Sensasi FK Bodø/Glimt, Kuda Hitam UEFA Europa Conference League

  • Whatsapp
Sensasi FK BodøGlimt, Kuda Hitam UEFA Europa Conference League
Sensasi FK BodøGlimt, Kuda Hitam UEFA Europa Conference League

Kejutan terjadi di UEFA Europa Conference League. AS Roma yang jadi favorit juara baru saja menelan kekalahan dalam lanjutan matchday ketiga Liga Konferensi Eropa. Bertandang ke Aspmyra Stadion, markas dari FK Bodø/Glimt, pasukan Jose Mourinho kalah dengan sangat memalukan. Tanpa ampun, Roma dibantai dengan skor telak 6-1.

Tuan rumah melaju kencang sejak menit pertama. 20 menit laga berjalan mereka sudah unggul lewat gol Erik Botheim dan Patrick Berg. Babak pertama berakhir dengan skor 2-1 setelah Roma memperkecil ketertinggalan lewat gol Carles Perez.

Pembantaian sesungguhnya baru terjadi di babak kedua. Bodø/Glimt mengamuk dan menambak keunggulan lewat gol kedua Erik Botheim, 2 gol Ola Solbakken, dan 1 gol Amahl Pellegrino. Ini merupakan kali pertama bagi Mourinho melihat tim yang diasuhnya kebobolan hingga setengah lusin.

Tak ayal, kekalahan itu membuat suporter Roma yang jauh-jauh datang mendukung mereka begitu marah. Sementara di Italia, media lokal banyak melabeli kekalahan tersebut sebagai ‘Kekalahan yang Memalukan dan Tak Dapat Diterima’.

Jika sang tamu mendapat rasa malu yang begitu memilukan, lain ceritanya dengan tuan rumah. Kemenangan besar atas AS Roma dirayakan dengan penuh suka cita oleh para pemain, pelatih, dan ofisial tim, serta pendukung FK Bodø/Glimt yang hadir di dalam stadion.

Mengenal Lebih Jauh FK Bodø/Glimt

Itu bukanlah sekadar kemenangan bersejarah, tetapi merupakan 3 poin penuh yang kini membuat mereka untuk sementara memimpin Grup C UEFA Europa Conference League. Banyak pihak yang lebih menyoroti Roma sebagai pihak yang kalah. Namun, jarang yang mengulas FK Bodø/Glimt sebagai pihak yang menang. Lalu, siapa sebenarnya FK Bodø/Glimt?

Banyak yang menyebut klub ini sebagai klub medioker dari liga antah berantah. Jika kamu berpikir demikian, maka kamu akan menyesal. FK Bodø/Glimt memanglah tim kecil, tetapi mereka bukanlah tim medioker. Mereka datang ke ajang perdana Liga Konferensi Eropa dengan status juara bertahan Eliteserien, Liga satunya Norwegia.

Di musim kompetisi 2021, FK Bodø/Glimt juga tengah memimpin liga. Hingga pekan ke-22, mereka bertengger di puncak klasemen dengan koleksi 47 poin, unggul 3 angka dari klub rakasa Norwegia, Molde.

Fotballklubben Bodø/Glimt berasal dari Kotamadya Bodø yang terletak tepat di utara Lingkaran Arktik. Bodø adalah kota terbesar kedua di Norwegia Utara. Sesuai dengan namanya, klub tersebut punya julukan Glimt yang dalam bahasa Norwegia berarti kilatan.

Bodø/Glimt bukanlah klub besar di Norwegia. Berdasarkan keterangan resmi di website-nya, Aspmyra Stadion yang jadi kandang mereka saja hanya punya kapasitas maksimal 4.616 kursi. Mengingat betapa dinginnya cuaca di sana, stadion yang statusnya milik pemkot tersebut menggunakan rumput sintesis yang dilengkapi pemanas bawah tanah.

FK Bodø/Glimt juga bukan penguasa Liga Norwegia. Klub yang telah berdiri sejak 1916 itu baru 2 kali menjuarai Piala Norwegia. Sementara itu, mereka baru 26 musim berkompetisi di Eliteserien dengan baru sekali merasakan juara, tepatnya di musim kompetisi 2020.

Klub ini juga baru mendapat perhatian khusus dalam beberapa musim terakhir. Pada musim 2017 saja mereka masih berkompetisi di divisi 2. Namun dalam 4 musim berikutnya, performa mereka sangat luar biasa. Bisa dibilang, Glimt adalah tim kuda hitam yang mendobrak persaingan juara di Liga 1 Norwegia.

Filosofi dan Gaya Main FK Bodø/Glimt

FK Bodø/Glimt adalah sensasi di Norwegia. Sebagai tim promosi di musim 2018, mereka langsung finish di posisi 11. Hasil yang sangat luar biasa kemudian mereka torehkan di musim 2019 di mana mereka melesat jauh dan sukses mengakhiri liga sebagai runner-up.

Semusim kemudian, Bodø/Glimt akhirnya berhasil menjadi juara Eliteserien untuk pertama kalinya dalam sejarah. Tak tanggung-tanggung, mereka melakukannya dengan catatan rekor yang impresif. Glimt berhasil mengumpulkan 81 poin dan hanya sekali menelan kekalahan dalam 30 pertandingan. Yang menjadi luar biasa, mereka berhasil mencetak 103 gol di musim kompetisi 2020. Mereka adalah tim pertama yang berhasil mencetak 100 gol lebih di Liga Norwegia.

Salah satu kunci sukses itu berasal dari sporting director Aasmund Bjørkan dan sang pelatih kepala Kjetil Knutsen. Uniknya, Knutsen adalah mantan asisten Bjørkan sebelum nama terakhir naik jabatan sebagai sporting director di musim 2018. Ketika Bjørkan naik jabatan, Knutsen ikut naik pangkat sebagai kepala pelatih.

Aasmund Bjørkan dan Kjetil Knutsen membangun skuad FK Bodø/Glimt dengan mengkombinasikan pemain muda dan pemain senior. Bahkan inti dari skuad Bodø/Glimt berasal dari homegrown player alias pemain lokal dari sekitar kota Bodø dan Norwegia Utara yang mereka kembangkan sendiri lewat sistem akademi.

“Setengah dari tim utama adalah anak laki-laki lokal. Kami menargetkan 40% skuat kami berasal dari Norwegia utara, dan 15 persen menit bermain untuk pemain lokal. Itu adalah bagian dari identitas kami. Para penggemar ingin orang Norwegia utara bermain,” kata Orjan Berg, General Manajer Departemen Anak dan Remaja FK Bodø/Glimt, dikutip dari nytimes.com.

Kebijakan itulah yang membuat mereka dapat menghasilkan bibit-bibit unggul dan menjual pemain lokalnya dengan harga mahal. Seperti di musim lalu. Usai memenangkan liga, Philip Zinckernagel diangkut Watford, Kasper Junker dibeli Urawa Reds Diamonds, hingga Jens Petter Hauge yang dibeli AC Milan dan kini berseragam Eintracht Frankfurt.

Skuad Bodø/Glimt musim ini memiliki rataan usia 24,4 tahun. Dari 28 pemain, hanya 7 pemain yang bersatus sebagai pemain asing. Sebagai tim dengan budget minim, skuad mereka juga tak bernilai mahal, hanya sekitar 14,60 juta euro saja.

Selain kebijakan homegrown player-nya, hal yang membuat mereka menjadi klub kuat seperti saat ini adalah keberadaan Bjorn Mannsverk. Bertugas sejak 2017, mantan pilot pesawat tempur angkatan udara Norwegia yang dulu pernah ditugaskan di Afghanistan dan Libya itu adalah pelatih mental Bodø/Glimt.

Dialah yang mendorong gagasan kepada anak asuhnya untuk fokus pada kinerja, bukan hasil. “Fokus pada hasil menghasilkan banyak stres. Berfokus pada kinerja adalah proses yang sangat kreatif,” kata Mannsverk dikutip dari The New York Times.

Ada beberapa metode latihan yang Mannsverk terapkan di Glimt. Setiap pagi, ia meminta anak asuhnya untuk bermeditasi sebelum memulai latihan. Dia juga menjalankan sesi satu lawan satu dan pertemuan kelompok yang berlangsung masing-masing 30 menit. Mannsverk juga kerap memberi PR anak didiknya untuk merenungkan emosi dan pengalaman mereka.

Hasil dari metode tersebut sangat terlihat saat Bodø/Glimt kebobolan. Para pemain secara teratur berkumpul untuk berdiskusi. Itulah kenapa mereka secara cepat dapat langsung bangkit dari ketertinggalan. Usai gawang mereka dibobol AS Roma, para pemain juga tak panik dan langsung dapat membalas gol tersebut dengan balasan yang lebih menyakitkan.

Budaya di FK Bodø/Glimt juga dibuat terbuka. Saking terbukanya, para pemain dapat mengutarakan kritiknya. Kjetil Knutsen dan jajarannya juga tak antikritik.

“Kami memiliki budaya yang sangat terbuka. Kami mengatakan hal-hal kepada pelatih kami bahwa, di klub lain, mungkin dianggap sebagai tanda kelemahan,” ujat Patrick Berg dikutip dari nytimes.com.

Hal itu pula yang membuat anak asuh Kjetil Knutsen sangat pede dalam menampilkan gaya main mereka sendiri, yakni sepak bola menyerang tak peduli siapa lawannya. FK Bodø/Glimt bermain agresif dengan memakai formasi dasar 4-3-3 Attacking yang dapat berubah menjadi 4-1-4-1.

Para pemain Glimt, khsusunya para pemain bertahannya juga tak takut untuk melakukan overlap. Dua fullback, yakni Alfons Sampsted dan Fredrik André Bjørkan rajin membantu serangan khususnya lewat sisi sayap. Sementara 2 bek tengah mereka, Brede Moe dan Marius Lode bertipe ball-playing defender yang memiliki kontrol bola bagus dan dapat mengirim umpan manis.

Salah satu kunci pertahanan dan serangan mereka adalah gelandang bertahan Patrick Berg. Sang wakil kapten yang masih berusia 23 tahun itu adalah gelandang bertipe deep lying playmaker. Dia rajin membangun serangan dari bawah dan kerap berotasi dengan 2 center back. Selain itu, ia juga diberi kebebasan yang membuatnya dapat bertindak sebagai playmaker di area sepertiga akhir lawan. Itulah mengapa ia mampu menyumbang 1 gol di laga versus AS Roma.

Di lini depan, FK Bodø/Glimt mengandalkan trio Ola Solbakken di sisi kanan, Amahl Pellegrino di sisi kiri, dan Erik Botheim di tengah. Kunci dari banyaknya gol yang lini serang Glimt hasilkan bukanlah sekadar agreasivitas pemain mudanya, tetapi sistem bermain mereka yang terstruktur rapi.

Di bawah asuhan Kjetil Knutsen, FK Bodø/Glimt sangat aktif dalam melakukan pressing. Mereka juga kerap menerapkan garis pertahanan tinggi. Begitu mereka kehilangan mereka, para pemain akan sigap mengambil posisi dan menekan balik lawan untuk sesegera mungkin merebut bola kembali. Taktik ini lazim disebut counter-pressing alias gegenpressing.

FK Bodø/Glimt: Kuda Hitam UECL

Skema taktik itu juga mereka tampilkan di ajang UEFA Europa Conference League. Seperti saat membantai AS Roma. Agresivitas dan taktik counter-pressing yang mereka terapkan membuat mereka secara cepat dapat menempatkan banyak pemain di area sepertiga akhir lawan. Hasilnya, para pemain Glimt kerap terlihat menang jumlah dan dengan mudahnya membantai pertahanan Roma.

Statistik di akhir laga menjadi buktinya. FK Bodø/Glimt menguasai bola hingga 54% dan menghasilkan 13 tembakan di mana 9 diantaranya mengarah tepat sasaran. Agresivitas mereka juga terbukti dengan 41 duel yang berhasil mereka menangkan. Lewat taktik itulah AS Roma dibuat tak berdaya.

Tak bisa dipungkiri bahwa FK Bodø/Glimt adalah tim agresif yang gemar memburu gol. Gaya main itu benar-benar tak canggung mereka bawa ke ajang UEFA Europa Conference League. Padahal, ini adalah pengalaman perdana mereka di kompetisi Eropa.

Buktinya, 2 kemenangan besar telah mereka raih dalam 3 pertandingan. Sebelum membantai Roma, Bodø/Glimt langsung menang besar di matchday pertama atas FC Zorya Luhansk dengan skor 3-1. Sementara di laga kedua mereka menahan imbang tuan rumah CSKA Sofia dengan skor 0-0. Dari 3 laga, mereka sudah menghasilkan 9 gol dan belum sekalipun menelan kekalahan. Winger Ola Solbakken untuk sementara ini bertengger di puncak daftar top skor dengan koleksi 3 gol.

Jika mampu meneruskan performa apik tersebut, seharusnya tak sulit bagi mereka untuk melaju jauh di kompetisi UEFA Europa Conference League. Bila pun tidak, penampilan mereka sejauh ini sudah sangat bagus dan menjadi sensasi tersendiri.

Menarik untuk disimak akan sejauh apa FK Bodø/Glimt melaju di ajang UEFA Europa Conference League. Yang pasti, mereka adalah tim kuda hitam yang sepertinya siap mengguncang Eropa.

***
Sumber Referensi: Goal, Football-Italia, Nytimes, Total Football Analysis, Transfermarkt, Fotmob.

Pos terkait