Jalan Terjal Yang Menjegal Inter Pertahankan Scudetto

spot_img

Gelar Scudetto Serie A musim 2021/22 akhirnya disabet oleh AC Milan. Saking ketatnya persaingan dengan Inter Milan, sang juara baru bisa ditentukan di pekan terakhir. Ini menunjukan betapa ketatnya persaingan perebutan gelar Serie A musim ini.

Namun, nasib berkata lain bagi sang juara bertahan Inter Milan. Kali ini harapan mereka untuk mempertahankan gelar pupus di pekan terakhir. Padahal Inter musim ini adalah calon kuat juara. Lantas, apa yang menyebabkan Inter gagal dalam mempertahankan gelar Scudetto-nya?

Inkonsistensi Dan Kelelahan

Musim ini, Inter tampil inkonsisten, dan itu sangat berpengaruh pada perebutan gelar Scudetto. Terlebih apa yang terjadi pada medio Februari 2022. Pada periode itu jadwal Inter sangat padat, dan itu menjadi alasan mengapa Inter pada waktu tersebut mengalami hasil mengecewakan.

Di Februari 2022 Inter mengalami fase buruk ketika kalah dari rival, AC Milan 2-1. Kekalahan itu membuat mental anak asuh Inzaghi sedikit terganggu. Setelah kekalahan itu mereka bangkit di partai melawan Roma di Piala Italia dan hasilnya menang 2-0. Namun, setelahnya di Serie A mereka gagal menang lagi melawan Napoli dan hanya berakhir imbang 1-1.

Kelelahan yang selalu menjadi alasan pada Februari 2022 ketika itu mungkin terletak pada lolosnya Inter Milan ke babak knockout Liga Champions. Inter di 16 besar sesuai drawing berhadapan dengan raksasa Inggris, Liverpool. Dan itu membuat pasukan Inzaghi harus memutar otak untuk memilih prioritas, fokus di Champions League atau Serie A.

Mengingat kedalaman skuadnya tidak mendukung untuk bermain di beberapa kompetisi. Pasukan Inzaghi terlihat betul tertatih pada sela-sela pertandingan Champions League. Berbeda dengan AC Milan yang ketika itu sudah tidak lolos grup Champions League, jadi bisa all out di Serie A.

Setelah takluk 2-0 atas Liverpool di kandang sendiri, performa Inter selanjutnya di Serie A menurun drastis. Partai melawan Sassuolo di kandang membuat Inter terpeleset kalah 2-0. Begitupun partai melawan Genoa, pasukan Inzaghi kembali gagal meraih poin seusai hanya bermain imbang 0-0.

Sudah hampir beberapa poin hilang dari genggaman Inter pada periode Februari itu. Dan pasukan Inzaghi tak bergeming. Hasilnya kembali buruk, setelah kemenangan 1-0 di leg 2 melawan Liverpool, Inter kembali mengalami hasil buruk di Serie A.

Partai yang seharusnya disapu bersih Inter untuk mempertahankan Scudetto tidak mampu direbutnya. Dua kali hasil imbang melawan tim papan tengah Torino dan Fiorentina di Maret 2022 membuat mereka semakin tertatih di jalur tangga juara. Namun, kembali Inzaghi menjawabnya dengan 4 kemenangan beruntun termasuk kemenangan atas Juventus 1-0.

Hasil inkonsisten itu membuat Inter sedikit goyang dan patut dipertanyakan peluangnya untuk kembali mempertahankan gelar. Terlebih pada medio itu seret dalam urusan mencetak gol.

Paceklik Gol

Nerazzurri sempat mengalami paceklik dengan gagal mencetak gol di empat laga beruntun baik di ajang kontinental maupun domestik. Jika dikalkulasi, Inter Milan telah gagal mencetak gol di empat laga beruntun pada medio Februari 2022 saat melawan Liverpool, Sassuolo, Genoa, dan AC Milan.

Namun, alih-alih bergegas mencari obat penawar, sang juru taktik, Simone Inzaghi justru tak terlalu memusingkan hal tersebut. Ia beranggapan bahwa anak asuhnya telah bermain menekan dan tampil dominan.

“Saya sadar jika kami tak mencetak gol pada empat laga. Tetapi, kami tengah mengerjakannya. Kami memiliki striker bertalenta yang segera berada dalam kondisi bagus,” kata Inzaghi dilansir Football Italia.

Optimisme Inzaghi sebenarnya sempat terbukti, Inter mampu meraih 5 kemenangan beruntun setelahnya termasuk mengalahkan Liverpool, Juventus, dan Roma.

Kalau dilihat, paceklik gol Inter pada periode itu memang patut dipertanyakan. Ketika Inter musim ini finish dengan mendulang paling banyak gol di Serie A yakni total 84 gol. Artinya paceklik gol itu hanya berada pada fase tertentu dan itu tetap berimbas fatal pada tidak juaranya Inter musim ini.

Berawal Dari Bologna

Salah satu yang fatal lainnya adalah partai melawan Bologna. Sebenarnya secara kalkulasi, Inter lebih diunggulkan meraih Scudetto. Terlebih Inter yang sudah tak terkalahkan dalam 11 pertandingan, setelah terakhir kalah melawan Sassuolo dan terakhir menang melawan Cagliari.

Akan tetapi, di sela-sela itu, partai melawan Bologna merusak segalanya. Awalnya partai melawan Bologna itu adalah partai tunda Serie A di pekan ke-20. Karena dampak Covid 19, Bologna terpaksa tidak bisa melangsungkan pertandingan di kandang berkat maraknya Covid. Dan Inter pun sempat mengadukan pasukan Sinisa Mihajlovic tersebut ke pihak otoritas Serie A untuk menang WO akibat ketidakpastian match tersebut.

Akhirnya otoritas Serie A mengumumkan bahwa partai itu tetap dilangsungkan di 28 April 2022 tetap di markas Bologna. Dengan hitung-hitungan poin antara Inter dan Milan sebelum pertandingan Inter vs Bologna adalah Inter ketinggalan 2 poin di belakang Milan. Apabila Inter menang melalui partai tunda itu, maka mereka akan menyalip Milan dengan selisih 1 poin.

Ketika Inter dan Milan di sisa 4 pertandingan terakhir sama-sama menyapu bersih laga dengan kemenangan, secara hasil akhir Inter akan unggul di atas Milan 1 poin. Namun nasib berkata lain, malapetaka Inter hadir di markas Bologna. Inter kalah 2-1 berkat blunder fatal kiper Ionut Radu. Dengan hasil itu, meskipun sampai partai terakhir Duo Milan ini sama-sama mulus meraih poin, Inter tetap berada di bawah Milan dengan 2 poin. Andaikan saja, jika di Bologna Inter meraih 3 poin, ceritanya akan berbeda.

Mental Inzaghi Di Serie A

Dari beberapa faktor gagalnya Inter itu, mungkin yang menjadi sasaran utama adalah sang pelatih Simone Inzaghi. Meskipun berpengalaman meraih Coppa Italia dan ia juga wujudkan musim ini di Inter, mental Simone Inzaghi di kompetisi liga yang menuntut konsistensi belum terbukti. Beda dengan Conte yang sudah memiliki mental itu ketika di Juve.

Inzaghi datang dari Lazio, dan merupakan pelatih rising star Italia musim ini. Usianya juga terbilang masih sangat muda. Dihadapkan pada ketatnya persaingan yang penuh intrik di Serie A, mental Inzaghi masih belum teruji. Ketika inkonsistensi datang pada tubuh Inter musim ini, terlihat mental Inzaghi goyah dalam menangani menurunnya Inter pada fase tertentu.

Dia tidak punya cara untuk membuat tim yang dilatihnya memiliki faktor tertentu yang mampu menolong tim pada situasi genting. Inzaghi bagaimanapun masih belajar. Suksesi Inter dari Conte kepada dirinya juga bisa dikatakan mulus dengan strategi yang hampir sama. Cuma mental tak bisa bohong, kini Inzaghi dan Inter merasakan susahnya menemukan mental itu.

Inter meskipun menang atas Sampdoria 3-0 pada partai penutup di kandang, tetap tidak berarti apa-apa bagi pasukan Inzaghi. Karena di tempat lain AC Milan berhasil menaklukan Sassuolo 3-0 juga. AC Milan pun berpesta setelah 11 tahun. Sementara, Inter akhirnya benar-benar gagal mempertahankan gelar karena jalan terjal yang menjegalnya musim ini.

https://youtu.be/gUGcBvSLXSA

Sumber Referensi : eurosport, sportingnews, transfermarket

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru