Talenta Jenius Asal Spanyol Itu Bernama Ivan De La Pena

spot_img

Sebagai seorang seniman sepak bola, nama Ivan de la Pena selalu punya cara untuk menciptakan sebuah karya tak terhingga. Ia menjadikan lapangan sebagai kanvas kosong, yang nantinya akan dilukisnya dengan gerakan-gerakan indah nan menawan.

Ivan de la Pena tak pernah kehabisan cara untuk kejutkan dunia. Ia yang telah putuskan pensiun pada 2011 lalu telah berikan warna dalam dunia sepak bola, khususnya bagi kompetisi tanah kelahirannya.

Lahir dengan nama lengkap Ivan de la Pena Lopez, pria yang dibesarkan di wilayah Cantabria ini selalu menjadikan sepak bola sebagai media keterampilannya. Pada tahun 1991, Ivan de la Pena bergabung dengan akademi FC Barcelona. Ia memulai segalanya dengan sistem pemuda La Blaugrana selama kurang lebih lima tahun.

Jika bicara tentang sepak bola Spanyol, nama Ivan de la Pena memang layak dimasukkan kedalam daftar legenda. Namun sayang, kita lebih sering membicarakan nama-nama seperti Xabi Alonso, Xavi Hernandez, hingga Andres Iniesta. Padahal, ia sering disebut sebagai salah satu gelandang paling berbakat dunia. Penampilannya di Barcelona juga sebenarnya tidak terlalu mengecewakan.

Namun entah mengapa, ia seperti tak berkembang disana. Setelah masuk kedalam tim Barcelona B, de la Pena lalu memulai debut dengan tim senior pada 3 September 1995. Saat itu, ia diberi kesempatan oleh Johan Cruyff dilaga melawan Real Valladolid. Awalnya, de la Pena yang kala itu masih berusia 17 tahun dianggap sebagai penerus Pep Guardiola.

Akan tetapi, dirinya kemudian menjadi pemain yang tidak disukai Cruyff. Lalu pada tahun 1996, ia sempat mendapat angin segar pasca Barca kedatangan pelatih jenius bernama Bobby Robson. Ia menjadi pemain yang sangat percaya diri kala itu. Bahkan, kemitraannya dengan Ronaldo il fenomeno menjadi salah satu yang amat luar biasa.

Buah dari kontribusinya untuk raksasa Katalan kala itu juga menghasilkan gelar La Liga, Copa del Rey, Piala Super Spanyol, Piala Winners, dan Piala Super Eropa.

Nahas, kedatangan pelatih asal Belanda lainnya, yaitu Louis van Gaal membuat namanya tenggelam. Jika mengingat masa-masanya di Barcelona, Ivan de la Pena patut mendapat pujian yang sangat luar biasa. Sentuhan hingga ketelitiannya kala bermain menjadi salah satu ciri khas darinya.

De la Pena akan selalu menjadi pemain yang mampu melihat pergerakan rekan setimnya. Ia seolah tahu kemana rekannya akan melangkah, sehingga umpan-umpan yang diciptakannya tak jarang berbuah kemenangan. Selain itu, berkat akurasi tendangan nya yang amat luar biasa, Ivan de la Pena juga seringkali menjebol gawang lawan melalui sepakan bola mati. Gol dari sepakan jarak jauh juga menjadi santapan favoritnya.

Berkat kegemilangannya kala itu, ia sampai mendapat julukan The Little Buddha.

Namun karena ketidakcocokan dengan sang pelatih, dirinya pun lalu putuskan hengkang ke Italia dan bergabung dengan tim ibukota, Lazio.

Presiden Lazio kala itu, Sergio Cragnotti, begitu yakin membayar sang pemain yang masih berusia 22 tahun dengan nilai 10 juta pounds. Sang presiden sangat terkesan dengan gaya permainan de la Pena. Ia bahkan menyematkan julukan Maradona asal Spanyol dalam diri pria berkepala plotos tersebut.

Namun sayang, meski Sven Goran Eriksson memberinya kesempatan, permainan Ivan de la Pena tampak canggung. Ia kerap tampil diluar harapan hingga membuat nyala api yang begitu besar di Barcelona padam oleh kerasnya kompetisi Negeri Pizza.

Karena Lazio merasa sang pemain tidak terlalu berbakat, mereka pun lalu meminjamkannya ke Marseille dan termasuk pulang ke Barcelona. Nahas, namanya malah berujung tidak karuan. Ia hanya semusim membela dua klub tersebut, sebelum Elang Ibukota benar-benar melepasnya.

Pada akhirnya, langkahnya terhenti di sebuah klub bernama Espanyol. Disana, ia mendapat apa yang dibutuhkan. Namanya begitu agung, talentanya sungguh tak terlupakan, hingga apa yang telah menjadi bagian dari dirinya, benar-benar mendapat penghargaan dari seluruh penggemar.

De la Pena seolah menemukan rumahnya. Ia seakan sadar bahwa selama ini, klub seperti Espanyol lah yang ia cari. Ia menulis lembar demi lembar kesuksesan. Performanya kembali terangkat, bakatnya kembali menyala, dan seluruh talenta yang dimilikinya menjadi sebuah pertanda bahwa ia memanglah pemain yang tidak bisa diremehkan.

Di Espanyol, Ivan de la Pena membangun sebuah fondasi yang begitu sempurna. Perlahan tapi pasti, performanya diatas lapangan semakin mendapat apresiasi. Ia tak mau ketinggalan dalam menulis bagian terpenting dalam karirnya di dalam buku sejarah Espanyol.

Sejak tahun 2002 berseragam Espanyol, Ivan de la Pena sukses menjadi bagian penting dari tim yang bermarkas di Stadion Cornella-El Prat. Ia memperoleh banyak sekali hal luar biasa dan menemukan konsistensi dalam permainan. Hasil dari kerja kerasnya di Espanyol, ia sukses membawa klub tersebut memenangi gelar Copa del Rey musim 2005/06 dan masuk kedalam final Liga Europa musim 2006/07.

Espanyol punya harapan dalam diri Ivan de la Pena. Entah bagimana menjabarkannya, pemain bertinggi 169 sentimeter ini benar-benar merajut cerita tak terlupakan disana. Namun begitu, setelah mengantarkan Espanyol ke partai final Liga Europa, karir de la Pena sempat terhambat karena masalah cedera.

Setelah pulih dari masalah cedera, de la Pena kembali unjuk kemampuan. Bahkan, pada pada 21 Februari 2009, ia berhasil mencetak dua gol dalam kemenangan 2-1 melawan FC Barcelona. Pertandingan tersebut berjalan sangat sengit. Di babak pertama, Barcelona terus menggempur pertahanan Espanyol, namun tiada satu gol pun tercipta.

Setelah babak kedua dimulai, Espanyol mulai mengambil alih pertandingan. Melalui aksi luar biasa, Ivan de la Pena berhasil mencetak gol pertama Espanyol melalui sundulan kepala. Ia merayakannya dengan sangat luar biasa, seolah memberi tahun raksasa Katalan bahwa ia merupakan pemain yang tak bisa disingkirkan.

Kemudian, tidak berselang lama, Ivan de la Pena kembali tuai pujian. Memanfaatkan blunder yang dilakukan Victor Valdes, de la Pena sesegera mungkin mengambil bola dan langsung melakukan tembakan chip ke gawang klub yang bermarkas di Camp Nou. Seluruh isi stadion bergema, nama de la Pena terus dikumandangkan.

Ia begitu bersemangat kala merayakan gol yang dicetaknya. Pasalnya, ia berhasil mengalahkan tim kuat sekelas FC Barcelona yang kala itu tengah berada di puncak kejayaan.

Terlebih, ia memberi tahu dunia, bahwa kualitasnya tak kalah dari pemain tengah yang dimiliki FC Barcelona.

Menyoal tentang karirnya di timnas Spanyol, de la Pena memang bak berlian yang tak dimanfaatkan kilaunya. Namanya meredup seiring mencuatnya nama-nama tenar, khususnya yang berada di FC Barcelona. Ia tak mendapat kesempatan lebih di skuat La Furia Roja.

Meski pada akhirnya Spanyol memang menjadi jawara dunia, namun menyingkirkan de la Pena dalam daftar sungguh menjadi sebuah keputusan yang sulit diterima. Dirinya yang punya kemampuan luar biasa harus takluk dengan keadaan yang tak berpihak kepadanya.

Namun begitu, inilah sepak bola. Tidak ada yang tahu siapa yang akan menjadi raja selanjutnya. Tidak juga ada yang tahu siapa penguasa yang akan mendominasi segalanya. Pun dengan nama Ivan de la Pena. Talentanya begitu luar biasa, namun sayang, semesta kurang mendukung keberlangsungan masa kejayaannya.

Pada tahun 2011, The Little Buddha putuskan pensiun dari dunia sepak bola. Sempat menjadi asisten pelatih FC Barcelona dan juga AS Roma, Ivan de la Pena memilih untuk berhenti sejenak dari dunia yang telah membesarkan namanya.

Entah apa alasannya, yang pasti meski dirinya kini sudah tak lagi mengolah bola ataupun yang lainnya, namanya akan selalu dikenang sebagai salah satu maestro sepak bola.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru