Terjun Bebas Performa Persipura di Liga Indonesia

  • Whatsapp
Terjun Bebas Performa Persipura di Liga Indonesia
Terjun Bebas Performa Persipura di Liga Indonesia

Saat Arsenal sudah mulai sadar kalau mereka adalah klub sepak bola dengan mulai memperbaiki performa di Liga Inggris, Persipura Jayapura masih belum bangun juga dari keterpurukan. Tim Mutiara Hitam kembali menelan kekalahan atas Persebaya Surabaya 1-3 di lanjutan BRI Liga 1 Indonesia, 16 Oktober 2021 lalu. Ini adalah kekalahan keempat Persipura selama dua seri gelaran BRI Liga 1.

Sebelum jeda kompetisi, skuad asuhan Jacksen F. Tiago kalah dari Arema FC 0-1. Mereka juga kalah dari Persela Lamongan. Dan di laga perdana BRI Liga 1, Tim Mutiara Hitam juga menelan pil pahit lewat kekalahan 1-2 atas Persita Tangerang. Sementara, Persipura hanya mampu meraih imbang kala menghadapi Madura United dan Persija Jakarta.

Satu-satunya kemenangan Persipura adalah ketika melawan tim besutan Liga 1, Persiraja Banda Aceh. Itupun Persipura menang tipis 2-1. Rentetan hasil negatif ini membuat Persipura tertahan di peringkat 15 klasemen sementara per 20 Oktober 2021. Persipura hanya satu strip di atas zona degradasi.

Hal itu, percaya tak percaya, membuat Persipura riskan terperosok ke Liga 2 musim depan. Meskipun harapan Persipura masih bisa memperpanjang nafasnya di BRI Liga 1. Asalkan menang melawan Persik Kediri dan Barito Putera yang notabene klasemennya berada di bawah Mutiara Hitam.

Namun, yang menjadi sorotan performa Persipura Jayapura di Liga Indonesia yang cenderung terjun bebas. Ya, kita semua tahu kalau Persipura merupakan salah satu tim terkuat asal bumi cenderawasih. Mutiara Hitam termasuk salah satu tim yang cukup sering mewakili Indonesia di kancah AFC Cup.

Persipura Tim Terkuat?

Sejak pertama kali berdiri tahun 1963 saja, Persipura Jayapura telah menoreh banyak prestasi. Meskipun gelar pertama yang diraih Persipura bukan kompetisi resmi, yaitu Soeharto Cup III 1976. Setelah itu disusul gelar Divisi I musim 1979. Gelar tersebut membuat Persipura lolos ke Liga Indonesia yang kala itu masih bernama Perserikatan.

Dilansir situs Tirtoid, tak butuh waktu lama bagi Persipura untuk memberikan kesan hebat di mata penggemar sepak bola tanah air kala itu. Tim Mutiara Hitam sukses menempati posisi kedua di Perserikatan musim 1980. Walaupun nasib mereka tak selalu mujur, sebab Persipura juga pernah turun kasta lagi. Hingga musim 1993/1994 Persipura kembali juara Divisi I.

Persipura pun berhak tampil di edisi perdana Divisi Utama Liga Indonesia. Kompetisi ini adalah peleburan Perserikatan dan Galatama, yang pada akhirnya menjadi kompetisi tertinggi di PSSI. Divisi Utama Liga Indonesia mulai digelar pada tahun 1994. Persipura pun berhasil kampiun di ajang ini pada tahun 2005.

Puncak kejayaan Persipura mulai tampak nyata ketika Indonesia Super League (ISL) digelar tahun 2008. Kompetisi tertinggi yang menggantikan Divisi Utama Liga Indonesia. Boaz Solossa yang kala itu masih memperkuat Mutiara Hitam sukses membawa timnya juara di tahun 2009, 2011, dan 2013. Kala itu Persipura sudah di bawah juru taktik Jacksen F. Tiago.

Prestasi Persipura pun kian membumbung tinggi. Tim Mutiara Hitam menjuarai kompetisi-kompetisi lokal seperti Community Shield Indonesia tahun 2009 dan Indonesia Inter Island Cup 2011. Di kancah Asia, Persipura juga tak kalah diperhitungkan.


Skuad Jacksen F. Tiago pernah mencapai perempat final AFC Cup, sebuah kompetisi kasta kedua di Asia setelah Liga Champions AFC tahun 2011. Tak hanya itu, tiga tahun berselang Persipura bahkan menjadi semifinalis AFC Cup 2014. Jika saja tidak ada pandemi, Persipura mendapat jatah menemani Bali United di ajang AFC Cup 2021.

Karena itulah, tim yang sepintas seragamnya mengingatkan kita pada AC Milan tersebut adalah tim kuat di Indonesia. Boleh dibilang Persipura adalah obat di tengah kebencian terhadap PSSI karena tak kunjung mengangkat performa Timnas Indonesia. Sebab melihat penampilan Persipura bisa meningkatkan hormon dopamin. Tapi itu dulu.

Penampilan Persipura Memburuk

Sekarang hal itu tidak berlaku. Penampilan Persipura yang terjun bebas justru membuat amarah makin meletup-letup. Apalagi jika pemain sudah mulai kerasukan setan alas. Tak bisa mengontrol emosi, bermain brutal, dan mudah putus asa.

Seperti saat menghadapi Persebaya Surabaya, 16 Oktober 2021 lalu. Di laga itu Persipura tidak bisa menguasai bola dengan baik. Tercatat Mutiara Hitam hanya menguasai ball possession 37%, sedangkan Persebaya 63%. Persipura juga hanya mencatat 298 umpan sukses.

Pada laga itu, tim besutan Jacksen F. Tiago hanya rajin melakukan pelanggaran. Total ada 17 fouls, 4 di antaranya menghasilkan kartu kuning, dan 1 pemain diusir karena kartu merah. Pemain tersebut adalah bek Persipura, Israel Wamiau.

Sewajarnya liga yang dikit-dikit pemainnya berantem, Israel dikartu merah lantaran terlibat perkelahian dengan Bruno Moreira, pemain Persebaya. Meskipun yang melakukan pelanggaran bukan Israel tapi David Rumakiek yang tiada lain rekannya. Israel memprotes keputusan wasit yang menganggap Rumakiek melakukan pelanggaran terhadap Bruno Moreira.

Namun memprotesnya dengan cara kotor. Israel menyenggol Bruno, dan Bruno pun terprovokasi. Keduanya pun terlibat pertengkaran di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Wasit pun memberi kartu merah untuk kedua pemain, bukan hanya Israel. Sungguh keputusan yang bijak bestari.

Persipura sebetulnya masih mampu mengatasi perlawanan Persebaya hingga Ricky Kayame membawa Mutiara Hitam unggul lebih dulu menit 53. Namun, pergantian pemain yang dilakukan Jacksen justru berbuah petaka. Ian Kabes, sang kapten diganti Yevhen Bokhasvili menit 55; Theo Fillo digantikan Fridolin Yoku menit 62; dan Takuya Matsunaga masuk menggantikan Ricardo Salampessy menit ke-73.

Hasilnya, Yevhen dan Matsunaga tak menambah daya dobrak di lini tengah. Malah kedua pemain ini seperti orang joging di sekitaran GBK saja. Sementara Yoku jadi pahlawan kemenangan Persebaya.

Yoku sempat berebut bola dengan Ricky Kambuaya, pemain Persebaya, menit ke-62 di kotak penalti. Alih-alih menendang bola, Yoku justru menendang badan Kambuaya. Wasit pun menganggapnya pelanggaran dan menghadiahi penalti untuk Persebaya. Jose Wilkinson si eksekutor sukses menuntaskan tugasnya.

Apa yang Salah dari Persipura?

Rentetan kekalahan Persipura mengagetkan banyak pihak, tak terkecuali Jacksen F. Tiago itu sendiri. Dirinya bahkan terang mengakui capek karena kalah mulu. “Saya capek kalah terus. Saya tidak nyaman dengan kondisi Persipura saat ini,” kata Jacksen dikutip Tribun Papua.

Yup, itu ekspresi jujur yang sah-sah saja diungkapkan pelatih. Perkara Ole Gunnar Solskjaer nggak pernah bilang begitu, itu soal lain. Jacksen telah mengakui Persipura sebetulnya mumpuni. Ia sekuat tenaga memperbaiki performa Persipura.

Namun, apa boleh bikin semua justru kontradiktif. Para pemain masih sulit untuk menguasai emosi. Masih suka temperamental, apalagi kalau kalah. Jacksen terus meminta para pemain untuk menekan dan melakukan tembakan ke arah gawang secara intensif.

Sayangnya, permainan Persipura cenderung monoton. Persipura juga sering melakukan long ball yang justru menguntungkan lawan. Para pemain juga kelabakan ketika diserang balik lawan. Contohnya di laga lawan Persebaya. Pemain belakang Persipura terkesan bingung dan tidak mem-pressing ketat pemain Persebaya. Persipura, entah bagaimana membutuhkan sosok bek seperti Bio Paolin yang agresif memutus serangan.

Pengaruh Boaz Tidak Ada?

Menurunnya performa Persipura di musim ini banyak yang berspekulasi lantaran ditinggal sang legenda, Boaz Solossa. Boaz dipecat dari Persipura karena kasus indisipliner. Tak bisa disangkal memang, Boaz lah mesin gol Persipura dan pemain tersubur sepanjang sejarah klub.

Boaz mencetak 225 gol dari 359 penampilan, entah di kompetisi resmi maupun tidak. Ia juga top skor Liga Indonesia bersama Persipura pada 2008/09, 2010/11, dan 2013. Selain Boaz ada pula Yustinus Pae atau Tipa yang konon punya pengaruh di permainan Persipura.

Namun apa pun itu, Persipura memang sudah selayaknya berbenah. Kalau nggak berbenah emang mau turun ke Liga 2? Jacksen mesti mencari alternatif untuk memompa penampilan Persipura. Sebab jika tidak, Persipura boleh jadi akan adu jotos dengan atlet kungfu perguruan PSG Pati di musim depan.

Sumber referensi: bolasport.com, lapangbola.com, republika.co.id, indosport.com, tirto.id, Tribun Papua, Youtube Persipura

Pos terkait