Ada dua sisi ekspresi berbeda di London bagian utara, yakni kesedihan dan kegembiraan. Kegembiraan dialami oleh Tottenham Hotspurs yang berhasil menyegel tempat di Liga Champions musim depan.
Sementara kisah sedih dialami siapa lagi kalau bukan Arsenal. Klub yang katanya sangat tangguh itu kembali gagal meraih tempat Liga Champions. Kesedihan itu pun bertambah ketika yang menggusur mereka adalah musuh bebuyutannya sendiri, dan itu terjadi ketika mereka sedang dalam optimisme tinggi merebut jatah Liga Champions.
One week ago: Arsenal four points above Spurs in top 4 race
Today: Two points behind Spurs and down 1-0 to Newcastle
🤦♂️ pic.twitter.com/2KKVNUNC35
— B/R Football (@brfootball) May 16, 2022
Daftar Isi
Faktor Arteta
Optimisme Arsenal musim ini tidak terjadi pada awal musim. Di awal musim, Arsenal yang kembali mempercayai Arteta sebagai juru taktik tidak sepenuhnya diberikan target juara ataupun 4 besar, ketika para pesaingnya macam MU maupun Spurs juga berbenah dengan serius.
Di bawah Kroenke, Arsenal sebenarnya tak pelit lagi dalam hal transfer pemain. Arteta dan direktur teknik Arsenal, Edu dipercaya untuk membelanjakan uang demi Arsenal yang lebih baik. Arteta tampaknya memilih membelanjakan uang itu untuk investasi jangka panjang. Makanya ia lebih memilih membeli para pemain muda macam Ben White, Odegaard, Ramsdale, sampai Tomiyasu.
I have a question for the #AFC fans.#Arsenal fans, do you think Edu Gaspar and Mikel Arteta succeeded during the transfer period?
🏴 White – £50m
🇳🇴 Ødegaard – £30m
🏴 Ramsdale – £24m
🇯🇵 Tomiyasu – £17m
🇧🇪 Lokonga – £15m
🇵🇹 Tavares – £7m👇https://t.co/sDVujIlqFy pic.twitter.com/TnVUGgFqwv
— Ekrem KONUR (@Ekremkonur) September 4, 2021
Para pemain itu secara nama tentu bukan kelasnya Liga Champions. Dan Arteta pun mungkin tidak berniat untuk masuk Liga Champions musim ini. Terpuruknya mereka musim lalu sehingga tidak ikut kompetisi Eropa sama sekali, membuat Arteta lebih berfokus pada perombakan skuad.
Benar saja, hasrat Arteta untuk masuk Liga Champions sama sekali tak terlihat. Hal itu tercermin nyata dengan performa mereka di 3 laga awal Premier League. Arteta tidak menunjukan bahwa mereka calon penghuni 4 besar.
Musim Yang Naik Turun
Kalah dari klub promosi Brentford, Chelsea, dan dibantai Manchester City membuat Arsenal terpukul dan terlempar di zona degradasi di pekan ke 3. Hal itu menjadi PR Arteta dan Arsenal. Skuadnya yang dibangun terbilang belum cukup siap untuk naik level.
Arsenal’s start to the Premier League season:
3 matches
0 goals scored
9 goals conceded
0 wins
3 defeatsBottom of the table. pic.twitter.com/L2h3skGLhi
— GOAL (@goal) August 28, 2021
Akan tetapi, Arteta belajar setelah kekalahan itu. Arsenal 8 kali tak terkalahkan termasuk menjungkalkan rivalnya, Spurs 3-1. Rentetan itu membuat kepercayaan diri Arsenal tumbuh. Peringkat Arsenal pun perlahan naik. Arsenal kembali dibawa Arteta konsisten dengan gaya permainannya.
Arsenal’s revival in the Premier League continued with a 3-1 triumph over Tottenham Hotspur in the North London Derby on Sunday evening.
Read more ➡️ https://t.co/HHt2NXMP5k pic.twitter.com/MRYUXn7qAi
— Kick Off (@KickOffMagazine) September 26, 2021
Arsenal musim ini sering terjegal bukan karena tim kecil, tetapi tim besar. Arsenal seperti minder kalau bertemu tim seperti Manchester City maupun Liverpool. Musim ini mereka selalu kalah dari City dan Liverpool. Meskipun terkadang mereka mampu mencuri poin saat berjumpa Chelsea, Spurs, dan MU.
Dari rentetan beberapa kemenangan Arsenal, terlihat lawan yang dihadapi cenderung klub yang secara kualitas di bawah mereka. Seperti pada periode Desember 2021 ketika mereka menyapu bersih poin berturut-turut lawan Soton, West Ham, Leeds dan Norwich. Begitupun pada medio Februari dan Maret 2022 ketika mereka beruntun menang lawan Wolves dua kali, Watford, Brentford dan Leicester.
Namun, performa mereka tiba-tiba turun bak roller coaster. Pada awal April 2022, seperti layaknya April mop, Arsenal tak terduga dikejutkan dengan hasil minor. Mereka menderita dengan 3 kali kekalahan beruntun dari tim medioker yang biasanya mudah mereka atasi. Mereka kalah 3-0 atas Palace, 2-1 atas Brighton, dan 1-0 atas Soton.
Arsenal’s last 3️⃣ Premier League games:
❌ vs Southampton
❌ vs Brighton
❌ vs Crystal PalaceThe Gunners haven’t lost 4️⃣ in a row since 1995 😳 pic.twitter.com/nABVbvMax3
— LiveScore (@livescore) April 20, 2022
Kehilangan poin itu fatal akibatnya dalam perburuan tempat ke 4 bagi Arsenal. Di sisi lain, Spurs makin nyetel dengan Conte. Spurs mempunyai grafik meningkat tajam pada periode keterpurukan Arsenal itu. Spurs terbukti mampu memanfaatkan kelengahan itu. Sampai akhirnya laga penentuan pun tersaji di markas Spurs pada pertemuan kedua.
Titik Balik Spurs
Tiga laga Arsenal menjelang melawan Spurs diwarnai dengan kemenangan. Termasuk menang lawan MU 3-1. Di kubu Spurs pun sama, mereka berhasil tidak kehilangan poin termasuk meraih hasil imbang di Anfield 1-1.
Tiga kali tak pernah kalah, membuat pasukan Arteta semakin yakin jaraknya atas Spurs di klasemen bisa terjaga. Sayangnya mereka justru dibantai Spurs 3-0. Hal itu membuat Arsenal terpukul mentalnya sehingga jarak mereka hanya terpaut 1 poin dari Spurs yang berada di peringkat ke-5.
Defeat.
⚪ 3-0 🔴 (FT)#TOTARS pic.twitter.com/OIqTcYPUMR
— Arsenal (@Arsenal) May 12, 2022
Arsenal mau tidak mau harus berupaya sapu bersih pada 2 laga tersisa. Yakni tandang melawan Newcastle dan terakhir melawan Everton di kandang. Sedangkan Spurs notabene hanya akan menghadapi lawan papan bawah macam Burnley dan Norwich.
Kekalahan atas rivalnya itu ternyata terbawa sampai ke kandang Newcastle. Arsenal tak mampu berbuat banyak dan takluk oleh klub kaya baru itu 2-0. Keadaan semakin rumit ketika Spurs terlebih dahulu mengemas tiga poin atas Burnley 1-0. Hal ini membuat Spurs melangkahi Arsenal di klasemen dengan selisih dua poin.
An own goal from Ben White and a goal from Bruno Guimaraes were enough for Newcastle United to beat Arsenal convincingly at 2-0! ⚫️⚪️
Have Arsenal bottled their hopes of Champions League football? 😬#TheGoalpostNews #NEWARS #NUFC #AFC #NewcastleUnited #Arsenal #PremierLeague pic.twitter.com/wtprvxHdxj
— The Goalpost (@TGoalpost) May 16, 2022
Dan di pekan terakhir, tentu tak bisa diharapkan lagi oleh Arsenal, ketika Spurs hanya bertemu klub juru kunci, Norwich. Arsenal yang menang besar atas Everton 5-1 tidak berarti apa-apa karena Spurs juga memperoleh kemenangan 5-0 atas Norwich. Dengan hasil itu Arsenal akhirnya finish di bawah Spurs di peringkat 5 dengan 69 poin.
380 matches in one incredible season and THIS was the end result…. 👇 pic.twitter.com/TLzfmR9xZc
— Premier League (@premierleague) May 23, 2022
Gagal Ke Champions League Sejak 2016
Dan hasil itu membuat Arsenal yang tadinya sempat terdepan dalam mengunci tempat di Liga Champions, akhirnya mereka terlempar dan hanya bermain di Europa League musim depan. Arsenal kembali ter-PHP musim ini. Ketika kans mereka ada, mereka malah loyo di pekan-pekan terakhir.
Di sini mental berbicara, Arsenal musim ini memang kalah mental. Namun, dengan didominasi para pemain muda dan proses perombakan Arteta musim ini tidak juga sepenuhnya patut disalahkan. Namun, bagi sebagian fans ketika kesempatan bermain di Liga Champions itu ada, mereka kecewa Arsenal tak bisa mengambilnya.
Seakan memang sudah sewajarnya Arsenal itu tidak masuk Liga Champions. Ketika mereka terakhir kali bermain di Liga Champions pada musim 2016/17. Setelah itu mereka tidak lagi bermain di Liga Champions ketika pada musim 2016/17 Arsenal bersama Wenger hanya finish di peringkat 5.
The last time Arsenal played in the competition was all the way back in 2017! 😐
How long do you think it will be until we are back in the Champions League? 🤔#AFC #Arsenal #Arteta pic.twitter.com/e2BS7eSESr
— AFTV (@AFTVMedia) October 20, 2021
Begitupun era setelah Wenger, baik Emery maupun Arteta, Liga Champions seperti jijik dengan Arsenal. Arsenal selalu kesulitan merangsek di tempat 4 besar tiap musimnya. Di musim 2017/18 Arsenal berada di posisi 6, 2018/19 di posisi 5, 2019/20 di posisi 8, 2020/21 juga di posisi 8, dan sekarang 2021/22 di posisi 5.
Betapa malang nasib Arsenal kini, hampir saja meraih tempat Liga Champions, eh ternyata mereka terkena PHP lagi, terutama para fans yang dibuat optimis hingga pekan-pekan terakhir. Arsenal memang butuh waktu bersama Arteta untuk membangun tim sehingga mampu naik level.
Hal itu dipertebal dengan sikap Arsenal yang memperpanjang kontraknya di Emirates. The Gunners patut berbangga punya pelatih yang berproses macam Arteta, akan tetapi mau sampai kapan berproses terus tanpa ada hasil?
Arsenal in the league this season:
▪️ Lose first 3, in last place
▪️ Unbeaten in next 8
▪️ Lose 3 of 4
▪️ Win 9 of 11
▪️ Start April in 4th, six points ahead of Spurs, lose 3 straight
▪️ Win 4 straight
▪️ Lose 2 straight, need a final-day miracle to finish in 4th— B/R Football (@brfootball) May 17, 2022
Sumber Referensi : theathletic, mirror, sportingnews, transfermarket


