Tomas Rosicky: Kisah Seorang Penata Seni Lapangan Hijau

spot_img

Tomas Rosicky, keluar sebagai pemain yang mungkin dicintai banyak orang. Ia tercatat tampil dengan tiga klub sepanjang karirnya. Meski tak banyak destinasi, nama Tomas Rosicky akan selalu melekat di hati.

Kita semua tahu kalau Tomas Rosicky merupakan pemain yang berperasi di lini tengah. Pergerakan dan permainan olah bolanya kerap tak terduga. Tendangan nya terkadang mengoyak jala, dan setiap kontribusinya diatas lapangan tak jarang memberikan kemenangan yang paling dikenang.

Tumbuh di wilayah yang masih kental dengan aroma Uni Soviet, Rosicky tak akan pernah melupakan pengalaman kecilnya kala hidup dibawah pemerintahan Komunis. Ia kerap merasa kesulitan dan tidak tenang kala berada dibawah tekanan pemerintahan kala itu.

Namun, satu tekad yang ada pada dirinya berhasil membangunkan Rosicky dari penderitaan panjang. Ia yang punya keahlian untuk menjadi atlet profesional tak tinggal diam.

Bakat yang tertanam dalam diri Rosicky tak hadir begitu saja. Ia merupakan keturunan orang-orang yang memang punya segalanya untuk menjadi sukses di bindang olahraga, Ibunya, Eva, merupakan mantan pemain tenis meja profesional. Sementara ayahnya, Jiri, merupakan mantan pesepakbola yang banyak menghabiskan karir di klub di wilayahnya, Sparta Praha.

Dengan bekal darah seorang atlet, tidak menjadi hal sulit bagi Rosicky untuk kembangkan bakatnya. Bahkan, sebagai pesepakbola, ia tak hanya sekadar menggiring dan menendang bola, namun juga memainkannya dengan cara yang begitu indah. Oleh sebab itu, orang-orang menjuluki Rosicky sebagai “The Little Mozart”.

Rosicky memulai karir di Sparta Praha, tempat ayahnya dulu menimba ilmu. Ia lalu mendapat kesempatan debut pada usia 17 tahun, atau pada musim 1998/99. Di musim debutnya, Rosicky yang memang punya aura bintang sukses tampil dalam sejumlah kesempatan yang diberikan. Dia berhasil menjadi salah satu pemain penting dalam skuad dan berhasil sumbangkan trofi Liga Ceko, dimana ia meraihnya lagi di musim berikutnya.

Sukses di kompetisi lokal membuat Rosicky mendapat kesempatan untuk ikut tampil di kompetisi Eropa. Kala itu, ia yang tampil di kompetisi Liga Champions Eropa berhasil kesankan banyak orang hingga membuat tim sekelas Borussia Dortmund meminatinya.

Pada 9 Januari 2001, Rosicky bergabung dengan Borussia Dortmund dan menandatangani kontrak selama lima tahun. Kala itu biaya senilai 25 juta plus 8 juta pounds menjadikannya sebagai pemain termahal asal Ceko yang dilego ke klub asing. Di musim perdananya, tak butuh waktu lama bagi Rosicky untuk buktikan kualitas. Ia yang masih setia dengan peran pengatur irama sukses memberikan gelar Bundesliga ke klub berjuluk Die Borussen.

Ia juga turut masuk kedalam skuad Dortmund yang lolos hingga partai final Piala Europa. Namun sayang, mereka harus kandas oleh perlawanan Feyenoord dengan skor 3-2. Dua setengah musim pertamanya di Jerman sudah menjadikan Rosicky sebagai salah satu bakat yang paling dicari. Dari 75 pertandingan yang dijalankan, ia berhasil catatkan 20 assist.

Buntut dari pernampilan apiknya, Dortmund langsung memberinya perpanjangan kontrak kepada Rosicky pada tahun 2003. Durasi selama lima tahun diberikan kepada pemain bertinggi 179 senti. Hasil dari permainan indahnya di Jerman, Rosicky mendapat penghargaan Golden Ball dari negaranya, Ceko. Sebuah prestasi luar biasa yang didapat oleh pemain luar biasa pula.

Ia memiliki pengalaman yang luar biasa kala berseragam Borussia Dortmund. Ia banyak menginspirasi pemain, utamanya Marco Reus, yang kini menjadi kapten dari klub yang bermarkas di Signal Iduna Park. Musimnya disana berjalan begitu baik. Memang benar jika beberapa cedera sempat mendera, namun tak boleh disangkal jika perannya sebagai seorang pengatur serangan sama persis ketika seorang pengatur irama tengah memainkan sebuah karya yang tak ternilai harganya.

Rosicky yang mendapat julukan sebagai Mozart kecil memang senada dengan apa yang dilakukannya di lapangan. Namun disisi lain, ia juga punya segi permainan yang lebih cocok disandingkan dengan genre yang agak cadas. Hal itu merujuk pada jenis musik yang disukainya, yaitu Heavy Metal.

Dia memiliki seluruh komponen yang dibutuhkan untuk menjadi pemain hebat. Bak aliran musik heavy metal yang tergolong cadas, Rosicky juga terkadang menyelipkan permainan-permainan keras untuk bisa mengatur segala irama yang telah disiapkan. Hasilnya, semua terangkum dalam sebuah karya indah diatas lapangan.

Dengan segala kemampuan yang dimiliki, Rosicky akhirnya menerima pinangan dari tim meriam London pada Mei 2006. Meski kontraknya masih tersisa dua tahun lagi, ia tertarik untuk mencari panggung baru dalam rona Liga Primer Inggris.

Memiliki sedikit karakter keras membuat Rosicky begitu mudah beradaptasi di kompetisi Negeri Tiga Singa. Ia yang punya permainan elegan akhirnya juga mewarisi nomor punggung yang ditinggalkan salah satu pemain berbakat Arsenal, Robert Pires.

Ia mendapat warisan nomor punggung 7 dan sukses menjadi salah satu pemain andalan tim gudang peluru. Perjalanannya di Inggris tak kalah hebat dengan masanya di Jerman. Rosicky sama-sama menjadi idola dan beberapa kali menginspirasi Arsenal dalam dapatkan gelar. Selama kurang lebih sepuluh tahun bermain disana, Rosicky banyak dimainkan sebagai pria pengatur serangan.

Meski karirnya diiringi dengan berbagai rentetan cedera, Rosicky tak pernah mau menyerah. Semua kesuraman yang terjadi dalam karirnya hanya diselipkan dalam buku catatan perjalannya saja, tak sampai ia tinggikan sebagai sesuatu yang menyengsarakan.

Ia banyak dikenal oleh sebagian besar penggemar Liga Primer Inggris. Kedatangannya seolah memberi warna. Ia yang kala itu masih berusia 25 tahun melakukan debut kompetitif untuk Arsenal pada 8 Agustus 2006, dalam kemenangan 3-0 atas Dinamo Zagreb di kualifikasi Liga Champions Eropa. Ia berhasil mencetak gol pertama nya untuk Arsenal sebulan kemudian dan kembali mendapat penghargaan sebagai pemain terbaik Ceko pada tahun 2006.

Dua musim pertamanya dilaluinya dengan sangat baik. Namun sayang pada musim 2008/09, Rosicky sama sekali tidak tampil bersama Arsenal karena mengalami cedera yang sangat parah. Saat itu, ia mengalami peradangan di bagian saraf kakinya. Dokter-dokter di Arsenal butuh satu tahun lebih untuk menyembuhkan sakitnya itu. Akhirnya, setelah melewatkan lebih dari 60 laga, Rosicky kembali ke lapangan pada 9 April 2009.

Namun masalah tersebut seolah menjadi awal dari segala ketidakikutsertaannya dalam sebuah pertandingan. Rosicky mendapati bagian tubuhnya kembali diserang cedera. Namun perjalanannya makin hari kian membaik hingga dirinya kembali terus dimainkan dalam setiap pertandingan.

Rosicky memang tidak mendapat banyak gelar bergengsi kala berseragam Arsenal. Gelar liga tak pernah ia dapat, hanya Piala FA yang ia angkat pada musim 2013/14 dan 201/15. Selebihnya, cuma Piala Community Shield 2014 yang menjadi pelengkap. Akan tetapi, keberadaannya lebih dari sekadar gelar. Ia banyak menginspirasi pemain muda untuk tampil dengan penuh tenaga dan keindahan.

Wenger yang saat itu masih menjadi pelatih Arsenal juga dibuat kagum oleh sosok Rosicky. Ia selalu membandingkan tim nya kala bermain, dimana disitu ada Rosicky. Sang profesor bahkan sempat berucap kalau permainannya masih lebih indah dari Chelsea yang saat itu dihuni oleh pemain-pemain hebat.

Rosicky memang rajanya mengatur tempo pertandingan. Ia tahu kapan harus bertahan dan kapan menaikkan tempo permainan. Fleksibilitasnya juga sangat dibutuhkan. Rosicky akan selalu dengan elegan memainkan peran yang diinginkan.

Namun sayang, semua perjalannya harus berakhir ketika pada 2015/16 ia harus menepi selama satu musim akibat masalah cedera. Setelah lebih dari 300 hari berdiam diri di ruang perawatan, Rosicky akhirnya memilih pergi. Semua cerita yang dituangkannya telah selesai. Dan saat itu menjadi waktu yang tepat baginya untuk kembali ke tim masa kecilnya.

Sempat kembali bermain di Sparta Praha dalam kurun waktu dua musim, Rosicky akhirnya putuskan pensiun.

“Setelah melakukan pertimbangan. Aku merasa bahwa tubuhku tak kuat lagi untuk berlari secara profesional,”

“Aku berterima kasih kepada Sparta Praha dan seluruh klub besar lainnya. Terima kasih telah memberiku kesempatan.” (via espn)

Dalam ucapannya, Rosicky mengaku bahwa ia begitu bahagia kala tampil bersama Arsenal. Baginya, klub tersebut menjadi salah satu yang fantastis dalam perjalanan karirnya.

“Arsenal adalah klub fantastis dan sebuah kehormatan bagi ku bisa memperkuat klub ini. Aku memiliki ikatan yang spesial dengan fans. Setiap kali aku bermain, fans tahu bahwa aku bermain sepenuh hati dengan seragam ini,”

“Ada sedikit penyesalan karena kami tidak memenangi Liga Primer. Tetapi setelah kebersamaan yang panjang, berkarier di Arsenal adalah sebuah momen yang indah. Aku selalu menyukai visi bermain Arsene Wenger yang menurut ku sungguh menakjubkan,” ungkap Rosicky (via espn).

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru