Euro 2004: Kuburan Bagi Para Generasi Emas

spot_img

Kita tentu masih ingat betul dengan Euro 2004. Turnamen sepak bola terakbar di benua Eropa yang menghasilkan salah satu kisah cinderella terbaik sepanjang masa.

Siapa yang bakal menyangka kalau di akhir turnamen, sebuah negara yang tak diperhitungkan dan tak punya sejarah prestasi di dunia si kulit bundar bisa mengangkat trofi Piala Eropa yang begitu prestisius tersebut. Yunani, Negeri Para Dewa, mengejutkan penggemar sepak bola di seluruh dunia.

Dongeng tentang keberhasilan Otto Rehagel dan pasukannya menaklukkan Eropa kala itu tentu sudah khatam dibahas. Namun, yang sering kali dilupakan dan luput dari bahasan adalah fakta bahwa Euro 2004 menjadi kuburan bagi para generasi emas.

1. Republik Ceko

    Generasi emas yang mungkin paling mencuri perhatian dalam perhelatan Euro 2004 adalah Republik Ceko. Setelah gagal lolos di dua edisi terakhir Piala Dunia dan menampilkan performa buruk di Euro 2000, Ceko tampil dahsyat di Portugal 2004 dengan generasi emas jilid 2.

    Generasi emas jilid 2 yang diasuh oleh Karel Brückner saat itu adalah lanjutan dari generasi emas jilid 1 asuhan Dusan Uhrin yang tampil mengejutkan di Euro 1996. Dipimpin oleh peraih Ballon d’Or 2003, Pavel Nedvěd, skuad Ceko saat itu terbilang mewah dengan deretan bintang dunia, seperti Karel Poborský, Vladimír Šmicer, Marek Jankulovski, Tomáš Galásek, Zdeněk Grygera, Jaroslav Plašil, Tomáš Ujfaluši, Milan Baroš, Jan Koller, hingga Petr Čech.

    Dengan skuad bertabur bintang, wajar apabila panitia menempatkan Ceko di pot 1 alias sebagai tim unggulan. Apalagi, mereka datang ke Portugal sebagai tim peringkat 4 dunia.

    Laju Ceko di fase grup juga tampak mulus. Tiga kali bangkit dari ketinggalan, mereka berhasil memuncaki Grup D dengan menyapu bersih kemenangan atas Latvia, Belanda, dan Jerman. Kedahsyatan generasi emas Ceko makin menjadi-jadi di babak perempat final. Denmark tanpa ampun mereka kandaskan dengan skor telak 3-0.

    Sayangnya, mimpi negara pecahanan Cekoslowakia itu kandas di semifinal. Tak lain dan tak bukan, pelakunya adalah Yunani, negara yang tak diperhitungkan dan di akhir turnamen menjadi mimpi terburuk bagi tuan rumah.

    2. Inggris

    Mungkin, banyak orang yang telah lupa kalau pada ajang Euro 2004, Inggris membawa salah satu skuad terbaik dalam sejarah mereka. Tak hanya itu, Sven-Göran Eriksson, juru taktik Inggris saat itu juga merupakan salah satu pelatih terbaik dunia pada zamannya.

    Namun, masih menjadi misteri di kalangan pendukung The Three Lions: Bagaimana bisa skuad Inggris era Sven-Göran Eriksson gagal meraih satu pun prestasi di kancah internasional?

    Asal kalian tahu, skuad Inggris di era kepelatihan Sven-Göran Eriksson dijuluki generasi emas. Nama-nama populer yang menjadi legenda saat ini, seperti Ashley Cole, Jamie Carragher, Joe Cole, John Terry, Frank Lampard, Michael Owen, hingga Owen Hargreaves masih berada di usia emasnya.

    Begitu pula dengan David Beckham, Gary Neville, Phil Neville, Nicky Butt, dan Sol Campbell yang pada saat Euro 2004 berlangsung belum genap berusia 30 tahun. Kala itu, Wayne Rooney, yang sempat menjadi top skor sepanjang masa Inggris, malah masih berusia 18 tahun.

    Kurang beruntung, tidak didukung Dewi Fortuna atau apapun namanya, menjadi jawaban terbaik mengapa pada Euro 2004 Inggris gagal meraih prestasi yang didambakan. Di laga pertamanya, Inggris yang sudah unggul 1-0 di babak pertama kehilangan kemenangan yang sudah di depan mata setelah Zinedine Zidane mencetak 2 gol melalui free kick dan penalti di masa injury time babak kedua. Laga ini juga diwarnai gagalnya David Beckham mengeksekusi penalti.

    Inggris bangkit di dua laga berikutnya dengan menumbangkan Swiss dan Kroasia untuk lolos sebagai runner-up Grup B. Tuan rumah Portugal jadi lawan mereka di babak perempat final. Pertandingan sengit pun tak terhindarkan.

    Inggris dan Portugal saling berbalas gol hingga akhir babak tambahan waktu menunjukkan skor masih sama kuat, 2-2. Laga pun berlanjut ke adu penalti. Diwarnai kegagalan David Beckham dan Rui Costa, Ricardo yang mencopot sarung tangannya menjadi pahlawan tuan rumah setelah menghentikan eksekusi Darius Vassell dan kemudian sukses menjalankan tugasnya sebagai penendang terakhir.

    Laju Inggris di Euro 2004 pun berakhir tragis. Sebuah akhir yang tidak diharapkan dari skuad yang dielu-elukan sebagai generasi emas.

    3. Portugal

    Akan tetapi, dibanding Ceko dan Inggris, negara yang paling terpuruk dan terpukul di akhir turnamen adalah Portugal. Euro 2004 harusnya menjadi ajang bancakan bagi Portugal. Mereka adalah tuan rumah. Mereka lah yang menggelar pesta dan mereka pula yang harusnya menjadi pihak yang paling berbahagia.

    Bukan tanpa alasan yang dilebih-lebihkan mengapa Portugal begitu dijagokan di Piala Eropa edisi 2004. Setelah era Eusebio, Portugal akhirnya punya deretan pemain kelas dunia yang jauh lebih bisa diharapkan. Sebuah skuad yang pantas menyandang predikat “Geração de Ouro” alias generasi emas.

    Generasi emas “Seleção das Quinas” berawal dari skuad muda yang sukses back-to-back juara Piala Dunia U-20 pada tahun 1989 dan 1991. Luis Figo, Rui Costa, dan Fernando Couto ada di dalam skuad tersebut dan tengah berada di puncak kariernya pada Euro 2004.

    Skuad Portugal di Euro 2004 juga dihuni oleh Paulo Ferreira, Costinha, Nuno Valente, Ricardo Carvalho, Maniche, dan Deco. Mereka adalah para pemain FC Porto yang sekitar 2 minggu sebelumnya baru mengangkat trofi Liga Champions yang bersejarah.

    Kala itu, Portugal juga punya Nuno Gomes, Pauleta, Petit, Ricardo, Tiago Mendes, Simao Sabrosa, Helder Postiga, dan tentu saja, Cristiano Ronaldo. Dan yang lebih krusial lagi adalah sosok juru taktik di baliknya, yakni Luiz Felipe Scolari, pria yang 2 tahun sebelumnya membawa Brasil menjadi juara Piala Dunia 2002.

    Di atas kertas, amat sangat sulit untuk menghentikan laju Portugal kala itu. Terbukti, Rusia, Spanyol, Inggris, dan Belanda sukses mereka libas. Namun sayangnya, hanya ada satu tim yang gagal mereka taklukkan. Dan tim tersebut adalah Yunani.

    Di pertandingan pembuka Euro 2004, Yunani mengejutkan Portugal dengan mencuri kemenangan 2-1. Singkat cerita, kedua tim kembali dipertemukan di partai final. Takdir seperti mengantar Portugal untuk melakukan pembalasan termanis.

    Namun lagi-lagi, Yunani yang keluar sebagai pemenang. Gol Angelos Charisteas tak hanya membuat tuan rumah terdiam dan terisak, tetapi juga membuat Yunani merusak rencana pesta generasi emas Portugal di rumah mereka sendiri.

    Portugal, Ceko, dan Inggris adalah 3 negara yang membawa generasi emasnya ke Euro 2004. Sayangnya, predikat berat tersebut justru jadi senjata makan tuan. Euro 2004 yang harusnya jadi arena pembuktian justru jadi kuburan bagi mereka.

    Selain Republik Ceko, Inggris, dan Portugal yang datang dengan generasi emasnya, Italia dan Prancis juga datang ke Euro 2004 dengan salah satu skuad legendarisnya. Disebut legendaris, tentu saja karena kedua negara tersebut akhirnya bertemu di final Piala Dunia dua tahun kemudian. Mayoritas pemain yang tampil Euro 2004 juga kembali tampil di final Piala Dunia 2006.

    Selain itu, Euro 2004 juga dihuni oleh negara-negara Eropa yang tengah memiliki skuad yang begitu kuat dan bertabur bintang, seperti Belanda dan Spanyol. Belanda saat itu masih dihuni oleh Clarence Seedorf, Jaap Stam, Edgar Davids, Patrick Kluivert, Roy Maakay, Ruud van Nistelrooy, Edwin van der Sar, dan dikapteni oleh Frank de Boer.

    Sementara Spanyol masih dihuni oleh Santiago Cañizares, David Albelda, Carles Puyol, Iván Helguera, Fernando Morientes, dan dikapteni oleh Raúl. Xabi Alonso, Fernando Torres, Xavi, dan Iker Casillas juga ada dalam skuad tersebut dan masih berada di awal usia 20an. Sayangnya, Spanyol gugur di babak grup hanya gara-gara kalah produktivitas gol dari Yunani.

    Mungkin karena fakta inilah kami harus mengganti judulnya, sebab ternyata Euro 2004 tidak hanya menjadi kuburan bagi generasi emas, tetapi juga kuburan bagi negara-negara terkuat di dunia pada saat itu. Euro 2004 yang masih berformat 16 tim yang dibagi ke dalam 4 grup menjadikan tunamen ini menjadi seperti arena pembantaian.

    Ini juga yang menjadi alasan mengapa kemenangan Yunani di Euro 2004 sampai membuat seluruh dunia terkejut dan hingga hari ini dikenang sebagai salah satu kisah cinderalla terbaik dalam sejarah sepak bola.


    Referensi: FIFA, These Football Times, Givemesport, The Sun, Greek Reporter.

    spot_img

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

    Obral!
    Obral!

    Glory Glory Manchester United

    Rp109,000Rp125,000
    Obral!
    Obral!

    Cristiano Ronaldo Siuuuu...

    Rp109,000Rp120,000

    Artikel Terbaru