Tantangan dan Peluang Borussia Dortmund Bersama Marco Rose

  • Whatsapp
Tantangan dan Peluang Borussia Dortmund Bersama Marco Rose
Tantangan dan Peluang Borussia Dortmund Bersama Marco Rose

โ€˜Dari Krisis Jadi Kemenanganโ€™
โ€˜Terzic Membalikkan Situasiโ€™

Begitulah bunyi headline berbagai surat kabar Jerman saat Borussia Dortmund menjuarai DFB-Pokal 2021 bersama Edin Terzic. Berstatus sebagai pelatih interim, Terzic yang juga fans Dortmund sejak kecil berhasil memperbaiki moral tim dan mengubah keterpurukan menjadi kejayaan.

Namun seperti yang kita tahu, Terzic tak akan mendampingi Dortmund dari pinggir lapangan di musim depan. Ia naik pangkat sebagai direktur teknik dan posisinya digantikan oleh Marco Rose yang sudah Dortmund ikat jauh-jauh hari sebelum musim 2020/2021 berakhir.

Meski tak lagi didampingi Edin Terzic, tetapi kedatangan Marco Rose tetap memberi harapan positif kepada Borussia Dortmund. Dalam keterangan resminya, Marco Rose diikat dengan kontrak berdurasi 4 tahun hingga 30 Juni 2024.

Sebelum ditunjuk sebagai pelatih anyar, Marco Rose adalah pelatih Borussia Moenchengladbach selama 2 musim terakhir. Memang takada trofi yang ia hadirkan untuk Gladbach. Prestasi terbaiknya hanya finish di peringkat 3 Bundesliga dan meloloskan Gladbach ke babak 16 besar Liga Champions musim lalu.

Akan tetapi, di bawah asuhan Rose, Die Borussen menampilkan gaya bermain atraktif yang kerap mengundang decak kagum. Hasil mengejutkan kerap mereka raih, termasuk menumbangkan Bayern Munchen 2 kali dalam 2 musim beruntun.

Sepanjang kariernya, prestasi terbaik Marco Rose adalah 2 kali menjuarai Austrian Bundesliga dan sekali menjuarai Austrian Cup saat membesut Red Bull Salzburg pada periode 2017 hingga 2019. Meski belum membuktikan dirinya dengan raihan prestasi di Bundesliga Jerman, pelatih 44 tahun itu tak bisa dipandang sebelah mata.

Profil Singat Marco Rose

Hal paling menarik dari Marco Rose adalah gaya melatih dan pendekatan taktiknya sangat identik dengan Gegenpressing. Ini tak lepas dari pengaruh 3 mentornya, yakni Jurgen Klopp, Thomas Tuchel, dan Ralf Rangnick.

Semasa bermain dulu, Marco Rose berposisi sebagai pemain bertahan dan banyak menghabiskan kariernya di FSV Mainz. Ia didatangkan pada musim 2002 sebagai pemain pinjaman dan orang yang mendatangkan Rose adalah Jurgen Klopp, pelatih Mainz kala itu.

Rose menjadi andalan Klopp dan menimba ilmu darinya hingga Jurgen Klopp hengkang di tahun 2008. Sebelum pensiun sebagai pemain, Rose sempat semusim merasakan bimbingan Thomas Tuchel di musim 2009/2010.

Selepas pensiun, Rose langsung menjadi asisten pelatih tim cadangan Mainz di musim 2010/2011 sebelum menjadi pelatih kepala di tim masa kecilnya, Lokomotive Leipzig. Hanya bertahan sebentar, ia kemudian ditunjuk sebagai pelatih tim U-16 Red Bull Salzburg pada musim 2013/2014.

Marco Rose terus naik pangkat hingga menjadi pelatih kepala Red Bull Salzburg. Di tim milik Red Bull itu, Rose melatih dalam bimbingan Ralf Rangnick, bapak gegenpressing yang juga guru bagi Jurgen Klopp dan Thomas Tuchel.

Pengalaman dan rekam jejak itulah yang membuat fans Borussia Dortmund bisa berharap lebih kepada pelatih barunya. Sudah akrab dengan taktik gegenpressing, Rose bisa saja membangkitkan kembali ampuhnya taktik tersebut seperti saat era kejayaan Jurgen Klopp di Westfalenstadion.

Formasi dan Taktik Marco Rose

Selama ini, Rose kerap memakai pakem 4-2-3-1. Di Salzburg dan Gladbach, ia juga kerap memakai formasi dasar 4-4-2 berlian (4-1-2-1-2). Sekilas, pakem formasi Marco Rose mirip dengan Edin Terzic di Borussia Dortmund musim lalu. Meski begitu, gaya permainan yang diusung akan sedikit berbeda.

Hal itu diungkapkan langsung oleh kapten tim, Marco Reus saat menjalani pemusatan latihan di Swiss beberapa waktu lalu. Ia mengindikasikan bahwa Dortmund akan lebih bermain menekan demi menantang Bayern Munchen dalam perebutan gelar Bundesliga.

โ€œDia mencoba menunjukkan kepada kami bahwa dia ingin kami menekan tinggi dan penuh semangat, serta bermain dengan garis pertahanan yang tinggi sehingga kami bisa mencapai gawang lawan lebih cepat,โ€ kata Reus dikutip dari Bundesliga.com.

Menekan dari depan dengan garis pertahanan tinggi memang ciri khas gegenpressing. Kebetulan, Marco Rose sudah mahir dengan skema tersebut selama menangani Gladbach. 2 gelandang tengah akan senantiasa menjaga area dan bergerak vertikal untuk memenangkan bola. Sebuah tugas yang sepertinya tak sulit untuk diemban Jude Bellingham, Axel Witsel, atau Emre Can.

Selain itu, gaya main Rose juga sangat proaktif. Cepat dalam melakukan transisi adalah kunci dari serangan dan pertahanan tim yang ia latih. Tak hanya soal seberapa cepat melakukan serangan atau menutup ruang, tetapi juga cepat dalam melakukan rotasi posisi.

Dalam gaya taktiknya, Rose juga memanfaatkan kedua fullback-nya dalam menjaga kelebaran lapangan dan melibatkannya dalam skema serangan. Sayangnya, ini akan PR sulit bila Rose masih mempertahankan skema tersebut. Pasalnya, Dortmund baru saja ditinggal Lukas Piszczek yang pulang kampung ke Polandia.

Piszczek bukan sekadar pemain senior dalam tim. Ia juga merupakan seorang fullback serba bisa. Apalagi, ia sudah pernah melakukan tugas serupa sejak era Jurgen Klopp, Thomas Tuchel, sampai Edin Terzic.

Dortmund belum mendapat pengganti sepadan Piszczek di bursa transfer musim panas ini. Sejauh ini, mereka baru mendatangkan bek muda Soumaila Coulibaly untuk memperkuat lini pertahanan Dortmund yang musim lalu kebobolan 46 gol di Bundesliga.

Namun, problem tersebut sepertinya bisa ditangani Marco Rose. Pasalnya, ia bukanlah pelatih yang berpegang teguh pada satu sistem. Rose adalah pelatih yang ahli beradaptasi. Strateginya juga adaptif yang artinya, ia bisa merespon dengan baik taktik lawan saat pertandingan.

Selama semusim terakhir menangani Borussia Moenchengladbach, Marco Rose tercatat pernah memainkan 7 formasi berbeda, mulai dari 4-3-1-2, 4-4-2, 4-2-3-1, 4-3-3, 3-4-2-1, 3-4-1-2, dan 3-5-2. Fakta ini akan memudahkan Dortmund yang nyaris selalu harus membangun ulang skuadnya tiap tahun.

PR Marco Rose: Mengganti Pemain yang Hengkang

Seperti di musim ini, BVB kembali kehilangan salah satu pilar andalannya, yakni Jadon Sancho yang baru saja dijual ke Manchester United. Pemain timnas Inggris itu selalu jadi pilar penting Dortmund selama 4 musim terakhir. Tampil sebanyak 137 laga, Sancho berhasil mengemas 50 gol dan 64 asis.

Musim lalu, Sancho juga jadi duet maut Erling Haaland. Ia berhasil menyumbang 16 gol dan 20 asis dalam 38 pertandingan. Sebuah PR sulit bagi Marco Rose yang harus menutup lubang yang ditinggalkan Sancho.

Dortmund memang baru saja meresmikan pembelian Donyell Malen seharga 30 juta euro dari PSV Eindhoven. Namun, bomber timnas Belanda di Euro 2020 itu memiliki posisi bermain yang berbeda dengan Sancho.

Malen berposisi murni sebagai seorang striker dan terkadang bermain sebagai winger kiri, sementara Sancho banyak beroperasi sebagai winger kanan. Bila melihat dari pencapaiannya musim lalu, Malen lebih layak dijadikan tandem Erling Haaland sebagai ujung tombak tim.

Bomber 22 tahun itu adalah runner-up top skor Eredivisie musim lalu. Malen yang merupakan mantan didikan akademi Ajax dan Arsenal mengemas 19 gol dan 8 asis di Liga Belanda musim lalu. Bila benar Marco Rose hendak menjadikan Malen sebagai tandem Haaland, bisa jadi formasi 4-4-2 atau 4-3-1-2 akan dipakai Dortmund musim depan.

Kedatangan Malen memang membawa antusiasme tersendiri bagi fans BVB yang sedih akan kepergian Sancho. Itu pula yang dirakan Erling Haaland. Ia berharap Malen akan memberi performa optimal kepada tim dan memberinya banyak asis.

โ€œSaya mengatakan kepadanya untuk memberi saya banyak assist, kalau tidak saya akan marah padanya. Saya harap kami akan bermain bersama di lini serang. Dia harus membawa energi positif dan memberikannya sejak menit pertama karena BVB adalah klub besar,โ€ kata Haaland dikutip dari bvbbuzz.com.

Bila dilihat dari penggunaan nomor punggung musim depan, nomor peninggalan Sancho memang tak akan dipakai Malen. Nomor punggung 7 yang banyak dipakai pemain legendaris BVB akan diwariskan kepada wonderkid Amerika Serikat, Giovanni Reyna. Reyna yang baru berusia 18 tahun adalah gelandang serang serba bisa. Ia bisa bermain sebagai playmaker atau winger di kedua sisi.

Selain mencari pengganti pemain yang hengkang, tugas Marco Rose sebagai pelatih anyar Borussia Dortmund adalah memperbaiki lini pertahanan tim yang keropos. Musim lalu, gawang Dortmund bobol 46 kali di Bundesliga. Sebuah rekor yang buruk apabila The Black and Yellows berhasrat untuk menjadi kampiun musim depan.

Semenjak pensiunnya Roman Weidenfeller, Dortmund memang kehilangan sosok penjaga gawang yang meyakinkan. Untungnya, mereka baru saja mendatangkan kiper baru yang cukup menjanjikan, yakni Gregor Kobel, kiper 23 tahun yang ditebus dari Stuttgart dengan harga 15 juta euro.

Menariknya, Kobel akan jadi kiper ketiga Dortmund yang berasal dari Swiss setelah Marwin Hitz dan Roman Burki. Namun, mendatangkan sosok Kobel juga merupakan pertaruhan. Sebab, kiper bertinggi badan 194 cm itu belum teruji di level internasional.

Namun itulah penyebab Dortmund mempercayakan posisi pelatih kepala kepada sosok Marco Rose. Selama ini, ia sudah banyak mengorbitkan wonderkid. Salah satunya Erling Haaland yang Marco Rose orbitkan saat melatih Red Bull Salzburg.

Rose memang sosok yang ahli dalam memaksimalkan stok pemain yang ada. Ia juga mampu mengubah pemain underrated menjadi sosok yang berbahaya. Di Gladbach, ia sukses mengorbitkan Marcus Thuram dan Florian Neuhaus, serta memaksimalkan sosok senior seperti Lars Stindl dan Jonas Hofmann.

Dengan rekam jejak itu, rasanya tak sulit bagi Marco Rose untuk menyulap pemain muda seperti Giovanni Reyna, Gregor Kobel, Donyell Malen, dan Ansgar Knauff yang baru saja diorbitkan ke tim senior sebagai bintang masa depan Dortmund.

Pertanyaannya sekarang, apakah Marco Rose mampu menjawab semua ekspektasi itu dan melampaui pencapaian Edin Terzic musim lalu?
***
Sumber Referensi: Bundesliga 1, Bundesliga 2, BVBbuzz, Goal, RdfTactics, Transfermarkt.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *