Uniknya Keturunan Thuram: Marcus ke Inter, Khephren Ikuti Lilian ke Juve

spot_img

Juventus akhirnya berhasil mendapatkan pemain muda asal Prancis, Khephren Thuram. Pemain yang didatangkan dari OGC Nice dengan biaya 20 juta Euro tersebut merupakan putra dari legenda sepak bola Prancis, Lilian Thuram.

Uniknya, kakak Khephren, Marcus Thuram, terlebih dahulu bermain di Serie A. Marcus sudah bermain bersama Inter, yang tiada lain rivalnya Juventus, sejak musim 2023/24 lalu dan langsung menyabet scudetto. Lantas, apakah Khephren bisa mengikuti jejak sang ayah dan kakak berprestasi di Serie A?

Mengenal Khephren Thuram

Khephren Thuram lahir pada 26 Maret 2001 di Reggio Emilia, Italia. Kota tersebut berjarak sekitar setengah jam dari Parma, tempat di mana sang ayah bermain kala itu. Dilansir dari The Scotman, nama Khephren Thuram sendiri diinspirasi oleh salah satu firaun Mesir kuno bernama Khafre.

Khephren kecil memang tumbuh di keluarga sepak bola. Selain sang ayah dan kakak, diketahui salah satu sepupu sang ayah yang bernama Yohann Thuram juga seorang pemain sepak bola yang berposisi sebagai penjaga gawang.

Khephren muda bergabung di akademi AS Monaco. Debut pertamanya ia dapatkan di usia 17 tahun saat AS Monaco bertemu dengan Atletico Madrid di ajang Liga Champions. Ia masuk menggantikan Aleksandr Golovin di menit ke-63.

Pada musim panas 2019, Khephren Thuram pindah ke OGC Nice. Di sana bakat Khephren makin terasah. Dikutip dari Transfermarkt, di musim pertamanya, Khephren setidaknya diberi kesempatan sebanyak 7 kali untuk bermain sebagai starter di Liga Prancis.

Lambat laun Khephren menjelma sebagai pilar penting OGC Nice. Penampilannya yang impresif membuatnya ditarik masuk ke skuad Timnas Prancis. Dua hari sebelum merayakan ulang tahunnya yang ke-22, Khephren masuk menggantikan Adrien Rabiot saat Prancis sukses menggulung Belanda 4-0 di ajang kualifikasi Piala Eropa 2024.

Berbeda dengan sang ayah dan kakak, Khephren Thuram berposisi sebagai pemain tengah. Dilansir dari The Coach Voice, Khephren Thuram bisa bermain sebagai pemain nomor 8 dan nomor 6 yang memiliki insting untuk membantu penyerangan. Dengan tubuh yang jangkung, bagaimana cara Khephren bermain mungkin bisa dibayangkan lewat permainan Yaya Toure.

Meskipun masih belia, Khephren sudah memiliki kemampuan membaca permainan yang bagus. Menurut The Coach Voice, adik dari Marcus Thuram ini memiliki tendensi untuk maju membantu rekan setimnya. Tujuannya, agar konsentrasi pemain belakang lawan menjadi terpecah dan rekan setimnya bisa mendapatkan ruang kosong.

Sebab, Khephren juga memiliki kemampuan umpan yang ciamik. Khephren bisa memberikan umpan terobosan yang akurat dan di waktu yang tepat. Kemampuannya ini membuatnya bisa dengan mudah mengatur tempo dan jalannya permainan, misalnya mengubah arah serangan atau switch play.

Fisiknya yang kokoh dan jangkung membuatnya percaya diri untuk merebut bola. Khephren tak segan untuk berduel untuk merebut bola dari lawan. Selain itu, dirinya juga bisa memanfaatkan 1,92 meter tinggi badannya untuk berduel di udara.

Komplitnya kemampuan yang dimiliki Khephren Thuram tentunya menarik perhatian Juventus. Tak tanggung-tanggung, mereka rela menebusnya dengan mahar 20 juta euro dari OGC Nice. Terlebih, musim ini mereka sedang membangun ulang skuadnya setelah mendatangkan pelatih muda potensial, Thiago Motta.

Permainan Khephren bisa sangat berguna bagi sepak bola Thiago Motta yang memainkan sepak bola dari belakang. Dengan kemampuan bermain dari dalam dan kualitas umpan yang mumpuni, Khephren bisa menjadi motor Thiago Motta untuk memulai serangan.

 

Sang Ayah yang Bermain untuk Parma dan Juventus

Karir Khephren Thuram di Juventus tentunya bukan tanpa tekanan. Sebab, Khephren akan bermain di bawah bayang-bayang pencapaian sang ayah, Lilian Thuram. Sang ayah berhasil mengukir namanya sebagai salah satu pemain elit yang menjadi legenda Sang Nyonya Tua.

Sebelum bergabung bersama Juventus, Lilian Thuram terlebih dahulu menginjakkan kakinya di Italia bersama Parma. Carlo Ancelotti adalah sosok yang bertanggung jawab membawa Lilian ke Parma di musim panas 1996. Dilansir dari Pythagoras In Boots, Pelatih yang sebelumnya sukses membawa Reggiana promosi ini terpikat dengan Lilian Thuram yang tampil apik selama gelaran Piala Eropa 1996.

Pelatih dengan gelar Liga Champions terbanyak ini terpincut dengan kemampuan Lilian Thuram yang bisa bermain melebar di luar posisinya. Lilian pun didatangkannya ke Parma untuk mengisi slot bek tengah sebelah kanan. Lilian berdiri kokoh menghadang lawan sebelum mereka mengganggu Gianluigi Buffon yang menunggu di bawah mistar gawang.

Setelah sukses membawa Prancis juara dunia di Piala Dunia 1998, Lilian Thuram pun mengulangi kegemilangannya bersama Parma. Kali ini Lilian bermain dengan skuad legendaris dari Parma. Bermain dengan skema 3-2-3-2, Lilian Thuram menjaga lini belakang Parma bersama Nestor Sensini di tengah dan Fabio Cannavaro di kiri. Alhasil, tim bertabur bintang tersebut sukses memenangi kompetisi UEFA Cup dan Coppa Italia.

Setelah sukses bersama Parma, ayah yang baru saja merayakan kelahiran Khephren Thuram ini pindah ke Turin untuk bergabung dengan Juventus. Marcelo Lippi mendatangkannya ke Turin dengan mahar 36 juta euro. Kala itu, transfer Lilian Thuram ke Juventus memecahkan rekor transfer bek termahal yang dipegang oleh Rio Ferdinand dari West Ham ke Leeds yang dipatok sebesar 26 juta euro.

Bersama Si Nyonya Tua, Lilian Thuram kembali bermain dengan Gigi Buffon di belakang. Di musim debutnya itu juga Lilian Thuram langsung menyabet scudetto dan mencapai babak final Coppa Italia. Di musim berikutnya, ayah muda ini kembali menyabet gelar scudetto. Bedanya, kali ini dirinya berhasil membawa Juventus ke final Liga Champions 2003.

Di laga final, Juve harus menghadapi AC Milan. Kedua tim yang sedang meraih masa emasnya ini bermain alot 0-0 hingga babak akhir. Namun, kemahiran Lilian Thuram menjaga pertahanan Juve tidak ada artinya ketika Rossoneri berhasil menang 3-2 melalui adu penalti.


Sang Kakak yang Bermain untuk Inter

Sementara itu, sang kakak, Marcus Thuram sudah terlebih dahulu bermain di Italia. Pemain yang dikenal kocak tersebut didatangkan ke Inter secara cuma-cuma setelah kontraknya di Borussia Monchengladbach habis.

Musim debutnya bersama Inter bisa dikatakan sangat sukses. Duet Lautaro Martinez ini berhasil membawa pulang scudetto ke Giuseppe Meazza. Pemain yang lahir di Parma ini berhasil mencetakkan 15 gol dan 14 assis hanya dalam 40 laga.

Pemain yang juga terkenal kejahilannya ini tentunya langsung dicintai oleh publik Nerazzurri. Selain berhasil mencetak gol spektakuler di Derby Della Madonnina dari sisi kiri pertahanan AC Milan, Marcus Thuram juga sempat viral akibat kejahilannya mengolok-olok Juventus di depan sang ayah kala merayakan scudetto ke-20 La Beneamata.

Dikutip dari Sempre Inter, dirinya dengan penuh percaya diri bakal melampaui capaian sang ayah. “Aku akan dengan mudah melampauinya,” ujar Marcus kala diwawancarai CBS Sport Golazo.

Berkaca dari performa Marcus Thuram selama ini, akan menjadi menarik apabila kelak dirinya akan bertanding melawan sang adik, Khephren Thuram. Terlebih, seperti yang sudah diketahui, duel Inter dan Juventus adalah duel terpanas di Italia. Sampai-sampai dijuluki Derby d’Italia.  

Sumber: Transfermarkt, The Coach Voice, The Scotsman, Pythagoras In Boots, The Athletic, dan Sempre Inter

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru