Setitik Cahaya Dalam Kehidupan “Gelap” Sergio Ramos

3 min read

Setitik Cahaya Dalam Kehidupan -Gelap- Sergio Ramos

Bak mata air yang terus pancarkan manfaatnya, pun dengan Spanyol, negara yang beribukota di Madrid tak pernah berhenti dalam alirkan bakat sepak bola. Tiap pemain memiliki ceritanya masing-masing. Mulai dari yang selalu disegani, dihormati, hingga yang penuh arti layak nya seorang Sergio Ramos.

Sergio Ramos memang menjadi satu tokoh yang punya beragam cerita menakjubkan. Meski terkadang sosoknya tak diinginkan, tidak bisa disangkal jika Ramos adalah salah satu raja dalam sejarah sepak bola Andalusia.

Dalam segala kondisi, Sergio Ramos tak ragu untuk mengambil resiko tinggi. Gaya permainannya yang gigih dan sangat teliti, menjadikan Ramos akan dengan mudah membuat pergerakan lawan terhenti.

Sergio Ramos memang menjadi sebuah fenomena yang banyak dibenci. Namun dibalik itu semua, dirinya merupakan sosok kharismatik yang layak dihormati.

Sergio Ramos, sekali lagi, menjadi satu sosok yang penuh arti. Ia adalah wujud dari seorang legenda dengan segudang warna. Dimulai dari arti keberadaannya di atas lapangan, kunikannya diluar lapangan, dan sisi pemimpin luar biasa yang tidak semua memahami.

Lahir di Camas, Sevilla, Ramos tumbuh menjadi bocah pemberani. Ia tak kenal kompromi, dan untuk segala hal yang dihadapi, ia tak akan pernah bersembunyi dan selalu siap dengan segudang nyali.

Sergio Ramos memulai karir profesionalnya bersama Sevilla. Semua tingkat yang tersedia berhasil ia tempuh dengan sempurna. Hingga pada akhirnya, tepat pada 1 Februari 2004, Ramos memulai debut dengan tim senior Sevilla. Kala itu, ia memainkan laga antara Sevilla dan Deportivo de La Coruna. Ia masuk sebagai pemain pengganti di menit 64 kala Francisco Gallardo ditarik keluar.

Baru saat memulai musim 2004/05, Ramos menjadi salah satu bagian penting dari tim yang bermakas di Estadio Ramon Sanchez Pizjuan. Ia menjadi idola disana. Usianya yang masih muda serta kemampuannya yang sudah sangat luar biasa membuat Ramos dengan mudah menjadi pemain yang amat dicinta. Bersama dengan nama seperti Jesus Navas, Ramos muncul sebagai pemain penting dan berhasil membawa Sevilla bercokol di tangga keenam klasemen akhir.

41 pertandingan yang ia mainkan kala itu juga turut mengantarkan Sevilla masuk ke kompetisi Liga Europa.

Namun, cerita sang legenda bersama Sevilla tak berlangsung lama. Hanya sekitar lebih dari satu tahun tampil di tim utama, Ramos langsung menjadi bidikan klub-klub besar Eropa. Satu yang paling mencuri perhatian tentu tim asal ibukota. Banyak sekali penggemar Sevilla yang menyayangkan kepergian Ramos ke ibukota. Namun apa mau dikata, pemuda dengan segudang harapan itu tentu ingin lebih berjaya.

Ramos yang menjadi satu-satunya pemain asal Spanyol yang dimasukkan Florentino Perez dalam proyek Galactico nya pun datang ke ibukota dengan penuh rasa percaya, bahwa ia mampu mengemban tugas yang telah diberikan untuk menjelma menjadi raja.

Namun begitu masih terlalu dini jika membicarakan nama Sergio Ramos di musim perdananya bersama klub ibukota. Ia sempat mengalami masa-masa yang tak diinginkan. Ternyata, bukan hal mudah untuk menaklukkan tim sekelas Madrid, apalagi disana ada nama-nama besar yang keberadaannya tak bisa disingkirkan begitu saja.

Masih dengan rambut panjang yang begitu rapih, Ramos terus mencari solusi tentang bagaimana agar bisa masuk ke tim inti. Perlahan tapi pasti, pemain yang digaet dari Sevilla dengan harga 27 juta euro itu bisa sedikit merangsak ke tim utama. Memiliki kecepatan yang luar biasa, Ramos tak hanya dimainkan sebagai bek tengah, namun juga bek kanan yang nantinya akan ia manfaatkan untuk membantu serangan.

Musim pertama berhasil membuatnya tampil dalam 46 pertandingan. Namun sayang, ia belum mampu perembahkan gelar untuk tim ibukota.

Di musim berikutnya, Ramos semakin berkembang setelah dilatih oleh Fabio Capello. Pelatih Italia yang terhitung jeli dalam melihat bakat sang pemain mampu membuat jebolan Sevilla itu tampil lebih garang. Hasilnya, satu trofi La Liga berhasil mampir ke lemari pialanya.

Tak mudah bagi Ramos untuk bisa mendapat predikat sebagai salah satu pemain penting bagi el Real. Pasalnya, selain harus tampil sebagai bek kanan, ia juga harus menyingkirkan nama Michael Salgado yang notabene merupakan bek kanan yang sangat bertalenta.

Musim berikutnya, atau pada 2007/08, berhasil ia tuntaskan dengan sangat sempurna. Satu gelar La Liga kembali mampir ke tangan kuatnya. Ramos semakin percaya diri. Langkah kakinya semakin bermakna, serta dengan barisan pemain yang datang dan pergi dari ibukota, ia tak tampak tergoda untuk ikut beranjak.

Ramos selalu setia dengan Real Madrid, dan ucapannya yang mengatakan bahwa ia akan selalu bertahan tampak benar adanya.

“Aku tidak ingin meninggalkan Real Madrid. Aku selalu ingin mengakhiri karir disini.” kata Sergio Ramos (via The Guardian)

Musim demi musim berhasil dijalaninya dengan sangat baik. Tak hanya di Real Madrid, setelah melakukan debut dengan tim nasional Spanyol pada usia 19 tahun, Ramos juga sukses menjadi bagian dari skuat La Furia Roja yang berhasil merengkuh dua gelar Piala Eropa dan Piala Dunia.

Pada gelaran Piala Eropa 2012, ia memainkan peran bek tengah bersama dengan Gerard Pique. Momen tersebut sangat membahagiakan baginya, karena piala yang pada akhirnya berhasil ia rengkuh mampu menjadikan Spanyol sebagai tim nasional yang sukses memenangkan tiga gelar paling prestis dalam rentang waktu 2008 hingga 2012.

Tahun itupun menjadi yang paling istimewa baginya. Karena selain sukses memainkan posisi aslinya sebagai bek tengah di tim nasional, Ramos juga akhirnya mendapat posisi bek tengah di Real Madrid, menyusul cedera yang didapat Ricardo Carvalho.

Sempat dikecam para penggemar Real Madrid setelah gagal mengeksekusi tendangan pinalti di kompetisi Liga Champions, Ramos yang merupakan sosok bermental baja tak akan membiarkan hinaan terus membabi buta.

Dengan cepat ia siapkan perisai sebagai benteng untuk bisa semakin mengokohkan wilayahnya di barisan belakang.

Pada musim 2013/14, Ramos berhasil bangkit. Ia dengan gagah mengantarkan Madrid menjuarai kompetisi Liga Champions Eropa. Setelah itu, namanya semakin mendunia dan dicintai penggemar, pasca terbalutnya ban kapten di lengan kirinya.

Menyusul ketidaknyamanan posisi Iker Casillas di tangga kepemimpinannya, Ramos dengan segudang wibawa datang sebagai pewaris tahta. Ia yang datang dari tanah Andalusia lalu dinobatkan sebagai sang raja selanjutnya bagi tim asal ibukota.

Setelah membawa Real Madrid menjadi raja di Eropa pada tahun 2014, Ramos, yang kini bertindak sebagai kapten tak mau kalah dalam kumpulkan gelar. Dengan segala ketangguhan yang terkadang keluar dari pemikiran banyak orang, Ramos berhasil sumbangkan banyak trofi berharga, utamanya adalah tiga gelar Liga Champions Eropa pada  2015/16, 2016/17, dan 2017/18.

Selain itu, trofi La Liga dan sejumlah gelar Copa del Rey juga semakin menyempurnakan karirnya di ibukota.

Namun meski menjadi cahaya bagi para penggemar tim sekelas el Real, Ramos juga begitu terkenal dengan sebutan yang tidak mengenakkan. Ia, sang pangeran el Real, juga begitu lekat dengan sebutan pemain yang begitu kasar. Tak perlu dijelaskan dibagian mana tingkah laku keras sang pemimpin asal Andalusia.

Mungkin, akan butuh waktu lama untuk menjabarkan tiap benturan keras yang diciptakannya. Yang pasti, hingga saat ini, Ramos telah mengoleksi lebih dari 25 kartu paling dihindari, sepanjang perjalanan karirnya di Real Madrid.

Selain itu, jika ditotal, Ramos juga telah mengoleksi 235 kartu kuning untuk klub dan negara sepanjang 16 tahun menjadi pesepak bola profesional.

Jadi tinggal kita berada di sisi yang mana, melihat Ramos sebagai cahaya, atau menghakiminya sebagai pemain yang banyak timbulkan benturan tak semestinya.

Kisah Cinta Unik Alvaro Morata: Dari DM Instagram Sampai Ke…

Cinta memang penuh misteri. Terkadang, kita tidak pernah menduga darimana cinta datang menggoda. Bagi para pemain sepakbola, kisah cinta mereka juga tak jarang memberi...
Garin Nanda Pamungkas
1 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *