Steve McClaren: Si “Bodoh” dari Inggris yang Jadi Dewa di Belanda

spot_img

Jauh sebelum masuk dalam staf kepelatihan Erik ten Hag yang bawa Manchester United, Steve McClaren pernah menjalani masa-masa sulit sebagai seorang manajer. Bahkan sosok yang sudah menjadi asisten pelatih Sir Alex Ferguson itu pernah dicap bodoh. Sebab ia menjalani pasang surut dalam karirnya.

Namun, ia adalah sosok yang menaikkan martabat FC Twente. McClaren terbilang sukses menjadikan FC Twente sebagai penguasa di Liga Belanda. 

Belajar dari yang Terbaik di Manchester

Steve McClaren menjalani masa singkatnya di Derby County sebelum bergabung dengan United sebagai asisten Ferguson musim 1998/99 menggantikan Brian Kidd. Saat itu, McClaren masih tergolong baru di dunia sepakbola.

Bahkan manajemen klub sering salah menyebut namanya. Meski berstatus sebagai asisten, McClaren selalu diberi ruang untuk mengimplementasikan ide-idenya pada tim yang membuat deretan pemain bintang kian berkilau.

Puncaknya, di akhir musim McClaren jadi salah satu aktor di balik terciptanya sejarah treble winners. McClaren membantu United meraih trofi Liga Inggris, Piala FA, dan Liga Champions. Khusus trofi Champions League, itu jadi yang paling diingat hingga sekarang. Karena memasukan Ole Gunnar Solskjaer di menit-menit akhir idenya yang disetujui Sir Alex Ferguson.

Membangun Karir Kepelatihan Bersama Middlesbrough

McClaren hanya bertahan tiga musim saja di Old Trafford. Ia memutuskan keluar dari bayang-bayang Sir Alex dan membangun reputasinya sendiri sebagai seorang pelatih. Pria berkebangsaan Inggris itu pun ditunjuk sebagai pelatih Middlesbrough pada Juli 2001.

McClaren melakukan pekerjaan yang luar biasa di Riverside. Membawa banyak ilmu dari sang maestro pinggir lapangan macam Fergie, McClaren mengembangkan reputasi sebagai salah satu pelatih paling cerdik secara taktik di daratan Inggris. Ia membawa Boro menjadi tim yang sulit untuk dikalahkan saat itu.

Di musim pertamanya bersama McClaren, Middlesbrough mencapai semifinal Piala FA. Menariknya, McClaren mengalahkan mantan klubnya yakni Manchester United di babak keempat kompetisi tersebut. Namun, di liga mereka tak begitu oke. Boro hanya finis di urutan ke-12 musim 2001/02. Itu cuma lebih baik dua peringkat dari musim lalu.

Dua musim berikutnya, skuad mulai solid dan Boro kembali menunjukan tajinya. McClaren membawa Middlesbrough meraih trofi Piala Liga dengan mengalahkan Bolton 2-1 di partai final. Ini jadi trofi mayor pertama bagi klub. Kemenangan ini juga membuat Boro mengamankan satu tiket ke kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam 128 tahun.

Pencapaian itu membuat klub menghadiahi McClaren uang belanja pemain yang dipakai untuk mendatangkan Jimmy Floyd Hasselbaink, Michael Reiziger, dan Mark Viduka. Musim 2005/06, Boro makin berprestasi, di mana McClaren mengantarkan Middlesbrough mencapai partai final Europa League yang kala itu masih bernama UEFA Cup. Sayangnya, mereka kalah dari Sevilla dengan skor 4-0.

Reputasinya Hancur Bersama Timnas Inggris

Kesuksesannya bersama Middlesbrough membuat Federasi Sepakbola Inggris menunjuknya untuk menangani Timnas Inggris pada tahun 2006 menggantikan Sven-Goran Eriksson. Seharusnya ini bukan tugas yang sulit bagi McClaren, karena skuad The Three Lions saat itu berisikan pemain-pemain bintang. Bahkan mereka dijuluki sebagai generasi emas Timnas Inggris.

Namun, perkiraan tersebut jauh meleset. Meski datang dengan status manajer Middlesbrough terbaik sepanjang masa, McClaren tak bisa berbuat banyak ketika harus menangani pemain-pemain berlabel bintang. Bukannya memberi prestasi, McClaren malah mencoreng muka publik Inggris dengan arang hitam.

Di bawah rintik hujan di Wembley Stadium, The Three Lions yang hanya perlu hasil seri kala menghadapi Timnas Kroasia demi lolos ke Euro 2008, justru menelan kekalahan 2-3. Kekalahan memalukan ini menimbulkan kekecewaan yang cukup mendalam. 

Bahkan saking jengkelnya, salah satu media Inggris, yakni Daily Mail memasang foto McClaren dengan payung khasnya sebagai halaman utama dan menjulukinya “A wally with a brolly” atau yang berarti “Si bodoh dengan payungnya”. Sampul tersebut berhasil mengubah rasa kecewa masyarakat Inggris menjadi amarah yang memuncak. 

Mereka merasa jijik dengan gestur McClaren yang lebih memilih untuk meneduh di bawah payung sementara para pemainnya bermandikan air hujan demi lambang tiga singa di dada. Akibat kelakuannya memakai payung di tepi lapangan, McClaren dianggap mempertontonkan kebodohan dan hal yang dianggap tidak sopan. 

Membangun Kembali Reputasinya di Belanda

Setelah sudah tak dihargai lagi di Inggris, Steve McClaren merantau ke Belanda demi membersihkan namanya. Sempat ragu ketika tawaran dari FC Twente datang, McClaren pun mengambil kesempatan tersebut. Ia resmi menjadi pelatih Si Merah pada tahun 2008.

Dalam sesi pengenalannya sebagai manajer baru Twente, McClaren menuturkan kalau keputusannya ini mendapat dorongan motivasi dari Sir Bobby Robson. Menurutnya, kesempatan melatih Twente akan menjadi tantangan yang menarik baginya. Dan prediksi Sir Bobby pun tepat. Tantangan baru justru membuat McClaren menemukan kembali jati dirinya.

Sebelum bersama McClaren, The Tukkers finis di posisi keempat dan McClaren melanjutkan momentum apik tersebut di musim 2008/09. Saat itu McClaren tak sendirian, ia mendapat bantuan dari bos Manchester United saat ini, Erik Ten Hag sebagai asistennya. Minim dana membuat McClaren putar otak. Ia mengandalkan pemain-pemain muda potensial macam Eljero Elia dan Marko Arnautovic. 

McClaren membawa klub yang berbasis di Enschede itu finis di posisi kedua klasemen akhir Eredivisie. FC Twente hanya kalah dari sang tim kejutan AZ Alkmaar. Kala itu Alkmaar ditukangi oleh Louis van Gaal. Namun, di akhir musim Van Gaal langsung diangkut oleh Bayern Munchen, jadi pesaing McClaren musim berikutnya berkurang.

Menaklukan Liga Belanda

Setelah kepergian Van Gaal, persaingan puncak klasemen Eredivisie kian terbuka. Praktis, pesaing utama FC Twente versi McClaren hanya Ajax Amsterdam dan PSV Eindhoven. Dua tim yang mendominasi Liga Belanda dalam beberapa tahun terakhir.

Kala itu Ajax menggila. Berisikan pemain-pemain macam Maarten Stekelenburg, Jan Vertonghen, Christian Eriksen, hingga sang bomber mematikan Luis Suarez, Ajax tampil superior musim 2009/10. Sialnya, Twente juga demikian. Pasukan Steve McClaren jadi mimpi buruk Ajax musim tersebut.

Meski sama-sama mengumpulkan 27 kemenangan, Twente sedikit lebih baik dalam perolehan poin. Dengan 86 poin, FC Twente unggul satu poin dari Ajax karena Si Merah hanya menelan dua kekalahan sedangkan Ajax kehilangan poin sebanyak tiga kali musim tersebut.

Selisih satu poin sudah cukup bagi McClaren untuk menahan Ajax tetap berada di peringkat kedua hingga pekan terakhir. Pria asal Inggris tersebut membawa FC Twente mengakhiri masa pacekliknya dengan happy ending. McClaren mempersembahkan gelar Eredivisie untuk FC Twente dan hingga kini, itu jadi gelar Eredivisie pertama dan satu-satunya bagi The Tukkers.

Sumber: These Football Times, Planet Football, BRfootball, MEN

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru