Bagaimana Xabi Alonso Tinggalkan Kenyamanan Di Madrid Demi Berguru Pada Guardiola

spot_img

Jika pendidikan bisa menentukan seseorang jadi pelatih hebat, maka Xabi Alonso bakal jadi pelatih terbaik sepanjang masa. Sebab ia telah belajar dari banyak pelatih hebat di dunia. Dan itu sudah mulai ia buktikan sejak melatih Bayern Leverkusen. Ia membawa Leverkusen yang tadinya tim medioker, kembali jadi tim yang seru ditonton.

Alonso telah berguru dengan banyak pelatih hebat sebelumnya. Dari belajar pada pelatih legendaris Josh Toshack saat baru membuat debut senior di Real Sociedad. Kemudian berguru pada Rafael Benitez sejak pindah ke Liverpool di tahun 2004.

Setelah lima tahun yang sukses di Anfield, Xabi Alonso kemudian pindah ke Real Madrid. Disitu ilmunya makin bertambah setelah dilatih oleh Manuel Pellegrini, Jose Mourinho, kemudian Carlo Ancelotti. Dan mungkin yang paling jelas, Pep Guardiola saat ia pindah ke Bayern Munchen.

Tapi tahukah kalian? Sebenarnya niat awal Alonso dulu adalah pensiun di Real Madrid sebelum nantinya terjun ke dunia pelatihan. Itu memang keputusan yang masuk akal. Sebab Alonso sudah mencapai puncak kesuksesan sebagai pemain di Real Madrid. Ia juga dicintai publik Bernabeu.

Namun, ia mengambil keputusan berani. Yaitu pindah ke Bayern Munchen di tahun 2014, saat usianya sudah 32 tahun. Dan ternyata satu-satunya alasan adalah ia ingin berguru pada Pep Guardiola di Bayern Munchen.

Xabi Alonso di Madrid

Keputusan itu tentu awalnya jadi keputusan yang mengejutkan. Karena semua orang saat itu mengira, tidak ada alasan bagi Alonso untuk pindah dari Real Madrid. Sebab seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ia adalah pemain yang dicintai di Bernabeu.

Well, meskipun seringkali pengaruh Alonso tidak terlalu diperhatikan. Wajar memang, saat di Real Madrid, Alonso berbagi panggung dengan Cristiano Ronaldo yang masih di pucuk karir. Jadi lampu sorot lebih sering datang ke Ronaldo ketimbang Alonso.

Ronaldo adalah pencetak gol andal. Dan tentu saja, dari gol-golnya itu datang pula trofi dan kejayaan untuk klub. Sedangkan catatan gol dan assist Alonso memang tidak terlalu mewah. Dari 236 pertandingan, ia hanya mencetak 6 gol dan 31 assist. Tapi Alonso adalah jantung permainan Real Madrid. Ia bermain bagaikan konduktor yang mengatur keseluruhan permainan Madrid.

236 pertandingan selama 5 musim bukanlah jumlah yang sedikit. Itu menandakan kalau Alonso pemain yang benar-benar bisa diandalkan. Terlebih lagi, ketahanannya terhadap cedera. Alonso baru pernah mengalami cedera di tahun 2013, atau di tahun keempat ia bermain untuk Madrid.

Bersama Real Madrid, Xabi Alonso menjalani musim-musim yang gemilang. Ia mempersembahkan 1 gelar La Liga, 2 Copa del Rey, 1 Spanish Super Cup, dan tentu saja, gelar La Decima yang didambakan publik Bernabeu.

Hubungan Awal Dengan Pep Guardiola

Di Real Madrid pula lah, pertemuan awal ia dengan Pep Guardiola terjadi. Namun awal mereka bertemu bukan sebagai kawan, melainkan sebagai lawan. Sebab saat itu Pep dan Alonso sedang terlibat dalam era el clasico terpanas di dekade 2010-an awal.

“Kami saling bersaing satu sama lain, bahkan kami menganggapnya sebagai rival besar” Begitu kata Guardiola soal hubungan mereka dulu. Meskipun rivalitas sebenarnya adalah antara Pep Guardiola dan Jose Mourinho, tapi Xabi Alonso mau tidak mau juga harus terlibat dalam perselisihan ini. Karena tetap yang terlihat adalah perselisihan Barcelona dan Real Madrid.

Alonso adalah orang yang sangat setia dengan Jose Mourinho sewaktu di Madrid. Dilansir dari sky sports, Alonso bagaikan jadi tamu tak diundang di timnas Spanyol yang kebanyakan pemain Barca. Sempat dirumorkan pula, para pemain Barca menolak melakukan video promosi kalau ada Alonso.

Mourinho juga sering dikabarkan suka memprovokasi para pemain Madrid untuk membenci para pemain Barcelona. Sebegitu toxic persaingan antara Mou dan Pep saat itu. Jadi hubungan antar pemain Spanyol juga jadi toxic. Hal ini bahkan pernah dikatakan langsung oleh Iniesta.

“Anda tidak bisa melihat ada rivalitas yang seperti itu sebelumnya. Ini melampaui rivalitas, tapi sudah kebencian. Hal ini membuat masing-masing dari kami pemain timnas Spanyol merasa sangat tidak nyaman satu sama lain” Ucapnya dikutip dari Mirror.

Rivalitas antara Pep dan Mou memang jadi semakin toxic saat itu. Bahkan Pep sendiri tidak kuat dan sampai hengkang di tahun 2012. Ia berhenti istirahat sejenak dari dunia kepelatihan. Setahun kemudian, tepatnya musim panas 2013 Pep kembali ke dunia sepak bola sebagai pelatih Bayern Munchen.

Rencana Xabi Untuk Tinggal

Sementara Pep sudah tidak di Barcelona, Alonso masih jadi pemain andalan Real Madrid. Sampai tiba bulan Oktober 2013, ketika kontraknya bersama los blancos hampir habis. Dilansir dari bleacher report, saat itu Alonso sebenarnya memang sudah punya pertimbangan untuk pindah ke luar Spanyol.

Sayangnya pilihan yang dimiliki Alonso sedikit, dan itu mungkin salahnya Alonso sendiri. Manchester United sebenarnya siap menampungnya saat itu. Tapi Alonso tidak mau merusak hubungan dan sejarahnya bersama Liverpool.

Ia bisa saja pindah ke Chelsea, tapi Alonso juga tak mau dikira selalu ikut-ikutan langkah Mourinho. Sedangkan pindah ke Liverpool tidak memungkinkan, sebab saat itu keadaan klub sedang tidak terlalu baik.

Jadi, pilihan termudah adalah menandatangani kontrak baru dengan Real Madrid. Di bulan Januari 2014, Alonso pun resmi memperpanjang kontraknya di Bernabeu untuk 2 tahun. Keputusannya terbayar manis. Ia masih dipercaya meski Real Madrid kedatangan Carlo Ancelotti sebagai pelatih baru.

Tidak hanya itu, bahkan perannya di tim jadi semakin penting. Yaitu membimbing para pemain baru seperti Di Maria dan Luka Modric di lini tengah. Di musim 2013/14 itu, Alonso pun mencatatkan 42 pertandingan di semua kompetisi. Dan meskipun hanya duduk di peringkat 3 La Liga, tapi ia dapat trofi liga Champions di akhir musim. Itu jadi salah satu musim terbaiknya selama di Real Madrid.

Setelah kampanye mengecewakan di Piala Dunia 2014, Alonso memutuskan pensiun dari timnas Spanyol. Ini juga mengatakan kalau ia sudah siap untuk menutup karirnya di klub. Dan meski beberapa tawaran dari klub lain datang, Alonso masih ingin bertahan di Madrid. “Saya 100% bertahan disini” begitu ucap Alonso.

“Xabi Bukan Pengkhianat”

Sementara Alonso menjalani kehidupan nyaman di Bernabeu, di Munich Pep sedang kebingungan. Ia harus menghadapi badai cedera. Terutama cedera Javi Martinez dan Thiago Alcantara yang cukup parah. Artinya stok defensive dan holding midfielder Pep di Munchen menipis.

Pep tahu, tidak ada yang lebih pantas untuk menggantikan peran itu selain Xabi Alonso. Pelatih asal Catalan itu pun langsung gerak cepat. Pertama, ia menghubungi Alonso lewat telepon. Kemudian ia terbang ke Spanyol untuk menemui keluarga Alonso.

Hanya berselang beberapa minggu dari Alonso berkata “saya 100% bertahan di Madrid”, berubah jadi Alonso yang memohon Madrid untuk melepasnya pergi. Sebutan pengkhianat pun sudah siap dilontarkan para Madridista. Untungnya kemarahan para fans itu bisa diredakan segera setelah Carlo Ancelotti beri penjelasan.

“Xabi sudah lelah dan kami harus menghormati apa yang ia inginkan. Ia pergi karena kami sudah punya opsi lain bersama James Rodriguez dan Toni Kroos. Ia tidak mengkhianati kami” Begitu ucap Ancelotti.

Alasan Sebenarnya

Alonso memang berhasil meyakinkan Florentino Perez kalau klub akan baik-baik saja tanpanya. Sebab saat itu Madrid juga sudah punya Toni Kroos dan James Rodriguez. Tapi bahkan banyak pundit saat itu berkata, kalau seandainya Alonso tinggal, ia masih bisa dengan mudah bersaing di starting line up.

Alasan terbesar Alonso ingin pindah adalah karena Pep. Dibalik rivalitas mereka sebelumnya yang panas itu, secara pribadi Alonso tahu kalau Pep adalah pelatih yang hebat. Alonso sebenarnya adalah pengagum terberat Pep.

“Ada banyak alasan untuk pindah ke Bayern Munchen dan Pep Guardiola jelas salah satunya. Dia mengerti segalanya soal sepak bola. Saya sudah menyadari dari dulu bagaimana intensitas unik Guardiola membuatnya jadi pelatih yang sangat sukses meski karirnya di Barca singkat.” Ucapnya dikutip dari ESPN.

Alonso juga buka-bukaan soal keputusannya itu didasari dari rasa penasaran. “Saya sangat penasaran untuk tahu rahasia Pep melatih” begitu lanjutnya.

Jadi Andalan Pep di Bayern Munchen

Bergabunglah Xabi Alonso ke Bayern Munchen demi berguru dengan Guardiola. Meskipun itu adalah niat awalnya, tapi Alonso malah menjelma jadi pemain yang bisa Pep andalkan selama di Munich.

Alonso adalah kepingan yang hilang dari skuad yang ingin Pep bangun di Bayern Munchen. Di Jerman, Pep tidak punya orang seperti Xavi Hernandez yang paham mengatur irama permainan. Sampai-sampai Pep sempat memainkan Philipp Lahm sebagai gelandang di awal kedatangannya.

Tapi peran itu komplit saat Alonso datang. Bahkan Alonso adalah gelandang yang lebih serba bisa dibanding Toni Kroos. Dan meski usianya sudah 33 tahun saat itu, ia masih mencatatkan statistik yang luar biasa.

Di musim 2014/15, ia mencatatkan rata-rata 121 umpan per 90 menit. Itu jauh lebih banyak dari gelandang lainnya di Bundesliga maupun di Eropa. Sebagai perbandingan, Xavi Hernandez dan Yaya Toure mencatatkan rata-rata umpan terbanyak di La Liga dan Premier League. Tapi kedua pemain itu punya rata-rata umpan per pertandingan tak sampai 100 umpan.

Di musim 2014/15 pun Xabi mencatatkan 42 pertandingan di semua kompetisi. Sekaligus membantu Bayern dapat gelar Bundesliga di akhir musim. Di musim setelahnya, ia masih jadi opsi utama Pep dengan memainkan 39 pertandingan di semua kompetisi. Di musim itu pula ia kembali membawa Bayern juara Bundesliga.

Sayangnya musim 2015/16 itu jadi musim terakhir Pep di Jerman. Tawaran untuk membangun tim impiannya di Manchester City tak bisa ia tolak. Meskipun begitu, Alonso yang sudah berusia 35 tahun masih memilih bertahan di Munchen.

Pensiun dan Jadi Pelatih

Menanggapi kepergian Pep, Alonso mengatakan kalau Pep memiliki pengaruh besar padanya. Dikutip dari Marca, ia berkata: “Selama ia disini, Pep telah membangun sesuatu, dia membangun gaya bermain. Saya pikir tidak hanya saya, tapi para pemain banyak belajar darinya. Ini sesuatu yang akan berguna di masa depan”

Alonso hanya bertahan semusim tanpa Pep di Bayern. Di tahun 2017, ia memutuskan untuk pensiun. Meski usianya sudah 35 tahun, tapi itu jadi kabar yang mengejutkan untuk semua orang. Sebab ia masih punya kemampuan untuk jadi andalan di Bayern yang saat itu ditukangi Carlo Ancelotti.

Tapi Alonso memutuskan kalau ia sudah cukup belajar. Ia juga sudah punya banyak penghargaan sebagai pemain. Pensiun di puncak karir adalah satu-satunya langkah yang masuk akal untuknya.

Setelah itu, tak butuh waktu lama bagi Alonso untuk memulai karir sebagai pelatih. Alonso menandai karir awal kepelatihannya dengan menukangi tim muda Real Madrid. Ia membawa timnya itu menjuarai La Liga versi junior. Di tahun 2019, ia pindah untuk melatih Real Sociedad B. Disitu ia membawa Real Sociedad B promosi ke Divisi 2 untuk pertama kalinya dalam enam dekade.

Karir kepelatihannya melejit setelah itu. Ia pun pindah ke Bayer Leverkusen untuk melatih tim senior pertamanya. Die Werkself berada di urutan dua terbawah klasemen saat ia datang. Tapi ia bisa membuat Leverkusen finis di 6 besar pada musim 2022/23.

Ada beberapa anggapan Xabi memiliki gaya seperti Pep sebagai pelatih. Tapi mungkin memang itu yang ia pelajari. Yaitu soal passion Pep kepada sepak bola. Terlepas dari itu Xabi Alonso adalah orang yang beruntung bisa belajar dari para pelatih hebat.

Tapi yang bisa kita pelajari dari Alonso adalah bagaimana dia tidak cepat puas. Seperti ketika ia rela meninggalkan kenyamanan di Madrid, demi berguru pada Guardiola.

Sumber referensi: B/R, B/R 2, CV, Bundesliga, Real Madrid, Mirror, Espana, Sky, Bein, ESPN

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru