Berkembangnya timnas di era Shin Tae-yong tak luput dari cara yang telah ia lakukan selama ini. Banyak cara yang sudah dilakukan mantan pelatih Korea Selatan tersebut. Tak terkecuali soal regenerasi pemain timnas. Tak dipungkiri Coach Shin berani dan tanpa ragu memotong satu generasi timnas demi mendapatkan generasi timnas yang baru dan unggul.
Buah kesabaran dari Shin Tae Yong:
— Gelandang Pengatur Skor (@Titipan_Mafia) September 12, 2023
Believe Process!
Buah dari potong generasi Timnas Indonesia
Shin Tae Yong We Trust 🇮🇩#TimnasDay #AFCU23 #IndonesiaU23 pic.twitter.com/xDwG72SAJx
Daftar Isi
Timnas Era Alfred Riedl
Munculnya pemain muda sangat jarang kita temui di era pelatih timnas terdahulu. Misal Alfred Riedl. Masih ingat ketika timnas kita heboh masuk Final Piala AFF 2010? Skuad timnas kala itu didominasi kaum tua seperti Firman Utina, M. Ridwan, Zulkifli Syukur, Ahmad Bustomi, Hamka Hamzah, maupun Cristian Gonzales.
Skuad inti tim nasional Indonesia dalam Piala Suzuki AFF 2010 @Bustomi_19 #Flashback pic.twitter.com/couheSfz9j
— Info_Arema (@arema_cronus) February 24, 2014
Begitupun ketika pelatih Austria tersebut menukangi timnas untuk periode keduanya pada tahun 2013 hingga 2014. Di Piala AFF 2014, para pemain tua masih dipertahankan, seperti Zulkifli Syukur, M. Ridwan, Firman Utina, maupun Cristian Gonzales. Padahal ketika itu muncul beberapa punggawa Timnas U-19 asuhan Indra Sjafri seperti I Putu Gede, Muchlis Hadi Ning, Hargianto, Zulfiandi, dan masih banyak lagi.
Angin Segar Luis Milla
Angin segar pemanggilan pemain muda ke timnas senior sebenarnya diharapkan ketika mantan pelatih Spanyol U-21, Luis Milla ditunjuk sebagai pelatih Timnas Garuda pada tahun 2017. Luis Milla ikut membantu PSSI untuk meluruskan filosofi yang sudah mereka punyai, yakni Filanesia atau kurikulum sepakbola yang diterapkan di beberapa sekolah sepakbola (SSB) seluruh Indonesia.
Milla kemudian membuktikan kapabilitasnya sebagai pelatih, namun bukan di kompetisi selevel AFF. Namun, Milla turun menangani Timnas Indonesia U-23 di ajang Asian Games. Pada saat itulah, ia memunculkan nama-nama baru di kancah sepak bola tanah air. Bagas Adi, Ricky Fajrin, Septian David, Saddil Ramdani, maupun Febri Haryadi ikut dalam rombongan skuad tersebut.
Inilah skuad Timnas Sepakbola Indonesia di ajang Asian Games 2018. Ayo Indonesia! #AsianGames2018 #AyoIndonesia #Panditfootball pic.twitter.com/HS3zdKgEFU
— PanditFootball.com (@panditfootball) August 10, 2018
Nama-nama tadi, yang kebanyakan usianya masih cukup muda kemudian menjadi pilar Timnas Indonesia senior. Sayangnya, Milla tidak menemani mereka di Piala AFF 2018, karena keburu dipecat. Sang asisten, Bima Sakti kemudian melanjutkan kiprahnya sekaligus tanggung jawab untuk mengembangkan bakat muda.
Awal Kehadiran Shin Tae Yong
Ironisnya, pengembangan bakat muda semacam itu mandek di era Simon McMenemy. Sampai akhirnya datang pelatih dari Korea Selatan, Shin Tae-yong pada tahun 2020. Dilansir CNN, sejak awal kedatangannya, Coach Shin langsung membicarakan sebuah regenerasi pemain.
Perkataan Shin Tae-yong dibuktikan di Piala AFF 2020. Timnas dihuni oleh banyak muka baru yang belum pernah tampil di ajang Piala AFF sebelumnya. Seperti Pratama Arhan, Nadeo, Asnawi, Syahrian, Dewangga, Rahmat Irianto, maupun Ramai Rumakiek. Bahkan dilansir Bola.net, rataan usia pemain timnas di Piala AFF 2020 adalah 23,8 tahun. Itu merupakan rataan skuad termuda di antara para peserta Piala AFF 2020.
Daftar skuad Indonesia di Piala AFF 2020. Coba sebutin formasi yg cocok beserta susunan pemainnya menurut kalian! pic.twitter.com/KfgxHHv97y
— Box2Box Football (@Box2BoxBola) December 1, 2021
Meski hasilnya kurang maksimal karena belum juara, namun setidaknya proses yang dilakukan Shin Tae-yong di awal kepemimpinannya patut untuk diapresiasi. Buktinya beberapa pemain yang dipanggilnya itu lambat laun menjadi embrio bagi generasi baru Timnas Indonesia hingga sekarang.
Memotong Satu Generasi Pemain Timnas
Banyak yang menyebut cara memotong satu generasi timnas itu sebagai sebuah hal yang terlalu berani diambil Shin Tae-yong. Awalnya, banyak yang mengkritik kebijakan Shin Tae-yong tersebut. Namun Shin Tae-yong bergeming. Ia maju terus dan percaya cara yang ia yakini itu adalah cara yang tepat.
Sejak 2020 lalu Shin Tae-yong sudah mengatakan Regenerasi di Timnas Indonesia Senior.
— Update Score Bola (@UpdateBolabola) April 26, 2021
Mari kita dukung dan doa🙏🙏🇮🇩🇮🇩🇮🇩 pic.twitter.com/A3tjharoRL
Selain nama-nama bintang seperti Beto, Andritany, Boaz, Ferdinand Sinaga, maupun Zulham Zamrun, pemain muda di era pelatih sebelumnya seperti Febri Haryadi, Hansamu Yama, Ricky Fajrin, Septian David, maupun Putu Gede juga jadi korban pemutusan satu generasi timnas oleh Coach Shin.
Tapi mengapa Coach Shin dengan mudah melakukan regenerasi dengan memotong satu generasi timnas? Jawabannya adalah karena Coach Shin ketika itu merangkap jabatan sebagai pelatih U-19 dan U-23 timnas. Jadi, ia bisa tiap hari memantau para pemain muda potensial Timnas Indonesia yang dirasa cocok dalam sistem permainannya.
Alasan Shin Tae Yong Potong Generasi
Ada banyak alasan yang mendasari Coach Shin melakukan potong generasi timnas. Dilansir Goal, Coach Shin mempertimbangkan kondisi fisik pemain, motivasi, dan kecocokan dengan sistem permainan. Itulah kenapa kita bisa banyak melihat wajah baru pemain timnas Indonesia di era kepelatihannya.
Menurut Coach Shin, keberadaan pemain muda memudahkannya dalam mengatur dan didoktrin dengan sistem yang akan ia terapkan. Ketimbang para pemain yang sudah matang dan berumur. Selain itu faktor fisik yang masih prima dan motivasi bermain yang masih tinggi juga menjadi pertimbangan oleh Coach Shin.
🇮🇩🇰🇷Tweet Apresiasi kepada Coach Shin Tae-yong atas keputusannya untuk “memotong generasi” Timnas Indonesia karena tindakan berani-nya ini memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk berkembang, menyegarkan timnas, dan membawa visi jangka panjang yang dapat menghasilkan hasil… pic.twitter.com/UV5WGdVNsM
— FaktaBola (@FaktaSepakbola) September 9, 2023
Tren Anak Muda Dan Prestasi
Kebijakan berani dari Shin Tae-yong tersebut ternyata mampu berbuah hasil. Pemain muda baru mulai disegani, sebut saja Pratama Arhan, Asnawi, Marselino Ferdinan, maupun Ramadhan Sananta.
Tak hanya tren munculnya para pemain muda saja, namun hal itu juga sejalan dengan capaian prestasi yang didapat oleh timnas. Keberhasilan Shin Tae-yong mencapai Piala Asia U-23 dan senior, serta masih bertarung di fase Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia adalah sederet prestasi nyata yang telah diraih dari hasil pemotongan satu generasi timnas. Itu belum terhitung dengan ranking Timnas Indonesia yang meroket.
Tercatat oleh Bola.com, di babak Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Brunei pada Oktober 2023, rataan usia pemain yang dipanggil Coach Shin adalah 23,7 tahun. Termasuk salah satu yang termuda sejak timnas mengukir rekor rataan usia termuda pemain timnas ketika melawan Curacao pada September 2023, dengan 21,9 tahun.
Shin Tae-yong kerahkan darah muda Timnas Indonesia lawan Curacao: Rata-rata usia pemain hanya 22,9 Tahun!https://t.co/y2Rs67KyVt
— Bola (@Bolanet) September 23, 2022
Cara Baru Pemilihan Pemain Naturalisasi
Tak hanya soal pemain lokal saja yang dipotong satu generasinya. Pemain naturalisasi pun bernasib sama. Dulu pemain naturalisasi Indonesia kebanyakan dihuni pemain yang lama bermain di Indonesia. Sebut saja Cristian Gonzales, Beto, maupun Spasojevic.
Namun di bawah Shin Tae-yong kebijakannya berubah. Coach Shin dalam memilih pemain naturalisasinya memang tak sembarangan. Segi kualitas, usia, fisik, pengalaman di Eropa, serta kecocokan dalam sistem permainan menjadi bahan pertimbangan mantan pelatih Seongnam Ilhwa itu. Pemain seperti Marc Klok meski sudah di atas 30 tahun masih dipercaya Coach Shin hingga sekarang karena dirasa cocok dalam sistem permainannya.
Timnas Indonesia dipastikan bertambah kuat menyusul bergabungnya deretan nama-nama pemain naturalisasi dan keturunan.
— Sportstars (@MNCSportstars) May 23, 2023
Berikut adalah 6 pemain naturalisasi keturunan di era kepelatihan Shin Tae-yong.
🔗https://t.co/tOUI3OG1YT pic.twitter.com/IJbR8qfQLE
Program pemilihan pemain naturalisasi ini juga didukung penuh oleh Ketua Umum PSSI yang baru, Erick Thohir. Beruntung timnas punya mantan pemilik Inter Milan yang punya banyak link di sepakbola eropa itu untuk mengurus sepakbola di Indonesia. Hasilnya terbukti, para pemain naturalisasi berkualitas berbondong-bondong mulai berseragam timnas.
Pelatih Shin Tae-yong memiliki visi yg sama dgn ketum PSSI @erickthohir dlm mendobrak prestasi timnas Garuda dgn melakukn pengembangan sepak bola tanah air.
— abi sasal (@abi_sasaLL) April 25, 2023
Slh satu visi dgn melakukn
regenerasi dan naturalisasi pemain muda untuk masa depan sepak bola 🇮🇩#GueBarengErickThohir pic.twitter.com/H8TVGwUV98
Well, sekarang terbukti bahwa berkembangnya timnas di bawah Coach Shin salah satunya disebabkan oleh cara dia dalam memotong satu generasi timnas. Apalagi dukungan penuh dari PSSI dalam mendatangkan pemain naturalisasi berkualitas. Itulah kenapa Timnas Indonesia bisa jadi ngeri seperti sekarang ini.
Sumber Referensi : bola.com, bola.okezone, goal.com, bolasport, kompasiana, cnn, sportnsindonews, bola.com


