Niat ingin bersaing di Liga Champions dan merebut gelar Liga Inggris musim depan, Arsenal justru mendatangkan pemain lemas, letih, lesu macam Kai Havertz. Kalau kata Tretan Muslim sih, Whyyy?! Karena bakal jadi pertanyaan besar kenapa Arsenal ngebet banget datengin pemain berkebangsaan Jerman itu.
Belum lagi, banderol yang ditetapkan oleh manajemen Chelsea terbilang tak masuk akal untuk kualitas Havertz yang biasa aja. Meski begitu, tampaknya Mikel Arteta punya alasan sendiri untuk transfer kali ini.
Perlu diingat, dalam beberapa musim terakhir Arsenal jarang mendatangkan pemain flop. Pergerakan transfernya selalu tepat. Lihat saja bagaimana moncernya Gabriel Martinelli, Martin Odegaard, hingga yang terbaru Leandro Trossard. Tapi kenapa yang dipilih Havertz? Untuk menjawab itu, mari kita ulas bersama.
Daftar Isi
Mahal Euy
Seperti yang sudah disampaikan oleh jurnalis Fabrizio Romano status Kai Havertz ke Arsenal kini sudah here we go. Sebelumnya, Arsenal telah menunjukan minat yang sangat besar kepada punggawa Chelsea tersebut. Gayung bersambut, ternyata Havertz juga menginginkan kepindahan ke Emirates Stadium. Jadi, keduanya merupakan komponen yang saling membutuhkan.
Salah satu alasan Chelsea mau melepas sang pemain ke Arsenal adalah sisa kontrak Havertz. Dilansir 90min, Havertz masih menyisakan dua tahun lagi dalam kontraknya. Namun The Blues paham betul, kemungkinan sang pemain bakal jadi rebutan tim-tim besar di kemudian hari sangat kecil.
Jadi ketika ketertarikan Arsenal datang, Chelsea pun mendengarkan tawaran mereka. Pihak klub pun tak mau melewatkan negosiasi ini dan beresiko kehilangan Havertz secara gratis dalam jangka waktu dua musim ke depan. Meski urgensi menjual Havertz besar, Chelsea tampaknya nggak mau rugi-rugi banget dengan cara memasang harga tinggi.
Menurut David Ornstein, Chelsea menginginkan 65 juta euro atau Rp1 triliun lebih untuk Havertz. Awalnya The Gunners menolak, mereka menawar jauh di bawah angka tersebut. Namun Chelsea kekeh tak mau nurunin harga.
Lucunya, alih-alih mundur Arsenal malah menyanggupi harga tersebut. Itu jadi angka yang sangat mahal mengingat Manchester City hanya membutuhkan 60 juta euro (Rp983 miliar) untuk mendatangkan Erling Haaland.
Performanya Musim Lalu
Tentu tak salah apabila menyebut angka tersebut sangat tinggi untuk pemain sekelas Kai Havertz. Jika melihat permainannya di Chelsea musim lalu, kalian pasti setuju dengan pernyataan tersebut. Seirama dengan performa Chelsea, penampilan Havertz musim 2022/23 jauh menurun ketimbang musim-musim sebelumnya.
Memiliki posisi asli sebagai gelandang serang, Havertz justru lebih sering dimainkan sebagai striker tunggal musim lalu. Keputusan ini diambil oleh keempat manajer Chelsea karena minimnya opsi striker tajam di skuad Chelsea.
Adanya Pierre-Emerick Aubameyang, Raheem Sterling, hingga Mykhailo Mudryk nyatanya tak bisa meningkatkan kualitas lini serang Chelsea musim lalu. Jadilah Havertz yang dikorbankan. Hasilnya? Performa Havertz mengkhawatirkan. Pemain asal Jerman itu hanya mencetak tujuh gol dan satu assist dalam 35 pertandingan Liga Inggris musim ini.
Kelemahan Havertz
Sebelum itu, Havertz dikenal sebagai ujung tombak Chelsea asuhan Thomas Tuchel. Ia bersinar di pertandingan penting seperti final Liga Champions musim 2020/21 melawan Manchester City dan final Piala Dunia Antarklub kontra wakil Benua Amerika, Palmeiras.
Sementara musim lalu, ia mendapat predikat sebagai striker “mandul” dari komentator sepak bola ternama, Andy Townsend. Diwawancarai oleh Talksport, Townsend menambahkan kalau Havertz merupakan pemain paling aneh di Eropa lantaran tak memiliki posisi bermain yang jelas. Sejauh ini, belum ada yang bisa memastikan Havertz ini pemain jenis apa? Bahkan pelatih Chelsea sendiri sering kebingungan.
Selain itu, Havertz bukan tipikal pemain yang doyan lari. Sebagai pemain sepak bola profesional, stamina Havertz sangat buruk. Jadi tak heran apabila kita jarang melihatnya turun membantu pertahanan saat tim mendapat serangan balik dari lawan. Tak memiliki stamina yang baik juga berimbas kepada kepekaan di lapangan. Menurut WhoScored, Havertz kurang cakap dalam mengatasi jebakan offside.
Masih Muda
Dengan banyaknya kelemahan dan kesan buruk yang diberikan Havertz musim lalu, kenapa Arsenal begitu ngotot mendapatkan sang pemain? Sampai-sampai mengeluarkan dana yang begitu besar?
Dilansir situs Transfermarkt, salah satu alasannya adalah usianya yang terbilang masih muda dan Mikel Arteta sangat baik apabila bekerjasama dengan pemain muda, yaitu 24 tahun. Mikel Arteta melihat Havertz yang kehilangan jati diri bisa menemukan kembali sentuhan terbaik di tangannya.
Secara di musim perdana bersama Chelsea, Havertz sebenarnya bermain sangat baik. Mantan pemain Bayer Leverkusen itu juga terbukti bisa jadi penyerang kreatif yang menciptakan peluang bagi rekan-rekannya. Kemampuan itulah yang dilihat Arsenal dan berharap akan kembali timbul.
Fleksibilitas
Walau posisi bermain Havertz tak jelas, namun hal itu justru bisa menjadi senjata rahasia apabila jeli menggunakannya. Ketidakjelasan posisi bermain Havertz bisa jadi sebuah fleksibilitas yang dimanfaatkan untuk menunjang gaya bermain atau sebatas menambah variasi pola serangan.
Alasan tersebut barangkali yang dipertimbangkan oleh Arteta. Karena mantan asisten Pep Guardiola di Manchester City itu merupakan pelatih yang menggemari pemain-pemain versatile seperti Havertz. Lagi pula, The Gunners juga butuh pemain tambahan untuk variasi serangan.
Apalagi Gabriel Jesus dan Eddie Nketiah sudah terbukti bukan pencetak gol ulung macam duet Aubameyang dan Lacazette yang sempat berjaya bersama Meriam London beberapa musim lalu.
Sedangkan Folarin Balogun statusnya belum jelas. Kemungkinan terbesar ia akan dilepas ke klub lain musim depan. Nah, Havertz akan memberikan penyegaran. Arteta bisa menggunakannya sebagai penyerang kreatif di posisi second striker atau false nine. Ia juga bisa menciptakan peluang untuk dirinya sendiri atau bagi partnernya nanti.
Kai Havertz juga unggul dalam duel udara. Sepanjang musim 2022/23, Arsenal cukup mengandalkan Gabriel Magalhaes dan Ben White untuk berduel udara saat skema bola mati. Namun, dengan adanya Havertz, ia bisa jadi target utama saat Arsenal membangun serangan melalui sepak pojok atau tendangan bebas.
Kedalaman Skuad
Jika tak menjadi pilihan utama, Havertz bisa membantu Arteta memperbaiki kesalahan Arsenal musim lalu. PR terbesar Meriam London adalah soal kedalaman skuad. Jadi, mendatangkan Havertz bisa jadi solusi tepat untuk menjaga perbedaan kualitas pemain inti dan pemain cadangan agar tak terlalu jauh.
Terlebih musim depan The Gunners bakal kembali tampil di Liga Champions. Mereka butuh pemain-pemain yang memiliki DNA Eropa dan Havertz punya itu. Arsenal juga masih dendam dengan Manchester City. Musim depan bakal jadi misi semua tim termasuk Arsenal untuk membangun skuad terbaik guna menggulingkan dominasi City.
Mendatangkan Kai Havertz menjadi langkah jitu untuk Arsenal mencapai tujuan tersebut. Toh, pemain-pemain Jerman yang bermain untuk The Gunners kebanyakan tidak pernah mengecewakan. Jadi, bisakah Havertz memberikan kualitas yang setimpal dengan harganya?
Sumber: The Athletic, 90min, Transfermarkt, The Analyst


