Kompetisi Serie A musim ini kedatangan kontestan baru bernama Spezia. Kompetisi 2020/21 ini menjadi yang pertama bagi Spezia. Seperti diketahui, klub yang bermarkas di Alberto Picco duduk di klasemen ketiga play off, meski kalah dari Frosinone dengan skor 1-0.
Apa yang telah diraih itu pun memberi sejarah tersendiri bagi Spezia. Klub ini pernah bangkrut pada tahun 2008 silam, meski semusim berselang, mereka kembali bangkit dan terus berjuang untuk bisa berkompetisi di level tertinggi. Sempat berganti nama, dari Spezia Calcio 1906 menjadi A.S.D Spezia Calcio 2008, mereka kini berkompetisi di level tertinggi untuk kali pertama, dalam 114 tahun lamanya.
Ya, sejak berdiri pada tahun 1906 silam, Spezia belum pernah sekalipun berkompetisi di level tertinggi Italia.
Spezia punya perjalanan yang begitu panjang ketika menyoal tentang sepakbola Italia. Meski tidak banyak dikenal oleh khalayak, klub tersebut mampu memberi nuansa tersendiri bagi siapapun yang menjadi saksi dari indahnya kompetisi Italia.
Spezia merupakan klub sepakbola yang berbasis di La Spezia, Liguria, Italia. Dalam sejarah perjalanannya, mereka terbiasa dengan kompetisi kasta bawah Italia, dari sejak pertama kompetisi itu digulirkan.
Akan tetapi, meski tergolong ke dalam klub yang banyak diketahui publik, khususnya mereka yang tidak tertarik untuk mengikuti sepakbola Italia, Spezia tetap saja layak dimasukkan ke dalam buku sejarah sepakbola Italia.
Bukan tentang prestasinya di Eropa, atau bahkan banyaknya trofi yang dikumpulkan. Namun dengan satu trofi scudetto yang pernah mereka raih, meski baru pertama kali berkompetisi di Serie A pada musim ini.
Cerita tentang scudetto yang pernah diraih Spezia memang tidak banyak diketahui. Hal itu terasa sangat wajar mengingat mereka hanyalah klub biasa saja, dan yang paling mempengaruhi adalah, FIGC, selaku badan sepakbola tertinggi Italia, tidak pernah mengakui scudetto yang pernah diraih oleh klub yang saat ini dibesut oleh Vincenzo Italiano.
Sejarah memang pernah mencatat bahwa Spezia sempat sekali merasakan gelar juara di kompetisi Italia. Itu terjadi pada kompetisi tahun 1944. The 1944 Divisione Nazionale, atau yang biasa dikenal sebagai 1944 Campionato Alta Italia, merupakan kejuaraan tertinggi sepakbola Italia, yang terjadi pada saat bumi tengah mengalami Perang Dunia Kedua. Ketika itu,, FIGC memutuskan untuk membagi kompetisi Italia dalam putaran regional.
Komisaris baru dari Komite Olimpiade Nasional Italia, Ettore Rossi, ditunjuk untuk mengatur musim kompetisi 1943/44, yang mana kompetisi tersebut memang tidak dikaitkan dengan kompetisi-kompetisi musim sebelumnya.
Spezia yang ketika itu turut berkompetisi juga ternyata tidak benar-benar membawa nama klub. Dikatakan, mereka tidak ikut aktif dalam musim kompetisi tersebut setelah pimpinan klub dideportasi ke Jerman. Kemudian, Giacomo Semorile, manajer terakhir yang menangani Spezia meminta para pemadam kebakaran untuk membentuk sebuah klub dengan para mantan pemain Spezia.
Pada kompetisi itu, Spezia tergabung di grup D bersama di sektor Emilia bersama dengan Corradini Suzzara, Fiorentina, Orlandi Busseto dan Parma. Tak disangka, mereka mampu tampil luar biasa hingga mampu lolos ke putaran final, setelah di putaran pertama mereka berhasil mengoleksi sebanyak 13 poin.
Putaran final ketika itu digelar di Milan, dengan nama Venezia dan Torino sudah menunggu Spezia di putaran terakhir kompetisi.
Ketiga tim tersebut hanya diberi kesempatan untuk tampil sekali melawan tiap tim berbeda. Pada pertandingan pertama, Spezia mampu ditahan imbang oleh Venezia dengan skor 1-1. Namun pada pertandingan kedua, mereka berhasil menguasai pertandingan kala berhadapan dengan Torino. Hasilnya, Spezia keluar sebagai pemenang setelah berhasil menang dengan skor 2-1.
Kepastian juara Spezia lalu ditentukan dengan laga antara Torino melawan Venezia. Mujur bagi Spezia, Venezia yang punya kesempatan untuk meraih gelar juara kalah dengan Torino. Klub yang saat ini berkompetisi di Serie B itu kalah dengan skor 5-2 dari peraih tujuh gelar scudetto.
Melalui hasil tersebut, Spezia berhasil menduduki peringkat pertama dengan perolehan tiga poin, dan diikuti Torino dengan raihan dua poin. Sementara Venezia hanya bercokol di tangga ketiga dengan raihan 1 poin saja. Praktis, mereka pun dinyatakan sebagai peraih gelar juara.
Sayangnya, trofi yang diraih Spezia ketika itu tidak dianggap resmi oleh FIGC, karena federasi sepakbola Italia itu menganggap bila performa seluruh tim tidak maksimal, di tengah masa Perang Dunia. Scudetto yang mereka raih tidak pernah terdaftar di dalam buku sejarah Serie A, hingga tepat pada tahun 2002, FIGC baru memberikan gelar scudetto kepada Spezia.
Akan tetapi, tetap saja, gelar tersebut dianggap tidak resmi dan hanya dinilai sebagai gelar kehormatan. Sebagai penanda bahwa mereka pernah merajai kompetisi Italia, Spezia lalu menyematkan logo scudetto di jersey bagian kanan mereka.
Setelah masa kejayaan di Perang Dunia II tersebut, Spezia tak pernah lagi tampil di level tertinggi. Puncak tertinggi mereka pada era itu terjadi pada tahun 2005 ketika mereka berkompetisi di Serie B. Bahkan seperti yang sudah dijelaskan, mereka sempat mengalami kebangkrutan pada 2008 dan terlempar ke kompetisi Serie D. Beruntung, mereka langsung bangkit dan berkompetisi di Serie C semusim berselang.
Kemudian, pada musim 2011/12, Spezia berhasil promosi ke kompetisi Serie B. Mereka juga berhasil memenangi Coppa Italia Lega Pro, serta menjadi kampiun Supercoppa di Lega di Prima Divisione.
Sejak saat itu, mereka konsisten berkompetisi di Serie B, hingga penunjukkan Vincenzo Italiano pada tahun 2019 lalu menjadi sebuah keputusan brilian. Bersama pelatih berusia 43 tahun tersebut, Spezia mampu berjaya hingga sukses melesat mulus ke kompetisi Serie A.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=zgvuTY6luqU[/embedyt]
Sumber referensi: cultofcalcio, indosport, wikipedia,


