Skandal. Korupsi. Kolusi. Kontroversi Nasser Al-Khelaifi semuanya tertutup rapat oleh keberhasilan PSG meraih gelar Liga Champions untuk pertama kalinya. Skor mencolok 5-0 tak pernah diprediksi sebelumnya.
Allianz Arena yang pada September lalu menjadi arena pembantaian Dinamo Zagreb oleh tuan rumah, diwariskan pada PSG untuk menjadi “lubang buaya” bagi Internazionale. Fans il Biscione mungkin tak menyangka, tim mereka begitu terhina di final akbar.
Tapi sesiapa yang menonton, minimal highlight ketika PSG menghentikan laju Liverpool, kekalahan Inter sudah diprediksi sebelum-sebelumnya. Yah, tapi kalahnya nggak sebesar itu juga kali. Betul nggak?
Daftar Isi
Mengabulkan Prediksi yang Ada
Baru kali ini sebuah tim kalah di final Liga Champions dengan defisit lima gol. Inter mestinya WO usai PSG mencetak satu gol. Setidaknya dengan WO, wakil Italia itu nggak akan sememalukan ini. Paling tidak, mereka tidak akan dicap tim paling buruk di final Liga Champions.
Karena Inter memilih sok kuat, sok tangguh, padahal rapuh seperti seorang laki-laki yang diputusin pacarnya, ya makin-makinlah tersiksa. Empat gol tambahan tercipta usai bek-bek Inter kena gendam Achraf Hakimi. Yann Sommer, kiper yang katanya jago itu jadi terlihat perlu ditatar lagi oleh Agus Murod.
Sayangnya, tak ada aksi-aksi heroik Gianluigi Donnarumma di laga itu seperti yang biasa terlihat di pertandingan-pertandingan sebelumnya. Bukan karena main jelek, tapi memang tak ada ancaman berarti ke gawangnya. Lha coba ngana pikir, sepanjang 90 menit, Inter cuma melepas dua tembakan ke arah gawang. Bayangkan! Rukun Islam aja ada lima, lho.
Kemenangan ini menunjukkan bahwa prediksi-prediksi di luaran sana, termasuk Starting Eleven benar. Mimin harap kamu sudah nonton videonya. Kalau nggak ya, sungguh terlalu!
The OPTA probabilities for the UCL Final 📊🏆👀 pic.twitter.com/xRTJBYH7ZI
— LiveScore (@livescore) May 30, 2025
Kita lanjut ya. Sebelum laga, Superkomputer Opta lebih dulu menebak kalau La Beneamata akan kalah di partai final. Kans Inter memenangkan gelar di Munchen hanya 43,4% menurut mereka. Sebelum ini, Superkomputer Opta kerap tidak tepat memprediksi Inter.
Misalnya, ketika mereka memprediksi Inter akan kalah dari Barcelona, tapi nyatanya Barca yang tersingkir di semifinal. Tapi kali ini, prediksi Superkomputer Opta tepat.
Berarti kita bisa mengimani prediksi-prediksi tadi? Ya terserah kamu. Tapi ingat hal ini: Satu-satunya yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian.
Spending Lebih Sedikit dari Musim Lalu
Yang kemudian disorot dari kemenangan Les Parisiens kemarin adalah ketiadaan pemain bintang. Lionel Messi, Neymar, dan Kylian Mbappe tak lagi berada di Paris. Juga tak ada lagi nama seperti Marco Verratti, Angel Di Maria, Mauro Icardi, hingga Julian Draxler.
Skuad PSG dipenuhi para pemain muda. Cek saja di Transfermarkt. Rata-rata usianya bahkan nggak nyampe 24 tahun. Tapi para Gen-Z inilah yang membuat para pemain spek Toyota Starlet akhirnya turun mesin.
Dari awal musim, Luis Enrique sepertinya ingin membangun tim yang dipenuhi nom-noman pemikat wanita. Pengeluaran untuk transfer pun menurun, dari 454,5 juta euro di musim lalu menjadi 239,92 juta euro di musim ini. Gila! Hampir separuhnya nggak tuh?
PSG spent €240million on new signings this season and €455m last season.
Funded by a whole ass country.
Assembled an expansive side.
And guess what, I love it for them.
Congratulations to PSG.
A assemblage of wonderful players.#PSGINT pic.twitter.com/69SMXDs8ZW
— Ossy FA (@iamossy_) May 31, 2025
Nah, mumpung PSG baru saja meraih treble, tak kasih fakta yang baik-baik. Les Parisiens yang sering dicap boros, foya-foya, menghamburkan banyak uang yang, kalau kata warga Facebook lebih baik disumbangkan, ternyata tak seboros yang kamu kira.
Kalau dihitung dari datangnya Nasser Al-Khelaifi memang pengeluaran PSG membengkak, yakni 1,8 miliar euro atau kira-kira Rp33,3 triliun. Tapi kalau kita membacanya per musim, dalam beberapa musim terakhir saja deh, pengeluaran PSG, untuk transfer khususnya, tak besar-besar amat. Malah cenderung kecil.
Ist das nur Main-Character-Syndrom oder schon gefährlicher Narzissmus wie bei Infantino, Trump & Co?
War rhetorisch: Al-Khelaifi hat seit 2011 für -1,4 Mrd.-Bilanz bei PSG gesorgt, dazu Ligue1 zerstört als beIN-Präsi sowie Macht durch Rollen in ECA & UEFA-EXCO. Er hat gewonnen. pic.twitter.com/PDQyrLVPSy
— Nils Kern (@nilskern17) June 1, 2025
Musim 2022/23, PSG ‘hanya’ mengeluarkan 147 juta euro. Musim 2021/22 saat Lionel Messi dan Sergio Ramos tiba, pengeluaran PSG bahkan cuma 91 juta euro saja. Itu meningkat sedikit dari musim sebelumnya, di mana pengeluaran PSG kala itu 62 juta euro. Gimana, tercengang dengan fakta ini?
Buah Kesabaran Nasser Al-Khelaifi?
Banyak yang bilang, keberhasilan PSG meraih Si Kuping Besar adalah buah atas kesabaran Nasser Al-Khelaifi. Tapi, kalau menurut mimin sih, nggak ya. Sejak kapan Nasser seorang penyabar? Mungkin di dalam dirinya tersimpan keteladanan Nabi Ayyub. Namun aktualisasinya tidak.
Menebus klausul pelepasan Neymar yang nilainya nggak ngotak, membajak Kylian Mbappe, membeli pemain seperti Angel Di Maria dengan harga tinggi, lalu dengan pedenya menyikat Lionel Messi secara gratisan dan memberinya gaji besar, apa ini bisa disebut sabar?
Belum lagi orang Qatar itu sering marah-marah. Ingat bagaimana ia menyatroni ruang ganti Real Madrid dan mengancam para pemain usai timnya takluk? Alasan-alasan ini cukup menunjukkan bahwa Al-Khelaifi bukan sosok penyabar.
🚨| 𝐁𝐑𝐄𝐀𝐊𝐈𝐍𝐆: Les dirigeants du Real Madrid ont une VIDÉO qui pourrait EMBARRASSER Nasser Al-Khelaïfi & l’UEFA. ✅💥
✅ Elle serait liée aux MENACES dites par Nasser après l’élimination du PSG par le Real Madrid. 🤯
✅ Ils gardent la vidéo bien au chaud.@Romain_Molina pic.twitter.com/0pMd8HhDSc
— RMadrid actu 🇫🇷 (@RMadrid_actu) October 28, 2024
Daripada menyebut kemenangan ini buah kesabaran Nasser, lebih tepat menyebutnya sebagai buah kesadarannya. Setelah terseret banyak kasus, dari ancaman ke pemain sampai penculikan, lalu kasus yang berkaitan dengan finansial, Nasser pun sadar. Ah, tidak, lebih tepatnya dipaksa sadar.
Jika terus mengeluarkan banyak uang, PSG terancam sanksi. Tapi masalahnya bukan cuma PSG yang terancam, posisi Nasser Al-Khelaifi juga dalam bahaya. Induk perusahaan yang memberi wewenang Nasser, Qatar Investment Authority muak pada cara mantan petenis itu mengelola PSG.
Jabatannya di Qatar Sports Investment dan PSG terancam dicabut lantaran menghamburkan banyak duit dan merugikan. Nasser Al-Khelaifi sadar untuk mulai cermat membelanjakan uang. Dari seluruh kecermatannya, satu yang perlu diacungi jempol, yaitu kala ia merekrut Luis Enrique.
Luis Enrique, Pria Kurus di Balik Gelar UCL PSG
Bisa dipastikan hanya mereka yang gelap mata yang tak mengakui itu sebagai keputusan jitu. Selama QSI menginvestasikan uang ke PSG, Luis Enrique satu-satunya pelatih yang jelas idenya. Serius. Bahkan sejak era Carlo Ancelotti. Ance memang membuka keran gelar Ligue 1, tapi ia tak punya ide sekalipun dikenal sebagai pelatih dengan man management terbaik di dunia.
Sisanya? Laurent Blanc, Unai Emery, Thomas Tuchel, Mauricio Pochettino, hingga Christophe Galtier hanya sekadar diminta meraih gelar, utamanya gelar Eropa. Tapi tak punya ide. Mereka cuma memanfaatkan pemain yang ada untuk setiap kesempatan meraih gelar.
🔙Throwback
Extraordinary clip of Luis Enrique scolding Kylian Mbappe. ⚽️🤝 pic.twitter.com/2439JvCfJc
— Anahat🇮🇳 (@AnahatSagar) March 12, 2025
Enrique bukan sosok yang seperti itu. Ia datang membawa filosofi dan ide. Itulah yang ia sampaikan ke pemain PSG, termasuk para bintang seperti Kylian Mbappe. Ia tak peduli status pemain. Yang lebih penting adalah idenya. Jika pemain tak mau atau menolak secara halus idenya, buang, atau Enrique membiarkannya pergi.
Itulah kenapa, Enrique tak menahan Mbappe ketika ingin ke Real Madrid. Ia santai saja. Enrique toh punya rencana, dan rencana itu, didukung pemilik PSG. Hasilnya bisa kita saksikan. Bagaimana Enrique berhasil membangun dream team-nya. Ia butuh trio di lini depan. Namun karena Bradley Barcola kurang jam terbang di level tertinggi, didatangkanlah Khvicha Kvaratskhelia.
Khvicha pemain termahal yang didatangkan musim ini. Tapi ia benar-benar menjawab kebutuhan trio lini depan yang sudah ada Desire Doue dan Ousmane Dembele. Begitu pula Joao Neves yang dibeli hampir 60 juta euro. Ia melengkapi trio lini tengah yang sudah ada Vitinha dan Fabian Ruiz.
❤️🥇 pic.twitter.com/7LFBBOzLzU
— João Neves (@TeamJoaoNeves) June 1, 2025
Punya rencana yang didukung pemilik, Luis Enrique merasa cukup. Ia tak perlu sesumbar jelang laga. Cukup bilang, “Saya ingin memberikan trofi Liga Champions pertama buat Paris” sebelum final, dan ia buktikan itu.
Tifo bergambar Xana, anak Enrique yang nyawanya direnggut kanker tulang dan gambar Enrique menancapkan bendera warna khas PSG terbentang di tribun. Itu bukan hanya bentuk terima kasih, tapi ekspresi cinta paling nyata suporter kepada Luis Enrique.
Starting Eleven Story, kanal YouTube yang mungkin paling sering membahas jeleknya PSG juga berterima kasih pada Enrique. Berkat anda, kita, kami semua, bisa mengakui bahwa Paris Saint-Germain, masihlah klub sepak bola. PSG versi sekarang juga membuktikan bahwa Tuhan sayang pada hamba-Nya yang tidak berlebih-lebihan.
Sumber: SkySports, UEFA, CNN, LAtimes, YahooSports, Goal, Football-Italia


