pelatih mereka. Kemudian mereka hanya menyisakan “SOS” di halaman depan, seolah ingin menyampaikan sinyal bahaya dari situasi timnas Polandia saat ini.

Hal itu dilakukan tentu tak lepas dari sikap jumawa sang pelatih yang lebih dulu menyebut bila timnas Polandia akan mendapatkan hasil superior pada gelaran Euro kali ini. Padahal dalam kenyataannya mereka malah membuka pertandingan Euro dengan kekalahan yang memalukan.

Sousa dikritik sebagai pelatih yang seharusnya tidak ditunjuk oleh federasi sepakbola Polandia. Penggemar sudah dibuat kecewa oleh Jerzy Brzeczek yang gagal membawa Polandia tampil impresif. Namun setelah penunjukkan Sousa, mereka juga sama sekali tidak dibuat terkesan.

Ditugaskan untuk membuat Robert Lewandowski tampil maksimal, Sousa gagal dan boleh dibilang kinerjanya sama dengan Jerzy Brzeczek.

Sousa sendiri ingin melakukan penguasaan bola dan mendominasi permainan. Namun yang ada strategi itu malah gagal dan membuat para pemain tampil kaku. Tidak ada plan B hingga membuat jarang ada bola yang mengalir ke lini serang dan menjadikan Lewandowski tampil tanpa kesan.

Selain itu, Sousa juga dikritik karena gagal mencapai stabilitas apapun menjelang Euro 2020. Dia tidak konsisten dan cenderung kerap menggonta-ganti susunan pemainnya.

Menurut Marek Wawrzynowski di surat kabar Sportowe Fakty, Sousa tidak memiliki konsep yang jelas, dan ada kesan bahwa dia tidak tahu cara bermain. Ada sekitar lima formasi berbeda dalam enam pertandingan. Bila sudah seperti ini, bagaimana pemain kemudian bisa langsung menerima taktik yang diinginkan?

Mateusz Miga dari TVP Sport juga tak ketinggalan untuk mengkritik Presiden PZFA, Zbigniew Boniek. Dia mengatakan bila sang presiden telah salah mempekerjakan pelatih. Dari rencana awal yang ingin membangun kembali identitas sepakbola Polandia, malah berujung pada hancurnya harapan para penggemar.

Jadi bila Polandia ingin memaksimalkan potensi Robert Lewandowski, maka setidaknya mereka harus cerdas dalam memilih pelatih. Pelatih yang mampu membuat tim bekerja dengan baik, terlebih dalam memfasilitasi Lewandowski dengan umpan-umpan terukur. Pasalnya memang harus diakui bila Lewa bukanlah tipe pemain yang memiliki keterampilan teknis seperti Ronaldo, Messi, atau bahkan Neymar. Dia adalah pemain sempurna ketika memiliki tim yang solid.

Lebih-lebih, Polandia bisa menemukan pelatih yang mampu membuat Lewandowski terlibat dalam permainan, seperti bergerak mundur dan mencari bola. Pasalnya ketika Lewandowski hanya menunggu bola, seringkali disaat yang sama, lawan mampu meredam pergerakan sang striker dengan sempurna.

Sumber referensi: goal, givemesport, marca

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *