Dalam sejarah sepakbola, Brasil menjadi satu-satunya negara yang belum pernah satu kali pun absen dari ajang piala dunia. Sejak pertama kali digelar di Uruguay pada tahun 1930 hingga gelaran di Rusia tahun 2018, tim samba selalu ikut berpartisipasi.
Ajang Piala Dunia akan selalu membekas dalam ingatan tim nasional Brasil. Bukan saja 5 gelar yang sudah mereka raih, namun kisah pilu juga sering mereka rasakan. Ya, sepanjang keikutsertaan mereka di turnamen akbar empat tahunan tersebut, Brasil kerap kali temui awan hitam yang menghalangi langkah mereka untuk menjadi juara.
Salah satu Piala Dunia yang mungkin akan selalu dikenang oleh bangsa Brasil adalah piala dunia 2014. Di ajang yang dihelat di rumah sendiri itu, Brasil gagal menjadi sang pemenang. Seperti yang sudah semua orang ketahui, langkah mereka terhenti di semifinal dengan cara yang begitu tragis.
Brasil dipercaya menjadi tuan rumah piala dunia 2014 setelah FIFA menunjuk mereka pada tahun 2007, dan ini merupakan kedua kalinya Brasil terpilih sebagai tuan rumah setelah piala dunia 1950. Sebanyak 12 stadion di 12 kota disiapkan Brasil untuk menggelar pesta sepakbola antar negara di dunia tersebut.
Sebagai tuan rumah, Brasil jelas difavoritkan untuk menjadi yang terbaik. Tapi tim samba dinaungi bayang-bayang masa lalu, di mana mereka kalah pada partai penentuan Piala Dunia 1950 dari Uruguay di Rio De Janeiro. Kekalahan yang masih ada di benak mayoritas penggemar Brasil, meski peristiwa itu telah terjadi lebih dari 60 tahun yang lalu.
Tak cuma itu, pada persiapannya, Piala Dunia 2014 juga diwarnai beberapa aksi protes dari masyarakat Brasil. Para demonstran menentang negara mereka untuk menggelar turnamen paling bergengsi di dunia itu, lantaran kecewa dengan penggunaan pajak yang mereka bayar dihabiskan buat persiapan piala dunia 2014.
Meski sempat terjadi aksi unjuk rasa, beruntung hajatan piala dunia edisi ke 20 tetap berjalan dengan baik. Tuan rumah Brasil sendiri tergabung di grup A bersama Meksiko, Kroasia dan Kamerun. Laga pembuka mereka lewati dengan mulus, melawan Kroasia di Sao Paulo, dua gol Neymar dan satu dari Oscar membawa Tim Samba menang 3-1.
Di pertandingan kedua, Brasil ditahan imbang Meksiko dengan skor kacamata. Setelah sempat ditahan tim dari negeri Sombrero, Brasil sukses pesta gol ke gawang Kamerun di laga ketiga. Kemenangan 4-1 atas wakil Afrika membuat Brasil lolos ke babak selanjutnya sebagai juara grup.
Setelah melaju mulus melewati babak penyisihan grup. Skuad asuhan Luiz Felipe Scolari mulai mendapatkan kesulitan ketika di fase knock out. Mereka hanya menang lewat drama adu penalti melawan Chile di 16 besar. Kemudian hanya menang dengan skor tipis 2-1 pada perempat final atas sesama wakil ConmeboL, Kolombia.
Konsistensi Brasil mulai rapuh ketika Julio Cesar dan kolega harus berhadapan dengan sang juara 4 kali, Jerman, pada laga semifinal di Stadion Mineiro, Kota Belo Horizonte. Pada pertandingan inilah, tragedi bersejarah tersebut terjadi.
Tepat di hari itu, 8 Juli 2014 menjadi hari yang tak bisa dilupakan oleh masyarakat Brasil. Hari itu terasa begitu menyakitkan dalam ingatan penggemar sepak bola Brasil di seluruh dunia.
Pendukung Brasil dibuat menangis, tertegun, tak percaya dengan hasil sementara di 30 menit pertama laga, di mana Jerman sudah memimpin 5-0. Tim Panser begitu digdaya di Mineiro. Die Mannschaft menyudahi laga dengan mencetak tujuh gol dan hanya mengizinkan satu gol balasan ke gawang Manuel Neuer.
Di pertandingan tersebut, pelatih Brasil Luiz Felipe Scolari tak dapat menurunkan Neymar yang mengalami cedera saat berhadapan dengan Kolombia, serta Thiago Silva yang terkena akumulasi kartu kuning. Untuk mengisi kekosongan tersebut, Scolari menurunkan Bernard guna menggantikan posisi Neymar di sayap kanan lini serang Brasil. Sedangkan posisi Thiago ditempati oleh Dante. Brasil yang menerapkan formasi 4-2-3-1 harus berduel dengan Jerman yang mengandalkan kolektivitas.
Laga babak pertama berlangsung sangat ketat, tuan rumah terus melancarkan serangan demi serangan ke pertahanan Jerman. Akan tetapi, superioritas Brasil atas Jerman hanya berlangsung di sepuluh menit awal laga. Brasil begitu percaya diri dengan hanya menempatkan dua bek tengah untuk mengawal Miroslav Klose.
Padahal, mantan pemain FC Bayern ini, selalu diapit Thomas Muller dan Mesut Ozil di kedua sisi. Di sepuluh menit awal, Serdadu Panser hanya satu kali berhasil mengancam dengan memasuki daerah pertahanan Brasil.
Melihat hal ini, Jerman lebih sabar dan mencoba untuk mematahkan serangan sayap Brasil. Sami Khedira dan Bastian Schweinsteiger, selaku duo gelandang Jerman bermain lebih melebar dan membantu fullback mereka dalam menahan gempuran Selecao.
Petaka bagi kubu Brasil akhirnya datang di menit ke-11. Jerman yang mendapat kesempatan tendangan pojok mampu dimaksimalkan oleh Thomas Muller untuk merobek gawang Brasil dan skor berubah 0-1. Tertinggal satu gol hingga menit ke 19, Brasil terus mencoba samakan kedudukan, namun masih belum membuahkan hasil. Sebaliknya, Jerman makin menggila, mereka menambah empat gol tambahan sampai dengan waktu setengah jam. Masing-masing lewat Miroslav Klose pada menit 23, Toni Kroos pada menit 24 dan 26, dan Sami Khedira pada menit 29.
Brasil tertinggal 0-5 hanya dalam waktu 29 menit. Semuanya serba sulit bagi tim mana pun yang masuk ke kamar ganti di waktu istirahat dengan ketinggalan jumlah gol yang sangat besar. Bukan hal yang mudah untuk membalikkan keadaan dan membuat keajaiban. Sekadar membangkitkan semangat pun butuh team-talk luar biasa di kamar ganti.
Ketika babak kedua dimulai, Brasil langsung menekan lini belakang Jerman, namun peluang yang diperoleh mampu diamankan Neuer. Keasyikan menyerang membuat Brasil lupa lini pertahanan, hal itu pun dimanfaatkan oleh Jerman untuk menambah skor, kali ini lewat aksi Andre Schurrle di menit 69.
Pada menit ke 78 kembali peluru tim panser menimpa Brasil, lagi-lagi gawang Julio Cesar di bobol Schurrle untuk kedua kalinya dan skor pun berubah 0-7 untuk Jerman. Brasil akhirnya mampu memperkecil kedudukan pada menit ke-90 melalui Oscar.
Tentu saja, dengan hasil ini, impian tuan rumah untuk merengkuh trofi piala dunia keenamnya harus kandas. Sebaliknya Jerman sukses mencuri perhatian dan mencapai final sebelumnya akhirnya dinobatkan sebagai sang juara.
Bagi publik Brasil, hasil yang tercipta tepat pada malam itu merupakan kekalahan terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah sepakbola Negeri Samba. Tragedi ini disebut juga dengan Mineirazo. Kekalahan memalukan ini akan selalu dikenang oleh Brasil sebagai kekalahan terburuk sepanjang masa. Kekalahan di Estadio Mineirao yang dipadati oleh 58 ribu suporter menjadi saksi mata kegagalan Brasil. Tidak ada yang menyangka Brasil akan kalah secara mengenaskan.
Di level turnamen sebesar Piala Dunia, dengan pemain cadangan sekalipun, kekalahan besar pada duel dua raksasa seharusnya tidak terjadi. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Jerman memperlihatkan kelasnya. Panser Jerman menggilas tarian indah Samba.
Luiz Felipe Scolari, selaku juru taktik Brasil kemudian mengundurkan diri jabatannya tepat enam hari setelah pertandingan tersebut. Ia mengatakan bahwa laga itu merupakan momen terburuk dalam karirnya.
“Ini adalah momen terburuk dalam karir sepakbola saya dan hari terburuk dalam kehidupan sepakbola saya,” Ucap Scolari (Dikutip Independent).
Pada pertandingan itu juga memunculkan rekor baru bagi penyerang Miroslav Klose. Klose sukses menjadi pencetak gol tersubur dalam sejarah Piala Dunia dengan melewati rekor 15 gol milik legenda Brasil, Ronaldo Luiz Nazario.
Masih belum pulih dari rasa malu, Brasil kemudian juga harus kalah pada pertandingan perebutan tempat ketiga oleh Belanda. Kekecewaan skuad Brasil tampaknya masih membekas di laga kontra De Oranje sehingga mereka takluk tiga gol tanpa balas.


