Yang Salah dari Graham Potter dan Chelsea

spot_img

Chelsea mengakhiri tahun 2022 dengan hasil negatif. Di pekan terakhir Premier League sebelum jeda Piala Dunia 2022, Chelsea yang bertandang ke markas Newcastle United harus pulang dengan tangan hampa usai tunduk satu gol tanpa balas.

Meski hanya kalah dengan margin satu gol, tetapi kekalahan dari The Magpies tersebut terasa sangat menyakitkan bagi The Blues. Pasalnya, itu merupakan kekalahan ketiga beruntun mereka di Premier League. Sebelum ditumbangkan Newcastle, Chelsea lebih dulu takluk dari Arsenal dan Brighton.

Setelah Membuat Rekor Bagus, Graham Potter Pecahkan Rekor Buruk

Kekalahan tersebut juga membuat pelatih The Blues, Graham Potter, menyamai rekor buruk yang sudah lama bertahan. Tiga kekalahan beruntun yang Chelsea alami musim ini adalah yang pertama sejak November 2015 saat musim terakhir Jose Mourinho di Stamford Bridge.

Menyamai rekor buruk Mourinho tentu bukanlah hal bagus bagi Graham Potter. Pasalnya, tak satu pun dari lima pelatih Chelsea sebelum dirinya menderita kekalahan dalam tiga pertandingan Premier League berturut-turut.

Kekalahan dari Newcastle United pada 12 November kemarin juga membuat Chelsea tercatat belum mengalahkan tim mana pun yang saat ini menghuni 7 besar klasemen Premier League. Sebuah catatan yang buruk sekaligus mengejutkan bagi Graham Potter.

Di tunjuk sebagai suksesor Thomas Tuchel pada awal September lalu, Graham Potter sebetulnya meninggalkan kesan apik di awal kepindahannya ke Stamford Bridge. Mantan pelatih Brighton itu bahkan mencatat rekor bagus dengan tidak terkalahkan dalam 9 pertandingan di semua kompetisi.

Di Liga Champions, Potter bahkan sukses mengantar The Blues lolos ke fase gugur dengan memuncaki klasemen Grup E. Di 5 pertandingan Liga Champions yang ia lakoni, Graham Potter juga tak tersentuh kekalahan dan jadi pelatih kedua Chelsea setelah Roberto Di Matteo yang tidak terkalahkan dalam 4 pertandingan Liga Champions pertamanya.

Sayangnya, kini Graham Potter dalam posisi tertekan. Dalam 8 pertandingan yang sudah ia jalani bersama Chelsea di Premier League, Potter baru sanggup mengantar The Blues menang 3 kali. Hasil itu pun didapat di 3 laga pertamanya di awal kepindahannya ke Chelsea.

Setelah menang atas Crystal Palace, Wolverhampton, dan Aston Villa, Chelsea asuhan Graham Potter kemudian ditahan imbang Brentford dan Manchester United, sebelum akhirnya menelan 3 kekalahan beruntun dari Brighton, Arsenal, dan Newcastle. Sebuah hasil yang membuat posisi Chelsea turun ke peringkat kedelapan dan berjarak 8 poin dari tim peringkat empat.

Lalu, apa yang salah dari Graham Potter dan Chelsea?

Eksperimen Gagal Graham Potter

Masalah pertama yang paling kentara adalah keputusan Graham Potter yang terlalu banyak bereksperimen. Tiga formasi berbeda sudah diterapkan manajer asal Inggris itu hanya dalam 8 pertandingan di Premier League. Mulai dari 4-3-1-2, 4-2-3-1, dan 3-4-2-1.

Bergonti-ganti formasi sebetulnya sudah jadi kebiasaan Graham Potter semenjak menukangi Brighton dan saat itu hasilnya bagus. Namun kini, 3 formasi tadi memberi hasil yang tidak sesuai harapan.

Masalahnya, keputusan Graham Potter bergonta-ganti formasi diikuti dengan pergantian komposisi pemain. Inilah yang membuat performa Chelsea menjadi labil dan alhasil berujung dengan hasil-hasil negatif.

Dari pekan ke pekan, komposisi 11 pemain Chelsea di tiap lagi hampir selalu berubah-ubah. Kondisi tersebut diperparah dengan keputusan Graham Potter yang kerap menempatkan anak asuhnya di posisi yang sama sekali belum pernah mereka perankan sebelumnya.

Misalnya saja Raheem Sterling. Nasib winger timnas Inggris itu berubah total semenjak Graham Potter menukangi Chelsea. Biasa beroperasi di lini serang, Sterling beberapa kali ditempatkan sebagai wingback di beberapa pertandingan.

Seperti di laga melawan Brighton. Sterling yang tidak punya atribut defensif dipasang di posisi wingback kiri. Padahal, Graham Potter sebenarnya punya dua wingback kiri mahal dalam diri Ben Chilwell dan Marc Cucurella.

Di laga yang sama, Cucurella justru diperintahkan untuk mengisi posisi bek tengah kanan. Itu adalah peran yang tidak pernah ia lakukan di sepanjang kariernya. Sementara itu, Ben Chilwell dicadangkan dan baru dimainkan di babak kedua. Pergantian yang terlambat, sebab Chelsea sudah kalah 4-1 di laga tersebut.

Saat kalah melawan Newcastle, Graham Potter malah melakukan eksperimen yang lebih ekstrem. Ia memberi debut kepada penggawa Chelsea U-21 berusia 18 tahun, Lewis Hall, dengan memainkannya di posisi wingback kiri. Di laga tersebut, Potter lagi-lagi menepikan mantan anak asuhnya semasa di Brighton, Marc Cucurella.

Eksperimen Graham Potter di Chelsea tak cukup sampai di situ saja. Pelatih berusia 47 tahun itu kerap mengubah taktiknya dari formasi empat bek ke tiga bek, atau mengubah sistem penyerangan dari satu penyerang menjadi dua atau tiga penyerang sekaligus.

Yang jadi masalah berat, pergantian taktik tersebut ia lakukan di satu pertandingan yang sama dengan intensitas yang cukup tinggi. Bayangkan betapa pusingnya pemain Chelsea di atas lapangan jika dalam satu pertandingan mereka harus terus bergonta-ganti taktik. Maka bukan hal yang mengherankan jika performa The Blues saat ini mendadak inkonsisten.

Mungkin saja Graham Potter tengah berusaha membuat anak asuhnya terbiasa dengan pola taktik dan sistem bermain semacam itu. Toh, saat menukangi Brighton, sistem tersebut berjalan baik dan menjadikan Brighton menjadi tim yang diperhitungkan di Liga Inggris.

Akan tetapi, kondisi Graham Potter di Chelsea berbeda. Ia datang saat skuad The Blues sudah terbentuk. Skuadnya saat ini merupakan warisan dari Thomas Tuchel yang sebetulnya juga masih bermasalah.

Badai Cedera dan Para Rekrutan Anyar Chelsea yang Gagal

Namun, Potter juga tak bisa dijadikan satu-satunya kambing hitam. Potter memang terpaksa harus memutar otaknya usai beberapa pemain Chelsea menepi karena cedera.

Salah satu yang paling berpengaruh adalah absennya Reece James. Pemain berusia 22 tahun ini tengah menepi karena cedera lutut yang ia derita sejak 11 Oktober lalu saat membantu Chelsea menang 2-0 di kandang AC Milan. Setelah pertandingan tersebut, James absen dan membuat skuad Graham Potter pincang. Hal tersebut bisa dilihat dari hasil pertandingan yang Chelsea raih.

Setelah Reece James absen, Potter bergantian menempatkan Raheem Sterling dan Ruben Loftus-Cheek untuk mengisi peran yang ditinggalkan. Hasilnya, Chelsea hanya meraih 1 kemenangan, 2 kali imbang, dan 3 kali kalah beruntun di 7 pertandingan terakhirnya di Premier League.

Begitu pula dengan N’golo Kante yang sudah absen sejak pertengahan Agustus 2022. Ketiadaan Kante sangat terlihat membuat lini tengah The Blues kehilangan sosok penyeimbang dan perusak irama permainan lawan.

The Blues memang tengah diterpa badai cedera. Per bulan November 2022, ada 7 penggawa Chelsea yang tengah menjalani masa pemulihan pasca menderita berbagai cedera.

Satu hal lagi yang membuat Chelsea kelimpungan adalah para rekrutan anyar mereka yang belum tampil sesuai harganya. Wesley Fofana misalnya. Susah payah didapat dengan harga lebih dari 80 juta euro, Fofana belum memberi kontrobusi kepada Chelsea. Baru tampil 4 kali, ia langsung terkena cedera yang membuatnya absen sejak awal Oktober 2022.

Sama halnya dengan Denis Zakaria. Nasibnya lebih apes lagi. Gelandang timnas Swiss itu sempat dikira menghilang usai absen sebanyak 17 laga sejak Agustus hingga November. Dipinjam dari Juventus, Zakaria baru bermain untuk Chelsea sebanyak 2 kali, itu pun bukan di ajang Premier League.

Pun begitu dengan Marc Cucurella yang masih nampak kesulitan menemukan performa terbaiknya sejak pindah ke Stamford Bridge. Penampilan Pierre-Emerick Aubameyang juga sama buruknya. Tampil 13 kali, Aubameyang baru mencetak 3 gol untuk Chelsea.

Bisa dibilang kalau aktivitas transfer Todd Boehly pada bursa transfer musim panas kemarin terbilang gagal. Menghabiskan nyaris 282 juta euro untuk memperkuat tim di era Thomas Tuchel, para rekrutan anyar The Blues tampil tidak sesuai dengan harganya. Sialnya, Graham Potter mewarisi skuad bermasalah tersebut.

Jeda Piala Dunia Datang di Waktu yang Tepat Bagi Chelsea

Inilah mengapa Graham Potter tak bisa serta-merta dijadikan kambing hitam atas performa buruk Chelsea di akhir tahun 2022. Todd Boehly harus sabar dan memberi Graham Potter tambahan waktu untuk membentuk skuadnya sendiri.

Boehly harus segera melengkapi jajaran direktur olahraga dan tim rekrutmen Chelsea sebelum bursa transfer musim dingin dibuka. Tujuannya tentu saja agar Potter bisa mendapat pemain sesuai kebutuhannya dan mengurangi keikutsertaan Boehly yang sembrono dalam merekrut pemain.

Oleh karena itulah, jeda Piala Dunia 2022 rasanya datang di waktu yang tepat bagi Chelsea. Graham Potter dan anak asuhnya bisa memanfaatkan waktu jeda ini untuk berkontemplasi sehingga menyadari segala kesalahan mereka dan memperbaikinya agar musim 2022/2023 tidak berakhir menjadi bencana.
***
Referensi: Mirror, Sportbrief, Goal, Transfermarkt, ESPN, Fotmob.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru