Pada tahun 2004, senang rasanya jika kalian adalah seorang penggemar Arsenal. Tak peduli apa yang terjadi diluar sana, yang terpenting, tim kebanggaan dengan gagah mengangkat piala paling bersejarah. Ada banyak nama yang tersimpan rapih dalam catatan emas pasukan meriam. Namun satu nama yang menjadi sorotan adalah Thierry Henry.
Pria Prancis dengan gaya membawa bola paling disegani, tak pernah lepas dari mata penggemar yang sudah menanti. Henry, begitu lah nama yang terpahat rapih dibalik jersey. Sesekali menengok ke belakang untuk perkenalkan diri, Henry, dengan satu sontekan paling berarti akan memberi segenap seni yang berakhir dengan prestasi.
Henry bukan lah nama asing di persepakbolaan Inggris. Langkah nya begitu dikenang, talentanya akan terus terbayang, dan raihan angka yang dihasilkan sulit untuk dipatahkan.
Henry kecil tumbuh di wilayah yang berada di pinggiran kota Paris, Les Ulis. Lahir dari orang tua imigran, Henry masuk kedalam kalangan minoritas. Kehidupannya saat itu cukup sulit, namun bagi sang ayah, ia tidak akan membiarkan Henry terus hidup dalam garis kemiskinan. Ia akan membentuk kebiasaan sang anak agar mau berfikir maju, tak takut rintangan, dan terus bergerak meski bahaya mengancam.
Saat itu, permainan sepak bola menjadi satu bakat yang paling menonjol dalam diri Henry. Maka, ayahnya tak tinggal diam, dan membawa Henry bergabung dengan pertandingan-pertandingan lokal.
Masa perjalanan kariernya terus bergerak secara cepat dan konsisten. Di usia enam tahun, Henry bergabung dengan tim junior Les Ulis, dan enam tahun berselang ia bermain dengan AS Palaiseau. Lalu pada usia 13 tahun, ia sudah bermain untuk tim Viry-Chatillon U-15.
Ketika kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah karena suatu alasan, sang ibu membawa Henry menuju Orsay untuk bergabung dengan Alexander Fleming School, sebuah tempat agar putranya bisa memfokuskan diri ke dunia pendidikan dan sepakbola.
Lalu tepat pada usia 14 tahun, ia terpilih sebagai pemain yang bisa bergabung dengan Akademi Clairefontaine, sebuah tempat pelatihan sepakbola yang banyak menelurkan bakat-bakat dunia asal Prancis.
Disana, Henry melakukan kursus pelatihan sepak bola setelah mengikuti permintaan dari seorang pencari bakat dari AS Monaco, Catalano. Henry pun bergabung dengan Arsene Wenger di tim junior Monaco tak lama setelah dirinya menyelesaikan kursus tersebut.
Pada tahun 1994, Henry resmi bermain untuk tim utama Monaco. Ia menjalani debut di pertandingan melawan Nice, dimana timnya menang dengan skor 2-0. Itu menjadi awal yang bagus baginya. Pertandingan pertama bersama dengan tim senior membuatnya lebih percaya diri untuk terus kembangkan potensi.
Nyatanya, apa yang menjadi keyakinannya benar. Selama kurang lebih lima tahun bermain untuk AS Monaco, Henry bermain di lebih dari 140 pertandingan. Torehan golnya pun mencapai 28 angka, dimana musim 1997/98 menjadi yang paling produktif baginya. Pada musim 1996/97, Henry mampu sumbangkan satu gelar Ligue One untuk Monaco, bahkan, ia mendapat penghargaan French Young Footballer of the Year pada musim tersebut berkat penampilan apiknya.
Saat masih berseragam Monaco, Henry juga mendapat banyak prestasi gemilang lainnya.
Pada tahun 1996, Henry menjadi pemain muda Prancis di bawah pengawasan Wenger. Ia memimpin tim Perancis dibawah usia 18 tahun dalam menjalani Kejuaraan Eropa, dan dirinya berhasil mencetak 7 gol dalam kompetisi tersebut.
Berkat penampilan gemilang yang ditunjukkan, ia berhasil mendapat tempat di timnas senior Prancis dan sukses memenangkan Piala Dunia tahun 1998. Momen itu menjadi satu yang luar biasa bagi Henry, karena ia bisa bermain dengan pemain sekelas Patrick Vieira, Laurent Blanc, Marcel Desailly, hingga Zinedine Zidane. Dalam turnamen itu, Henry tampil sebanyak enam pertandingan dan mencetak 3 gol. Dua tahun kemudian ia juga membantu Prancis menjadi Juara Piala Eropa.
Dalam segala permainan apiknya, Henry sedikit banyak terpengaruh oleh gaya permainan legenda asal Belanda, Marco van Basten. Henry menyatakan bahwa sosok Marco Van Basten sebagai inspirasinya.
“Marco van Basten adalah pemain favoritku. Dia adalah salah satu penyerang terbaik sepanjang masa.” kata Henry (via 90 minutes football)
Di musim terakhir nya bersama Monaco, Henry hanya tampil dalam 19 laga di semua ajang. Henry meninggalkan Monaco pada Januari 1999, dan bergabung bersama Juventus dengan nilai transfer 10.5 juta pounds tau sekitar 178 milliar rupiah.
Namun sayang, masa di Juventus menjadi yang terburuk dalam karirnya. Meski saat itu kompetisi Serie A masih menjadi primadona, ia tak bisa tunjukkan bakat.
Henry yang dipasang sebagai pemain sayap, tidak bisa berbuat banyak, karena disiplinnya pertahanan tim lawan di Serie A. Dirinya pun hanya berhasil mencetak 3 gol dari 16 pertandingan.
Beruntung, karirnya terselamatkan, setelah Arsenal mau memboyongnya ke Liga Primer Inggris. Kala itu, Arsene Wenger punya peran penting dalam mendatangkan Henry ke London. Pria yang sempat melatihnya di Monaco kembali tanamkan kepercayaan diri yang tinggi dalam hatinya. Henry resmi bergabung dengan Arsenal pada 3 Agustus 1999 dengan nilai transfer 11 juta pounds.
Meski posisi aslinya adalah sebagai winger, Henry di posisikan sebagai penyerang untuk menggantikan Nicolas Anelka. Tetapi, banyak yang meragukan kemampuan Henry dalam beradaptasi dengan permainan Inggris yang cepat dan membutuhkan fisik yang baik, setelah ia gagal mencetak gol dalam 8 pertandingan pertamanya di Arsenal.
Namun begitu, Wenger terus memberinya semangat. Sang profesor percaya bahwa Henry memiliki talenta yang sungguh luar biasa. Oleh sebab itu, ia terus memberinya kesempatan. Kepercayaan Wenger berbuah manis. Di musim 2001/02, Thierry Henry berhasil mencetak 24 gol di Liga Inggris, sekaligus menjadi top skor. Ia juga sukses memimpin Arsenal dalam memenangi gelar Liga Primer dan Piala FA.
Musim 2003/04, Henry benar-benar berkembang bersama Arsenal. Ia berhasil mencetak 30 gol di Liga Primer Inggris dan membantu Arsenal dalam memenangkan gelar paling bersejarah di persepakbolaan Inggris.
Seperti yang sempat disinggung di awal, Arsenal menjadi juara Liga Inggris tanpa merasakan satupun kekalahan, yang mana kemudian mereka mendapat julukan ‘The Invincibles’, sebuah prestasi yang terakhir dicapai oleh Preston North End di musim 1888/89, 115 tahun sebelum akhirnya Arsenal berhasil mengulangi sejarah tersebut di musim 2003/04.
Langkah kaki Thierry Henry semakin tak terhenti. Ia terus berlari dan mengejar prestasi. Tepat dua tahun setelah meraih trofi emas Liga Primer Inggris, Henry berhasil memecahkan rekor 185 gol Ian Wright untuk Arsenal. Bahkan, hingga saat ini dirinya masih menjadi pemegang rekor gol terbanyak untuk Arsenal dengan torehan 228 gol.
Atas semua prestasi yang telah diraih, Wenger pantas disebut sebagai salah satu titik paling penting dalam perjalanan karir Henry. Semuanya tidak akan berarti jika Henry tidak mampu memanfaatkan peluang yang dimiliki. Kini, semua tahu, apa yang telah diraih oleh Thierry Henry, akan selalu menjadi memori, bahwa stadion Highbury masih terus menyimpan apa itu arti legenda sejati.
Perjalanan Henry tak cukup sampai disini. Pergerakannya diatas lapangan masih akan selalu memberi kepanikan tersendiri, bagi barisan musuh yang sudah berdiri menanti hadirnya penyerang paling ditakuti.
Pada tahun 2007, Henry semakin melengkapi skuat mumpuni tim bergelimang trofi. Tak perlu diragukan lagi, bermain bersama Ronaldinho, Eto’o dan Lionel Messi, Henry tak pernah berhenti tunjukkan aksi. Jika masih ada yang belum mempercayai, maka gelontoran enam trofi dalam satu musim akan mengunci mulut para pembenci.
Puas bermain di Eropa, Henry kembali merawat mimpi. Kali ini, negeri yang paling banyak diminati pun dicicipi.
Amerika, menjadi saksi dari perjalanan luar biasa sang pengukir cerita. Dirinya bergabung dengan New York Red Bulls pada tahun 2010. Meski begitu, Henry sempat kembali bergabung dengan Arsenal selama dua bulan masa peminjamannya di musim 2011 hingga 2012.
Setelah kembali ke New York Red Bulls, Henry memutuskan pensiun dari dunia si kulit bundar tepat pada 16 Desember 2014. Pasca berhenti menjadi pesepakbola, Henry sempat bekerja sebagai komentator.
Namun saat ini, Henry berprofesi sebagai seorang pelatih. Ia masih terus coba temukan jati diri, untuk bisa dihormati, kala temani tim yang dibimbing tengah bermain.


