Dahulu, Vallecas adalah sebuah kota independen sebelum pada tahun 1950-an, kota tersebut dimasukkan dalam wilayah administrasi Kota Madrid. Kini, wilayah tersebut hanya menjadi penyangga ibu kota Spanyol dan terpecah menjadi 2 distrik, yakni Puente de Vallecas dan Villa de Vallecas.
Vallecas adalah kawasan paling murah di pinggiran Kota Madrid dan menjadi kawasan pemukiman bagi kelas pekerja. Wilayah tersebut juga menjadi destinasi banyak imigran dan pencari suaka yang mencari tempat tinggal murah. Tak ayal, masyarakat Vallecas berasal dari banyak etnis. Menjadi wilayah termiskin di Madrid, distrik Vallecas juga akrab dengan beragam tindak kriminal.
Vallecas juga pernah menjadi perbincangan karena kisah horornya. Pada tahun 1991, seorang remaja bernama Estefanía Gutiérrez Lázaro meninggal secara misterius setelah bermain papan ouija. Belum lama ini, kisah tersebut difilmkan dengan judul “Verónica” dan sempat dilabeli sebagai film terhoror di Netflix.
Kisah Rayo Vallecano yang Jadi Klub Termiskin di La Liga
Namun di sudut lain, Vallecas punya cerita indah di sebuah stadion mini yang bernama Campo de Fútbol de Vallecas. Berkapasitas 14.708 kursi, stadion tersebut menjadi stadion terkecil di La Liga musim ini. Stadion tersebut menjadi kandang dari klub kebanggaan Vallecas, Rayo Vallecano de Madrid.
Campo de fútbol de Vallecas, the home of Spanish side @RayoVallecano. 🤍❤️
Madrid, Spain. 📍🇪🇸 pic.twitter.com/dGPYpjq5Z0
— Fútbol Romantics (@FutbolRomantics) September 11, 2021
Stadion mini tersebut sangat menggambarkan wajah dari Rayo Vallecano. Dengan permukaan lapangan yang kurang ideal, panjang dan lebar lapangannya juga lebih pendek dibanding lapangan lain di La Liga. Kandang klub kebanggan lingkungan kelas pekerja itu juga hanya punya 3 tribun karena di salah satu belakang gawangnya hanya ada tembok dan papan iklan.
Dibanding stadion lain di Kota Madrid, kandang Rayo Vallecano jelas tertinggal. Namun, di banyak sudut Campo de Fútbol de Vallecas banyak mural yang menyiratkan ideologi politik para pendukungnya yang berpaham sosialis. Campo de Fútbol de Vallecas dan Rayo Vallecano de Madrid adalah benteng terakhir sepak bola sayap kiri di Spanyol.
Tidak menjual tiket pertandingan secara online dan menolak segala modernisasi yang mengeksploitasi fans, klub berjuluk Los Franjirrojos itu tumbuh dan bertahan menjadi salah satu klub terkecil dengan bujet terendah di La Liga. Musim ini, skuad Rayo Vallecano yang berisikan 27 pemain hanya bernilai 61,50 juta euro. Angka tersebut hanya melewati nilai skuad Deportivo Alaves, Cadiz, dan Elche.
Rayo Vallecano juga tercatat sebagai kontestan La Liga dengan pengeluaran terendah di bursa transfer musim panas 2021. Los Franjirrojos hanya mengeluarkan biaya sebesar 4,3 juta euro untuk mendatangkan 11 pemain baru.
Rayo Vallecano memang klub yang unik. Manajemen mereka terbilang buruk untuk kontestan liga papan atas Spanyol. Beberapa tahun lalu, mereka juga pernah didenda akibat ulah ultras Rayo yang meneriakkan ejekan rasisme Nazi kepada salah satu mantan pemainnya sendiri.
Belakangan ini, hubungan antara sang pemilik klub dengan ultas Rayo Vallecano yang bernama “Bukaneros” juga makin tegang. Namun, entah bagaimana, klub yang carut marut itu bisa tampil impresif di La Liga musim ini.
Rayo Vallecano started 2021 in 6th in Segunda. They end it 4th in Primera. ⚡️ pic.twitter.com/OvMkOscWsS
— Sam Leveridge (@samleveridge) December 31, 2021
Promosi via Jalur Playoff, Rayo Vallecano Akhiri 2021 di Peringkat 4 La Liga
Rayo Vallecano baru saja promosi ke kasta tertinggi Liga Spanyol di awal musim ini. Musim lalu, mereka yang hanya finish di peringkat 6 Segunda Division berhasil naik kasta via jalur playoff. Dalam perjalannnya, Rayo berhasil menyingkirkan Leganes dan Girona.
Meski jadi klub promosi, nyatanya performa Rayo Vallecano mampu mengejutkan La Liga. Kalah di 2 laga pertama, Rayo sempat meraih 3 kemenangan beruntun di pekan ke-5 hingga pekan ke-7. Hingga akhirnya, kemenangan 2-0 atas Alaves di pekan ke-18 La Liga berhasil mengantar Rayo Vallecano naik ke peringkat empat dan mengakhiri tahun 2021 di zona Liga Champions.
Di 18 pertandingan, Los Franjirrojos berhasil mengumpulkan 30 poin, hasil dari 9 kali menang dan 3 kali imbang. Sang pelatih kepala, Andoni Iraola adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap performa apik Rayo Vallecano musim ini.
Andoni Iraola 😳
Then (Player) Now (Coach)
Athletic Club Rayo Vallecano#AthleticClub | #RayoVallecano | #LaLiga pic.twitter.com/QEsqvU2uGz— Forca LaLiga (@ForcaLaliga) December 20, 2021
Ditunjuk sebagai pelatih Rayo Vallecano pada musim panas 2020, Andoni Iraola adalah legenda hidup dan mantan kapten Athletic Club. Pelatih yang baru berusia 39 tahun itu adalah mantan murid José Luis Mendilibar, Ernesto Valverde, dan Marcelo Bielsa. Bermain keras, cepat, dan mengandalkan kedua sisi sayap adalah ciri khas taktik Iraola.
Kebetulan, Andoni Iraola juga diberkahi dengan skuad yang lumayan. Di lini depan, Rayo diperkuat oleh Radamel Falcao yang baru datang secara gratis di awal musim ini. Bersama Alvaro Garcia, Falcao memimpin daftar top skor dengan torehan 5 gol. Total, penggawa Rayo Vallecano sudah menghasilkan 26 gol di La Liga musim ini.
Ada pemandangan unik tiap kali pemain Rayo Vallecano mencetak gol di kandang. Lagu “The Final Countdown” akan selalu diputar dan dinyanyikan bersama oleh para pendukung Rayo yang memadati 3 tribun Campo de Fútbol de Vallecas. Dengan produktifnya mereka musim ini, lagu tersebut tentu makin sering diputar.
Selain lini depan, lini tengah Rayo Vallecano juga tampil cukup produktif. Randy Nteka yang baru dibeli dengan harga 1,3 juta euro dari Fuenlabrada telah menyumbang 3 gol dan 2 asis. Selain dia, ada Óscar Trejo yang telah menyumbang 8 asis dan tercatat sebagai pemuncak top asis di La Liga musim ini.
📊 | 🇦🇷
Oscar Trejo is the highest assist provider of La Liga with 8 assists! 33 Y/O Rayo Vallecano captain also scores 3 goals so far in La Liga. pic.twitter.com/WbCVRUY9uY
— BD Albiceleste 🇦🇷🇧🇩⚽ (@albiceleste4bd) December 18, 2021
Penampilan lini belakang Los Franjirrojos juga cukup solid. Digawangi oleh Fran Garcia, Esteban Saveljich, Alejandro Catena, dan Ivan Balliu, gawang klub kebanggan Vallecas yang dijaga Stole Dimitrievski baru bobol 18 kali dalam 18 pertandingan.
Musim ini, Rayo Vallecano juga berhasil mencatat beberapa rekor unik dan menarik di La Liga. Bersama Real Betis, Rayo Vallecano adalah 2 tim La Liga yang tidak kehilangan poin setelah mampu membuka skor terlebih dahulu.
Selain itu, Rayo juga jadi tim dengan perolehan poin terbanyak di laga kandang di 5 liga top eropa. Dari 9 laga kandang, Rayo telah memperoleh 25 poin dari total 27 poin yang bisa mereka kumpulkan. Catatan tersebut tak hanya mengungguli Real Madrid, tetapi juga Manchester City, Bayern Munchen, hingga PSG.
25 – Teams with most points won at home in top five European leagues this season:
25 – @RayoVallecano 🇪🇸 (GP9)
25 – @PSG_espanol 🇫🇷 (GP9)
25 – @ManCityES 🏴 (GP10)
24 – @FCBayernES 🇩🇪 (GP9)
24 – @BVB 🇩🇪 (GP9)Vallecas. pic.twitter.com/YzDAQekYgy
— OptaJose (@OptaJose) December 28, 2021
Lolos Kompetisi Eropa, Mimpi Besar Rayo Vallecano
Sayangnya, Rayo Vallecano baru saja tumbang di laga pembuka tahun 2022. Masalah mereka masih sama, yakni sulit meraih poin ketika menjalani laga away. Bertandang ke Wanda Metropolitano, Rayo tumbang 2-0 dari juara bertahan Atletico Madrid. Kekalahan tersebut membuat poisi mereka di pekan ke-19 merosot ke peringkat 6 La Liga.
Dari 10 laga tandang, anak asuh Andoni Iraola hanya berhasil mengumpulkan 5 poin, hasil dari 1 kali menang dan 2 kali imbang. Walaupun terlempar dari zona Liga Champions, setidaknya posisi Rayo Vallecano saat ini masih masuk di zona kompetisi Eropa. Bila mampu bertahan hingga akhir musim, pencapaian tersebut bakal jadi pencapaian tertinggi klub sepanjang sejarah.
Meski telah berdiri sejak 29 Mei 1924, trofi tertinggi yang pernah diraih Rayo Vallecano hanyalah trofi Segunda Division di musim 2017/2018. 19 musim di La Liga, posisi tertinggi yang pernah dicatat Rayo hanyalah finish di peringkat 8 di musim 2012/2013. Sementara di kancah internasional, Los Franjirrojos baru sekali merasakan kompetisi Eropa saat lolos hingga babak perempat final Piala UEFA musim 2000/2001.
Meski sulit untuk mengulang prestasi yang sama di masa lalu, Rayo Vallecano kini tengah berjuang untuk mengetuk pintu langit. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, mereka masih keras kepala untuk bermimpi mentas ke kompetisi Eropa.
“Beberapa minggu yang lalu, saya memposting pesan yang mengatakan: ‘Memimpikan Liga Champions’. Semua rekan satu tim saya memuji saya, mengatakan: ‘Hapus itu.’ Dan sekarang kita pergi untuk Natal di tempat Liga Champions dan saya sedikit menertawakan mereka,” kata Stole Dimitrievski dikutip dari The Mirror.
Melihat performa mereka di awal tahun ini dan daftar tim yang sudah mereka lawan, Rayo Vallecano masih mungkin untuk terlempar dari zona Eropa. Harus diakui bahwa meski mereka jago kandang, Rayo masih sulit untuk menang atas tim-tim papan atas. Sang pelatih, Andoni Iraola juga mengakui hal tersebut.
Akan tetapi, tidak ada yang tidak mungkin di sepak bola. Toh para pemain dan pendukung Rayo Vallecano belum menyerah dengan mimpinya. Lolos ke Liga Champions, Liga Europa, atau sekadar lolos ke Liga Konferensi Eropa adalah suatu hal yang patut dinanti dari Rayo Vallecano di akhir musim nanti.
***
Sumber Referensi: Transfermarkt, Detik Sport, Football Espana, The Guardian, Football Espana, The Mirror.


