Soal apa pun bisa terjadi dalam sepakbola sekali lagi telah dibuktikan oleh Everton. Bertengger di papan bawah Liga Inggris, dengan mengejutkan The Toffees justru mengalahkan West Ham yang performanya tengah menanjak dalam tiga tahun terakhir. Skuad asuhan Sean Dyche menaklukan tim asuhan David Moyes dengan skor 1-0.
Dengan tambahan tiga poin, Everton berhasil sedikit menjauh dari lembah degradasi. Ya, Everton kini lebih sering disibukan dengan bagaimana cara terhindar dari degradasi. Meski performanya buruk, pasti ada saja keberuntungan yang membuat mereka tetap bertahan di kasta tertinggi.
Namun, musim ini permasalahan Everton jauh lebih rumit dari biasanya. Mereka didakwa melanggar Financial Fair Play. Jika terbukti bersalah, mereka akan mendapat pengurangan poin. Sekarang, pertanyaannya adalah, apakah Dewi Fortuna akan kembali berpihak pada Everton?
Daftar Isi
Dikenal Sebagai Tim Papan Tengah
Everton memang bukan tim yang kaya akan prestasi macam saudaranya, Liverpool. Hidup di balik bayang-bayang The Reds, Everton lebih dikenal sebagai tim papan tengah abadi. Hampir seluruh musim yang mereka jalani di kasta tertinggi dihabiskan di papan tengah.
Oleh karena itu, mereka selalu dibanding-bandingkan dengan rivalnya. Pertanyaan seperti “Jadi yang lebih tua, mengapa Everton tak berprestasi seperti Liverpool?” pun mulai bermunculan. Tapi, Everton tetap tabah dan terus berusaha agar bertahan di kasta tertinggi bagaimanapun caranya.
Meski terlihat ngenes, Everton sebetulnya pernah mencatatkan beberapa prestasi bergengsi di masa lalu. Kita tak bisa memungkiri kalau mereka tetap berstatus sebagai klub yang memiliki sembilan gelar Liga Inggris. Tapi itu sudah terjadi sangat lama sekali. Terakhir kali The Toffees juara Liga Inggris saja pada tahun 1987.
Sementara di era Premier League, Everton tercatat baru meraih satu trofi, yakni Piala FA tahun 1995. Setelah itu, Everton memantapkan diri sebagai tim gurem. Mereka tak pernah mendapat trofi Liga Inggris lagi sampai sekarang. Bahkan untuk menembus empat besar saja mereka sangat kesulitan. Meski begitu, Everton punya catatan menarik. Mereka ternyata belum pernah terdegradasi sejak 1951.
Era David Moyes yang Istimewa
Everton mulai membaik ketika memasuki era kepelatihan David Moyes. Berstatus sebagai mantan pelatih Preston North End, Moyes datang dengan ambisi ingin mengembalikan Everton sebagai klub papan atas Liga Inggris. Ia muak dengan nada-nada sumbang yang selalu membandingkan Everton dengan Liverpool.
Saat menangani Everton, Moyes mengawalinya dengan manis. Bermain di hadapan pendukungnya, Everton mampu tampil impresif. Berada di bawah kendali pria asal Glasgow, Everton bak terlahir kembali. Seluruh klub di daratan Britania Raya mulai memperhitungkan mereka.
Permainan Everton di tangan Moyes lebih enak ditonton. Mereka jadi tim yang adaptif sehingga pandai membaca kekuatan lawan. Dengan alasan itu pula David Moyes terus dipertahankan oleh manajemen. Ia dianggap sebagai pelatih yang memiliki visi bagus. Manajemen yakin kalau bersama Moyes, Everton perlahan akan menemukan jalan terbaik untuk sukses.
Meski pada akhirnya tak pernah meraih trofi Liga Inggris, Everton jadi tim yang kerap merepotkan tim-tim papan atas. Kurang lebih 12 tahun mengabdi, Moyes hanya dua kali membawa Everton keluar dari sepuluh besar klasemen Liga Inggris. Sisanya, Everton kebanyakan bertengger di enam besar.
Bahkan Everton era Moyes pernah beberapa kali tampil di kompetisi Eropa. Pada musim 2005/06, 2007/08, dan 2008/09 Everton konsisten tampil di UEFA Cup. Everton juga pernah tampil di kualifikasi Liga Champions pada musim 2005/06 dan Europa League musim 2009/10.
Paceklik
Terlalu lama bersama Moyes, Everton oleng ketika ditinggal sang pelatih yang menangani Manchester United pada tahun 2013. Everton mulai beradaptasi dari awal bersama pelatih baru, Roberto Martinez. Sama halnya dengan Moyes, Martinez dapat mengerek performa tim di awal.
Namun, kebersamaan Martinez dan Everton tak berjalan lama. Pada akhir musim 2015/16, Everton asuhan Martinez menorehkan hasil buruk. Meskipun maju ke semifinal di Piala Liga, manajer asal Spanyol itu tak bisa lari dari pemecatan. Setelah pemecatan Martinez, Everton praktis makin sering gonta-ganti pelatih.
Tercatat, setelah David Moyes, Everton sudah berganti pelatih sebanyak sebelas kali dalam kurang lebih sebelas tahun. Kenapa begitu? Karena internal Everton juga tidak baik-baik saja. Investasi besar-besaran dari sang pemilik, Farhad Moshiri juga tak membuahkan hasil.
Pengeluaran yang tak membuahkan hasil membuat neraca keuangan Everton berantakan. Pemasukan dan pengeluaran tak seimbang. Sebagai contoh saja, pada 2022 Everton membukukan kerugian lebih dari 120 juta pounds. Total kerugian Everton selama 3 tahun mencapai lebih dari 370 juta pounds (Rp7,1 triliun).
Tapi, di tengah pergantian pelatih dan permasalahan internal yang terus menyelimuti, Everton nyatanya tetap bisa bertahan di kasta tertinggi. Meski sering kalah dan permainannya tidak enak ditonton, Everton masih saja dianugerahi keberuntungan dengan selalu terhindar dari degradasi setiap tahunnya.
Bertahan Hidup
Everton memang punya caranya sendiri untuk terus memperpanjang nafasnya di kasta tertinggi. Mereka memang kerap terseok-seok di awal musim, tapi pada akhirnya mereka tetap berada di atas zona degradasi. Contohnya saja musim 2022/23 saat Everton lagi-lagi lolos dari jeratan degradasi.
Laga kontra Bournemouth di pekan terakhir jadi kunci selamatnya Everton dari degradasi. Kemenangan atas The Cherries membuat Everton mengakhiri kompetisi Premier League musim 2022/23 dengan bertengger di posisi ke-17. Mereka unggul dua poin atas Leicester yang juga menang 2-1 atas West Ham. Coba saja Everton kalah, pasti Leicester masih berlaga di kasta tertinggi.
Musim sebelumnya juga begitu. Memasuki pekan-pekan akhir Liga Inggris 2021/22, Championship sudah bersiap untuk menyambut Everton yang terancam degradasi. Tapi, tim yang kala itu masih ditukangi oleh Frank Lampard memainkan strategi yang jitu. Mereka gaspol di sisa laga yang ada.
The Toffeess berhasil memaksimalkan hasil dengan meraih empat kemenangan dan dua hasil imbang dari sembilan pertandingan terakhir. Mereka bahkan mencuri tiga poin dari Manchester United dan Chelsea. Puncaknya terjadi pada saat Everton menaklukan Crystal Palace dengan skor 3-2. Dengan rangkaian hasil positif itu, jumlah poin mereka berada di titik aman dari degradasi.
Selain performa yang membaik di akhir musim, setiap musim selalu ada tim yang lebih buruk dari Everton. Seperti Leicester City musim lalu yang hanya mengantongi dua kemenangan dari sepuluh pertandingan terakhir. Di sinilah kejelian Everton. Mereka pandai memanfaatkan momentum dari kelemahan pesaingnya.
Ancaman Sanksi
Namun, permasalahan yang akan dihadapi Everton musim ini jauh lebih besar dari apa yang bisa dibayangkan. Dan tampaknya Everton bakal kesulitan untuk menghindarinya. Dilansir Sky Sport, Everton terancam sanksi pengurangan 12 poin akibat melanggar beberapa peraturan financial fair play.
Everton dinilai mengalami kerugian di luar batas yang ditentukan. Rincian dakwaan tersebut memang belum diungkapkan. Namun, menurut kabar yang beredar dakwaan tak jauh-jauh dari masalah pajak dan pendapatan klub. Selain itu, Everton juga masih punya hutang yang uangnya dipakai untuk membangun stadion baru di dermaga Bramley-Moore.
Entah butuh berapa keberuntungan lagi untuk menyelamatkan Everton dari permasalahan ini. Apabila benar disanksi, maka Everton otomatis akan turun ke peringkat terakhir klasemen Liga Inggris musim ini. Jika performa Everton tak membaik, bukan tidak mungkin mereka bakal terdegradasi untuk pertama kali sejak 1951.
Sumber: Talksport, ESPN, The Guardian, BR, Goal


