Teka-teki siapa penerus tongkat estafet Xabi Alonso sebagai manajer Bayer Leverkusen sudah terpecahkan. Erik ten Hag adalah sosok yang sudah diperkenalkan kepada khalayak menjadi pelatih baru Die Werkself. Tapi, siapa sangka, pemilihan si botak dari Belanda menimbulkan tanda tanya di benak penikmat sepak bola, khususnya Bundesliga.
Maksudnya, kok bisa pelatih korban PHK Manchester United itu yang dipercaya oleh manajemen Leverkusen di antara jutaan manusia lain yang ada di muka bumi ini? Konon Ten Hag dianggap bukan figur yang tepat untuk meneruskan jalan kejayaan yang sudah susah payah dibangun Xabi. Bisa-bisa, ten Hag malah merobohkan pondasi kuat Leverkusen sebagai title contender di liga yang ditancapkan Xabi.
Selain itu, Leverkusen juga seolah amnesia bahwa mereka pernah mengalami musim yang buruk saat ditangani Peter Bosz yang sama-sama dari Belanda beberapa tahun lalu. Masa iya mereka mau terjatuh ke lubang kegagalan lagi bersama orang Belanda?
Tapi, apa mau di kata, mantan bawahan Pep Guardiola di Bayern Munchen itu sudah resmi dinyatakan bergabung di BayArena. Lantas, bagaimana prediksi musim perdana Erik ten Hag di Bayer Leverkusen? Benarkah ia akan membawa pemain yang pernah ia latih menuju Jerman?
Daftar Isi
Tak Banyak Pilihan Kandidat Pelatih
Football Lovers mungkin boleh geleng-geleng kepala dengan mendaratnya Saitama.. eh maksudnya Erik ten Hag ke Leverkusen. Tapi, coba deh kalian memposisikan diri sebagai HRD-nya Leverkusen. Usut punya usut, Leverkusen cukup kesulitan menemukan kandidat pelatih berkualitas yang tersedia. Tak banyak pilihan yang bisa dijadikan pertimbangan oleh juara Bundesliga musim 2023/24 itu.
Bila ditelusuri, hanya ada tiga orang saja yang menerima telepon dari petinggi Leverkusen beberapa waktu setelah perpisahan Xabi Alonso. Menurut laporan dari Yahoo Sports, selain Ten Hag, ada nama Cesc Fabregas dan Xavi Hernandez yang masuk dalam bursa calon pelatih baru. Dari ketiganya, rupanya Ten Hag dan Fabregas lebih difavoritkan untuk digaet.
Sekarang kita komparasikan ketiga orang ini dalam segi pengalaman kepelatihannya. Mulai dari Fabregas dulu. Sejak gantung sepatu pada Juli 2023, Fabregas terhitung sebagai pelatih yang masih bau kencur dan CV-nya belum cukup mentereng. Setuju atau tidak, namanya baru-baru saja diperbincangkan saat membawa Como promosi dari Serie B, kemudian sanggup menempatkan tim milik Grup Djarum itu di sepuluh besar klasemen Serie A musim ini.
🚨 Cesc Fabregas is one of the favourites to become the new Bayer Leverkusen head coach when Xabi Alonso leave. 🖤❤️
The club is considering several options.
(Source: @SkySportDE) pic.twitter.com/YZb6T9ybTX
— Transfer News Live (@DeadlineDayLive) May 9, 2025
Lalu gantian Xavi Hernandez. Sama-sama orang Spanyol dan mantan pemain, tapi rekam jejaknya sedikit lebih baik dari Fabregas. Xavi bisa menghadirkan trofi, baik saat menangani Al-Sadd di Qatar maupun ketika memimpin Barcelona.
Hanya saja, titik kelemahan Xavi yang membuat Leverkusen mengesampingkannya adalah, dirinya yang lama menganggur pasca ditendang Barca. Leverkusen jelas tak mau berjudi dengan memboyong pelatih yang sudah sekitar setahun luntang-lantung, untuk mengomando tim yang sedang berusaha bangkit.
Sampailah pada Erik ten Hag. Sekalipun karirnya sempat ternodai karena dibuang United, Ten Hag mengukir kinerja yang lumayan menjanjikan. Dalam dua kesempatan melatih sebelumnya, pelatih 55 tahun selalu memberikan jaminan trofi pada timnya. Bersama Ajax, ia menggondol 3 Eredivisie, 2 KNVB Beker, dan sekali Dutch Super Cup.
🚨⚫️🔴 Erik ten Hag remains a serious candidate for Bayer 04 Leverkusen as reported and confirmed!
… in case Xabi #Alonso joins Real Madrid.
Concrete talks with Ten Hag and his management have already taken place. There are other coaches on the list, but the 55-year-old… pic.twitter.com/T0QETzW6Dl
— Florian Plettenberg (@Plettigoal) May 1, 2025
Begitupun di United. Meski menjalani musim yang penuh gronjalan, Ten Hag tetap memberikan 1 FA Cup dan 1 Carabao Cup untuk Old Trafford. Dua buah trofi dari tiga kali final rasanya tak terlalu buruk untuk pelatih yang pernah sesumbar ingin mengakhiri era Guardiola dan Jurgen Klopp di Inggris itu.
Sosok Yang Diincar Sejak 2021
Mungkin setelah menimbang-nimbang sambil melihat kelebihan Ten Hag yang setiap musimnya mendatangkan trofi, direksi Leverkusen seketika bergerak cepat untuk mendapatkannya. Kebetulan, beberapa saat sebelum Fabrizio Romano berkata “here we go”, muncul Ajax yang dikabarkan menghubungi Ten Hag untuk mengajaknya balikan karena baru saja menceraikan Francesco Farioli.
🚨 𝗕𝗥𝗘𝗔𝗞𝗜𝗡𝗚: Erik ten Hag is under consideration to become the new manager of AS Roma.
(Source: @ASRomaPress) pic.twitter.com/W7jUyKwcgW
— Transfer News Live (@DeadlineDayLive) November 12, 2024
Ten Hag sebelumnya juga santer dikabarkan merapat ke Italia bersama AS Roma. Bahkan, ia sempat terciduk menonton pertandingan Roma di Olimpico, mampir ke tempat latihan Giallorossi, hingga makan malam bersama Claudio Ranieri. Namun, semesta tampaknya tak merestui Ten Hag bergabung dengan Roma atau CLBK dengan Ajax. Takdir membawanya memulai hari baru di Leverkusen.
Setelah menyelesaikan sejumlah dokumen, Ten Hag pun menandatangani kontrak berdurasi hingga 2027. Hari pertamanya di Leverkusen ia habiskan dengan melihat-lihat BayArena yang jadi rumah barunya, ditemani direktur olahraga Leverkusen, Simon Rolfes. Dalam sesi konferensi pers perkenalan Ten Hag, terkuak fakta baru yang disampaikan oleh Rolfes kepada media.
🚨✍🏻 Official, confirmed. Erik ten Hag signs in as new Bayer Leverkusen head coach replacing Xabi Alonso.
Two year deal until June 2027 as ten Hag was always the main candidate. pic.twitter.com/eXORQfRtuy
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) May 26, 2025
Rolfes menyampaikan bahwa Leverkusen pernah menjadikan Ten Hag sebagai sosok incaran pada 2021 lalu saat dirinya memutuskan hengkang dari Ajax. Sayangnya, ten Hag memilih berlabuh ke Inggris. Dengan bergabung Ten Hag mulai musim depan, Rolfes menyampaikan bahwa manajemen menaruh harapan pada pria Belanda agar membawa Leverkusen meraih target tertinggi di Bundesliga, DFB Pokal, dan Liga Champions.
Tantangan Yang Akan Dihadapi Ke Depan
Ten Hag yang mendengar permintaan langsung dari Leverkusen memang mengaku merasa tertantang untuk bisa mewujudkannya. Ia bahkan menyebut dirinya datang ke Jerman dengan versi yang jauh lebih baik setelah menepi selama tujuh bulan. Kendati demikian, Ten Hag dijamin tetap akan was-was dengan beragam tantangan yang dihadapinya ke depan sebagai manajer Leverkusen.
Ten Hag diyakini akan berada di dalam bayang-bayang Xabi selama memimpin Leverkusen. Dia akan terus dibandingkan dengan legenda Real Madrid itu yang sudah dikenang sebagai pelatih tersukses dalam sejarah klub. Belum lagi para pemain dan fans yang masih belum sepenuhnya move on dari masa-masa indah bersama Xabi. Situasi itu diprediksi membuat langkah Ten Hag terganggu, apabila tak bisa segera merebut hati fans dan pemain Leverkusen.
El Leverkusen pasó de Xabi Alonso a Erik Ten Hag…
Xabi Alonso salvó a ese club y los hizo ganar títulos y ahora Ten Hag los va a matar. Downgrade histórico. 💀💀💀 pic.twitter.com/hFnC2XHVOz
— MT2 (@madrid_total2) May 30, 2025
Tak berhenti sampai di situ, Ten Hag juga didorong untuk mempertahan filosofi sepak bola menyerang ala Leverkusen yang diterapkan Xabi. Leverkusen di bawah asuhan Xabi dikenal dengan sepak bola menyerangnya yang khas secara teknis dan dinamis. Sesuatu yang sebetulnya tak terlalu sulit untuk diaplikasikan Ten Hag dalam rezim kepelatihannya nanti.
Mengingat ten Hag juga identik dengan gaya sepak bola ofensif selama membesut Ajax. Bedanya, ofensif versi Ten Hag dibangun dengan formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1. Sementara Xabi saklek bermain dengan skema tiga bek. Inilah yang harus dipikirkan lagi oleh Ten Hag dalam menentukan pola serangan Leverkusen musim depan.
Kebiasaan Membawa Pemain Yang Pernah Dilatih
Namun, sebelum memikirkan bagaimana pola serangan yang tepat, Ten Hag jelas perlu membangun dream team versinya di Leverkusen lebih dulu. Ia memang mendapat warisan skuad Xabi yang mampu bersaing dengan Munchen dalam dua musim terakhir. Masalahnya, Ten Hag dihadapkan dengan eksodus pemain yang pergi. Mulai dari Jonathan Tah, Jeremie Frimpong, hingga Florian Wirtz.
Jadi, mau tak mau pria kelahiran 1970 itu harus membangun ulang skuad. Sekalipun masih diperkuat oleh sejumlah penggawa yang kemungkinan tak berpaling seperti Granit Xhaka, Piero Hincapie, sampai Alejandro Grimaldo, Ten Hag tetap perlu menambah amunisi lagi di jendela transfer. Apalagi melihat kebiasaannya yang suka membawa pemain yang pernah dilatih ke klub barunya.
🚨 | Antony and Alejandro Garnacho are being discussed internally by Bayer Leverkuzen, now managed by Erik ten Hag.
[@kicker/@bayer04Xtra] pic.twitter.com/Vt9zqGJ0zM
— UtdDistrict (@UtdDistrict) May 29, 2025
Bila Ten Hag tetap mempertahankan habitnya itu, terdapat beberapa nama mantan anak asuhnya yang berpeluang diajak bergabung ke Leverkusen. Menurut Daily Mail, Ten Hag dikabarkan mengincar Alejandro Garnacho dan Antony sebagai rekrutan di musim perdananya bersama Leverkusen.
Keduanya sama-sama pernah dilatih Ten Hag dan kebetulan sedang mengalami keretakan hubungan yang parah dengan Manchester United. Pembicaraan bisa saja dilakukan lebih intens mengingat bursa transfer masih belum resmi dibuka.
Patut dinantikan kiprah Erik ten Hag bersama Bayer Leverkusen. Terutama pertemuannya dengan Vincent Kompany yang menyajikan derby sesama pelatih botak kinclong. Kira-kira, akan sejauh mana ten Hag mampu berlari bersama Leverkusen?
kompas.id, tribalfootball.com, goal.com, tempo.co, thesun.co.uk, dailymail.co.uk


