Aljazair punya Riyad Mahrez. Maroko punya Hakim Ziyech. Mesir punya Mohamed Salah. Senegal punya Sadio Mane. Dan Tunisia punya Youssef Msakni.
Nama-nama tadi adalah superstar sepak bola yang dimiliki oleh negara-negara besar di Afrika saat ini. Namun, tentu saja, nama Youssef Msakni pasti tidak cukup familiar di telinga football lovers.
Wajar! Di usia mudanya, baik Mahrez, Salah, ataupun Mane sudah berani mengadu nasib di benua Eropa hingga kini menjadi pemain yang dikenal di seluruh dunia. Namun, tidak dengan Youssef Msakni. Dahulu, ketika Msakni masih berstatus wonderkid, ia bisa dibilang telah menyia-nyiakan kesempatan besar untuk pindah ke Eropa.
Jadi, siapa sebenarnya Youssef Msakni? Dan apa yang membuatnya berani menolak tawaran klub-klub besar Eropa di masa lalu?
Daftar Isi
Kemunculan Youssef Msakni
Kisah dimulai di tahun 2011, tepatnya di ajang Piala Dunia Antarklub. Kala itu, tak sedikit pemandu bakat yang rela jauh-jauh ke Jepang. Kebanyakan dari mereka memang memantau penampilan Neymar dan Ganso dari Santos. Namun, tidak sedikit yang datang menonton pertandingan Espérance de Tunis untuk memantau penampilan Youssef Msakni.
Bukan tanpa sebab para pemandu bakat dari Eropa itu mau repot-repot menonton pertandingan klub asal Tunisia tersebut. Sebelum datang mewakili Afrika di Piala Dunia Antarklub 2011, Espérance de Tunis adalah kampiun Liga Champions Afrika. Dan dalam kompetisi antarklub terakbar di benua Afrika tersebut, Youssef Msakni mencuat sebagai salah satu pemain yang paling mencuri perhatian.
Selain membantu Espérance menjadi juara Liga Champions Afrika, Msakni juga keluar sebagai pencetak gol terbanyak bagi klubnya. Dengan torehan 5 gol, Msakni yang kala itu masih berusia 21 tahun juga keluar sebagai pencetak gol terbanyak kedua dalam turnamen.
Prestasi tersebut menjadi tonggak awal mencuatnya karier Youssef Msakni. Bukan barang yang mengejutkan bila Msakni bisa menjadi seorang pemain sepak bola yang hebat. Sebab, bakat sepak bola memang sudah mengalir dalam darahnya.
Youssef Msakni: Messi dari Tunisia
Youssef Msakni lahir pada 28 Oktober 1990. Ia lahir dan besar di kota Tunis, kota terbesar dan ibu kota dari Tunisia. Ia merupakan anak ketiga dari mantan pemain timnas Tunisia, Mondher Msakni. Dari situlah bakat sepak bolanya berasal.
Sejak kecil, Youssef Msakni juga sudah menggilai sepak bola. Ia banyak menghabiskan waktunya untuk bermain bola bersama teman-temannya dan menonton pertandingannya di TV. Didukung oleh keluarga yang bisa dibilang dari kalangan berada membuat Youssef Msakni juga mendapat pendidikan terbaik di masa mudanya, termasuk dalam hal sepak bola.
Youssef dan kedua kakaknya juga meneruskan karier sang ayah sebagai pemain bola. Namun, dibanding kakaknya, Youssef Msakni bisa dibilang lebih sukses.
Seperti halnya kakak dan ayahnya, Youssef Msakni juga memulai karier sepak bolanya di akademi Stade Tunisien. Ia juga berhasil menembus tim utama dan bermain selama 2 musim di sana. Lalu, saat usianya menyentuh 18 tahun, Youssef Msakni pindah ke klub rival sekaligus klub terbesar dan tersukses di Tunisia, Espérance de Tunis.
Prestasi instan punya langsung ia rasakan bersama penguasa Liga Tunisia tersebut. Namun, seperti yang kami bilang di awal, musim 2011 adalah tonggak awal mencuatnya karier Youssef Msakni.
Kala itu, ia berhasil membukukan 17 gol dan 7 asis dalam 38 penampilan dan membawa Espérance meraih treble winner, yakni menjadi juara Liga Tunisia, Piala Tunisia, dan Liga Champions Afrika.
Performa Youssef Msakni makin meledak di musim berikutnya. Meski gagal mempertahankan titel Piala Tunisia dan Liga Champions Afrika, serta kalah di final Piala Super Afrika, tetapi ia berhasil membawa Espérance de Tunis meraih titel liga keempatnya secara beruntun dan tampil menggila dengan membukukan 21 gol dan 18 asis dalam 41 penampilan.
Di musim tersebut, Youssef Msakni menjadi top skor Liga Tunisia dan membantu negaranya melaju hingga perempat final Piala Afrika. Dan akhirnya, ia juga dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Tunisia 2012. Sebuah rentetan prestasi yang makin mengharumkan namanya.
Kala itu, untuk kali pertama, nama Youssef Msakni juga mendapat julukan “Tunisian Messi” alias “Messi dari Tunisia”. Sementara beberapa media menjulukinya sebagai “Little Mozart”.
Bukan tanpa alasan yang dilebih-lebihkan mengapa Youssef Msakni mendapat julukan seberat itu. Melihat catatan gol dan asisnya, Msakni memang punya torehan yang gila. Namun, tak cuma itu saja. Skill dan aksinya di atas lapangan juga sama gilanya.
Gaya main Youssef Msakni memang tidak terlalu meledak-ledak. Ia juga tidak memiliki kecepatan yang terlalu mencolok. Namun, ketika bola berada di kakinya, bersiaplah untuk melihat pertunjukan yang indah.
Trik-trik tipuan seperti scotch move, scissors feint, body feint, hingga nutmeg sekalipun bisa dilakukan oleh seorang Youssef Msakni. Saat mengiring bola, Msakni juga sulit untuk dihentikan.
Ia harus berterima kasih kepada kedua orang tuanya yang telah mewariskan genetika unggul. Dengan tinggi 179cm dan postur tubuh yang ideal, Msakni juga sulit dijatuhkan.
Jika IQ sepak bola bisa diukur, maka Youssef Msakni tergolong sebagai pemain jenius. Orang-orang di Tunisia memandang demikian. Msakni punya visi bermain yang apik dan begitu luwes serta elegan dalam bergerak maupun melepas tendangan.
Meski posisi aslinya adalah winger kiri, tetapi Msakni juga bisa dimainkan sebagai pemain nomor 10 ataupun seorang striker sekalipun. Dan meski kaki kiri adalah kaki terkuatnya, tetapi Msakni juga punya kaki kanan yang tak kalah bagusnya dan mampu mencetak gol pula lewat sundulan kepala.
Itulah mengapa Youssef Msakni dijuluki “Messi dari Tunisia” atau “Little Mozart” karena keindahan dan keanggunannya dalam bermain sepak bola. Namun, di Tunisia sendiri, ia juga dijuluki “Mongoose”, salah satunya karena tendangannya yang kerap kali punya jalur yang aneh hingga sulit dibaca oleh kiper lawan. Gol indahnya ke gawang Aljazair yang terpilih sebagai gol terbaik Piala Afrika 2013 adalah salah satu buktinya.
Mongoose sendiri merupakan hewan karnivora yang salah satu habitatnya di wilayah Afrika. Mereka adalah hewan yang gesit dan lincah, punya gigi taring yang kuat, dan lawan alami dari ular berbisa karena kekebalan tubuhnya terhadap racun. Sebuah julukan dan gambaran yang pas untuk seorang Youssef Msakni.
Msakni: Lebih Memilih Klub Qatar Ketimbang Hijrah ke Eropa
Performa Youssef Msakni yang luar biasa bersama klub dan negara di musim 2012 membuat situs olahraga kenamaan, GOAL.com, menempatkannya di urutan ke-48 sebagai pemain terbaik dunia. Di bursa transfer musim panas 2012, nama Youssef Msakni juga masuk dalam daftar incaran klub-klub besar Eropa.
Tercatat ada empat klub Prancis yang tetarik kepadanya. Mereka adalah FC Lorient, AS Monaco, Lille, dan PSG. Sementara dari Inggris ada Newcastle United, Everton, Tottenham Hotspur, dan Arsenal. Nama terakhir itulah yang paling serius.
Arsene Wenger begitu terkesan dengan perfoma Youssef Msakni di Piala Afrika 2012. Wenger menginginkan Msakni sebagai pengganti Cesc Fabregas yang sudah pindah ke Barcelona.
Sayangnya, tawaran menggiurkan dari Arsenal justru ditolak oleh Youssef Msakni. Alih-alih menerima tawaran Arsenal dan bermain di liga sekelas Premier League, Msakni yang kala itu masih berusia 21 tahun justru lebih memilih tawaran klub Liga Qatar, Lekhwiya SC.
Msakni beralasan, “Saya ingin bermain di Qatar, kesempatan itu diberikan kepada saya dan saya mengambilnya. Arsenal juga tertarik tetapi tidak cukup bagi saya untuk memilih mereka, mungkin suatu hari nanti saya akan berada di liga yang sangat besar di Eropa.”
Meski punya alasan demikian, tetapi tak bisa dipungkiri kalau uang berbicara di sini. Konon, Arsenal hanya mau membayar sekitar 4 juta euro. Sementara itu, Youssef Msakni pindah ke Qatar pada 1 Januari 2013 setelah ditebus dengan mahar yang konon kabarnya mencapai 11,5 juta euro yang menjadikannya pemain termahal Liga Afrika saat itu.
Gaji yang diterima Msakni juga luar biasa. Sekitar 120 ribu euro perbulan dikantonginya. Nominal tersebut belum termasuk bonus.
Tentu, bukan barang mudah untuk mendapat upah sebesar itu dalam waktu singkat di Eropa, apalagi jika ia seorang pemain asing. Belum lagi pajak penghasilannya tergolong besar. Singkatnya, Youssef Msakni lebih memilih keamanan finansial ketimbang mewujudkan mimpinya untuk bermain di Eropa.
Mengutip dari AllAfrica.com, ternyata itu adalah penyakit dari banyak pemain Tunisia, khususnya mereka yang lahir dan besar di Tunisia. Itulah mengapa kita akhirnya jarang mendengar superstar sepak bola yang berasal dari Tunisia. Tidak seperti Aljazair, Ghana, Kamerun, Mesir, Nigeria, Pantai Gading, hingga Senegal yang terus menghasilkan superstar di Eropa di tiap generasinya.
Maher Kanzari, mantan pelatih Youssef Msakni pernah mengatakan, “Kami adalah penganut paham untuk melakukan sedikit usaha. Di negara-negara Teluk, dengan sedikit usaha, kami bisa mendapatkan uang dan kami yakin bisa bermain. Mentalitas seperti itulah yang ada di sini. Saya merasakan hal itu dalam diri para pemain.”
Kedekatan budaya, bahasa, dan agama mungkin juga telah membuat pemain seperti Youssef Msakni lebih memilih mencari kenyamanan di Qatar ketimbang mengambil risiko untuk pergi dan bersaing di Eropa. Namun, pada akhirnya, keputusan tersebut mungkin bakal disesali oleh Msakni.
Terlalu Nyaman di Qatar, Youssef Msakni Tak Lagi Menarik
Youssef Msakni memang menemukan kenyamanan di Qatar. Lima trofi Qatar Stars League, tiga trofi Qatar Cup, dua trofi Emir Cup, dan dua trofi Qatar Super Cup berhasil ia menangkan selama hampir 9 tahun berseragam Lekhwiya atau yang kini bernama Al-Duhail SC.
Iya, selama itu ia bermain di Qatar. Jika berdasarkan data Transfermarkt, selama berseragam Al-Duhail, Msakni membukukan 89 gol dan 69 asis dalam 167 penampilan. Sekilas, statistik tersebut menunjukkan kalau Liga Qatar terlihat mudah baginya.
Selama bermain di Al-Duhail, Msakni sebenarnya sudah beberapa kali menarik minat klub Eropa. Saat dulu memutuskan pindah ke Qatar, Msakni juga dikabarkan ingin menjadikan Liga Qatar sebagai batu loncatan untuk bermain di Eropa. Namun, pada kenyataannya itu hanyalah omong kosong.
Pada musim panas 2013, Msakni kembali mendapat tawaran dari klub-klub Inggris. Lalu, pada musim 2014, ia sempat dikaitkan dengan Shakhtar Donetsk. Menjelang Piala Dunia 2018, Msakni yang baru memenangi penghargaan pemain terbaik Tunisia 2017 juga mendapat tawaran dari Marseille dan beberapa klub La Liga. Lalu, pada Desember 2018, ia juga dikaitkan dengan Brighton. Namun, semua tawaran tersebut tak pernah berujung kepindahan.
Hingga akhirnya, cedera lutut parah yang membuatnya absen di Piala Dunia 2018 seperti merenggut kesempatan Youssef Msakni. Perlahan, kekuatan fisiknya menurun, kecepatannya tidak lagi sama, dan akhirnya di usianya yang sudah menyentuh kepala tiga, ketertarikan dari Eropa perlahan memudar.
Youssef Msakni memang akhirnya berhasil merasakan kompetisi Eropa ketika ia dipinjamkan ke klub Liga Pro Belgia, K.A.S Eupen pada Januari 2019. Namun, itu tak bisa disebut sebagai kepindahan.
Pasalnya, Eupen masih satu kepemilikan dengan Al-Duhail. Di sana, ia juga hanya bermain 13 kali dan mencetak 3 gol. Dan setelah periode itu, Msakni juga kembali ke Qatar. Setelah itu, tidak ada lagi klub Eropa yang menyatakan minat kepadanya.
Kini, semenjak meninggalkan Al-Duhail, Youssef Msakni bermain untuk klub Liga Qatar lainnya, Al-Arabi sejak Januari 2021. Musim lalu, ia berhasil membawa Al-Arabi memenangi Emir Cup dan terpilih sebagai pemain terbaik Qatar Stars League.
Meskipun tidak benar-benar menembus sepak bola Eropa, tetapi Youssef Msakni tumbuh menjadi seorang pemain yang disegani dan dihormati di benua Afrika. Selain karena gaya hidupnya yang sehat dan jadwal latihan rutin yang membuatnya masih bisa bermain sebaik itu di usianya yang kini sudah 33 tahun, Msakni juga sosok kharismatik yang tidak pernah membuat masalah dengan pelatih, staff, ataupun rekan setimnya.
Penampilan bak superstar juga selalu ia tampilkan ketika berbaju timnas Tunisia. Sejauh ini, Youssef Msakni sudah membantu negaranya menjuarai African Nations Championship 2011, Kirin Cup 2022, runner-up FIFA Arab Cup 2021, dan juara empat Piala Afrika 2019. Kapten timnas Tunisia itu juga sudah mengemas 97 caps dan mencetak 22 gol.
Sayang disayangkan memang, bakat dan talenta sebesar Youssef Msakni tidak bisa kita saksikan yang di panggung sepak bola yang lebih besar.
Referensi: SkySports, Brighton, Tribal Football, BBC, All Africa, Life Blogger, Transfermarkt.


