Tanpa Cristiano Ronaldo, Juventus Makin Garang

  • Whatsapp
Tanpa Cristiano Ronaldo, Juventus Makin Garang
Tanpa Cristiano Ronaldo, Juventus Makin Garang

Juventus memulai musim baru 2021/2022 dengan berbagai rangkaian masalah. Hasil buruk di musim lalu membuat Andre Pirlo dipecat dari kursi pelatih. Si Nyonya Tua kemudian kembali menunjuk mantan allenatore mereka, Massimiliano Allegri.

Kembalinya Max Allegri disambut dengan penuh harapan. Bagaimana tidak, Juve dulu begitu digdaya kala ditangani Allegri. Di periode pertamanya, ia berhasil mempersembahkan 5 scudetto secara beruntun, berikut 4 trofi Coppa Italia, 2 trofi Supercoppa, dan 2 kali menjadi finalis Liga Champions.

Pada awalnya, periode kedua Allegri terlihat bakal berjalan mulus. Dari 7 laga percobaan, Juve hanya kalah sekali dan sisanya selalu memetik kemenangan. Juve juga berhasil mendaratkan 2 pemain incarannya di bursa transfer musim panas, yakni Kaio Jorge dan Manuel Locatelli.

Sayangnya kondisi mulai terlihat kurang baik tatkala liga mulai berjalan. Di 2 giornata pertama Serie A musim ini, pasukan Max Allegri gagal memetik kemenangan. Mereka ditahan imbang Udinese dan kalah tipis dari tim promosi, Empoli. Situasi rumah tangga Si Nyonya Tua makin kacau tatkala mega bintang mereka, Cristiano Ronaldo mengutarakan keinginannya untuk meninggalkan J Stadium.

Benar saja, pada 31 Agustus 2021, Juventus resmi mengumumkan telah menjual CR7 ke klub lamanya Manchester United. Juve memang sulit menahan kepergian Ronaldo, sebab sang pemain sendiri yang begitu berhasrat kembali ke Old Trafford. Uniknya, sebagai ganti Ronaldo, Juve yang tak punya banyak sisa waktu di bursa transfer musim panas memulangkan kembali mantan striker mereka Moise Kean dengan status pinjaman plus kewajiban beli di musim panas 2023.

Start Buruk di Awal Era Baru Tanpa Cristiano Ronaldo

Ditinggal Ronaldo membuat Juventus pincang. Di giornata ketiga Serie A mereka kembali menelan kekalahan. Bertandang ke markas Napoli, pasukan Max Allegri tunduk dengan skor 2-1. Sempat meraih kemenangan perdana musim ini di matchday pertama Liga Champions kontra Malmo FF, Juventus kembali gagal meraih kemenangan di giornata keempat Serie A kala ditahan imbang tamunya AC Milan 1-1.

Hasil itu membuat Juventus gagal memetik satu pun kemenangan dalam 4 pertandingan pertamanya di Liga Italia. Tak hanya itu, posisi Juve juga otomatis terjun bebas ke peringkat 18 alias masuk zona degradasi. Banyak pihak yang mengaitkan performa buruk itu dengan kepergian Cristiano Ronaldo.

Memang, begitu ditinggal Ronaldo, Juve sempat kesulitan mencetak gol. Ada lubang besar yang ditinggalkan CR7 yang selama berseragam Juventus terus stabil menghasilkan banyak gol. Apalagi, penampilan Moise Kean sebagai penggantinya jauh panggang dari api.

Juventus makin terbully tatkala omongan fans mereka tak terbukti kebenarannya. Sebelumnya, juventini sesumbar bahwa mereka tak butuh Cristiano Ronaldo. Sementara di tempat lain, Ronaldo sendiri langsung mampu mencetak 3 gol dalam 2 penampilan pertamanya di Premier League.

Lalu, apakah benar performa buruk Juventus di awal musim ini disebabkan oleh hengkangnya Cristiano Ronaldo? Atau apakah ada penyebab lainnya? Mari kita analisis bersama.

Penyebab Start Buruk Juventus Bersama Max Allegri

Sebetulnya kepergian Ronaldo bukanlah satu-satunya masalah bagi Juventus. Penyebab utama Juventus sempat mengalami penurunan performa adalah karena sedang dalam masa transisi. Tak seperti periode pertamanya yang meneruskan kerja nyata Antonio Conte, Max Allegri datang lagi ke J Stadium saat kondisi Si Nyonya Tua tengah terpuruk.

Musim lalu, untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir Juventus gagal meraih scudetto. Bersama Andrea Pirlo, Juve hanya finish di peringkat 4 dan bahkan nyaris gagal lolos ke Liga Champions. Singkatnya, mental juara Juventus mengalami penurunan dalam beberapa musim terakhir.

Anggapan tersebut bukan isapan jempol belaka. Hilangnya sosok senior seperti Gianluigi Buffon dan Andrea Barzagli adalah salah satu sebabnya. Setali tiga uang, Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini sudah masuk usia uzur, jadi tak bisa selalu jadi andalan di setiap laga.

Matthijs de Ligt yang digadang-gadang sebagai tembok baru Juventus performanya belum mampu memenuhi harapan. Penampilannya kadang tak sesuai dengan harga belinya yang menembus lebih dari 85 juta euro.

Setelah 4 laga pertamanya yang berakhir tanpa kemenangan, Juventus kemudian memang berhasil meraih 2 kemenangan beruntun dengan skor 3-2 atas Spezia dan Sampdoria. Posisi mereka juga naik ke tangga ke-10. Namun, statistik Si Nyonya Tua masih memprihatinkan.

Dalam 6 pertandingan pertamanya di Liga Italia, pertahanan Juventus sudah kebobolan 10 gol. Ini jadi bukti bahwa lini bertahan Juve yang dulu begitu solid dan sulit ditembus kini begitu rentan. Musim ini, penampilan kiper utama mereka Wojciech Szczesny sempat menuai banyak kritik di awal musim.

Kreativitas lini tengah Juventus juga berkurang. Rekrutan anyar mereka Manuel Locatelli juga tak bisa langsung nyetel. Selain itu, hilangnya Cristiano Ronaldo membuat lini serang Juve sempat tumpul. Bagaimana tidak, selama ada Ronaldo, ia nyaris selalu jadi ujung tombak utama Juventus.

Ada sisi baik dan ada sisi buruknya. Selama 3 musim, CR7 menyumbang total 101 gol untuk Juventus atau kira-kira mampu memproduksi lebih dari 30 gol permusim. Kehadiran Cristiano Ronaldo memang nampak membuat lini serang Juve produktif, tetapi sebetulnya secara luas membuat timpang.

Sinar CR7 begitu terang. Perolehan golnya jauh meninggalkan penyerang lainnya seolah jadi pembenar bahwa selama diperkuat Ronaldo, semua urusan penyelesaian akhir Juventus diserahkan kepadanya. Bek senior Leonardo Bonucci saja menyadari hal tersebut.

“Kehadiran Cristiano memiliki pengaruh besar pada kami. Hanya berlatih dengannya memberi kami sesuatu yang ekstra, tetapi secara tidak sadar para pemain mulai berpikir bahwa kehadirannya saja sudah cukup untuk memenangkan pertandingan,” kata Bonucii kepada The Athletic dikutip dari 90min.com.

Tanpa Ronaldo, Kolektivitas Juventus Membaik

Di musim pertamanya, CR7 langsung berhasil mencetak 21 gol. Perannya di lini serang sangat dominan. Paulo Dybala saja hanya bisa menyumbang 5 gol, padahal di musim sebelumnya ia berhasil mencetak 22 gol di Serie A.

Di musim keduanya, Ronaldo berhasil mencetak 31 gol. Lagi-lagi catatan itu jauh meninggalkan Dybala yang hanya bisa mencetak 11 gol dan Higuain yang hanya mencetak 8 gol di Serie A.

Fenomena serupa kembali berlanjut musim lalu. Cristiano Ronaldo sukses mencetak 29 gol, jauh meninggalkan perolehan gol Alvaro Morata dan Federico Chiesa yang masing-masing hanya mengemas 11 dan 8 gol di Serie A.

“Mungkin dianggap biasa bahwa jika kami memberikan bola kepada Cristiano, dia akan memenangkan permainan kami. Tetapi Cristiano membutuhkan tim sebanyak kami membutuhkannya. Harus ada tarik ulur karena timlah yang mengangkat individu bahkan jika individu tersebut adalah pemain terbaik di planet ini,” ujar Bonucci dikutip dari 90min.

Singkat kata, ada kolektivitas permainan yang hilang selama Juventus diperkuat Cristiano Ronaldo. Ada beberapa pengamat dan mantan pemain bola yang berpendapat bahwa CR7 adalah pemain yang egois. Legenda timnas Italia, Antonio Cassano adalah salah satu yang sangat vokal mengkritik gaya main Ronaldo di Juventus.

“Dia mungkin telah mencetak satu miliar gol, tetapi dia mungkin memiliki masalah dengan ide permainan Andrea Pirlo. Dia selalu egois. Dia tidak peduli jika orang lain mencetak gol, dia hanya hidup untuk mencetak gol untuk dirinya sendiri. Dia tidak hidup untuk sepak bola, dia hidup untuk tujuannya sendiri, itu jelas,” kata Cassano dikutip dari Forza Italian Football.

Kini, situasi Juventus dan Manchseter United juga berbalik. Pada awalnya, Juventus terlihat pincang tanpa Cristiano Ronaldo, sementara MU terlihat makin ganas. Namun ternyata hal tersebut tak bertahan lama.

Setelah meraih 2 kemenangan beruntun di awal kedatangan Ronaldo, Manchester United kemudian menelan kekalahan dari Aston Villa, ditahan imbang Everton, dan terbaru kandas di tangan Leicester City. Di Liga Champions mereka juga sempat tunduk di tangan Young Boys.

Sementara itu situasi Juventus justru makin membaik. Setelah susah payah meraih kemenangan atas Spezia dan Sampdoria, Si Nyonya Tua melanjutkan tren postifinya di pekan ke-7 dan 8 Serie A. Mereka menang 1-0 atas Torino di laga Derby della Mole dan memenangi laga derby melawan AS Roma juga dengan skor tipis 1-0. Kini posisi mereka naik ke peringkat 7 klasemen Serie A.

Di pekan kedua Liga Champions, Juventus juga dengan gagah berani mampu menundukkan sang juara bertahan Chelsea dengan skor tipis 1-0. Singkat kata, permainan Juventus justru makin garang tanpa Cristiano Ronaldo dan Max Allegri sukses mengembalikan kolektivitas permainan Juve yang sempat hilang dalam beberapa musim terakhir.

Kran gol para penyerang Juventus juga mulai terbuka secara merata. Alvaro Morata dan Paulo Dybala sudah mengemas 3 gol. Moise Kean, Federico Chiesa, dan Manuel Locatelli sudah mengemas 2 gol. Distribusi gol yang lebih merata ini jadi bukti bahwa serangan Juve kini tak bertumpu pada satu orang saja.

“Tahun lalu, tim bermain untuk Ronaldo. Sekarang skuat harus menemukan kembali semangat Juventus yang kami miliki sebelum dia tiba.” kata Leonardo Bonucci kepada Amazon Prime Italy.

Jadi, bagaimana menurut football lovers. Apakah benar keberadaan Cristiano Ronaldo yang egois telah membuat kolektivitas Juventus menghilang? Dan apakah Juventus jauh lebih garang tanpa CR7?

***
Sumber Referensi: Manchester Evening News, BBC, 90min, Forza Italian Football, Football Italia.

Pos terkait