Mengapa Juara Bertahan Tak Otomatis Lolos Piala Dunia Edisi Berikutnya?

  • Whatsapp
Mengapa Juara Bertahan Tak Otomatis Lolos Piala Dunia Edisi Berikutnya
Mengapa Juara Bertahan Tak Otomatis Lolos Piala Dunia Edisi Berikutnya

Tidak seperti Liga Champions Eropa atau Copa Libertadores, juara bertahan Piala Dunia tak otomatis lolos ke Piala Dunia edisi berikutnya. Di kompetisi-kompetisi antar negara juga hampir seperti itu. Piala Asia atau AFC Cup sejak 2015 tidak memakai format juara bertahan akan lolos. Terakhir Jepang yang pernah merasakan previlege otomatis lolos sebagai juara bertahan. EURO juga sama, sang juara bertahan harus berdarah-darah mengikuti fase kualifikasi.

Nah, di Piala Dunia sendiri format juara bertahan otomatis lolos terakhir diterapkan pada Piala Dunia 2002. Kala itu juga pertama kalinya Piala Dunia digelar di Benua Asia, tepatnya di Jepang dan Korea Selatan. Hal itu disampaikan Presiden FIFA kala itu, Sepp Blatter dalam pertemuan eksekutif FIFA di Busan, Korea setahun sebelum Piala Dunia di negara itu digelar.

Keputusan itu cukup mengejutkan banyak pihak. Apalagi sejak 1930 atau sekira 70 tahun Piala Dunia digelar, format revolusioner semacam itu tidak terpikirkan sama sekali. Prancis adalah negara terakhir yang merasakan indahnya masuk Piala Dunia tanpa babak kualifikasi. Les Blues berhasil kampiun di Piala Dunia 1998 kala diperkuat Didier Deschamps.

Lalu, kenapa FIFA berpikiran untuk mengubah konsep itu? Kenapa juara bertahan Piala Dunia nggak otomatis saja masuk ke Piala Dunia edisi berikutnya?

Jeda Waktu

Pertama adalah soal jeda waktu. Piala Dunia digelar setiap empat tahun sekali. Dengan catatan, ide konyol Piala Dunia dua tahun sekali masih sebatas wacana. Nah, jeda empat tahun ini terbilang lama. Coba bandingkan dengan Liga Champions Eropa.

UEFA Champions League (UCL) digelar nyaris saban musim. Artinya, setiap setahun sekali. Begitu pula Copa Libertadores. Lalu, apa hubungannya? Mari kita kupas pelan-pelan.

Begini, dari satu piala dunia ke piala dunia lainnya memiliki jeda yang cukup lama, yaitu empat tahun. Selama empat tahun tersebut, tentu saja akan ada banyak perubahan, terutama susunan pemain. Ya meskipun nggak semuanya berubah sih. Tapi setidaknya ada rotasi zaman yang berjalan.

Maksudnya, antara pemain muda dengan pemain yang lebih senior. Di level Tim Nasional untuk mengakomodir talenta dalam negeri, pemain muda dan tua akan dilebur. Nah, dari situ lah kekuatan satu negara bisa jadi berubah. Adakalanya bahkan berubah ke arah yang jelek.

Kita bisa ambil contoh skuad Timnas Prancis di Piala Dunia 2002. Tim Ayam Jantan otomatis lolos karena juara di edisi tahun 1998. Namun apa yang terjadi pada Prancis di Piala Dunia 2002? Yup mereka remuk, seremuk-remuknya.

Padahal waktu itu, skuad Prancis tidak banyak berubah. Beberapa pemain yang turut membawa Les Blues juara 1998 juga masih dimainkan. Sebut saja seperti Marcel Desailly, Zinedine Zidane, Patrick Viera, sampai David Trezeguet. Namun di Piala Dunia 2002, Prancis sudah tidak diperkuat Didier Deschamps; Laurent Blanc; sampai mantan pemain Real Madrid, Christian Karambeu.

Pada Piala Dunia 2002, Prancis tumbang duluan karena tidak lolos dari fase grup. Les Blues sekalipun gagal memetik kemenangan, bahkan Zidane CS kala itu tak sanggup mencetak gol barang sebiji. Prancis hanya bisa meraih satu poin dari hasil imbang melawan Uruguay 0-0 di Grup A.

Sisanya Prancis kalah dari Senegal 0-1, dan dibikin malu Denmark 0-2 lewat gol Dennis Rommedahl dan John Dahl Tomasson. Tim Ayam Jantan pun menempati posisi juru kunci. Maknanya, skuad Prancis yang di tahun 1998 begitu gahar, tapi menjadi loyo di Piala Dunia 2002. Ada penurunan kualitas di sana, sedangkan yang diinginkan FIFA adalah tim terbaik yang lolos Piala Dunia.

Jeda waktu empat tahun ini bisa dibilang lebih dari cukup untuk menyiapkan tim terbaik. Begitu pula sang juara bertahan. Mereka tidak otomatis lolos, karena juara bertahan pun kualitasnya belum tentu memenuhi standar FIFA. Maka dari itu, sang juara bertahan harus melalui fase kualifikasi terlebih dahulu. Dengan begitu, juara bertahan pun bisa melakoni lebih banyak pertandingan resmi.

Ini juga sebetulnya berlaku di kompetisi-kompetisi internasional lainnya. Seperti Piala Konfederasi, sebut lah AFC Cup, EURO, dan lain-lain. Hanya saja untuk kompetisi selevel AFF, sang juara bertahan bakal otomatis lolos.

Perihal Slot

Kita semua sepakat kalau slot Piala Dunia sangat lah terbatas. Jika tidak ada perubahan format, slot putaran final Piala Dunia maksimal adalah 32 negara. Satu slot yang pasti sudah diambil oleh tuan rumah. Jadi tersisa hanya 31 slot. Andai juara bertahan otomatis lolos, maka sisa slot hanya 30 negara. Hal itu berbeda jika sang juara bertahan tidak otomatis lolos.

Setidaknya, ada satu slot yang bisa diisi oleh negara lain, entah juara bertahan itu sendiri atau bahkan negara yang tak pernah masuk Piala Dunia, Indonesia misalnya. Begitu pula bagi negara-negara sesama anggota konfederasi.

Jika juara bertahan, katakanlah Prancis otomatis lolos ke Piala Dunia, jatah untuk negara-negara UEFA berkurang. Misalnya, jumlah perwakilan UEFA 13 negara. Sedangkan misalnya Prancis juara bertahan lolos, dan Austria sebagai tuan rumah lolos, maka jatah bagi UEFA hanya 11 negara. Ini memperkecil peluang negara sesama UEFA untuk ikut Piala Dunia.

Hal ini berbeda dengan Liga Champions Eropa misalnya. Sang juara bertahan berhak lolos otomatis, meski ia finis satu strip di atas zona degradasi. Liga masing-masing tidak perlu cemas kehilangan jatah satu slot, karena slot per liga sudah diatur sedemikian rupa.

Apakah Efektif?

Sementara itu, mantan kiper Spanyol yang sukses membawa La Furia Roja meraih double winner (EURO 2008 dan Piala Dunia 2010), Iker Casillas mengkritik format semacam itu. Menurut Casillas, seperti dikutip AS, juara bertahan tidak perlu susah payah melakoni babak kualifikasi. Hal itu ia sampaikan saat Spanyol mesti melakoni kualifikasi Piala Dunia 2014 di Brazil.

“Bisa saja kami (Spanyol) tidak lolos Piala Dunia. Dan betapa anehnya kalau sang juara bertahan tidak bisa ikut mempertahankan gelarnya,” kata eks kiper FC Porto tersebut.

Namun, rekan setim Casillas, Xabi Alonso justru berpendapat lain. Meskipun juara bertahan tidak lantas mendapat keistimewaan. Xabi mengatakan kalau format FIFA tersebut sangat penting, mengingat jenjang empat tahun yang begitu fluktuatif. Setiap tim bisa saja tidak konsisten, tak terkecuali sang juara bertahan.

Hal itu terbukti. Spanyol sendiri tak jauh melangkah di Piala Dunia 2014. Skuad besutan Vicente Del Bosque bahkan tidak lolos dari fase grup di Grup B. La Furia Roja dibantai Belanda 1-5 dan ditaklukan Chile 0-2. Nasib serupa juga terjadi pada Jerman.

Der Panzer yang juara Piala Dunia 2014, mesti terjengkang di Piala Dunia 2018. Tak tanggung-tanggung tim asuhan Joachim Loew itu finis di posisi juru kunci Grup F. Jerman hanya bisa menang dari Swedia 2-1.

Mereka harus kalah dari Meksiko 0-1. Dan yang paling diingat fans sepak bola sejagat adalah kekalahan Jerman 0-2 atas Korea Selatan. Kekalahan itulah yang mematenkan posisi Jerman di posisi juru kunci.

Dengan tidak lolosnya juara Piala Dunia secara otomatis, ini sangat bagus bagi perkembangan Piala Dunia itu sendiri. Setidaknya, masih ada peluang bagi negara lain, dan partisipan Piala Dunia tidak itu-itu saja, alias lebih variatif. Meskipun pernyataan Iker Casillas tadi juga benar adanya.

Sang juara bertahan berhak mempertahankan gelarnya. Tetapi tidak langsung, melainkan melalui fase kualifikasi dulu. Hal itu justru pantas, mengingat statusnya sebagai juara bertahan, jadi ujiannya harus berat. Jika baru fase kualifikasi saja gagal, bagaimana mau mempertahankan gelar? Sebentar, kalaupun lolos tanpa kualifikasi, yakin sang juara bertahan nggak bakal di posisi paling buncit?

Sumber referensi: stackexchange.com, theguardian.com, wikipedia.org, worldfootball.net, republika.co.id, okezone.com, goal.com, detik.com

Pos terkait