Pernahkah kalian mempunyai barang bekas yang tak terpakai di rumah, lalu membuangnya tanpa berpikir mencari cara untuk memanfaatkannya? Namun terkadang yang tak kita sadari, biasanya barang yang kita anggap bekas dan tak layak pakai itu, justru bisa bernilai tinggi jika kita pandai mengolahnya.
Analogi tersebut tepat jika kita kaitkan dengan kecerdikan pelatih PSG, Luis Enrique dalam memoles pemain. Pemain warisan pelatih sebelumnya, lalu pemain baru yang ia datangkan, perlahan mampu ia sulap menjadi pemain berharga di Les Parisiens. Mau bukti? Let’s go kita bahas.
Daftar Isi
Vitinha
Di zaman pelatih Christophe Galtier, PSG pernah membeli mahal gelandang mungil dari FC Porto, Vitinha. Pemain berpostur 1,72 meter ini sangat energik, serta punya akurasi umpan yang ciamik sebagai seorang gelandang penyeimbang.
Sayang, ketika hijrah ke PSG, ia mendapat banyak kendala yakni persaingan. Stok lini tengah di zaman Galtier menumpuk, dan ia terus mengalami rotasi. Dari mulai Fabian Ruiz, Marco Verratti, Renato Sanches, Carlos Soler, maupun Warren Zaire Emery.
Namun setelah kedatangan Luis Enrique, Vitinha langsung dipercaya jadi anak emasnya. Dilansir dari The Guardian, Luis Enrique sempat menyebut Vitinha adalah gelandang sempurna yang jago dalam menguasai bola. Dibawah gemblengan Enrique, ia diberi kebebasan lebih untuk berkreasi di kotak penalti lawan.
Sebagai hasilnya, keterlibatan golnya jadi meningkat. Ketika bersama Galtier, ia hanya menciptakan 2 gol dan 4 assist. Namun saat diubah perannya oleh Enrique, ia jadi tambah subur dengan 9 gol dan 5 assist.
Memoles Vitinha jadi lebih produktif, tampaknya tak cukup bagi Enrique. Pelatih kelahiran Gijon itu punya cara lain untuk memoles Vitinha. Musim ini Enrique menyulap lagi Vitinha menjadi gelandang yang lebih bertahan setelah Manuel Ugarte pergi ke MU.
Hebatnya, ia terbukti berhasil mengemban tugas baru tersebut. Sebagai bukti, ia menjadi pemain paling berpengaruh di lini tengah PSG, ketika berhasil membungkam Liverpool di UCL.
Vitinha e João Neves juntos é futebol.
Dois génios, que dupla.
Darei SEMPRE preferência a médios de menor estatura mas tecnicamente absurdos e inteligentes a qualquer outro perfil de médio. pic.twitter.com/9pTv2UmVw0
— J (@fcplibero) February 11, 2025
Nuno Mendes
Sementara itu, rekrutan lain Galtier yakni Nuno Mendes, juga terlihat berkembang pesat sejak ditangani oleh Luis Enrique. Lihat saja, di zaman Galtier bek kiri asal Portugal itu juga menghadapi masalah yang sama dengan Vitinha, yakni persaingan.
Bek kelahiran Lisbon itu menit bermainnya sering terbagi dengan Juan Bernat, maupun Presnel Kimpembe. Ketika Enrique masuk, ia juga tak langsung dipercaya sebagai bek kiri utama. Nuno Mendes kembali kalah saing dengan pembelian mahal dari Munchen, Lucas Hernandez.
Di tengah ketidakpastian menjadi bek kiri utama, Nuno Mendes tetap setia menanti. Sampai akhirnya di musim ini, kesempatan itu pun tiba. Nuno Mendes dipercaya sepenuhnya menggeser Lucas Hernandez yang performanya terganggu pasca sembuh dari cedera ACL.
Kepercayaan Enrique itu tak ia sia-siakan. Mendes menjawabnya dengan performa mentereng. Termasuk ketika dua kali mampu mengantongi pemain sekaliber Mohamed Salah.
Fabian Ruiz
PSG pernah membeli pemain dari Napoli, bernama Fabian Ruiz. Gelandang berpostur 1,89 meter itu, terlihat kaku sekali dalam debutnya bermain di bawah arahan Galtier. Fabian Ruiz ini tipe gelandang yang tak selincah rekan-rekannya.
Namun ketika bertemu Enrique, Fabian Ruiz merasa lebih nyaman bermain. Ia tak lagi kaku sebagai gelandang, saat diberi peran baru untuk lebih bisa berkreasi dan terlibat dalam fase penyerangan. Sebagai bukti, tingkat pemberian assist-nya lalu meningkat. Dari tiga assist di zaman Galtier, lalu menjadi tujuh assist di zaman Enrique.
Ya, polesan Enrique itu terbukti mampu membuat Fabian Ruiz naik level. Masih ingat ketika Timnas Spanyol meraih gelar juara Euro 2024? Salah satu punggawa penting La Furia Roja di lini tengah saat itu adalah Fabian Ruiz. Luis de la Fuente harusnya sih berterima kasih pada Enrique.
Pasca juara Euro 2024, ia makin menjadi pemain yang tak tergantikan di lini tengah PSG. Dengan partner barunya yakni Joao Neves, Fabian Ruiz mampu berbagi peran dengan baik. Mereka berdua berkolaborasi dengan baik, dengan membentuk trio maut bersama Vitinha.
Bradley Barcola
Luis Enrique musim lalu pernah berjudi membeli pemain muda dari Lyon, Bradley Barcola dengan harga yang cukup mahal, yakni sekitar 45 juta euro. Apalagi di posisi Barcola yakni penyerang sayap kiri, masih bercokol sosok Kylian Mbappe. Sang superstar yang tak mungkin bisa diusik posisinya.
Meski ada Mbappe, Barcola perlahan diberi menit bermain oleh Enrique. Ia kerap dipaksakan bermain di posisi sayap serang kanan. Empat gol serta tujuh assist dalam debutnya, terbilang cukup menjanjikan.
Musim ini, ketika banyak yang meragukan PSG setelah kepergian Mbappe, Barcola justru tampil gemilang dan mengisi kekosongan tersebut dengan sangat baik. Performanya yang konsisten membuatnya menjadi bintang baru di Parc des Princes. Bayangkan, anak muda kelahiran 2002 itu sudah bisa mengemas 18 gol dan 12 assist hingga bulan Maret.
Ousmane Dembele
Sama halnya dengan Ousmane Dembele. Pemain berlabel “pecah belah” dari Barcelona itu diboyong Enrique ke Paris musim lalu. Namun ketika datang ke PSG, ia masih berada di bawah bayang-bayang kebintangan Mbappe. Sinar kebintangan itu membuat Dembele tak terlalu mencolok.
Namun di saat Mbappe pergi, Dembele justru menemukan sentuhannya. Ia tak lagi terbebani harus melayani Mbappe. Enrique pun sadar akan kondisi itu. Ia cerdik memanfaatkan kemampuan Dembele musim ini untuk menjadi tumpuan gol.
Tak heran jika Enrique berani bereksperimen menjadikan Dembele sebagai penyerang tengah musim ini. Hasilnya tokcer. Eksperimen itu berbuah manis. Keran gol PSG sebagian besar berasal dari Dembele. Ia kini jadi top skor tim dengan 30 gol hingga bulan Maret. Saking bangganya, Enrique sampai memuji Dembele sebagai pemain PlayStation dengan cahaya di atas kepalanya.
🔴🔵 Ousmane Dembele: “Whether it’s Bradley Barcola, Désiré Doué or Kvaratskhelia, they give me great service. All I have to do is put the ball in the net.” pic.twitter.com/DjoDSNROW7
— EuroFoot (@eurofootcom) February 13, 2025
Desire Doue
Sebagai pelengkap Barcola dan Dembele, Enrique cerdik memboyong pemain kurang terkenal dari Rennes, Desire Doue. Pemain yang sebenarnya berposisi sebagai penyerang sayap kiri itu, sengaja dipoles Enrique untuk bersinergi membentuk trio bersama Dembele dan Barcola, sebagai penyerang sayap kanan.
Formula Enrique itu perlahan menuai hasil. Pemain muda berusia 19 tahun itu mampu memberi variasi serangan baru di sisi sebelah kanan penyerangan Les Parisien. Doue makin nyaman dan produktif bermain dari sisi kanan. Terbukti 7 gol dan 11 assist, sudah ia ciptakan hingga bulan Maret.
Berkah bagi Doue. Setelah moncer dipoles Enrique, pemain kelahiran Angers itu lalu mendapat panggilan Timnas Prancis untuk pertama kalinya di bulan Maret. Tak lupa ia banyak mengucapkan terima kasih pada Luis Enrique, karena telah mewujudkan mimpi kecilnya untuk bisa berseragam Les Bleus.
Lucas Beraldo dan William Pacho
Luis Enrique tak hanya cerdik memoles lini serang. Lini belakang PSG yang dianggap sudah cukup usang, ia juga permak. Salah satu bukti Enrique melakukan peremajaan skuad di lini belakang, yakni membuang beberapa pemain senior seperti Sergio Ramos, Milan Skriniar, maupun Danilo Pereira.
Daun muda yang didatangkan seperti Lucas Beraldo dari Sao Paulo, serta William Pacho dari Frankfurt, perlahan telah membuahkan hasil. Beraldo sebelum dibeli PSG, siapa yang tahu? Ia hanyalah wonderkid asal Brasil biasa, yang belum terbukti kemampuannya di level Eropa.
Sementara William Pacho, performanya musim lalu di Frankfurt juga tak terlalu mentereng. Buktinya Frankfurt termasuk tim yang kebobolan paling banyak di Bundesliga (50 gol). Frankfurt juga kandas mengenaskan di Conference League atas Union Saint-Gilloise.
Namun hebatnya, musim ini Pacho terlihat bak bek mahal dan handal. Duetnya dengan Marquinhos, terbukti berhasil menjadi bek yang kokoh. PSG menjadi tim yang kebobolan paling sedikit di Ligue 1 hingga Maret (25 gol). Solidnya duet tersebut juga mampu memakan korban di UCL, yakni Liverpool.
Sumber Referensi : transfermarkt, goal, transfermarkt, idntimes, transfermarkt, planetfootball, transfermarkt, bola.net, transfermarkt


