Piala Dunia menjadi ajang yang paling dinanti oleh seluruh penggemar sepakbola. Ajang yang digelar empat tahunan ini banyak digemari karena memang selalu ciptakan momen mengejutkan dan tak terlupakan.
Setelah beberapa tahun lalu kita baru merasakan Piala Dunia 2018 yang digelar di Rusia, kini sebentar lagi kita akan menyambut Piala Dunia Qatar yang akan digelar pada tahun 2022 mendatang.
Pada pertengahan 2020 lalu, FIFA baru saja merilis jadwal resmi pertandingan Piala Dunia 2022 yang dihelat di Qatar. Badan tertinggi sepakbola dunia itu mengumumkan tanggal penyelenggaraan serta stadion-stadion yang bakal dipakai di turnamen sepak bola terbesar itu. Dilaporkan, Piala Dunia 2022 Qatar bakal dimulai 21 November 2022 sampai dengan 18 Desember 2022, atau tepat seminggu sebelum Hari Natal.
Piala Dunia kali ini istimewa karena tidak digelar pada musim panas. Keputusan ini diambil karena pada musim panas, cuaca di Qatar mengalami titik tertinggi yaitu sekitar 41,3 derajat celcius, dan ditakutkan akan mengganggu para pemain.
Berbeda dengan edisi sebelumnya yang memainkan selama lima belas hari untuk menghabiskan fase grup, kini Piala Dunia Qatar hanya menghabiskan sebanyak 12 hari saja untuk memainkan fase grup.
Untuk pertandingan pertama sendiri akan digelar di Al Bayt Stadium, Stadion berkapasitas 60.000 penonton, dengan kick off dimulai pada pukul 13.00 waktu setempat. Untuk partai final, akan digelar di Lusail Stadium yang berkapasitas 80.000 penonton pada 18 Desember.
Dengan digulirkannya Piala Dunia pada akhir tahun atau musim dingin, otomatis hal ini akan berpengaruh pada kompetisi Eropa yang pada masa tersebut biasanya masih bergulir. Namun begitu, belum dirincikan lagi bagaimana kompetisi Eropa akan bergulir nantinya.
Dengan fakta tersebut, seperti yang sudah dijelaskan, Piala Dunia 2022 memang istimewa. Ya, saking istimewanya, persiapan segala hal yang akan digunakan nanti sampai menyimpan sejumlah misteri. Ada cerita kelam dibalik proyek Piala Dunia 2022 di Qatar.
Sampai saat ini, diperkirakan terdapat 6.500 pekerja yang tewas dengan berbagai alasan. Kebanyakan buruh pekerja berasal dari Asia Selatan seperti India, Pakistan, Bangladesh, dan Nepal. Jumlah tersebut merupakan akumulasi selama 10 tahun lamanya, atau tepat ketika Qatar mulai membangun proyek Piala Dunia ini.
Dengan jumlah tersebut, maka setidaknya ada 12 pekerja yang tewas dalam persiapan itu. Angka itu pun dipercaya masih lebih besar lagi, mengingat buruh yang berasal dari Filipina dan Kenya tidak termasuk di dalamnya. Disana, para pekerja selain membangun stadion yang akan digunakan, juga membangun beragam fasilitas seperti hotel, bandara, jalan, serta tak ketinggalan fasilitas transportasi.
Meski banyak dari mereka yang meninggal secara alami seperti diakibatkan oleh serangan jantung atau gangguan pernapasan, korban yang jatuh akibat kecelakaan kerja jumlahnya masih lebih banyak.
Namun begitu, meski banyak korban yang berjatuhan, pemerintah Qatar mengklaim kalau para buruh telah mendapatkan hak yang memang seharusnya diterima. Pemerintah juga mengklaim kalau tingkat kematian di antara buruh migran telah menurun. Hal ini berkaitan dengan reformasi yang dilakukan dalam sistem ketenagakerjaan.
Sementara itu, pihak FIFA, pun mengatakan, bila perlindungan terhadap pekerja kontruksi Piala Dunia sangat tinggi.
Kembali lagi, berbagai pembelaan itupun nampak tiada artinya setelah ada salah seorang yang bernama Ganesh, berhasil “kabur” dari proyek mengerikan itu.
Melansir dari Spiegel pada 2014 silam, Ganesh menceritakan bahwa dia tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di Qatar. Ia merasa trauma dan benar-benar tertekan ketika bangun di setiap pagi.
Ganesh merupakan seorang pria yang hadir dari Nepal. Sehari-harinya, dia selalu tampak lelah di sebuah tempat yang digunakan untuk tidur. Dia hanya menunggu waktu untuk bekerja dan bekerja sembari sedikit melemaskan otot.
Di sebuah ruangan berukuran 16 meter persegi, dia beristirahat dengan 9 pekerja lainnya. Dengan kipas angin tidak layak dan juga jendela yang tidak sempurna, tubuhnya tak jarang terkena angin malam yang dikenal jahat.
Di luar ruangannya beristirahat, terdengar suara generator diesel yang terus mengaum. Setelah terbangun, dia kembali dihadapkan dengan tumpukan batu bata yang lengkap dengan debu tebalnya. Dia setiap harinya merasa sedih karena hanya tinggal disebuah ruangan kecil dengan banyak pekerja lainnya. Tidak ada fasilitas memadai, apalagi hotel mewah yang mungkin bisa membuatnya bertahan lebih lama.
Menurut Ganesh, ketika ia bekerja dalam rentang waktu 2012 hingga 2013, ada sekitar 964 pekerja dari India, Nepal, dan Bangladesh yang telah meninggal di Qatar. Jumlah tersebut telah dikonfirmasi pemerintah Qatar. Menurutnya, yang menjadi saksi langsung dari kejamnya proyek tersebut, ada banyak pekerja yang mati karena kepanasan atau kecelakaan di tempat mereka bekerja.
Hal itu pun lantas membuatnya bertanya, seberapa penting kompetisi Piala Dunia sampai harus meregang banyak nyawa?
Lebih parahnya lagi, Ganesh tidak langsung mendapat gaji atas kerja kerasnya. Dia mengaku tidak langsung dibayar dan harus menunggu dalam waktu yang lama untuk menerima upahnya. Bahkan setelah gaji itu dibayar, dia akan membayar 5 persen dari upahnya dalam sebulan, bila kedapatan beristirahat sehari saja.
Dia yang mendatangi Qatar pun langsung mengklaim bahwa hukum bekerja disana masih tidak lebih baik bila dibandingkan dengan sistem perbudakan.
Selain Ganesh, ada lagi pria yang punya cerita serupa. Sedih bercampur perih. Semua tertuang dalam sebuah kawasan yang nantinya bakal mengundang banyak atensi.
Pria itu berusia 26 tahun. Ram Achal Kohar namanya. Ram Achal Kohar biasa dipanggil Anil. Dia merupakan pekerja dari Nepal yang ikut ke dalam proyek Piala Dunia Qatar. Anil dikenal sebagai pria periang dan suka bercanda. Namun ketika tinggal di Qatar, dia lupa bagaimana cara tertawa.
Dia bercerita bahwa gajinya lama ditahan. Maka dari itu, dia sering berhutang hanya demi sepotong roti, kentang, atau daging untuk dikonsumsi. Dia bahkan tidak punya uang untuk membeli tiket hingga harus berusaha berhutang demi bisa kembali ke kampung halamannya.
Namun hal itu sia-sia karena tidak ada yang bisa membantunya. Beruntung, dia sudah berhenti dari pekerjaannya sebagai buruh di proyek Piala Dunia. Dia dikabarkan telah mendapatkan pekerjaan tetap sebagai tukang listrik di Doha. Tentunya, hasil dari pekerjaannya itu bakal dipakai untuk membeli tiket pulang ke kampung halaman.
Mengomentari peristiwa yang sangat tidak mengenakkan di Qatar, Jim Murphy yang merupakan sekretaris pembangunan internasional, menulis di The Guardian,
“Orang-orang tidak perlu mati hanya untuk membawa kita ke Piala Dunia, atau olahraga lainnya,”
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=iho_VqCz3FM[/embedyt]
Sumber referensi: spiegel, pikiran rakyat, bleacher report, nypost


